BERITA INDEX BERITA

Anthony Salim, Pemilik Seabrek Perusahaan Raksasa Indonesia, Salah Satunya Memproduksi Indomie

inspiring | DiLihat : 6172 | Sabtu, 15 Juli 2023 | 09:18
Anthony Salim, Pemilik Seabrek Perusahaan Raksasa Indonesia, Salah Satunya Memproduksi Indomie

ANTHONY Salim atau Liem Hong Sien adalah salah satu pebisnis Indonesia sukses. Ia adalah tokoh di balik suksesnya popularitas mi instan merek Indomie. Anthony merupakan pemilik dua perusahaan makanan terkenal di Indonesia, PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Mills.

Produk-produk perusahaannya yang lain juga menjadi kebutuhan pokok dalam banyak rumah tangga dan perusahaan, bahkan telah diekspor ke banyak negara.

Anthony Salim memang hanya meneruskan perusahaan ayahnya, tapi kemampuannya untuk mengembangkan dan memperluas rangkaian produk akhirnya membawanya masuk daftar Forbes mengenai orang terkaya Indonesia

Salim Group pada masa pendirinya, Sudono Salim, ayah Anthony pernah mengalami masa keemasan. Itu berlangsung lama sebelum terjadi krisis moneter pada tahun 1998. Bahkan majalah Forbes pernah menobatkan pendiri Salim Group tersebut sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Namun saat terjadi krisis moneter, Salim Group berutang hingga mencapai Rp55 Triliun.

Anthony Salim yang memegang kekuasaan Salim Group akhirnya harus melunasi utangnya dengan cara menjual beberapa perusahaan yang dimilikinya yaitu PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional. Hebatnya ia mampu bangkit dalam keterpurukan ekonomi tersebut dan mempertahankan kerajaan bisnis sang ayah.

Anthony Salim telah terbiasa hidup di lingkungan pengusaha sejak kecil. Ia lahir pada 25 Oktober 1949. Ketika ayahnya meninggal, Anthony lalu meneruskan tampuk kepemimpinan Salim Group. Anthony meneruskan usaha ayahnya ketika Salim Group diambang kehancuran.

Institusi perbankan, BCA saat itu yang paling parah. Maka Anthony langsung melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan lembaga tersebut. Untuk membebaskan BCA dari kebangkrutan ia pun melepas beberapa perusahaan milik ayahnya.

Sukses di bidang perbankan tak cukup bagi Group Salim. Hal itu memicu Salim Group untuk mendirikan perusahaan yang akhirnya menjadi produsen berbagai jenis makanan dan minuman. Perusahaan bernama PT Panganjaya Intikusuma itu berdiri pada 14 Agustus 1990. Selanjutnya, perusahaan tersebut berganti nama menjadi Indofood Sukses Makmur dan telah melakukan ekspor bahan makanan ke wilayah Asia, Australia, hingga Eropa.

Anthony tidak berhenti mengembangkan usahanya. Setelah membawa kedua perusahaannya, Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari menjadi perusahaan produsen makanan terbesar di dunia, ia pun mulai melirik peluang lain. Di tahun 2005, PT Indofood melakukan joint venture dengan perusahaan Nestle yang sama-sama bergerak di bidang makanan.

Kedua perusahaan ini masing-masing memiliki saham 50 persen pada perusahaan gabungan yang diberi nama PT Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Tujuan penggabungan usaha ini adalah untuk memperbesar kekuatan dalam memenangkan pangsa pasar makanan di Indonesia.

Joint Venture ini bergerak di bidang manufaktur, pemasaran, maupun distribusi produk konsumen, yakni produk makanan untuk pasar lokal maupun untuk ekspor. Melalui kerjasama ini, PT Indofood memberikan lisensi penggunaan merk produknya seperti Indofood, Piring Lombok dan lain-lain kepada perusahaan gabungan ini. Sedangkan PT.Nestle memberikan lisensi untuk produknya dengan merek Maggi.

Di bawah pimpinan Anthony Salim, Indofood berhasil mendapatkan profit bersih tertinggi selama sejarah Indofood. Pada tahun 2009 profit bersih yang didapat oleh Indofood adalah sekitar Rp2 triliun. Bisnis agrobisnis dan non-agrobisnis Salim Group ini telah terbukti sangat tangguh dalam mengatasi berbagai tantangan seperti harga komoditas yang terus melonjak.

Anthony tetap terus melakukan ekspansi usaha dengan membeli saham China Minzhong Food Corporation Limited (CMFC) melalui perusahaannya PT Indofood Sukses Makmur. CMFC bergerak di bidang pengolahan sayur. Aktivitas bisnisnya dimulai dari budi daya, pengolahan sampai penjualan.

Produknya adalah sayuran segar maupun sayuran olahan. Produk-produk tersebut tak hanya dipasarkan untuk domestik tapi juga untuk diekspor. Saham PT Indofood pada CMFC sebesar 33,49 persen atau sebanyak 219,5 juta lembar saham dan terdaftar di bursa saham Singapura.

Pada 2015, majalah Forbes menempatkan Anthoni sebagai orang terkaya ke-3 di Indonesia. Nilai kekayaannya ditaksir mencapai USD 5,4 miliar atau sekitar Rp70,2 triliun. Di bawah payung Grup Salim, dia memiliki perusahaan di bidang makanan dan bahan pangan, telekomunikasi, ritel, properti dan perbankan.

Menjadi sukses seperti sekarang bukanlah hal yang mudah bagi Anthony. Semangat, kegigihan dan kecerdasannya dalam mengelola usaha menjadikan bisnisnya tetap bertahan. Kini Anthony punya karyawan lebih dari 50 ribu orang. Dia punya kiat jitu untuk mempertahankan karyawan. Menurutnya komunikasi yang baik menjadikan perusahaannya memiliki kinerja yang baik dan optimal.


Bangun Pabrik di Serbia

Salah satu perusahaan yang dinilai paling penting bagi Group Salim adalah PT Indofood Sukses Makmur yang memproduksi mie instan. Produk mi instan besutan Indofood bermerek Indomie dinilai paling laku di Indonesia, hingga ke Asia dan luar Asia. Itu sebabnya, Anthony memberanikan diri untuk membangun pabrik mi tersebut di luar negeri agar proses distribusinya mudah.

Salah satu lokasi yang dijadikan lokasi pembangunan pabrik adalah Serbia. Anak usaha dari Grup Salim, Indoadriatic Industry mengakuisisi lahan seluas 500 are di kawasan industri Indjija, Serbia. Penandatanganan akusisi lahan ini telah dilakukan pada 29 November 2013.

Keputusan Anthony itu didukung oleh Duta besar Indonesia untuk Serbia, Samuel Samson. Pihaknya puas dengan kesempatan dalam kerja sama antara kedua negara. Apalagi perseroan bergerak di usaha pangan yang berkaitan dengan pasta dan mie sehingga perlu peningkatan kapasitas.

Indoadriatic industry memperluas dan meningkatkan wilayah operasional di Serbia. Perusahaan di bawah grup Salim dan Wazaran ini membangun pabrik dan memproduksi mie di bawah lisensi Indofood.

Investasi pembangunan pabik senilai 11 juta euro. Pembangunan pabrik dimulai pada musim semi 2014, dan selesai pada awal 2015. Perseroan itu mempekerjakan 140-200 orang.

Produksi mi Indofood dipasarkan di semua negara bekas Yugoslavia termasuk Serbia. Pemasaran ini melalui Indo Srbija Food Company yang didirikan oleh grup Salim dan Wazaran dari Indonesia. Indo Srbija Food merupakan importir dan distributor untuk Serbia, Macedonia, Bulgaria dan Rumania.

Sebelumnya grup Salim melalui Salim Wazaran Kenya Co Ltd membangun pabrik Indomie di kawasan pelabuhan Mombasa, Kenya di Afrika Timur. Grup Salim memiliki komposisi 51 persen dan sisanya dimiliki Wazaran. Pembangunan pabrik di Kenya itu merupakan perluasan pasar Indomie grup Salim di Afrika. Investasinya sekitar USD 7,3 juta.

 

 

 

 

 

 


Scroll to top