BERITA INDEX BERITA
Greenpeace Desak Keadilan Iklim untuk Jakarta Berketahanan

Masjid Wal Adhuna, yang terletak di Muara Baru,
Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi saksi bisu tenggelamnya Jakarta. Diketahui,
Masjid Wal Adhuna mulai terendam sejak tahun 2000-an dan kini sudah sepenuhnya
tenggelam di bawah air laut.
JAKARTA – Selama dua bulan ke depan, warga Jakarta akan
disuguhi janji-janji politik dari para calon pemimpin daerah. Tapi, apakah
krisis iklim akan menjadi topik diskusi yang serius untuk meningkatkan
kesejahteraan kelompok menengah-bawah di Jakarta? Padahal Jakarta saat ini
berada di garis depan dampak krisis iklim yang mengancam kehidupan sehari-hari
warganya.
Hampir 20% wilayah Jakarta sekarang berada di bawah
permukaan laut, sementara hanya 69% penduduk yang memiliki akses ke air bersih.
Situasi ini diperparah oleh polusi udara yang terus memburuk, membuat kualitas
hidup warga semakin terpuruk. Meskipun berbagai permasalahan ini merenggut
kesejahteraan warga Jakarta, krisis iklim belum mendapatkan perhatian yang
layak dalam perdebatan politik atau kebijakan publik.
Sebagian besar calon pemimpin Jakarta sibuk menawarkan
solusi jangka pendek hingga solusi palsu dalam menyelesaikan permasalahan di
Jakarta. Melihat situasi ini, Greenpeace Indonesia merilis laporan bertajuk
“Keadilan Iklim untuk Jakarta Berketahanan.”
Laporan ini menyoroti bagaimana situasi krisis iklim di
Jakarta mulai dari proses pembuatan kebijakan sampai kepada implementasinya.
Bukan hanya soal lingkungan, laporan ini juga menyoroti persoalan yang lebih mendalam: keadilan kota
atau urban justice.
Ancaman dan dampak krisis iklim menjadi permasalahan serius
terhadap kesejahteraan masyarakat – mereka yang hidup di kawasan pesisir,
daerah padat penduduk, atau masyarakat dengan ekonomi menengah-bawah menanggung
beban paling berat—mulai dari risiko banjir yang lebih sering hingga akses
minim terhadap air bersih dan ruang terbuka hijau.
“Hasil riset kami menunjukkan bahwa wilayah yang paling
berat mengalami dampak krisis iklim di Jakarta justru merupakan wilayah yang
ditinggali oleh masyarakat miskin kota atau urban poor. Padahal, mereka
merupakan kelompok yang paling sedikit menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK),
faktor utama penyebab krisis iklim. Hal ini membuktikan bahwa tanggung jawab
krisis iklim tersebut ditanggung secara tidak adil oleh masyarakat miskin di
Jakarta, sehingga menjadikan mereka kelompok paling rentan terhadap dampak
krisis iklim,” tutur Jeanny Sirait, Juru Kampanye Isu Keadilan Urban Greenpeace
Indonesia.
Di banyak tempat di Jakarta, kelompok rentan ini sering kali
tersingkir dari proses perumusan kebijakan. Kebutuhan mereka jarang
diperhitungkan dalam kebijakan-kebijakan utama kota, termasuk di bidang
infrastruktur, transportasi, dan tata ruang. Hal ini semakin memperdalam
ketimpangan sosial di tengah ancaman iklim yang semakin nyata.
Kelompok Menengah-Bawah Menanggung Beban Terberat
Greenpeace menekankan bahwa Jakarta membutuhkan pendekatan
yang jauh lebih adil dan inklusif dalam merumuskan kebijakan iklim. Peraturan
Gubernur No. 90 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Rendah Karbon yang
Berketahanan Iklim (RPRKD) masih banyak kelemahan dalam pelaksanaannya.
Salah satu yang paling kritis adalah kurangnya keterlibatan
masyarakat terdampak dalam proses perumusan kebijakan. Tidak cukup hanya
mengidentifikasi siapa yang paling rentan; mereka juga harus dilibatkan secara
aktif dalam proses perencanaan dan implementasi kebijakan iklim.
Jeanny menegaskan bahwa Jakarta tidak hanya membutuhkan
kebijakan mitigasi yang ambisius, tetapi juga kebijakan adaptasi yang adil.
Nelayan di pesisir, warga di wilayah rawan banjir, dan kelompok-kelompok yang
selama ini terpinggirkan harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar korban
dari kebijakan yang tidak inklusif. Jika kelompok-kelompok ini diabaikan,
pembangunan hanya akan memperburuk ketidakadilan yang sudah ada.
Warga Pulau Pari di Kepulauan Seribu adalah contoh nyata
dari mereka yang merasakan langsung dampak krisis iklim. Asmania, seorang
nelayan perempuan dari pulau tersebut, berbagi tentang bagaimana warga di sana
terjebak dalam pusaran masalah yang semakin sulit diatasi. Banjir rob, sulitnya
mendapatkan ikan, cuaca yang tidak terprediksi, hingga konflik lahan yang tak
kunjung selesai.
“Banyak sekali konflik yang kami hadapi di Pulau Pari.
Pembangunan terus digaungkan seperti reklamasi, Proyek Strategis Nasional
(PSN), hingga komersialisasi yang dilakukan oleh korporasi tanpa
mempertimbangkan dampak lingkungan—semua ini memperparah keadaan. Kami butuh
laut yang bersih dan lingkungan yang lestari.”
tutur Asmania yang kerap disapa Aas.
Ia juga mengungkapkan bahwa selama ini warga Pulau Pari
jarang dilibatkan dalam diskusi-diskusi penting yang menyangkut kehidupan
mereka. Ketidakpedulian ini membuat mereka harus berjuang sendiri, secara
swadaya, untuk melawan krisis iklim yang mengancam tanah dan laut yang menjadi
tumpuan hidup mereka.
“Kebijakan yang ada seakan-akan dibuat tanpa memikirkan
nasib nelayan dan masyarakat pesisir,” imbuhnya
Tantangan Untuk Calon Pemimpin Jakarta
Greenpeace melalui riset ini mendorong pemerintah untuk
secara rutin mengevaluasi kebijakan iklim Jakarta dan memastikan alokasi sumber
daya yang lebih memadai bagi kelompok rentan. Ini termasuk meningkatkan akses
terhadap air bersih, Ruang Terbuka Hijau (RTH), dan infrastruktur transportasi
publik yang inklusif.
Tanpa perhatian yang lebih serius terhadap kebutuhan
kelompok rentan, pembangunan infrastruktur yang terus berlangsung di Jakarta
justru berpotensi memperparah ketimpangan sosial dan krisis lingkungan. Menjelang
pemilihan Gubernur, riset ini diharapkan dapat menjadi katalisator penanganan
permasalahan keadilan iklim.
Para calon pemimpin diminta untuk tidak hanya terpaku pada
pembangunan ekonomi berdasarkan nominal semata, tetapi juga memperhatikan
dampak lingkungan yang dirasakan oleh masyarakat paling rentan, untuk
menciptakan kesejahteraan dan keadilan sosial. Dalam krisis iklim, pembangunan
tanpa keadilan hanya akan memperdalam kesenjangan sosial dan memperburuk
penderitaan bagi mereka yang paling terdampak.
“Kita tidak bisa lagi mengabaikan isu krisis iklim dari
perdebatan politik,” ujar Jeanny. “Ini bukan hanya masalah lingkungan, tapi
juga soal keadilan sosial. Krisis ini harus menjadi prioritas, bukan hanya bagi
pemerintah yang sedang berkuasa, tetapi juga bagi mereka yang ingin memimpin di
masa depan. Tanpa komitmen serius untuk menangani krisis iklim dengan cara yang
adil, masa depan Jakarta—dan warganya—akan semakin suram.”
Dalam laporan ini, Greenpeace mendesak setiap pemangku kebijakan untuk mengatasi permasalahan krisis iklim. Tidak hanya soal mengurangi emisi atau membangun infrastruktur tahan banjir, namun juga memastikan bahwa semua warga, terutama yang paling rentan, memiliki akses yang sama terhadap sumber daya, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi hidup mereka.
Para pemimpin yang akan
datang memiliki tanggung jawab untuk memastikan Jakarta beradaptasi dengan
krisis iklim tanpa meninggalkan siapapun di belakang.
















