BERITA INDEX BERITA
Anggota Dewan Pakar Prabowo-Gibran, Sarjan Tahir Sambut Seruan Greenpeace, Optimistis Pemerintahan Baru Akan Jalankan 17 Program Prioritas

JAKARTA – Anggota Dewan Pakar Pemenangan Prabowo-GIbran Sarjan
Tahir mengapresiasi ajakan Greenpeace Indonesia untuk kembali menyerukan
pesan-pesan tentang berbagai krisis yang melanda Tanah Air, mulai dari krisis
lingkungan hidup, krisis keanekaragaman hayati, krisis iklim, hingga krisis
demokrasi.
Tak hanya mengapresiasi, Sarjan juga optimistis jika
pemerintahan baru nanti akan memperbaiki kekurangan-kekurangan pemerintahan
sebelumnya, dengan menjalankan 17 program prioritas Presiden Prabowo Subianto. “Kita
saksikan nanti 17 program ini dijalankan,” ujar Sarjan yang juga Ketua Umum Pandu Tani Indonesia (Patani), Minggu (20/10/2024).
Adapun 17 program prioritas Prabowo Subianto, yakni swasembada
pangan, energi, dan air; penyempurnaan sistem penerimaan negara; reformasi politik,
hukum, dan birokrasi; pencegahan dan pemberantasan korupsi; pemberantasan
kemiskinan; pencegahan dan pemberantasan narkoba; dan jaminan tersedianya
pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyat (peningkatan BPJS kesehatan dan
penyediaan obat untuk rakyat).
Lalu, penguatan pendidikan, sains, dan teknologi, serta
digitalisasi; penguatan pertahanan dan keamanan negara dan pemeliharaan
hubungan internasional yang kondusif; penguatan kesetaraan gender dan
perlindungan hak perempuan, anak, serta penyandang disabilitas; menjamin
pelestarian lingkungan hidup; serta menjamin ketersediaan pupuk, benih, dan
pestisida langsung ke petani.
Selanjutnya, menjamin rumah murah dan sanitasi untuk
masyarakat desa dan rakyat yang membutuhkan; melanjutkan pemerataan ekonomi,
penguatan UMKM dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN); melanjutkan hilirisasi
dan industrialisasi berbasis SDA & maritim, serta melestarikan seni budaya,
peningkatan ekonomi kreatif dan prestasi olahraga.
Diketahui, dalam rilisnya Greenpeace Indonesia kembali
menyerukan pesan-pesan tentang berbagai krisis yang melanda Tanah Air, mulai
dari krisis lingkungan hidup, krisis keanekaragaman hayati, krisis iklim,
hingga krisis demokrasi. Bahkan, pada Sabtu (19/10/2024) lalu, lewat aksi damai
kreatif berupa proyeksi video di bilangan Jakarta Pusat, Greenpeace mengajak
publik untuk terus #MemilihBersuara demi penyelamatan dan pemulihan lingkungan,
demokrasi, dan HAM.
“Saat Presiden Joko Widodo sibuk menghias rapor capaian
kinerja di akhir masa jabatannya, kita harus terus mengingat rekam jejaknya
yang penuh ponten merah,” kata Iqbal Damanik, Juru Kampanye Hutan Greenpeace
Indonesia, dalam siaran persnya, Sabtu (19/10/2024).
“Presiden Jokowi meninggalkan banyak warisan buruk untuk
kita, seperti pelemahan perlindungan lingkungan hidup, pelemahan demokrasi dan
HAM, dan banyak Proyek Strategis Nasional yang meminggirkan masyarakat adat dan
masyarakat lokal,” sambung Iqbal Damanik.
Dalam aksi kreatif ini, Greenpeace menampilkan proyeksi
video yang menunjukkan peta Indonesia dengan titik-titik lokasi terjadinya
perusakan lingkungan. Deforestasi, perampasan hutan dan wilayah masyarakat
adat, kebakaran hutan dan lahan gambut, pertambangan—mulai dari nikel, emas,
batu bara, hingga pasir laut—serta pembangunan pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU) batu bara industri terlacak di seantero Indonesia.
Watak pembangunan ekstraktif ini terpampang nyata selama
satu dekade pemerintahan Presiden Jokowi. Proyek-proyek berlabel hijau yang
dijalankan pemerintahan Jokowi pun nyatanya sarat pelanggaran ekologis dan
ketidakadilan, seperti yang terjadi di Pulau Rempang, Kepulauan Riau dan
Kalimantan Utara.
Greenpeace Indonesia menilai bahwa persoalan lingkungan dan
krisis iklim, kebohongan hijau, pembatasan ruang demokrasi, serta perlindungan
HAM berpotensi terus terjadi di era pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran
Rakabuming Raka. Selain mengusung jargon ‘keberlanjutan’ era Jokowi,
Prabowo-Gibran tampaknya memang bakal meneruskan watak pembangunan yang
eksploitatif dengan ‘mantra’ pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Ini terlihat, misalnya, dari visi-misi Prabowo-Gibran untuk
menambah lahan food estate hingga 4 juta hektare dan melanjutkan hilirisasi
nikel yang sejauh ini terbukti merusak lingkungan dan merugikan masyarakat
lokal.
Prabowo juga memilih sejumlah orang dengan rekam jejak
bermasalah dalam kebijakan lingkungan untuk mengisi kabinetnya. Misalnya Bahlil
Lahadalia, yang diberitakan terlibat kisruh pencabutan izin pertambangan saat
masih menjabat sebagai Menteri Investasi. Bahkan Prabowo menarik Zulkifli
Hasan, yang saat menjabat Menteri Kehutanan melepaskan kawasan hutan untuk
korporasi pada skala terluas dalam sejarah Republik Indonesia.
Baru-baru ini, dalam kapasitasnya sebagai Menteri
Perdagangan, Zulkifli Hasan juga menerbitkan aturan yang memuluskan ekspor
pasir laut, bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono—juga
calon anggota kabinet Prabowo. Ada sejumlah nama lain dalam bursa kandidat
anggota kabinet Prabowo yang juga ditengarai memiliki konflik kepentingan dalam
pengelolaan sumber daya alam.
“Meski tak bisa banyak berharap, sebagai masyarakat sipil
kita perlu terus mengawasi pemerintahan Prabowo-Gibran. Kita perlu terus
bersuara agar mereka menghentikan watak pembangunan ekstraktif yang merusak
lingkungan hidup, melanggar HAM, dan merugikan masyarakat,” ujar Khalisah
Khalid, Ketua Kelompok Kerja Politik Greenpeace Indonesia.
Pelantikan Prabowo-Gibran berlangsung satu hari sebelum
Konferensi Para Pihak ke-16 tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD COP16)
di Kolombia. Sebagai negara yang sudah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman
Hayati, Indonesia mesti serius dan terlibat aktif dalam konferensi dua tahunan
itu. Indonesia tidak boleh menunda lahirnya keputusan untuk perlindungan
keanekaragaman hayati di Indonesia dengan alasan transisi pemerintahan.
Dari berbagai tempat di dunia, termasuk dari Jakarta dan
Sangihe-–pulau kecil di Sulawesi Utara yang terancam tambang, Greenpeace
menyerukan pesan-pesan penyelamatan keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup.
“Kami juga mendesak pengakuan, penghormatan, dan pelindungan
hak-hak masyarakat adat dan lokal—dua komunitas yang selama ini berperan
penting menjaga keanekaragaman hayati. Sepuluh tahun pemerintahan Jokowi
menelantarkan RUU Masyarakat Adat, tapi menerbitkan sejumlah undang-undang yang
menguntungkan oligarki. Tak banyak pilihan bagi kita, selain terus bersuara
melawan oligarki yang mengancam keberlanjutan Bumi,” kata Khalisah Khalid. (hendri irawan)
















