BERITA INDEX BERITA
Pohon: Kehidupan dan Kematian

Bandung Mawardi
Bapak rumah tangga dan tukang kliping
KEMATIAN di India, kematian tak selalu atas nama
kolonialisme. Di sana, orang-orang terbaring akibat wabah kolera. Kematian
tanpa peluru atau makian-makinan bergelimang hinaan. Wabah mencipta tamat untuk
orang-orang India dan orang-orang berasal dari Eropa. Kematian seolah menampik
diskriminasi warna kulit dan bahasa.
Bocah selamat dari wabah kejam. Di rumah besar, orang-orang
tergeletak mati atau berlari menghindari maut. Bocah perempuan itu “tertidur”
lama tapi selamat dari kematian. Di India, ia kehilangan bapak dan ibu. Bocah
itu dipulangkan ke Inggris untuk ikut hidup di rumah paman. Bocah itu berduka
tapi mengalami hidup dengan penasaran, keluguan, dan ketakjuban. Di rumah
paman, ia mendapatkan misteri-misteri sulit dirampungkan akal.
Ia pun mendapat cerita mengenai kematian dan pohon. Kita
sedang membaca fragmen dalam novel berjudul The Secret Garden gubahan
Frances Hodgson Burnett. Si bocah meragu saat mendapat pengisahan kematian bibi
berakibat kemurungan dan kepedihan paman.
Pada suatu hari, bibi berada di taman. Di situ, ada pohon
besar dan tua. Bibi itu duduk di bawah pohon. Duduk tak beruntung. Ia terjatuh
untuk menanggungkan sakit dan mati. Di dekat pohon tua mengisahkan kematian,
bunga mawar memberi merah tapi duka berkepanjangan. Taman berpohon tua dan
kematian itu membuat si bocah penasaran. Ia ingin melihat pohon-pohon setelah
mengetahui burung bertengger memberi suara merdu. Di mata paman, pohon itu
kematian. Di pengalaman raga si bocah, pohon itu keindahan dan misteri.
Di cerita berbeda, kita diajak melihat dan memuliakan
pohon-pohon bersama gadis kecil diceritakan Lucy M Montgomery dalam novel
berjudul Anne of Green Gables. Pohon-pohon diberi nama. Bocah tanpa
bapak-ibu membuat percakapan demi kebahagiaan dan penciptaan cerita-cerita
ingin bermunculan setiap hari. Pohon-pohon pun mengesahkan doa-doa saat si
bocah. Doa tanpa berlutut tapi berbaring saat mengerti pohon-pohon tinggi
seperti bergerak ke langit. Berdoa bersama rumput dan pohon. Kita mengerti si
bocah sedang membuat kehidupan. Pohon itu referensi dan ejawantah.
Di novel Yann Martel berjudul The High Mountain of
Portugal, kita mengikuti ulah pengendara mobil menuju suatu tempat di
ketinggian. Mobil bergerak di jalan penuh rintangan dan kesulitan. Lelaki itu
menebang pohon dianggap menggangu perjalanan. Mobil harus bisa lewat. Kesadaran
telat: pohon ditebang itu pohon tua dikeramatkan warga lokal. Tragedi kematian
pohon oleh mobil dengan mesin berisik dan memuja kecepatan. Kita ikut senewen
atas nasib pohon di hadapan keangkuhan manusia dan mesin.
Cerita-cerita dari negeri jauh membawakan pohon itu
kehidupan dan kematian. Kini, kita menghadapi berita: pohon dan kematian. Di Kompas,
4 November 2024, kita membaca berita duka: “Sembilan orang tewas akibat sebuah
pohon besar tumbang di lokasi wisata Situs Bulu Matanre, Kecamatan Lalabata,
Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Minggu (3/11/2024) siang. Peristiwa pohon
tumbang ini terjadi di tengah hujan deras dan petir.” Kita berpikir lagi
tentang pohon dan kematian.
Berita tak sekadar pohon. Kita mendapat penjelasan dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Selatan: “Korban adalah keluarga yang datang ke situs tersebut untuk ziarah. Mereka membawa sesajian ke sekitar pohon dengan maksud membayar hajatan.
Hujan deras yang
turun disertai petir menyebabkan pohon tumbang dan menimpa korban.” Orang-orang
dalam peristiwa ritual-kultura. Pohon dianggap mengandung pesona dna kekuatan.
Kita pun memikirkan cuaca. Berita itu memberi duka dalam jalinan pemaknaan
manusia, pohon, dan hujan.
Pemaknaan pohon dalam rujukan tradisional lekas dihajar
nalar-nalar (picik) modern saat mewujudkan pamrih-pamrih komersial. Pada abad
XX, kita lumrah dijebak penjelasan: pohon itu komoditas. Pohon-pohon dimengerti
dalam raihan untung. Pada situasi berbeda, pohon-pohon justru menghilang akibat
permukiman, perkantoran pabrik, jalan, dan lain-lain. Perlakuan atas
pohon-pohon tak memberi jaminan kehidupan. Pohon untuk rujukan tata kehidupan
indah, teduh, makmur, tenang, bahagia, atau sehat tergantikan dengan “bahasa”
dan “peristiwa” mengakibatkan nestapa.
Pohon memang menguak pengharapan, penantian, dan
perlindungan bila kita membaca dongeng-dongeng kuno atau tata kehidupan
tradisional. Pohon menandai lakok-lakon suka dan duka. Di desa dihuni
keluarga-keluarga miskin, pohon kadang dilihat sebagai tanda. Pohon masih
sanggup hidup dalam kondisi alam amburadul tetap memberi pesan agar
manusia-manusia tak berputus asa. Di tatapan mata ketulusan dan kepasrahan,
pohon bisa memberi gairah, hijau, kebaikan, dan “keabadian”.
Di novel berjudul Where the Mountain Meets the Moon
gubahan Grace Lin, kita menemukan pengembaraan bocah ingin mengubah nasib diri,
keluarga, dan desa. Kemiskinan terlalu lama. Pengajuan impian dan ikhtiar
mengubah cerita di dunia terselenggara dengan pengembaraan penuh keajaiban
berlatar Tiongkok. Ia pun mengerti pohon-pohon memberi pangan.
Pohon-pohon berseru kekuatan adi kodrati. Di pengembaraan,
pohon itu referensi “pembenaran” atas kemauan hidup: bergerak dan bertumbuh. Di
bocah perempuan lekas mengerti pohon-pohon mengabarkan kehidupan dan kematian.
Pada pohon-pohon, ia merasakan pengembaraan bersama angin, binatang, matahari,
batu, dan lain-lain. Pohon-pohon kadang pusat atau kiblat. Pohon-pohon pun bisa
sekadar “pelengkap”.
Di luar novel-novel, kita telat dan gamang mengartikan
pohon. Kita makin sulit “membaca” dan menempatkan diri bersama pohon-pohon.
Pada abad XXI, kita diwajibkan memikirkan serius manusia dan pohon. Di Kompas,
30 Oktober 2024, kita membaca pengakuan Punan Batu hidup di hutan Kalimantan:
“Setiap satu pohon ditebang, sumber hidup kami berkurang.”
Ia sedang mengingatkan nasib-nasib pohon di pelbagai hutan
akibat lakon buruk manusia. Ia mengisahkan kaitan-kaitan di hutan: “Ada
pelbagai pohon buah, yang di bawah tajukanya ditumbuhi umbi rambat, tanaman
sayur, tanaman obat, dan tali akar sebagai sumber air segar.” Kita mendapat
tanda seru mengenai pohon di hutan.
Kabar buruk pun datang. Sekian spesies pohon di dunia
terancam punah. Kita tak lagi terus sibuk di halaman-halaman novel. Pohon-pohon
minta segera diperhatian dan dimuliakan saat tanda seru makin menggelisahkan.
Pohon tetap referensi kita di dunia jika tersandung dilema: kehidupan dan
kematian. Begitu.













