BERITA INDEX BERITA

Mengawal 1 dari 7 Habits Prof. Abdul Mu’ti, Demi “Anak Indonesia Hebat, Indonesia Kuat!”

tilikan | DiLihat : 1245 | Senin, 18 November 2024 | 05:29
Mengawal 1 dari 7 Habits Prof. Abdul Mu’ti, Demi “Anak Indonesia Hebat, Indonesia Kuat!”

Anton Suparyanta

Penyuka Baca Buku, Tinggal di Klaten

 

TAK bisa ingkar “ganti menteri, ganti kebijakan”. Apalagi mindset-nya jelas berbeda. Era kemarin menjadi cermin cembung Indonesia diajak ramai-ramai melenting jauh ke depan. Imbasnya, hari-hari ini tidak sedikit pribadi masyarakat kita pun terpelanting. Era Kabinet Merah Putih berbeda lagi. Muncul tendensi umum tarik ulur seputar pola pikir aspiratif. Ingin membangun-bangunkan dan membangkit-bangkitkan ruh lawas yang mempribadi. Anda merasakannya?

Satu contoh kecil, saya ikuti kelebatan ide dasar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti segera meluncurkan program prioritas “7 kebiasaan anak Indonesia hebat” supaya Indonesia kuat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, bermasyarakat, makan makanan sehat dan bergizi, serta tidur cepat. Kebiasaan ini tinggallah pepesan kosong jika tidak dibangun-bangkitkan seorang Menteri yang merangkul pendidikan tingkat dasar dan menengah setanah air.

Coba, segera teropong kebiasaan yang keempat. Gemar Belajar. Kebiasaan ini sekadar rutinitas omongan dan deret program jika tidak ada kawalan dan bimbingan dari hulu hingga hilir merata. Masyarakat kita masih latah terngiang literasi. Bak musim laron, literasi pun digalakkan. Literasi dari yang berkadar remeh-temeh hingga literasi dunia maya.

Rilis kebiasaan gemar belajar ini digaungkan Prof. Mu’ti ditilik dari kebutuhan dasarnya, yakni habit membaca. Habit membaca menjadi teroka zaman, teroka antargenerasi yang menyumbang ciri populasi bangsa.

Mulailah proyek. Proyek pengadaan dan persebaran bahan bacaan anak (ranah sekolah) dan bahan bacaan masyarakat (ranah umum: tempat ibadah, terminal, stasiun, bandara). Hati-hati, apakah proyek persebaran buku bacaan anak selama ini melempem?

Perlu dicatat bahwa habit gemar belajar yang dimulai dari rutinitas membaca ini memfokuskan buku bacaan bermutu untuk literasi Indonesia. Pengadaan buku bermutu pun sudah disangga Kemendikbudristek (era lalu) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, khususnya untuk satuan awal PAUD dan SD. Tidak lama berselang, disundul agenda rutin tahunan oleh BSKAP dan Pusat Perbukuan yang mengumumkan penilaian ratusan judul buku nonteks pelajaran dalam mendukung proses pembelajaran pada paruh pertama tahun 2024.

Anak bangsa wajib melek literasi. Anak bangsa harus suka baca. Anak bangsa hobi membaca. Membaca itu menyenangkan. Bawalah anak bangsa bermimpi bersama buku-buku bermutu. Sungguh, habit membaca ala Prof. Mu’ti ini memanjakan dunia mimpi si anak dengan aneka ragam buku. Tentunya butuh etos dikawal dan dibimbing dari kepentingan hulu hingga hilir. Jangan sampai sekadar latah atas nama proyek.

“Barji barbeh”. Buku justru seakan-akan menyampah di tengah konsumen baca yang selalu manja merengek kerinduan literasi. Buku-buku mengalir lancar ke batas-batas permukiman terjauh di pelosok tanah air, tetapi tanpa tindak lanjut evaluasi kebermanfaatannya. Sempat seorang kawan bilang, “banjir buku ke daerah-daerah terpencil, tetapi masih kecil kesadaran untuk penumbuhan habit membaca”.

Setiap generasi zaman pasti melek literasi. Saat inilah momentum literasi generasi zaman cerita setelah Tere Liye mulai meredup. Ciri momentum literasi disangga generasi phi yang mengandalkan prinsip kerja digital. Menguarlah sebutan gen phigital. Gen ini mengawali kiprah masa remaja pada awal abad XXI. Kita juga dihebohkan plus-minus serapan generasi Z.

Belajar dari habit tawaran Prof. Mu’ti, saya cukilkan kiprah generasi ini yang sukses dinarasikan Tere Liye melalui puluhan fiksi. Ambillah sebuah contoh novel Si Anak Badai sebagai bukti pertaruhan. Ibaratnya, ada tiga balok besar digagas dalam cerita ini, yaitu alam mimpi, fakta si tokoh aku, dan dunia epilog (“dunia akanan, dunia angan” yang melabrak logika bocah!).

Sebegitu apresiatif buku novel anak anggitannya itu! Cerita digerakkan oleh logika anak-anak usia sekolah dasar. Novel ini dibuka 7 halaman mimpi si aku, Za (Zaenal), bersama Fatah (Fatahillah, adik Za). Za dan Fatah menjadi sandera bajak laut. Mereka ditaruh di geladak utama kapal. Tak ada ujung pangkal permasalahan seputar sandera. Mimpi ya cuma mimpi. 

Mimpi adalah tanda. Mimpi menjadi tengara. Mimpi direkayasa novelis untuk dijadikan peranti ketegangan. Tengara cerita melalui mimpi merupakan isyarat agar cerita melompat. Plot kilas balik menjadi portal novel. Jangan kaget jika novel ini mengoptimalkan prolog melalui sarana sastra yang berupa mimpi.

Pertama, titi yoni. Mimpi titi yoni berdurasi antara pukul 21.00-24.00. Kualitas mimpi pada tataran ini tidak mempunyai gereget hidup. Biasanya aktivitas pikir yang padat dan fisik yang lemah akan menjadi bunga tidur. Isi mimpi berhubungan dengan kejadian yang membekas sebelum tidur atau remah-remah masalah sebelum tidur. Layaknya igauan.

Kedua, gondo yoni. Mimpi gondo yoni berdurasi antara pukul 24.00-03.00. Ada tafsir baik atas mimpi pada jam-jam ini. Kualitas hidup seseorang bisa disingkap dan diungkap dengan tujuan baik untuk segera dipraktikkan dalam etiket sehari-hari. Jadi, jelas bisa dipilah dan dipilih; yang buruk bisa langsung dibuang.

Ketiga, puspa tajem. Mimpi puspa tajem berdurasi antara pukul 03.00-06.00. Tataran ini terbaik untuk mimpi ketika terjadi keterlibatan atau peran Allah. Kita menyebutnya wahyu yang sesungguhnya bisa dikenali dari kualitas olahrasa, olahbudi, olahraga yang mewujud melalui bisikan, suara, ajakan, atau pesan lembut dari kalbu. Orang saleh menyebutnya tanda kehadiran atau sapaan Tuhan.

Bagaimana mimpi Za dalam cerita Si Anak Badai? Jika sebatas mimpi yang dikisahkan dalam 7 halaman awal novel, Tere merujuk tataran mimpi gondo yoni. Acuan setting tengah malam menjadi bukti. Tere tidak main-main dengan taruhan mimpi. Akan tetapi, tafsir mimpi gondo yoni sebagai prolog novel dijadikan dilema penceritaan.

Tere Liye memainkannya sebagai teknik suspense yang membangun dan menunda kausalitas antarperistiwa. Terjadilah tumpang tindih penafsiran. Ini yang menjadi cacat untuk sebuah novel. Mengapa muncul anakronisme?

Penafsiran menjadi ambyar ketika acuan waktu mimpi di tengah malam dihadapkan dengan fakta Za mimpi di siang bolong yang dibangunkan oleh Ode. Apalah kuasa arti sebuah latar waktu jika tidak digubris. Toh, hubungan antarperistiwa yang dibatasi oleh anak-anak judul tetap terjalin harmonis. Sebenarnya, usai mimpi Za inilah cerita sesungguhnya baru mulai ditata.

Tere Liye menggarap novel ini begitu rapi jika ditinjau dari fungsi fakta cerita (ada kausalitas unsur tema, tokoh dan penokohan, serta latar). Zaenal, Awang, Malim, dan Ode ibarat empat sekawan. Usia berkisar 11-12 tahun, kelas VI SD. Mereka bersama keluarga masing-masing hidup di kampung Muara Manowa. Rumah, sekolah, rumah ibadah, dan pasar lebih banyak berdiri di atas air. Kayu ulin menjadi penyangga primer. Mata pencaharian beragam. Ada nelayan, pedagang, guru, dan pegawai pemerintahan desa. Kehidupan mereka tenteram.

Kampung Muara Manowa menjadi terusik ketika terjadi tender akal-akalan dari pejabat teras pemerintah. Proyeknya berpandangan bahwa Muara Manowa akan dirombak menjadi sentra pelabuhan besar. Topografinya strategis untuk lintas perdagangan. Akibatnya, terjadilah wacana bedhol desa massal ke desa berseberangan. Rencana besar pelabuhan ini ditolak tegas oleh warga Manowa. Tapi apa daya kekuatan politik warga. Proyek pelabuhan itu pun dimulai. Akal busuk panitia pembangunan segera dilancarkan. Banyak bangunan sudah dirobohkan, tak terkecuali rumah ibadah dan sekolah.

Inilah kenyataan pahit, wujud mimpi buruk si Zaenal yang disandera bajak laut mewujud melalui Pak Alex dan Camat Tiong. Mereka perpanjangan tangan kuasa gubernur. Alih-alih, tokoh pesohor di Manowa, Sakai bin Manaf alias Pak Kapten, diciduk dengan alasan yang dibuat-buat.  Sakai diperkarakan melalui jalur hukum dengan ancaman bui. Sayang, delik perkaranya artifisial dan cacat hukum.

Dalam kondisi represif ini muncullah “dewa” penolong. Dalam kajian sastra ada istilah deus ex machina, yaitu nama Adnan Buyung Nasution, pesohor hukum dan pengadilan.

Kode ini menjadi tengara yang memudahkan untuk menyudahi cerita. Adnan Buyung menjadi prediksi tentang pemenangan delik perkara dan tuduhan yang menimpa Sakai bin Manaf. Kritik atas metode penceritaan ini bahwa informasi eksplisit ala suspense ini justru melemahkan ending cerita atau halaman anak judul Epilog novel. Adnan Buyung yang direka menjadi suspense justru melemahkan foreshadowing (bayangan atau prediksi kejadian perkara yang dihadirkan di akhir cerita). Solusi cerita pungkas novel sudah bisa ditebak di awal atau di tengah cerita.

Penamaan Geng Si Anak Badai hanya dengan penceritaan 2 anak judul (“Hujan Cakalang” dan “Badai”) seakan kurang harmoni dengan 24 anak judul yang lainnya. Bukankah lebih galak dengan pemimpi, petualang, dan petarung? Ada kesan bahwa Si Anak Badai terwakili oleh 2 anak judul tersebut. Seakan-akan jika 2 anak judul itu dicabut, penceritaan tetap normal dan tidak terpengaruh.

Sisi kelebihan novel ini tampak pada edukasi yang tak terduga. Misalnya, tentang kearifan lokal berbalas pantun (pantun muda dan pantun tua), pendidikan, persahabatan, saleh keluarga, perumpamaan, dan komunitas syiar syair religi ibu-ibu. Keluarga Zul, Fatma, Za, Fatah, dan Thiyah menjadi teladan yang baik. Pantun mengandung ajaran dan pesan moral yang luhur. Pembelajaran budi pekerti menjadi nomor satu. Pembelajaran pekerti seperti ini diceritakan stabil melalui penokohan.

 Yang menjadi kritikan, benarkah rumus larik pantun itu mencapai 15 suku kata? Bukankah sudah dipatok 8-12 suku kata? (hlm 133)

Secara asas kebahasaan, novel ini menjadi contoh pembelajaran berbahasa yang baik. Gaya pengalimatan lebih banyak mementingkan unsur kelengkapan kalimat sederhana. Tidak patah-patah seperti bahasa cakap lisan yang menonjolkan frasa atau klausa. Popularitas diksi dan kalimat komunikatif memanjakan pembaca yang mayoritas bidikannya adalah remaja dan dewasa muda. Memang tak bisa dimungkiri, typo atau salah tik dan salah kaprah berbahasa masih sering muncul. Sedikit contohnya “masuk ke dalam” dan “naik ke atas” sering berulang-ulang. Ada epilog novel, tetapi tidak ada prolog. Penomoran dobel 25 untuk 2 anak judul (“Siasat” dan “Bukti Tak Terbantahkan”).

Rangkaian peristiwa dalam Epilog novel ini tidak memberi efek kejut. Semua jawaban dan argumen sudah disuratkan di bagian awal penceritaan. Penahanan sementara Sakai bin Manaf sudah dibebaskan Adnan Buyung. Epilog novel ini happy ending: Sakai bin Manaf dilepaskan dari jerat penjara, bukti rekam Geng Si Anak Badai menjadi penguatnya. Sekolah mulai dibangun baru.

Justru pikat pesona epilog yang mengejutkan adalah adanya kliping kemenangan dari media cetak yang dibuat oleh Bu Guru Rum. Ada empat kliping tentang korupsi-kolusi yang terkait proyek pelabuhan. Ada satu kliping foto Adnan Buyung bersama Geng Si Anak Badai. Karena euforia dengan kliping yang mengukuhkan jiwa petarung, alih-alih sampai melupakan pengumuman kelulusan SD.

Butuh kawalan dan bimbingan pembelajar untuk mengukuhkan habit gemar belajar (membaca) ala Prof. Mu’ti ini jika akan menuai Anak Indonesia Hebat, Indonesia Kuat. Betapa menyenangkan mimpi si anak bangsa jika mendapatkan buku-buku bacaan bermutu. Semoga penggalakan habit Prof. Mu’ti ini tidak hanya sebatas agenda, tetapi sebagai gerakan transformatif yang selalu ditagih dan dirindui anak-anak dan guru-guru bangsa. Sebab mutu literasi pasti membersamai dahaga baca para anak bangsa. Semoga! ***

 

 

 

 


Scroll to top