BERITA INDEX BERITA
Jejak Cakar Singa Raksasa Sigiriya, Situs Arkeologi Paling Penting di Sri Lanka

DI antara destinasi wisata sejarah yang penuh daya tarik,
Cakar Singa di Sigiriya, Sri Lanka, adalah salah satu yang tak boleh
dilewatkan. Landmark luar biasa ini, yang telah ada sejak abad ke-5, menjadi
saksi bisu kehebatan peradaban masa lalu sekaligus daya tarik ikonik bagi
wisatawan.
Cakar Singa adalah bagian dari tangga besar yang dahulu
menghubungkan dasar tebing dengan istana megah di puncak batu Sigiriya. Batu
ini pernah menjadi benteng yang luar biasa, dikelilingi oleh taman-taman yang
tertata apik, kolam-kolam, serta lukisan dinding yang memukau. Cakar Singa
melambangkan kekuatan dan keagungan tempat ini, sekaligus memberikan gambaran
sekilas tentang kreativitas arsitektur masyarakat Sri Lanka kuno.
Kisah Cakar Singa tidak berhenti pada kejayaannya di masa
lalu. Dari tahun 1904 hingga 2022, berbagai inisiatif pemeliharaan dilakukan
untuk memastikan bahwa landmark ini tetap terjaga. Upaya ini menjadikan
Sigiriya sebuah situs bersejarah yang tidak hanya mempesona tetapi juga
memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya melestarikan warisan budaya.
Hari ini, Cakar Singa masih berdiri gagah sebagai pintu
masuk menuju puncak tebing, menyambut pengunjung yang ingin menyaksikan
pemandangan spektakuler dari atas.
Warisan Dunia UNESCO
Sigiriya adalah situs batuan raksasa yang menjulang di atas
hutan belantara Sri Lanka. Ini adalah salah satu situs arkeologi paling penting
di negara ini dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs ini
dihiasi dengan reruntuhan istana, taman, dan rangkaian lukisan.
Sigiriya dibangun oleh Raja Kashyapa I pada abad ke-5
Masehi. Kashyapa mengkhianati dan membunuh ayahnya, Raja Dhatusena, untuk
merebut tahta. Dia ingin membangun benteng yang tak tertembus, sehingga
dipilihlah Sigiriya karena lokasinya yang strategis. Batu itu dikelilingi oleh
hutan dan sangat sulit untuk didaki. Kashyapa juga membangun parit dan
serangkaian benteng di sekitar batu.
Istana di puncak Sigiriya adalah kompleks yang mewah. Ada
taman, kolam, dan air mancur. Ada juga lukisan wanita cantik, yang dikenal
sebagai "apsaras." Kashyapa tinggal di istana selama 18 tahun, tetapi
kekuasaan Kashyapa akhirnya ditumbangkan oleh saudara tirinya, Raja Moggallana
I.
Reruntuhan Sigiriya masih berdiri hingga hari ini. Area yang
paling menonjol adalah Teras Cakar Singa (Lion's Paw Terrace), yakni pintu
masuk ke istana. Area ini dulu dijaga oleh patung singa raksasa. Patung itu
telah dihancurkan, tetapi cakarnya tetap ada.
Peninggalan lain di Sigiriya termasuk Dinding Kaca (Mirror
Wall), Taman Air (Water Gardens), dan kuil yang berada di dalam gua (Cave
Temples). Area Dinding Kaca adalah lempengan batu yang dideretkan lalu dipoles
hingga mengkilap. Saking kilapnya, dinding batu ini dulu digunakan oleh wanita
istana untuk berkaca dan bersolek.
Taman Air adalah serangkaian kolam dan air mancur yang
digunakan untuk irigasi dan rekreasi. Taman-taman itu ditata dengan indah dan
merupakan tempat yang populer bagi pengunjung untuk bersantai dan menikmati
pemandangan.
Terdapat pula serangkaian kuil Buddha yang diukir di sisi
Sigiriya. Kuil-kuil ini adalah rumah bagi sejumlah patung dan lukisan, yang
merupakan beberapa contoh seni Buddha tertua yang masih ada di Sri Lanka.
Sigiriya adalah tujuan wisata yang populer dan dapat
dikunjungi sepanjang tahun. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah selama musim
kemarau, yaitu dari bulan Desember hingga April. Pendakian ke puncak batu cukup
curam, namun sepadan dengan pemandangannya. Ada juga sejumlah hal lain yang
dapat dilakukan di Sigiriya, seperti mengunjungi reruntuhan istana, taman, dan
kuil.











