BERITA INDEX BERITA
Sagu: Sumber Pangan Sangihe yang Terancam Tambang Emas

SABTU (19/10/2024) itu, Robert Sapile (63) menebang pohon
sagu baruk di kebun belakang rumahnya di Kalagheng, Tabukan Selatan, Kepulauan
Sangihe. Sagu baruk, kerabat aren yang berasal dari genus Arenga, merupakan
panganan primadona bagi warga kabupaten berjuluk Negeri Sanger tersebut.
Embo Obe, panggilan akrab Robert, memotong batang sagu yang
baru ia tebang menjadi bagian-bagian lebih kecil. Itu dilakukan agar memudahkan
pengangkutan ke tempat pengolahan sagu. Embo Obe lalu memanggul potongan batang
sagu dari kebun menuju tempat pengolahan sagu yang sama-sama berada di belakang
rumahnya. Selain sagu baruk, ada juga sagu duri yang tumbuh sendiri tanpa
ditanam.
“Bibit sagu duri disebarkan oleh burung-burung yang hidup di
sini. Alam sudah memberi kami makan. Bisa dibayangkan kalau [ekosistem] alam
ini rusak oleh tambang emas,” kata Embo Obe.
Selanjutnya, Embo Obe mencacah potongan batang sagu
menggunakan mesin. Alat modern digunakan untuk mempermudah dan mempercepat
proses produksi sagu. Embo Obe menyaring sagu menggunakan air bersih yang
bersumber dari Gunung Sahendaruman. Selain sumber mata air, kawasan hutan
lindung Sahendaruman menjadi habitat burung langka dan berfungsi sebagai
peredam bencana alam.
Embe Obe dan istrinya, Lisbet Tuminting (65), mengambil
endapan sagu yang sudah bisa diolah menjadi makanan ke dalam baskom. Satu pohon
sagu bisa menghasilkan lima karung dengan berat masing-masing 20 kilogram. “Satu
pohon kira-kira bisa menghidupi satu keluarga, 6 sampai 10 orang, selama 5
hingga 6 bulan,” kata Lisbet.
Di dapur sederhana beralaskan tanah, Lisbet mencampurkan
sagu yang sudah kering dengan parutan kelapa di atas anyaman bambu. Menggunakan
wajan kecil dan tusukan besi, Lisbet menyangrai sagu di atas tungku kayu bakar.
Masyarakat Sangihe biasanya menyajikan sagu bersama ikan bakar. Ada juga sagu
yang disajikan dengan tambahan gula aren.
Di Sangihe, sagu tumbuh subur di kebun-kebun masyarakat,
memberikan lebih dari sekadar makanan. Sagu ini adalah perwujudan kearifan
lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari makanan bayi berupa
tuto hingga aneka makanan sehari-hari, sagu telah menjadi nadi kehidupan
masyarakat.
Sagu tahan terhadap perubahan iklim ekstrem, menjadikannya
tanaman yang tak tergantikan di tengah krisis pangan global. Ketika pandemi
COVID-19 melanda dan jalur pasokan pangan terhenti, sagu menjadi penyelamat,
menggantikan beras dalam bantuan pangan yang diberikan kepada warga.
Lebih dari sekadar penopang ekonomi, sagu adalah identitas. Sejak bayi, masyarakat Sangihe tumbuh dengan sagu, dan dari sanalah mereka belajar tentang ketahanan, kesederhanaan, dan kebersamaan. Sagu adalah simbol kekuatan alam yang telah menyatu dalam jiwa mereka.
Sangihe Memilih Kehidupan, Sagu Simbol Perjuangan
Sangihe, sebuah pulau kecil di perbatasan Sulawesi Utara dan
Filipina, telah lama hidup damai dengan alamnya. Di sini, masyarakatnya tidak
hanya bertahan hidup, tetapi berkembang bersama sagu—tanaman yang telah menjadi
lebih dari sekadar sumber pangan. Sagu bukan hanya makanan; ia adalah simbol
kemandirian, ketahanan, dan warisan leluhur.
Namun, ancaman besar kini menghantui kehidupan mereka. Bukan
ancaman kelaparan atau bencana alam, melainkan tambang emas raksasa yang
berpotensi menghancurkan seluruh ekosistem, termasuk keberadaan sagu.
Bagi masyarakat Sangihe, tambang emas berarti lonceng
kematian. Di desa Bowone, tempat aktivitas tambang ilegal telah dimulai, tanah
merah dan bukit-bukit terkikis, mengalirkan lumpur bercampur cairan kimia ke
laut. Air laut yang dulunya bersih kini terancam tercemar, menghancurkan
ekosistem laut dan kehidupan nelayan.
Tambang emas bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga
memutus siklus kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada kebun dan
laut. Jika tambang ini diizinkan terus beroperasi, bukan hanya pohon sagu yang
akan hilang, tetapi juga tradisi, budaya, dan identitas masyarakat Sangihe.
Di tengah semua ancaman ini, masyarakat Sangihe tetap teguh.
Mereka tahu bahwa tambang emas mungkin membawa keuntungan sesaat, tetapi
kerusakan yang ditimbulkannya akan bersifat permanen. Kehidupan mereka, budaya
mereka, dan warisan yang mereka pertahankan jauh lebih bernilai dari apa yang
bisa dijanjikan oleh emas.
Mereka tak hanya berjuang untuk diri sendiri, tapi untuk
masa depan anak cucu mereka, agar generasi berikutnya bisa tetap menikmati
tanah dan laut yang lestari. Sangihe tak butuh tambang. Sangihe butuh
kehidupan. Dan sagu, dalam segala bentuknya, adalah simbol bahwa kehidupan itu
masih bisa diperjuangkan.
Naskah: Gilang Ramadhan, Petugas Media dan Komunikasi
Kampanye Lautan
Foto: Stenly Pontolawokang
https://www.greenpeace.org/indonesia













