BERITA INDEX BERITA

Sikap Ilmiah dan Amdal Fiktif

tilikan | DiLihat : 683 | Sabtu, 09 November 2024 | 06:30
Sikap Ilmiah dan Amdal Fiktif

M. Ghaniey Al Rasyid

Penulis Lepas, Pengkliping, dan Penikmat Sastra

 

PRIA berdiri lesu, matanya terbelalak kemudian mulutnya bergumam mengutuk tindakannya sendiri. Di bawah pohon cemara pria itu bergelimang resah. Adalah Oppenheimer. Tokoh penting dalam ilmu fisika yang mencecap nestapa atas buah pikirannya sendiri. Ia merancang angka, kemudian menghasilkan piranti hulu ledak gigantik yang membinasakan seisi kota Hiroshima dan Nagasaki.

Film gubahan Christoper Nolan yang diambil dari kisah nyata mendiang Oppenheimer memberi kita pelajaran. Bahwa ilmu bisa jadi berbahaya apabila tidak melibatkan efek sosial di setiap kata yang terselip dalam ilmu dan pengetahuan. Mafhum, kiwari kita dihadapkan dengan ruang-ruang keilmuan dan pengetahuan nan sarat dengan pencarian. Keberadaannya dinanti-nanti pelbagai pihak untuk dicetuskan kemudian derap harap bisa berkontribusi kepada ‘perubahan’.

Kita hidup di tanah Gaia (baca; Bumi) sering kali merenungkan apa yang ada di dalamnya. Pohon tinggi menjulang, gunung-gunung yang menancap kuat, kemudian pikiran mengajak merenung bagaimana memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup manusia.

Lynn White sempat resah dikala merenung manusia dan lingkung hidup. Ia menuduh manusia yang sering kali menyuluh dan menyematkan dirinya sebagai perwakilan dari semesta, dengan seenaknya menjajakan kakinya meraup segala-galanya yang ada di bumi.

Syahdan, White mengkritik manusia keblinger dengan krtik antrhoposentrismenya. Gagasan itu menegaskan bahwa manusia itu lebih unggul dan bermartabat dibandingkan seonggok jagung, pohon jati kokoh ataupun sepasang katak yang bertengger di atas daun teratai. Oleh sebab itu, lahirlah inisiatif manusia untuk mencerabut ruang hidup makhluk selain manusia atas nama ‘produktivitas’.

Beribu-ribu hektare hutan dibalak agar diganti dengan beton atau perusahaan yang konon menggiurkan perekonomian global. Sambil menyuluh atas nama ‘produktivitas’ dan ‘pembangunan’, umat manusia bertengger mengangkangi ruang hidup. Begitu kiranya Lynn White dihantam resah.

Keegoisan manusia menuliskan nestapanya sendiri. Banjir menggulung di Valencia Spanyol minggu lalu, bongkahan es di daratan antartika nan semakin menyusut dan perihal kekacauan iklim yang melahirkan pelik-pelik pangan maupun hidup manusia. Dengan tabah, Lynn menyuluh, bahwa bumi yang kita pijak memiliki perasaan yang sama seperti manusia. Gaia dapat merintih, bahagia maupun bersahabat tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Pada majalah Tempo, 15 Februari 1992 berjudul Menggebrak Amdal Fiktif, menyelipkan informasi menyoal lingkungan. Di sela-sela tanah gembur di mana menancap pelbagai keenakeragaman hayati menyeruak lahan produksi bernama pabrik. Republik yang diseret agar meningkatkan produktivitasnya alhasil menyisihkan beberapa lahannya untuk dibangun ruang produksi yang cocok dengan permintaan pasar nasional maupun global.

Pada tahun 1986, pemerintah Orde Baru sempat menyuluh kepada khalayak republik agar mendorong roda perekonomian sembari memperhatikan lingkungan. Beberapa terobosan muncul. Adalah Amdal sebagai landasan dasar yang dapat dipertanggungjawabkan membaca pabrik yang bersanding dengan lingkungan. Prof. Otto Soemarwoto kemudian menanggapi mengenai Amdal, lingkungan dan jejaring pabrik nakal.

“Amdal sering dianggap hanya sebagai formalitas untuk memperoleh izin.” Tukas Otto Soemarwoto dikala memeriksa enam Amdal di Jawa Barat. Otto menuturkan bahwa Amdal yang dibikin oleh perusahaan itu sebagai izin dan isinya ngawur.

Emil Salim di mana waktu itu menjabat sebagai Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup mengutuk perusahaan sejenisnya yang tidak melibatkan analisis dampak lingkungan. Penuh percaya diri dan keregetan, Emil menyatakan perang kepada perusahaan yang pabriknya enggan bersandar kepada lingkungan hidup.

Emil mensinyalir, adanya perusahaan yang bercokol kemudian memberikan limbah itu diakibatkan Amdal yang amburadul. Sambil turun ke lapangan, Emil Salim menemukan sekitar 8% dari seluruh konsultan Amdal telah mencoreng mukanya sendiri.

Lebih lanjut, Emil Salim menjelentrehkan pikirannya dalam buku Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Penerbit Mutiara, 1985). Aras perubahan tak mungkin dibendung, bila republik ingin digdaya. Kendati demikian, penyelarasan antara lingkungan hidup dan pembangunan harus dipikirkan dengan matang. Mengenai lingkungan hidup Emil cukup disiplin untuk mengusahakan sang Gaia agar tetap lestari.

Para ilmuwan yang memiliki seabrek kelimuan dalam hal ini ilmu lingkungan yang bermain muka. Hasil analisa dampak lingkungan bisa diolah sesuai dari mana kucuran dana mengalir. Penyesalan Oppenheimer dikala membikin bom atom yang melahirkan kerusakan semesta itu, sejatinya bisa jadi pengingat.

Seperti yang pernah dicetuskan oleh Francis Bacon, bahwa pengetahuan itu kuasa. Pernyataan itu cukup dilematis. Pasalnya, Ilmu bisa diartikan sebagai kuasa di mana melahirkan obyek yang bakal ditekuk atas nama ilmu dan pengetahuan.

Lebih lanjut Ignas Kleden dalam Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (LP3ES, 1987) menelisik mengenai sikap ilmiah dan pelik-pelik lingkungan hidup. “Harus diakui pula bahwa efficient cause dalam pemikiran ilmuah tidak mencukupi lagi dan harus dilengkapi dengan pemikiran bercorak finalistis. “Sebabnya, ialah karena dalam pemikiran kausal kita hanya diajarakan cara menarik kesimpulan (atau cara meramalkan akibat), sedangkan dalam pemikiran finalistis kita diajarkan (cara mengambil keputusan (atau cara memilih nilai).” (Hlm. 148)

Pemikiran kausal mengarahkan kepada berpikir logis namun mengesampingkan sisi etis. Syahdan, Oppenheimer atau ilmuwan yang bermain muka dalam mencetuskan hasil dampak lingkungan lebih menekan sisi logis mereka sehingga mengesampingkan sisi etis. Maka apa yang dicetuskan dari proses berpikir itu menjadikan ilmu hanya untuk piranti untuk berkuasa dan mengesampikan untuk kontemplasi terhadap lingkungan.

Mengenai kelangsungan hidup, Arne Naess filsuf dari Norwegia menyuluh mengenai Deep Ecology. Menurut Naess, konsep Deep Ecology itu harus meletakan manusia dan alam itu sama-sama subyek. Artinya manusia tidak bisa seenak jidat menindih, memangkas maupun membuldozer semesta atas dasar keegoisannya sendiri.

Manusia harus memposisikan semesta seperti halnya manusia itu sendiri. Manusia perlu tabah bersanding merawat lingkungan. Kerakusan yang dipoles dengan kesalehan, akan menghacurkan dirinya sendiri. Seperti halnya, Amdal fiktif yang merugikan.

 


Scroll to top