BERITA INDEX BERITA
Mengakselerasi PPN Kampung Patani Cimande yang Diresmikan AHY, Hadirkan 1000 Ahli untuk Prabowo Subianto

BOGOR – Waktu
menunjukkan pukul 00.15 Wib, kala serombongan pria membubarkan diri usai
pertemuan malam itu, di salah satu sudut Desa Cimande, Caringin Bogor, Jawa
Barat, persisnya di Villa Farm Equil Araya. Raut lelah begitu kentara di wajah
para pria yang kemudian terlihat bergegas menuju ke peraduan.
Lokasi Villa
Farm Equil Araya yang berupa bangunan bata merah dikelilingi banyak pohon
durian dan tanaman produktif lainnya kepunyaan Marsda (purn) TNI Gutomo, itu
sebagai Pusat Pengendali (PPN) Kampung Patani. Pada 2020, tempat ini diresmikan
oleh tokoh muda Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kini menjabat
Menteri ATR/BTN.
Diketahui,
sejak Jumat (20/4/2024) petang hingga tengah malam, disambung lagi keesokan
paginya, Sabtu (21/4/2024), para pria yang tadi tergabung dalam organisasi
Pandu Tani Indonesia (Patani), larut dalam diskusi panjang mengenai program
kerja berikut rencana strategis ke depan organisasi tempat mereka berhimpun.
Setelah
berdiskusi dan berdebat sengit diseling canda tawa, akhirnya forum kecil itu
menyepakati sejumlah poin penting yang menjadi formula untuk memajukan
organisasi Patani yang mereka sangat cintai. Salah satunya Patani akan
menggelar acara spektakuler bertajuk "1000 Ahli untuk Prabowo
Subianto".
1000 ahli yang
nantinya terhimpun dalam Klinik Ekonomi Hijau Patani, untuk mengawal astacita presiden
terpilih Prabowo Subianto, yang salah satunya menyinggung soal ekonomi hijau
(green economyc). Selain menghadirkan 1000 ahli, acara besar yang bakal digelar
pada September 2024 itu, juga akan ada pameran, diskusi dan pemaparan atas
capaian organisasi Patani selama 15 tahun berkiprah.
Diketahui, saat
ini Patani telah memiliki 15 Kanwil dengan 1.200 anggota ditambah anggota komunitasnya
yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar anggota komunitas
Patani berasal dari petani, nelayan dan para pelaku UMKM.
Selain fokus
pada program pemberdayaan petani, nelayan dan pelaku UMKM, Patani bersama komunitasnya
juga kerap menggulirkan program penghijauan, dengan menanami banyak tanaman
produktif di sejumlah lahan kritis di Tanah Air.
Bahkan, pada
tahun 2015 silam, atas undangan Patani, Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
pernah memberikan kuliah umum tentang ekonomi hijau kepada mahasiswa berbagai
perguruan tinggi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Berangkat dari kegiatan
tersebut, Patani gencar mengembangkan program Kampung Patani di daerah-daerah,
dengan Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani di Desa Cimande, Bogor, Jawa
Barat.
Tentang Kampung
Patani
Sekilas tentang
program Kampung Patani yang digagas Ketua Umum Pandutani Indonesia (Patani),
Sarjan Tahir, adalah sebuah ide brilian untuk mengeksplorasi dan mengetahui
langsung apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat paling bawah. Kelompok
masyarakat ini, seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM tentunya butuh
perhatian.
Adapun Pusat
Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani terletak di Desa Cimande, Jawa Barat,
berfungsi untuk menghimpun data dan informasi sebagai bahan evaluasi atas
kinerja Kampung Patani di seluruh Indonesia. “Konsep Kampung Patani ini menjadi
luar biasa dan riil karena dilakukan bersama-sama. Membangun semangat,
berkolaborasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Ketua Umum Patani,
Sarjan Tahir.
Secara
spesifik, Kampung Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis
pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan,
peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah lingkungan
(berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu
menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut.
Adapun model
atau bentuk Kampung Patani disesuaikan dengan kondisi agroekosistem dan
kearifan lokal kawasan setempat serta memerhatikan karakteristik, kondisi
sosial budaya, dan ekonomi masyarakat setempat.
Ada beragam kriteria
Kampung Patani, yakni Kampung Patani berbasis Kehutanan Sosial, Kampung Patani
berbasis Perkebunan, Kampung Patani berbasis Tanaman Pangan, Kampung Patani
berbasis Tanaman Hortikultura, Kampung Patani berbasis Peternakan, Kampung
Patani berbasis Perikanan/Kelautan, dan Kampung Patani berbasis Koperasi dan
UMKM.
“Suatu
kawasan pedesaaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat diusulkan menjadi Kampung
Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah satunya jika suatu kawasan
itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan dan/atau koperasi, dan UMKM yang
melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman pangan, perkebunan, hortikultura,
peternakan, perikanan dan kelautan, perhutanan sosial serta usaha pengolahan
dan pemasarannya,” papar Sarjan.
Banyak
manfaat yang diperoleh pelaku usaha dalam kawasan Kampung Patani, di antaranya
bisa meningkatkan produktivitas, dan tersedianya saprodi, pemasaran serta
pembiayaan usaha yang difasilitasi oleh Patani melalui Koperasi Indokopat.
Petani, nelayan, koperasi dan UMKM dalam kawasan Kampung Patani juga diberi
pelatihan sesuai kebutuhan serta terciptanya kawasan usaha agribisnis yang
berkelanjutan (ramah lingkungan).
Pada aspek
ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu
mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus
sumber pendapatan negara.
Adapun aspek
sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya
budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Sementara di aspek
politik, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau
oleh giat Kampung Patani.
















