BERITA INDEX BERITA

“Terjajah” Harga Tengkulak

Humaniora | DiLihat : 1378 | Selasa, 2 Mei 2017 14:11
“Terjajah” Harga Tengkulak

PROKAL.CO, KERUGIAN yang dialami pembudidaya rumput laut, tidak hanya disebabkan aksi pencurian. Faktor lain yang ikut memengaruhi adalah permainan pasar yang dilakukan para tengkulak.

Salah satu pembudidaya rumput laut di Kelurahan Pantai Amal, Togar Simatupang mengungkapkan, harga rumput laut di dalam negeri dan luar negeri sebenarnya cukup mahal. Namun, di tangan para tengkulak harganya menjadi lebih murah.

“Kalau di Surabaya, Bali, Cina itu harga masih tinggi. Cuma permainan orang-orang tengkulak saja,” sebutnya saat ditemui pekan lalu.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, harga rumput laut di Surabaya dan Bali bisa mencapai Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu per kilogram. Bahkan, di luar negeri hitungannya menggunakan dollar.

Sayangnya, di tangan tengkulak komoditi pembudidaya ini hanya dihargai Rp 8 ribu hingga Rp 8.200 per kilogramnya untuk rumput laut kering. Sedangkan yang basah dihargai Rp 7.600 – Rp 7.800 per kilogram.

Menurutnya, terlalu banyak perantara yang harus dilalui untuk menjual rumput laut. Ia mencontohkan, jika dari perusahaan memberikan harga ke penampung sebesar Rp 8.500 per kilogram, maka dari penampung ke pihak pembeli memberikan harga Rp 8.300 per kilogram. Dari pembeli kemudian memberikan harga ke pembudidaya Rp 8.100 per kilogram.

Alasan pembeli, penampung maupun pihak perusahaan pun bermacam-macam. Mulai dari hitungan ongkos buruh, ongkos angkut dari pembeli hingga ke pelabuhan, dan ditambah lagi ongkos angkut menggunakan kontainer menuju daerah tujuan pemasaran. Hal ini membuat pembudidaya rumput laut tidak berdaya.

Menurut Pakde –sapaan akrabnya, persoalan ini menjadi salah satu kendala serius pembudidaya. Bahkan tidak sedikit yang mengeluh kepadanya untuk dicarikan jalan keluar agar harga rumput laut bisa memberikan keuntungan lebih bagi pembudidaya.

Ia pun sudah melaporkan hal ini kepada Dinas Perindustrian, Pedagangan, Koperasi dan UMKM Tarakan. “Kalau mengadu itu sudah berapa kali, tapi tidak ada tanggapan. Seharusnya Disperindagkop menanggapi keluhan dari petani. Setidak-tidaknya di-follow up,” ujarnya.

Karena itu, Togar menginginkan Pemkot Tarakan dapat menekan permainan pasar agar tidak mengganggu budidaya rumput laut. Sebab, harus diakui rumput laut menjadi salah satu komoditi primadona Kota Tarakan saat ini.

Kepala Disperindagkop dan UMKM Tarakan Tajuddin Tuwo mengungkapkan, pihaknya memang sudah mengetahui adanya permainan pasar yang dilakukan para tengkulak. Namun, mereka juga punya izin usaha sehingga pihaknya tidak bisa memberikan tindakan.

“Kalau harga, siapa saja yang melakukan aktivitas usaha itu ada perizinannya, kami persilakan saja dia,” ujarnya, kemarin (30/4).

Kendala lain, lanjutnya, terkadang pembudidaya merasa terikat dengan pembeli. Ini karena mereka lebih dahulu mendapatkan modal dari pembeli untuk menjalankan usaha rumput lautnya. Dengan catatan, hasil budidaya bisa dijual ke pembeli yang meminjamkan uang dengan harga murah.  

Karena itu, Tajuddin menyarankan pembudidaya agar selektif dalam mencari pembeli. “Sebenarnya, dari petaninya yang harus pintar-pintar mencari pembeli yang harganya lebih bagus,” sarannya.

Namun, ia juga mengakui kalau hal ini perlu disikapi serius. Namun, harus disikapi secara bersama-sama. Karena tanggung jawab bukan hanya pada Disperindagkop dan UMKM saja, tapi juga dinas terkait seperti Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan selaku pembina pembudidaya.

sumber : bulungan.prokal.co


Scroll to top