BERITA INDEX BERITA
Sikap Ilmiah dan Amdal Fiktif

M. Ghaniey Al Rasyid
Penulis Lepas, Pengkliping, dan Penikmat Sastra
PRIA berdiri lesu, matanya terbelalak kemudian mulutnya
bergumam mengutuk tindakannya sendiri. Di bawah pohon cemara pria itu
bergelimang resah. Adalah Oppenheimer. Tokoh penting dalam ilmu fisika yang
mencecap nestapa atas buah pikirannya sendiri. Ia merancang angka, kemudian
menghasilkan piranti hulu ledak gigantik yang membinasakan seisi kota Hiroshima
dan Nagasaki.
Film gubahan Christoper Nolan yang diambil dari kisah nyata
mendiang Oppenheimer memberi kita pelajaran. Bahwa ilmu bisa jadi berbahaya apabila
tidak melibatkan efek sosial di setiap kata yang terselip dalam ilmu dan
pengetahuan. Mafhum, kiwari kita dihadapkan dengan ruang-ruang keilmuan dan
pengetahuan nan sarat dengan pencarian. Keberadaannya dinanti-nanti pelbagai
pihak untuk dicetuskan kemudian derap harap bisa berkontribusi kepada
‘perubahan’.
Kita hidup di tanah Gaia (baca; Bumi) sering kali
merenungkan apa yang ada di dalamnya. Pohon tinggi menjulang, gunung-gunung
yang menancap kuat, kemudian pikiran mengajak merenung bagaimana
memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup manusia.
Lynn White sempat resah dikala merenung manusia dan lingkung
hidup. Ia menuduh manusia yang sering kali menyuluh dan menyematkan dirinya
sebagai perwakilan dari semesta, dengan seenaknya menjajakan kakinya meraup
segala-galanya yang ada di bumi.
Syahdan, White mengkritik manusia keblinger dengan krtik
antrhoposentrismenya. Gagasan itu menegaskan bahwa manusia itu lebih unggul dan
bermartabat dibandingkan seonggok jagung, pohon jati kokoh ataupun sepasang
katak yang bertengger di atas daun teratai. Oleh sebab itu, lahirlah inisiatif
manusia untuk mencerabut ruang hidup makhluk selain manusia atas nama
‘produktivitas’.
Beribu-ribu hektare hutan dibalak agar diganti dengan beton
atau perusahaan yang konon menggiurkan perekonomian global. Sambil menyuluh
atas nama ‘produktivitas’ dan ‘pembangunan’, umat manusia bertengger
mengangkangi ruang hidup. Begitu kiranya Lynn White dihantam resah.
Keegoisan manusia menuliskan nestapanya sendiri. Banjir
menggulung di Valencia Spanyol minggu lalu, bongkahan es di daratan antartika
nan semakin menyusut dan perihal kekacauan iklim yang melahirkan pelik-pelik
pangan maupun hidup manusia. Dengan tabah, Lynn menyuluh, bahwa bumi yang kita
pijak memiliki perasaan yang sama seperti manusia. Gaia dapat merintih, bahagia
maupun bersahabat tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Pada majalah Tempo, 15 Februari 1992 berjudul Menggebrak
Amdal Fiktif, menyelipkan informasi menyoal lingkungan. Di sela-sela tanah
gembur di mana menancap pelbagai keenakeragaman hayati menyeruak lahan produksi
bernama pabrik. Republik yang diseret agar meningkatkan produktivitasnya
alhasil menyisihkan beberapa lahannya untuk dibangun ruang produksi yang cocok
dengan permintaan pasar nasional maupun global.
Pada tahun 1986, pemerintah Orde Baru sempat menyuluh kepada
khalayak republik agar mendorong roda perekonomian sembari memperhatikan
lingkungan. Beberapa terobosan muncul. Adalah Amdal sebagai landasan dasar yang
dapat dipertanggungjawabkan membaca pabrik yang bersanding dengan lingkungan.
Prof. Otto Soemarwoto kemudian menanggapi mengenai Amdal, lingkungan dan
jejaring pabrik nakal.
“Amdal sering dianggap hanya sebagai formalitas untuk
memperoleh izin.” Tukas Otto Soemarwoto dikala memeriksa enam Amdal di Jawa
Barat. Otto menuturkan bahwa Amdal yang dibikin oleh perusahaan itu sebagai
izin dan isinya ngawur.
Emil Salim di mana waktu itu menjabat sebagai Menteri
Kependudukan dan Lingkungan Hidup mengutuk perusahaan sejenisnya yang tidak
melibatkan analisis dampak lingkungan. Penuh percaya diri dan keregetan, Emil
menyatakan perang kepada perusahaan yang pabriknya enggan bersandar kepada
lingkungan hidup.
Emil mensinyalir, adanya perusahaan yang bercokol kemudian
memberikan limbah itu diakibatkan Amdal yang amburadul. Sambil turun ke
lapangan, Emil Salim menemukan sekitar 8% dari seluruh konsultan Amdal telah
mencoreng mukanya sendiri.
Lebih lanjut, Emil Salim menjelentrehkan pikirannya dalam
buku Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Penerbit Mutiara, 1985). Aras perubahan
tak mungkin dibendung, bila republik ingin digdaya. Kendati demikian,
penyelarasan antara lingkungan hidup dan pembangunan harus dipikirkan dengan
matang. Mengenai lingkungan hidup Emil cukup disiplin untuk mengusahakan sang
Gaia agar tetap lestari.
Para ilmuwan yang memiliki seabrek kelimuan dalam hal ini ilmu lingkungan yang bermain muka. Hasil analisa dampak lingkungan bisa diolah sesuai dari mana kucuran dana mengalir. Penyesalan Oppenheimer dikala membikin bom atom yang melahirkan kerusakan semesta itu, sejatinya bisa jadi pengingat.
Seperti yang pernah dicetuskan oleh Francis Bacon, bahwa pengetahuan itu kuasa.
Pernyataan itu cukup dilematis. Pasalnya, Ilmu bisa diartikan sebagai kuasa di
mana melahirkan obyek yang bakal ditekuk atas nama ilmu dan pengetahuan.
Lebih lanjut Ignas Kleden dalam Sikap Ilmiah dan Kritik
Kebudayaan (LP3ES, 1987) menelisik mengenai sikap ilmiah dan pelik-pelik
lingkungan hidup. “Harus diakui pula bahwa efficient cause dalam pemikiran
ilmuah tidak mencukupi lagi dan harus dilengkapi dengan pemikiran bercorak
finalistis. “Sebabnya, ialah karena dalam pemikiran kausal kita hanya
diajarakan cara menarik kesimpulan (atau cara meramalkan akibat), sedangkan
dalam pemikiran finalistis kita diajarkan (cara mengambil keputusan (atau cara
memilih nilai).” (Hlm. 148)
Pemikiran kausal mengarahkan kepada berpikir logis namun
mengesampingkan sisi etis. Syahdan, Oppenheimer atau ilmuwan yang bermain muka
dalam mencetuskan hasil dampak lingkungan lebih menekan sisi logis mereka
sehingga mengesampingkan sisi etis. Maka apa yang dicetuskan dari proses
berpikir itu menjadikan ilmu hanya untuk piranti untuk berkuasa dan
mengesampikan untuk kontemplasi terhadap lingkungan.
Mengenai kelangsungan hidup, Arne Naess filsuf dari Norwegia menyuluh mengenai Deep Ecology. Menurut Naess, konsep Deep Ecology itu harus meletakan manusia dan alam itu sama-sama subyek. Artinya manusia tidak bisa seenak jidat menindih, memangkas maupun membuldozer semesta atas dasar keegoisannya sendiri.
Manusia harus memposisikan semesta seperti halnya manusia
itu sendiri. Manusia perlu tabah bersanding merawat lingkungan. Kerakusan yang
dipoles dengan kesalehan, akan menghacurkan dirinya sendiri. Seperti halnya,
Amdal fiktif yang merugikan.













