BERITA INDEX BERITA

Pohon: Kehidupan dan Kematian

tilikan | DiLihat : 930 | Senin, 11 November 2024 | 08:42
Pohon: Kehidupan dan Kematian

Bandung Mawardi

Bapak rumah tangga dan tukang kliping

 

KEMATIAN di India, kematian tak selalu atas nama kolonialisme. Di sana, orang-orang terbaring akibat wabah kolera. Kematian tanpa peluru atau makian-makinan bergelimang hinaan. Wabah mencipta tamat untuk orang-orang India dan orang-orang berasal dari Eropa. Kematian seolah menampik diskriminasi warna kulit dan bahasa.

Bocah selamat dari wabah kejam. Di rumah besar, orang-orang tergeletak mati atau berlari menghindari maut. Bocah perempuan itu “tertidur” lama tapi selamat dari kematian. Di India, ia kehilangan bapak dan ibu. Bocah itu dipulangkan ke Inggris untuk ikut hidup di rumah paman. Bocah itu berduka tapi mengalami hidup dengan penasaran, keluguan, dan ketakjuban. Di rumah paman, ia mendapatkan misteri-misteri sulit dirampungkan akal.

Ia pun mendapat cerita mengenai kematian dan pohon. Kita sedang membaca fragmen dalam novel berjudul The Secret Garden gubahan Frances Hodgson Burnett. Si bocah meragu saat mendapat pengisahan kematian bibi berakibat kemurungan dan kepedihan paman.

Pada suatu hari, bibi berada di taman. Di situ, ada pohon besar dan tua. Bibi itu duduk di bawah pohon. Duduk tak beruntung. Ia terjatuh untuk menanggungkan sakit dan mati. Di dekat pohon tua mengisahkan kematian, bunga mawar memberi merah tapi duka berkepanjangan. Taman berpohon tua dan kematian itu membuat si bocah penasaran. Ia ingin melihat pohon-pohon setelah mengetahui burung bertengger memberi suara merdu. Di mata paman, pohon itu kematian. Di pengalaman raga si bocah, pohon itu keindahan dan misteri.

Di cerita berbeda, kita diajak melihat dan memuliakan pohon-pohon bersama gadis kecil diceritakan Lucy M Montgomery dalam novel berjudul Anne of Green Gables. Pohon-pohon diberi nama. Bocah tanpa bapak-ibu membuat percakapan demi kebahagiaan dan penciptaan cerita-cerita ingin bermunculan setiap hari. Pohon-pohon pun mengesahkan doa-doa saat si bocah. Doa tanpa berlutut tapi berbaring saat mengerti pohon-pohon tinggi seperti bergerak ke langit. Berdoa bersama rumput dan pohon. Kita mengerti si bocah sedang membuat kehidupan. Pohon itu referensi dan ejawantah.

Di novel Yann Martel berjudul The High Mountain of Portugal, kita mengikuti ulah pengendara mobil menuju suatu tempat di ketinggian. Mobil bergerak di jalan penuh rintangan dan kesulitan. Lelaki itu menebang pohon dianggap menggangu perjalanan. Mobil harus bisa lewat. Kesadaran telat: pohon ditebang itu pohon tua dikeramatkan warga lokal. Tragedi kematian pohon oleh mobil dengan mesin berisik dan memuja kecepatan. Kita ikut senewen atas nasib pohon di hadapan keangkuhan manusia dan mesin.

Cerita-cerita dari negeri jauh membawakan pohon itu kehidupan dan kematian. Kini, kita menghadapi berita: pohon dan kematian. Di Kompas, 4 November 2024, kita membaca berita duka: “Sembilan orang tewas akibat sebuah pohon besar tumbang di lokasi wisata Situs Bulu Matanre, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Minggu (3/11/2024) siang. Peristiwa pohon tumbang ini terjadi di tengah hujan deras dan petir.” Kita berpikir lagi tentang pohon dan kematian.

Berita tak sekadar pohon. Kita mendapat penjelasan dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Selatan: “Korban adalah keluarga yang datang ke situs tersebut untuk ziarah. Mereka membawa sesajian ke sekitar pohon dengan maksud membayar hajatan.

Hujan deras yang turun disertai petir menyebabkan pohon tumbang dan menimpa korban.” Orang-orang dalam peristiwa ritual-kultura. Pohon dianggap mengandung pesona dna kekuatan. Kita pun memikirkan cuaca. Berita itu memberi duka dalam jalinan pemaknaan manusia, pohon, dan hujan.

Pemaknaan pohon dalam rujukan tradisional lekas dihajar nalar-nalar (picik) modern saat mewujudkan pamrih-pamrih komersial. Pada abad XX, kita lumrah dijebak penjelasan: pohon itu komoditas. Pohon-pohon dimengerti dalam raihan untung. Pada situasi berbeda, pohon-pohon justru menghilang akibat permukiman, perkantoran pabrik, jalan, dan lain-lain. Perlakuan atas pohon-pohon tak memberi jaminan kehidupan. Pohon untuk rujukan tata kehidupan indah, teduh, makmur, tenang, bahagia, atau sehat tergantikan dengan “bahasa” dan “peristiwa” mengakibatkan nestapa.

Pohon memang menguak pengharapan, penantian, dan perlindungan bila kita membaca dongeng-dongeng kuno atau tata kehidupan tradisional. Pohon menandai lakok-lakon suka dan duka. Di desa dihuni keluarga-keluarga miskin, pohon kadang dilihat sebagai tanda. Pohon masih sanggup hidup dalam kondisi alam amburadul tetap memberi pesan agar manusia-manusia tak berputus asa. Di tatapan mata ketulusan dan kepasrahan, pohon bisa memberi gairah, hijau, kebaikan, dan “keabadian”.

Di novel berjudul Where the Mountain Meets the Moon gubahan Grace Lin, kita menemukan pengembaraan bocah ingin mengubah nasib diri, keluarga, dan desa. Kemiskinan terlalu lama. Pengajuan impian dan ikhtiar mengubah cerita di dunia terselenggara dengan pengembaraan penuh keajaiban berlatar Tiongkok. Ia pun mengerti pohon-pohon memberi pangan.

Pohon-pohon berseru kekuatan adi kodrati. Di pengembaraan, pohon itu referensi “pembenaran” atas kemauan hidup: bergerak dan bertumbuh. Di bocah perempuan lekas mengerti pohon-pohon mengabarkan kehidupan dan kematian. Pada pohon-pohon, ia merasakan pengembaraan bersama angin, binatang, matahari, batu, dan lain-lain. Pohon-pohon kadang pusat atau kiblat. Pohon-pohon pun bisa sekadar “pelengkap”.

Di luar novel-novel, kita telat dan gamang mengartikan pohon. Kita makin sulit “membaca” dan menempatkan diri bersama pohon-pohon. Pada abad XXI, kita diwajibkan memikirkan serius manusia dan pohon. Di Kompas, 30 Oktober 2024, kita membaca pengakuan Punan Batu hidup di hutan Kalimantan: “Setiap satu pohon ditebang, sumber hidup kami berkurang.”

Ia sedang mengingatkan nasib-nasib pohon di pelbagai hutan akibat lakon buruk manusia. Ia mengisahkan kaitan-kaitan di hutan: “Ada pelbagai pohon buah, yang di bawah tajukanya ditumbuhi umbi rambat, tanaman sayur, tanaman obat, dan tali akar sebagai sumber air segar.” Kita mendapat tanda seru mengenai pohon di hutan.

Kabar buruk pun datang. Sekian spesies pohon di dunia terancam punah. Kita tak lagi terus sibuk di halaman-halaman novel. Pohon-pohon minta segera diperhatian dan dimuliakan saat tanda seru makin menggelisahkan. Pohon tetap referensi kita di dunia jika tersandung dilema: kehidupan dan kematian. Begitu.


Scroll to top