BERITA INDEX BERITA

Kekayaan Hayati yang Terusik

tilikan | DiLihat : 623 | Sabtu, 16 November 2024 | 08:41
Kekayaan Hayati yang Terusik

M. Ghaniey Al Rasyid

Penulis Lepas, Pengkliping dan Penikmat Sastra, Tinggal di Kota Surakarta

 

PADA 1295 M, Marcopolo dalam perjalanan politiknya ke Cina, sempat mampir melawat ke Indonesia. Marcopolo bukan satu-satunya orang berpengaruh pernah ke Nusantara. Ibnu Bathtuthah pada 1345 pernah pula berkunjung ke Indonesia.

Negeri yang dijuluki sebagai Zamrud Kathulistiwa menarik banyak mata untuk mengunjunginya. Pada awal abad ke-19, seorang naturalis Inggris -Alfred Russel Wallace mendarat ke Singapore. Kemudian jenjang delapan tahun lamanya, ia menyusuri Sumatera, Bali, Lombok, Jawa, Kalimantan, Maluku sampai Papua.

Wallace mencatat pola pertanian di Bali, kondisi magis masyarakat Jawa, Kalimantan dan yang lebih menarik ialah bagaimana kekayaan hayati di Nusantara memiliki perbedaan yang bervariatif. Dalam ilmu lingkungan lekat dengan istilah Endemisme - dapat diartikan sebagai kekayaan hewan maupun tumbuhan di suatu daerah tertentu saja dan tidak terdapat di daerah lain.

Wallace mencatat bagaimana endemisme di Lombok berbeda dari yang ada di Bali. Kekagumannya itu ketika mengutarakan bahwa, endemisme di pulau tersebut seperti terpaut ribuan mil. Lawatannya di Bali ia mencatat, bahwa tidak ada lagi burung-burung pelatuk dan pemakan buah. Tidak ada lagi burung-burng manyar atau burung kecil, coklat, berkepala kuning cerah yang sering membikin sarangnya seperti botol.

Sebaliknya bisa ditemui burung-burung yang tersebar di Autralia; kakak tua putih kecil, burung kecil penghisap madu dari Genus Ptilotis dan Meropus Ornatus si pemangsa lebah. Wallace merekamnya dengan teliti. Kendati pentingnya proses pendataan keanekaragaman hayati itu. Untuk mendapatkan sumber data yang padat mengenai keanekaragaman hayati, Wallace rela mendirikan gubuk di tengah belantara.

Berkat catatan Wallace, Biogeografi cukup terbantu atas kontribusinya. Garis-garis maya yang membentang di beberapa pelosok negeri memberi gambaran persebaran hewan dan tumbuhan di pulau-pulau Nusantara.

Keberadaan Revolusi Industri pada medio abad ke-18-19, berpengaruh seperti kotak domino. Ia merambat dan berpengaruh ke segala lini penjuru dunia. Syahdan, pelbagai pabrik bercokol menyembul. Hutan seyogianya sebagai tempat tinggal hewan dan tumbuhan, berhadapan dengan pabrik maupun bangunan yang menggasak ruang hidup tanaman dan hewan.

Pulau Kalimantan bakal dijadikan ibu Kota Republik Indonesia. Di pulau itu, terdapat endemik Nasalis Larvatus. Adalah Bekantan. Perawakan seperti monyet, berhidung besar dan panjang, bulunya berkelir coklat ke kuning-kuningan. Biogeografi juga menyebutnya sebagai “Belanda Borneo.”

Pada Tempo (27 Desember 1980) mencatat kegelisahan bekantan ketika berhadapan dengan ruang hidupnya yang terus menciut. Bekantan hidup lebih dekat dengan penduduk, beda dengan orang utan yang lebih memilih hidup di hutan belantara yang lebih rimbun jauh dari keramaian. Kedua-duanya baik bekantan dan orang utan semakin tergerus kesempatan hidupnya.

Linus Simanjuntak, dalam liputannya di tulisan Tempo itu, mengurai permasalahan bekantan yang ruang hidupnya terus dipersempit. Mafhum, pembalakan hutan besar-besaran juga sebagai pengaruh. Namun, perihal antroposentris seperti kebutuhan manusia untuk membikin tempat tinggal dengan membalak hutan guna ruang hidupnya, juga menjadi penyebabnya.

Keanekaragaman hayati di Indonesia menurut Setiadi di Pengantar Ilmu Lingkungan, (IPB-2015), kurang lebih 120 juta ha dan luas territorial termasuk lautannya kurang lebih luas seluas 400 juta ha. Indonesia yang terletak dibawah garis maya katulistiwa, sangat memungkinkan disinari oleh matahari dan beberapa bulan dengan bulan basah. Kendati demikian, tercipta pelbagai plasma nutfah yang berkembang berdasarkan situasi alam di dalamnya.

Keberadaan bekantan dan pelbagai macam keanekaragaman hayati lainnya bertaruh pada situasi yang menghimpitnya. Hutan hujan tropis yang di dalamnya singgah pelbagai plasma nutfah, beratus-ratus hektare beberapa mulai dialihfungsikan menjadi beton ataupun tembok-tembok yang menjulang.

Sebuah novel reflektif gubahan Jostein Gaarder berjudul Dunia Anna (Mizan, 2015), mengajak pembaca untuk merenungkan realitas kiwari akan kegelisahan atas krisis iklim. Buku setebal 224 halaman itu, cukup teliti dan membikin pembaca untuk merenungkan manusia yang acap kali egois membaca semesta.

“Supaya kita dapat memelihara keanekaragaman hayati di planet ini, kita perlu melakukan pergeseran cara berpikir besar-besaran seperti yang dilakukan oleh Copernicus”. (Hlm. 158)

Manusia dihadapkan dengan keinginan untuk mengeruk hasil bumi yang menggiurkan. Gundukan tanah yang tergelatak pelbagai jenis mineral seperti batu-bara, dan komoditas ekspor bernilai tinggi. Ceruk-ceruk kerusakan alhasil muncul, berimbas kepada makhluk hidup di sekitarnya.

Pelbagai usaha telah dilakukan untuk mengatasi pelik-pelik kerusakan lingkungan maupun iklim. Kesepakatan untuk menurunkan emisi karbon pada tahun 2030 sampai 2050, menutup lini-lini produksi energi yang memberi emisi karbon berlebih, dan mengurangi pembalakan liar atas nama produktivitas ekonomi, bukan kemustahilan bila langkah itu dilakukan secara serius dan tabah.

“Menurut sebuah perumpamaan, seekor katak yang apabila dimasukan ke dalam kubangan air yang mendidih, maka katak akan meloncat dari air mendidih tersebut. Jika katak tersebut dimasukan ke dalam panci berisi air dingin yang secara perlahan direbus hingga mendidih, katak tersebut tidak akan mendeteksi bahaya tersebut, hingga akhirnya mati.” (Hlm. 159).

Jostein memberi sebuah gambaran, bahwa manusia bertaruh dengan waktu untuk lekas-lekas menyelesaikannya atau malah menggali liang kuburnya sendiri. Permasalahan krisi lingkun dan dan iklim bisa dibilang sebagai perkara tabiat manusia yang tak pernah merasa cukup.

E.F Schumacher sempat mengingatkan umat manusia yang menyandang sebagai Homo Economicus. Keinginan untuk mendapatkan pencapaian perekonomian nan besar, kadang kala menutup mata lingkungan dan hutan. Mereka berkelindan dibalik angka-angka penilaian terhadap sumber daya alam lingkungan yang bisa sewaktu-waktu diatur kemana aliran dana memancar. Kemudian Schumacher menyulut perbincangan, bila yang kecil saja sudah mencukupi, mengapa harus besar akan tetapi merusak. Sekian.

 


Scroll to top