BERITA INDEX BERITA
Sebelum Kopi Tinggal Cerita

Bina Bektiati
Pengurus Dewan Kopi Indonesia
TEMA peringatan Hari Kopi Internasional 2024 adalah
Collaboration. Kolaborasi dari hulu, untuk kopi dan bumi lestari. Coba ketik
‘kopi kekinian’ pada mesin pencari Google. Dalam hitungan detik, bermunculan
berbagai informasi tentang kopi kekinian.
Mulai dari tempat-tempat yang menjual kopi kekinian di
sekitar kita, trik membuatnya, sampai berjibun resep meracik kopi kekinian
sendiri di rumah. Bahan-bahan yang kreatif, seperti pisang, cincau, soda, dan
berbagai rasa sirup serta ragam produk susu, dan lain sebagainya, menjadikan
kopi kekinian memiliki ragam rasa sekaligus penuh kejutan.
Apa makna fenomena kopi kekinian dalam dunia persilatan
kopi? Secara umum: agar bisa menjangkau konsumen yang lebih banyak dan luas,
terutama di kalangan anak muda. Maka kreativitas dalam mengolah produk minuman
kopi menjadi niscaya. Agar kopi tidak sebatas hitam, tubruk, atau yang lebih
‘modern’: americano, cappuccino dan coffee latte. Agar kopi juga menjadi wujud
dari tren pergaulan, kehidupan urban, dan bagian dari ekspresi diri.
Kata kunci dari kopi kekinian adalah: kreativitas, anak
muda, dan pasar. Memang tidak ada yang salah, karena agar ‘hilirisasi’ kopi
bisa berhasil menggerakkan ekonomi, maka ketiga faktor tersebut perlu
benar-benar diperhitungkan. Dan memang terbukti. Kopi kekinian di Indonesia
telah melahirkan merek-merek waralaba seperti Kopi Kenangan, Kopi Janji Jiwa,
Kopi Lain Hati, yang kedai-kedainya sudah tersebar di berbagai daerah di
Indonesia. Desain eksterior dan interior kedai, beragam pilihan kemeriahan rasa
kopi, serta kudapan menjadi paket lengkap tempat nongkrong kopi kekinian.
Jangan lupa, ada juga titik-titik untuk swafoto yang siap diviralkan.
***
Tema yang diusung pada peringatan Hari Kopi Internasional, 1
Oktober 2024 adalah Collaboration, dengan sub tema: Coffee: Your daily ritual,
our shared journey. Tentu, ini merupakan pesan menarik dan relevan bila
dikaitkan dengan beberapa fakta. Pertama, kopi merupakan komoditas perdagangan
internasional yang sangat penting. Seperti dikutip di situs croptrust.org,
lebih dari 2,25 miliar cangkir kopi dikonsumsi setiap hari, di seluruh dunia.
Kedua, negara-negara pengekspor kopi seperti Brazil,
Vietnam, Kolombia, Indonesia, dan Ethiopia hanya mengkonsumsi sekitar 30% dari
total produksi kopi. Artinya sebagian besar kopi –sekitar 70 %– dikonsumsi oleh
negara-negara bukan penghasil kopi. Jadi, meskipun kopi merupakan pohon tropis,
namun mayoritas konsumen merupakan negara-negara empat musim seperti Amerika
Serikat, Finlandia, Norwegia.
Ketiga, adalah ancaman perubahan iklim terhadap produksi
kopi. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) meramalkan pada 2050,
akan terjadi penurunan luar biasa area tanam kopi, baik karena kenaikan suhu,
ketidakpastian masa hujan dan kering, serta ancaman hama.
Bahkan diperkirakan, kita harus siap mengucapkan selamat
tinggal pada kopi robusta yang hidup di dataran lebih rendah dibanding kopi
arabika. Jalan keluar berupa membuka hutan di kawasan lebih tinggi demi
mempertahankan eksistensi pasokan kopi, justru akan merusak ekosistem secara
lebih luas dan kompleks. Ya, karena kopi merupakan keluarga besar dari
keanekaragaman hayati di satu wilayah yang hidupnya, saling tergantung satu
sama lainnya.
Berikutnya, Indonesia adalah satu-satunya negara penghasil
kopi yang merupakan negara kepulauan. Brazil, Vietnam, Kolombia adalah negara
kontinen. Selain itu, Indonesia juga satu-satunya negara penghasil kopi yang
berada di kawasan cincin api (ring of fire).
Dengan keistimewaan tersebut, Indonesia memiliki jumlah kopi
khas suatu daerah (single origin) yang paling banyak dan beragam dibanding
negara-negara penghasil kopi lainnya. Bayangkan, keberagaman asal ekosistem
kopi Indonesia – kita kenal kopi Gayo, Sidikalang, Temanggung, Ijen, Kintamani,
dan banyak lagi– memberikan paduan rasa dan aroma yang berbeda pula.
***
Kepingan puzzle lengkap terpasang, gambar sudah muncul
dengan jelas. Kopi bukan sebatas pada minuman yang dinikmati sehari-hari
–termasuk dengan kreasi padu padan bahan sehingga menjadi kopi kekinian. Namun,
kopi tidak bisa lepas dari kolaborasi, karena kopi sudah menjadi perjalanan
bersama. Tema Hari Kopi Internasional pun, menjadi relevan bila ditempatkan
sebagai bahan refleksi relasi eksistensi kopi dengan bumi. Yakni budi daya kopi
semestinya sejalan dan selaras dengan pelestarian bumi.
Apalagi di Indonesia, di mana bagian-bagian bumi yang
menjadi ‘rumah’ kopi memiliki keberagaman keanekaragaman hayati. Perjalanan
single origin kopi Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari keunikan
keanekaragaman hayati di tempat pohon-pohon kopi hidup. Budi daya kopi dengan
model wanatani –-yang sudah dikenal sebagai kekuatan kopi Indonesia– membuat
kopi Indonesia bisa senafas dengan laku konservasi.
Bagaimana tren kopi kekinian bisa memperkuat dan mengambil
peran penting dalam semangat kolaborasi untuk kopi dan bumi yang lestari?
Bagaimana unsur kreativitas, anak muda dan pasar, bisa memperpanjang
perjalanannya hingga ke hulu: tempat ‘rumah kopi’ berada.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi
jembatan antara pasar kopi dengan keberlanjutan kopi dan ekosistemnya.
Jawabannya juga bisa menjadikan kopi sebagai model kampanye Indonesia dalam
melawan perubahan iklim. Untuk itu, yang penting perlu diperkuat kesadaran
bahwa ekosistem kopi kekinian tidak akan hidup, apalagi bergelora, bila ‘rumah
kopi’ terancam rusak akibat perubahan iklim.
Anak-anak muda perlu dipompa semangat dan kreativitasnya
untuk menghidupkan ekosistem kopi kekinian hingga ke hulu. Our shared journey
bisa dengan cantik digunakan untuk membangun narasi bahwa kopi adalah kehidupan
petani, kerja konservasi melalui wanatani, dan cerita keanekaragaman hayati di
daerah asal single origin kopi. Pasar kopi kekinian bisa mulai diwarnai dengan
budi daya narasi kopi dengan menitipkan cerita pada setiap cangkir kopi. Ayo
kita cerita tentang kopi, agar kopi tidak tinggal cerita.
















