BERITA INDEX BERITA
Harga Gabah Harus Dijaga agar Tetap Menguntungkan Petani
Pangan & Energi | DiLihat : 1441 | Selasa, 28 Agustus 2018 | 09:54

Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah penghasil beras mulai bergerak naik. Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan, kenaikan harga GKP cukup tajam terjadi sejak tiga minggu terakhir di hampir 46 kabupaten. “Harga gabah kering panen di tingkat petani itu meningkat cukup tajam, sampai Rp 284 per kilogram (kg). Sebelumnya harga GKP itu berkisar Rp 4.388 per kg sekarang jadi Rp 4.672 per kg,” katanya saat dihubungi kumparan, Selasa (29/8).
Dwi menjelaskan kalau kenaikan harga GKP ini terjadi akibat jadwal musim panen kedua yang meleset karena kemarau yang mulai melanda sejumlah daerah. Musim panen kedua yang dimulai pada Bulan Juli lalu harusnya bisa mencapai puncak pada Bulan Agustus hingga September.
“Kami khawatir karena sampai sekarang panen juga tak kunjung menghasilkan buah yang banyak. Harusnya puncaknya musim panen itu bulan ini, otomatis padi harusnya melimpah, tetapi ini enggak,” tambah Dwi lagi.
Produksi padi di sejumlah sentra jadi menurun. Akibatnya, harga GKP harus meningkat di tingkat petani. Dwi kemudian melanjutkan bahwa kenaikan harga GKP ini akan terus berlanjut hingga awal tahun 2019 mendatang.
“Perhitungan saya ini akan terus naik. Karena panen sudah mulai sedikit. Masa tanam petani kan baru mulai Oktober nanti,” katanya.
Kenaikan harga GKP ini, dirasa Dwi sebagai suatu hal yang wajar mengingat keterbatasan produksi padi di tingkat petani cenderung menurun. Karena itu, pemerintah diminta untuk tidak menggelar operasi pasar (OP) agar harga beras tidak menurun. Sebab, menurunnya harga beras di tingkat konsumen justru akan melemahkan produksi petani.
“Kalau harga beras turun, petani yang akan tersiksa. Biar lah petani merasakan kenaikan harga ini untuk menutupi kerugian mereka selama beberapa bulan. Produksi menurun, kalau harga turun ya para petani pasti malas untuk panen,” kata Dwi.











