BERITA INDEX BERITA
Kekayaan Hayati yang Terusik

M. Ghaniey Al Rasyid
Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra, Tinggal di
Kota Surakarta
PADA 1295 M, Marcopolo dalam perjalanan politiknya ke Cina,
sempat mampir melawat ke Indonesia. Marcopolo bukan satu-satunya orang
berpengaruh pernah ke Nusantara. Ibnu Bathtuthah pada 1345 pernah pula
berkunjung ke Indonesia.
Negeri yang dijuluki sebagai Zamrud Kathulistiwa menarik
banyak mata untuk mengunjunginya. Pada awal abad ke-19, seorang naturalis
Inggris -Alfred Russel Wallace mendarat ke Singapore. Kemudian jenjang delapan
tahun lamanya, ia menyusuri Sumatera, Bali, Lombok, Jawa, Kalimantan, Maluku
sampai Papua.
Wallace mencatat pola pertanian di Bali, kondisi magis
masyarakat Jawa, Kalimantan dan yang lebih menarik ialah bagaimana kekayaan hayati di Nusantara memiliki perbedaan yang bervariatif. Dalam ilmu lingkungan
lekat dengan istilah Endemisme - dapat diartikan sebagai kekayaan hewan maupun
tumbuhan di suatu daerah tertentu saja dan tidak terdapat di daerah lain.
Wallace mencatat bagaimana endemisme di Lombok berbeda dari
yang ada di Bali. Kekagumannya itu ketika mengutarakan bahwa, endemisme di
pulau tersebut seperti terpaut ribuan mil. Lawatannya di Bali ia mencatat,
bahwa tidak ada lagi burung-burung pelatuk dan pemakan buah. Tidak ada lagi
burung-burng manyar atau burung kecil, coklat, berkepala kuning cerah yang
sering membikin sarangnya seperti botol.
Sebaliknya bisa ditemui burung-burung yang tersebar di
Autralia; kakak tua putih kecil, burung kecil penghisap madu dari Genus
Ptilotis dan Meropus Ornatus si pemangsa lebah. Wallace merekamnya dengan
teliti. Kendati pentingnya proses pendataan keanekaragaman hayati itu. Untuk
mendapatkan sumber data yang padat mengenai keanekaragaman hayati, Wallace rela
mendirikan gubuk di tengah belantara.
Berkat catatan Wallace, Biogeografi cukup terbantu atas
kontribusinya. Garis-garis maya yang membentang di beberapa pelosok negeri
memberi gambaran persebaran hewan dan tumbuhan di pulau-pulau Nusantara.
Keberadaan Revolusi Industri pada medio abad ke-18-19,
berpengaruh seperti kotak domino. Ia merambat dan berpengaruh ke segala lini
penjuru dunia. Syahdan, pelbagai pabrik bercokol menyembul. Hutan
seyogianya sebagai tempat tinggal hewan dan tumbuhan, berhadapan dengan pabrik
maupun bangunan yang menggasak ruang hidup tanaman dan hewan.
Pulau Kalimantan bakal dijadikan ibu Kota Republik
Indonesia. Di pulau itu, terdapat endemik Nasalis Larvatus. Adalah Bekantan.
Perawakan seperti monyet, berhidung besar dan panjang, bulunya berkelir coklat
ke kuning-kuningan. Biogeografi juga menyebutnya sebagai “Belanda Borneo.”
Pada Tempo (27 Desember 1980) mencatat kegelisahan bekantan
ketika berhadapan dengan ruang hidupnya yang terus menciut. Bekantan hidup
lebih dekat dengan penduduk, beda dengan orang utan yang lebih memilih hidup di
hutan belantara yang lebih rimbun jauh dari keramaian. Kedua-duanya baik
bekantan dan orang utan semakin tergerus kesempatan hidupnya.
Linus Simanjuntak, dalam liputannya di tulisan Tempo itu, mengurai
permasalahan bekantan yang ruang hidupnya terus dipersempit. Mafhum, pembalakan
hutan besar-besaran juga sebagai pengaruh. Namun, perihal antroposentris
seperti kebutuhan manusia untuk membikin tempat tinggal dengan membalak hutan
guna ruang hidupnya, juga menjadi penyebabnya.
Keanekaragaman hayati di Indonesia menurut Setiadi di Pengantar
Ilmu Lingkungan, (IPB-2015), kurang lebih 120 juta ha dan luas
territorial termasuk lautannya kurang lebih luas seluas 400 juta ha. Indonesia
yang terletak dibawah garis maya katulistiwa, sangat memungkinkan disinari oleh
matahari dan beberapa bulan dengan bulan basah. Kendati demikian, tercipta pelbagai plasma nutfah yang berkembang berdasarkan situasi alam di dalamnya.
Keberadaan bekantan dan pelbagai macam keanekaragaman hayati
lainnya bertaruh pada situasi yang menghimpitnya. Hutan hujan tropis yang di
dalamnya singgah pelbagai plasma nutfah, beratus-ratus hektare beberapa
mulai dialihfungsikan menjadi beton ataupun tembok-tembok yang menjulang.
Sebuah novel reflektif gubahan Jostein Gaarder berjudul
Dunia Anna (Mizan, 2015), mengajak pembaca untuk merenungkan realitas kiwari
akan kegelisahan atas krisis iklim. Buku setebal 224 halaman itu, cukup teliti dan membikin pembaca untuk merenungkan manusia yang
acap kali egois membaca semesta.
“Supaya kita dapat memelihara keanekaragaman hayati di
planet ini, kita perlu melakukan pergeseran cara berpikir besar-besaran seperti
yang dilakukan oleh Copernicus”. (Hlm. 158)
Manusia dihadapkan dengan keinginan untuk mengeruk hasil
bumi yang menggiurkan. Gundukan tanah yang tergelatak pelbagai jenis mineral
seperti batu-bara, dan komoditas ekspor bernilai tinggi. Ceruk-ceruk kerusakan
alhasil muncul, berimbas kepada makhluk hidup di sekitarnya.
Pelbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi pelik-pelik
kerusakan lingkungan maupun iklim. Kesepakatan untuk menurunkan emisi karbon
pada tahun 2030 sampai 2050, menutup lini-lini produksi energi yang memberi
emisi karbon berlebih, dan mengurangi pembalakan liar atas nama produktivitas
ekonomi, bukan kemustahilan bila langkah itu dilakukan secara serius dan tabah.
“Menurut sebuah perumpamaan, seekor katak yang apabila
dimasukan ke dalam kubangan air yang mendidih, maka katak akan meloncat dari
air mendidih tersebut. Jika katak tersebut dimasukan ke dalam panci berisi air
dingin yang secara perlahan direbus hingga mendidih, katak tersebut tidak akan
mendeteksi bahaya tersebut, hingga akhirnya mati.” (Hlm. 159).
Jostein memberi sebuah gambaran, bahwa manusia bertaruh
dengan waktu untuk lekas-lekas menyelesaikannya atau malah menggali liang
kuburnya sendiri. Permasalahan krisi lingkun dan dan iklim bisa dibilang
sebagai perkara tabiat manusia yang tak pernah merasa cukup.
E.F Schumacher sempat mengingatkan umat manusia yang
menyandang sebagai Homo Economicus. Keinginan untuk mendapatkan pencapaian
perekonomian nan besar, kadang kala menutup mata lingkungan dan hutan. Mereka
berkelindan dibalik angka-angka penilaian terhadap sumber daya alam lingkungan
yang bisa sewaktu-waktu diatur kemana aliran dana memancar. Kemudian Schumacher
menyulut perbincangan, bila yang kecil saja sudah mencukupi, mengapa harus
besar akan tetapi merusak. Sekian.













