BERITA INDEX BERITA
Mengawal 1 dari 7 Habits Prof. Abdul Mu’ti, Demi “Anak Indonesia Hebat, Indonesia Kuat!”

Anton Suparyanta
Penyuka Baca Buku, Tinggal di Klaten
TAK bisa ingkar “ganti menteri,
ganti kebijakan”. Apalagi mindset-nya jelas berbeda. Era kemarin menjadi
cermin cembung Indonesia diajak ramai-ramai melenting jauh ke depan. Imbasnya,
hari-hari ini tidak sedikit pribadi masyarakat kita pun terpelanting. Era
Kabinet Merah Putih berbeda lagi. Muncul tendensi umum tarik ulur seputar pola
pikir aspiratif. Ingin membangun-bangunkan dan membangkit-bangkitkan ruh lawas
yang mempribadi. Anda merasakannya?
Satu contoh kecil, saya ikuti kelebatan ide dasar Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti segera meluncurkan program
prioritas “7 kebiasaan anak Indonesia hebat” supaya Indonesia kuat: bangun
pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, bermasyarakat, makan makanan sehat
dan bergizi, serta tidur cepat. Kebiasaan ini tinggallah pepesan kosong jika
tidak dibangun-bangkitkan seorang Menteri yang merangkul pendidikan tingkat
dasar dan menengah setanah air.
Coba, segera teropong kebiasaan yang keempat. Gemar Belajar.
Kebiasaan ini sekadar rutinitas omongan dan deret program jika tidak ada
kawalan dan bimbingan dari hulu hingga hilir merata. Masyarakat kita masih
latah terngiang literasi. Bak musim laron, literasi pun digalakkan. Literasi
dari yang berkadar remeh-temeh hingga literasi dunia maya.
Rilis kebiasaan gemar belajar ini digaungkan Prof. Mu’ti
ditilik dari kebutuhan dasarnya, yakni habit membaca. Habit membaca menjadi
teroka zaman, teroka antargenerasi yang menyumbang ciri populasi bangsa.
Mulailah proyek. Proyek pengadaan dan persebaran bahan
bacaan anak (ranah sekolah) dan bahan bacaan masyarakat (ranah umum: tempat
ibadah, terminal, stasiun, bandara). Hati-hati, apakah proyek persebaran buku
bacaan anak selama ini melempem?
Perlu dicatat bahwa habit gemar belajar yang dimulai dari
rutinitas membaca ini memfokuskan buku bacaan bermutu untuk literasi Indonesia.
Pengadaan buku bermutu pun sudah disangga Kemendikbudristek (era lalu) melalui
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, khususnya untuk satuan awal PAUD dan
SD. Tidak lama berselang, disundul agenda rutin tahunan oleh BSKAP dan Pusat
Perbukuan yang mengumumkan penilaian ratusan judul buku nonteks pelajaran dalam
mendukung proses pembelajaran pada paruh pertama tahun 2024.
Anak bangsa wajib melek literasi. Anak bangsa harus suka
baca. Anak bangsa hobi membaca. Membaca itu menyenangkan. Bawalah anak bangsa
bermimpi bersama buku-buku bermutu. Sungguh, habit membaca ala Prof. Mu’ti ini
memanjakan dunia mimpi si anak dengan aneka ragam buku. Tentunya butuh etos
dikawal dan dibimbing dari kepentingan hulu hingga hilir. Jangan sampai sekadar
latah atas nama proyek.
“Barji barbeh”. Buku justru seakan-akan menyampah di tengah
konsumen baca yang selalu manja merengek kerinduan literasi. Buku-buku mengalir
lancar ke batas-batas permukiman terjauh di pelosok tanah air, tetapi tanpa
tindak lanjut evaluasi kebermanfaatannya. Sempat seorang kawan bilang, “banjir
buku ke daerah-daerah terpencil, tetapi masih kecil kesadaran untuk penumbuhan
habit membaca”.
Setiap generasi zaman pasti melek literasi. Saat inilah
momentum literasi generasi zaman cerita setelah Tere Liye mulai meredup. Ciri
momentum literasi disangga generasi phi yang mengandalkan prinsip kerja
digital. Menguarlah sebutan gen phigital. Gen ini mengawali kiprah masa remaja
pada awal abad XXI. Kita juga dihebohkan plus-minus serapan generasi Z.
Belajar dari habit tawaran Prof. Mu’ti, saya cukilkan kiprah
generasi ini yang sukses dinarasikan Tere Liye melalui puluhan fiksi. Ambillah
sebuah contoh novel Si Anak Badai sebagai
bukti pertaruhan. Ibaratnya, ada tiga balok besar digagas dalam cerita ini,
yaitu alam mimpi, fakta si tokoh aku, dan dunia epilog (“dunia akanan, dunia
angan” yang melabrak logika bocah!).
Sebegitu apresiatif buku novel anak anggitannya itu! Cerita
digerakkan oleh logika anak-anak usia sekolah dasar. Novel ini dibuka 7 halaman
mimpi si aku, Za (Zaenal), bersama Fatah (Fatahillah, adik Za). Za dan Fatah
menjadi sandera bajak laut. Mereka ditaruh di geladak utama kapal. Tak ada
ujung pangkal permasalahan seputar sandera. Mimpi ya cuma mimpi.
Mimpi adalah tanda. Mimpi menjadi tengara. Mimpi direkayasa
novelis untuk dijadikan peranti ketegangan. Tengara cerita melalui mimpi
merupakan isyarat agar cerita melompat. Plot kilas balik menjadi portal novel.
Jangan kaget jika novel ini mengoptimalkan prolog melalui sarana sastra yang
berupa mimpi.
Pertama, titi
yoni. Mimpi titi yoni berdurasi antara pukul 21.00-24.00.
Kualitas mimpi pada tataran ini tidak mempunyai gereget hidup. Biasanya
aktivitas pikir yang padat dan fisik yang lemah akan menjadi bunga tidur. Isi
mimpi berhubungan dengan kejadian yang membekas sebelum tidur atau remah-remah
masalah sebelum tidur. Layaknya igauan.
Kedua, gondo
yoni. Mimpi gondo yoni berdurasi antara pukul 24.00-03.00. Ada
tafsir baik atas mimpi pada jam-jam ini. Kualitas hidup seseorang bisa
disingkap dan diungkap dengan tujuan baik untuk segera dipraktikkan dalam
etiket sehari-hari. Jadi, jelas bisa dipilah dan dipilih; yang buruk bisa
langsung dibuang.
Ketiga, puspa
tajem. Mimpi puspa tajem berdurasi antara pukul 03.00-06.00.
Tataran ini terbaik untuk mimpi ketika terjadi keterlibatan atau peran Allah.
Kita menyebutnya wahyu yang sesungguhnya bisa dikenali dari kualitas olahrasa,
olahbudi, olahraga yang mewujud melalui bisikan, suara, ajakan, atau pesan
lembut dari kalbu. Orang saleh menyebutnya tanda kehadiran atau sapaan Tuhan.
Bagaimana mimpi Za dalam cerita Si Anak Badai? Jika sebatas mimpi yang dikisahkan dalam 7 halaman
awal novel, Tere merujuk tataran mimpi gondo yoni. Acuan setting tengah malam menjadi bukti. Tere tidak main-main dengan
taruhan mimpi. Akan tetapi, tafsir mimpi gondo yoni sebagai prolog novel
dijadikan dilema penceritaan.
Tere Liye memainkannya sebagai teknik suspense yang membangun dan menunda kausalitas antarperistiwa.
Terjadilah tumpang tindih penafsiran. Ini yang menjadi cacat untuk sebuah
novel. Mengapa muncul anakronisme?
Penafsiran menjadi ambyar ketika acuan waktu mimpi di tengah
malam dihadapkan dengan fakta Za mimpi di siang bolong yang dibangunkan oleh
Ode. Apalah kuasa arti sebuah latar waktu jika tidak digubris. Toh, hubungan
antarperistiwa yang dibatasi oleh anak-anak judul tetap terjalin harmonis.
Sebenarnya, usai mimpi Za inilah cerita sesungguhnya baru mulai ditata.
Tere Liye menggarap novel ini begitu rapi jika ditinjau dari
fungsi fakta cerita (ada kausalitas unsur tema, tokoh dan penokohan, serta
latar). Zaenal, Awang, Malim, dan Ode ibarat empat sekawan. Usia berkisar 11-12
tahun, kelas VI SD. Mereka bersama keluarga masing-masing hidup di kampung
Muara Manowa. Rumah, sekolah, rumah ibadah, dan pasar lebih banyak berdiri di
atas air. Kayu ulin menjadi penyangga primer. Mata pencaharian beragam. Ada
nelayan, pedagang, guru, dan pegawai pemerintahan desa. Kehidupan mereka
tenteram.
Kampung Muara Manowa menjadi terusik ketika terjadi tender
akal-akalan dari pejabat teras pemerintah. Proyeknya berpandangan bahwa Muara
Manowa akan dirombak menjadi sentra pelabuhan besar. Topografinya strategis
untuk lintas perdagangan. Akibatnya, terjadilah wacana bedhol desa massal ke
desa berseberangan. Rencana besar pelabuhan ini ditolak tegas oleh warga
Manowa. Tapi apa daya kekuatan politik warga. Proyek pelabuhan itu pun dimulai.
Akal busuk panitia pembangunan segera dilancarkan. Banyak bangunan sudah
dirobohkan, tak terkecuali rumah ibadah dan sekolah.
Inilah kenyataan pahit, wujud mimpi buruk si Zaenal yang
disandera bajak laut mewujud melalui Pak Alex dan Camat Tiong. Mereka
perpanjangan tangan kuasa gubernur. Alih-alih, tokoh pesohor di Manowa, Sakai
bin Manaf alias Pak Kapten, diciduk dengan alasan yang dibuat-buat. Sakai diperkarakan melalui jalur hukum dengan
ancaman bui. Sayang, delik perkaranya artifisial dan cacat hukum.
Dalam kondisi represif ini muncullah “dewa” penolong. Dalam
kajian sastra ada istilah deus ex machina, yaitu nama Adnan Buyung
Nasution, pesohor hukum dan pengadilan.
Kode ini menjadi tengara yang memudahkan untuk menyudahi
cerita. Adnan Buyung menjadi prediksi tentang pemenangan delik perkara dan
tuduhan yang menimpa Sakai bin Manaf. Kritik atas metode penceritaan ini bahwa
informasi eksplisit ala suspense ini
justru melemahkan ending cerita atau
halaman anak judul Epilog novel. Adnan Buyung yang direka menjadi suspense justru melemahkan foreshadowing (bayangan atau prediksi
kejadian perkara yang dihadirkan di akhir cerita). Solusi cerita pungkas novel
sudah bisa ditebak di awal atau di tengah cerita.
Penamaan Geng Si Anak Badai hanya dengan penceritaan 2 anak
judul (“Hujan Cakalang” dan “Badai”) seakan kurang harmoni dengan 24 anak judul
yang lainnya. Bukankah lebih galak dengan pemimpi, petualang, dan petarung? Ada
kesan bahwa Si Anak Badai terwakili
oleh 2 anak judul tersebut. Seakan-akan jika 2 anak judul itu dicabut,
penceritaan tetap normal dan tidak terpengaruh.
Sisi kelebihan novel ini tampak pada edukasi yang tak
terduga. Misalnya, tentang kearifan lokal berbalas pantun (pantun muda dan
pantun tua), pendidikan, persahabatan, saleh keluarga, perumpamaan, dan
komunitas syiar syair religi ibu-ibu. Keluarga Zul, Fatma, Za, Fatah, dan
Thiyah menjadi teladan yang baik. Pantun mengandung ajaran dan pesan moral yang
luhur. Pembelajaran budi pekerti menjadi nomor satu. Pembelajaran pekerti
seperti ini diceritakan stabil melalui penokohan.
Yang menjadi
kritikan, benarkah rumus larik pantun itu mencapai 15 suku kata? Bukankah sudah
dipatok 8-12 suku kata? (hlm 133)
Secara asas kebahasaan, novel ini menjadi contoh
pembelajaran berbahasa yang baik. Gaya pengalimatan lebih banyak mementingkan
unsur kelengkapan kalimat sederhana. Tidak patah-patah seperti bahasa cakap
lisan yang menonjolkan frasa atau klausa. Popularitas diksi dan kalimat
komunikatif memanjakan pembaca yang mayoritas bidikannya adalah remaja dan
dewasa muda. Memang tak bisa dimungkiri, typo
atau salah tik dan salah kaprah berbahasa masih sering muncul. Sedikit
contohnya “masuk ke dalam” dan “naik ke atas” sering berulang-ulang. Ada epilog
novel, tetapi tidak ada prolog. Penomoran dobel 25 untuk 2 anak judul (“Siasat”
dan “Bukti Tak Terbantahkan”).
Rangkaian peristiwa dalam Epilog novel ini tidak memberi
efek kejut. Semua jawaban dan argumen sudah disuratkan di bagian awal
penceritaan. Penahanan sementara Sakai bin Manaf sudah dibebaskan Adnan Buyung.
Epilog novel ini happy ending: Sakai
bin Manaf dilepaskan dari jerat penjara, bukti rekam Geng Si Anak Badai menjadi
penguatnya. Sekolah mulai dibangun baru.
Justru pikat pesona epilog yang mengejutkan adalah adanya
kliping kemenangan dari media cetak yang dibuat oleh Bu Guru Rum. Ada empat
kliping tentang korupsi-kolusi yang terkait proyek pelabuhan. Ada satu kliping
foto Adnan Buyung bersama Geng Si Anak Badai. Karena euforia dengan kliping
yang mengukuhkan jiwa petarung, alih-alih sampai melupakan pengumuman kelulusan
SD.
Butuh kawalan dan bimbingan pembelajar untuk mengukuhkan
habit gemar belajar (membaca) ala Prof. Mu’ti ini jika akan menuai Anak
Indonesia Hebat, Indonesia Kuat. Betapa menyenangkan mimpi si anak bangsa jika
mendapatkan buku-buku bacaan bermutu. Semoga penggalakan habit Prof. Mu’ti ini
tidak hanya sebatas agenda, tetapi sebagai gerakan transformatif yang selalu
ditagih dan dirindui anak-anak dan guru-guru bangsa. Sebab mutu literasi pasti
membersamai dahaga baca para anak bangsa. Semoga! ***











