BERITA INDEX BERITA
PLN Lakukan Berbagai Inisiatif Jalankan Arahan Presiden Untuk Mitigasi Perubahan Iklim

JAKARTA – Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo
mengungkapkan, PLN siap menjalankan arahan Presiden dan berkomitmen untuk
menyukseskan transisi energi demi mewujudkan Net Zero Emissions (NZE) pada
tahun 2060.
“Hari ini tugas PLN, tidak hanya menyediakan listrik bagi
masyarakat, tugas PLN adalah menjaga lingkungan dan menurunkan emisi. Kita
lakukan ini bukan karena perjanjian internasional. Tetapi, untuk generasi masa
depan agar hidupnya lebih baik dari hari ini,” ucap Darmawan.
Dirinya menambahkan bahwa PLN berinisiatif secara voluntary
untuk melakukan transisi energi melalui berbagai upaya heroik, antara lain
melalui upaya dekarbonisasi pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil,
meningkatkan kapasitas pembangkit EBT dan infrastruktur pendukung seperti smart
grid dan control system, serta mengembangkan green ecosystem.
Sebagai contoh, PLN telah membatalkan 13,3 gigawatt (GW)
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sebelumnya direncanakan dalam RUPTL
2019-2028. Upaya ini menghindari sekitar 1,8 miliar ton emisi CO2 dalam 25
tahun ke depan.
PLN juga melakukan pembatalan terhadap 1,3 GW PLTU yang
sudah menandatangani Power Purchase Agreement (PPA). Inisiatif ini menghindari
emisi karbon sekitar 200 juta ton CO2. Selain itu, PLN mengganti 1,1 GW PLTU
dengan pembangkit EBT dan 800 MW PLTU dengan pembangkit gas. Upaya ini akan
mampu menurunkan emisi sebesar 300 juta ton CO2.
Dalam masa transisi energi, PLN menggunakan teknologi
co-firing di PLTU sebagai upaya menekan penggunaan batu bara. Co-firing adalah
substitusi batu bara pada rasio tertentu dengan bahan biomassa seperti pellet
kayu, cangkang sawit dan sawdust (serbuk gergaji).
Darmawan menegaskan bahwa co-firing ini dilakukan tak
sekedar mengurangi emisi, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan membangun
ekonomi kerakyatan. PLN mengajak masyarakat untuk terlibat aktif membuat bahan
baku co-firing, mulai dari penanaman tanaman biomassa hingga pengelolaan sampah
rumah tangga wilayahnya untuk dijadikan pellet.
“Kehadiran program ekonomi kerakyatan co-firing ini juga
merupakan langkah nyata PLN menjawab persoalan global. Mewujudkan Indonesia
yang bersih dan mandiri energi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Meningkatkan kapasitas nasional dengan prinsip Environmental,
Social and Governance (ESG),” ucapnya.
Diketahui, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh pihak untuk
memitigasi perubahan iklim. Hal ini penting untuk tetap menjaga kualitas
kehidupan, serta menghindari bencana alam maupun krisis pangan.
“Saya sangat mengapresiasi, sangat menghargai kepedulian
dari tokoh masyarakat, dari masyarakat sipil terhadap hal yang berkaitan dengan
lingkungan dan mengatasi dampak perubahan iklim. Ini tidak akan bisa dikerjakan
oleh kita sendiri, oleh satu negara. Tapi semua negara harus melakukan
bersama-sama sehingga kita bisa mewujudkan bumi yang berlanjutan,” tutur
Presiden pada gelaran Festival LIKE 2 yang diselenggarakan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta Convention Center, Jumat (09/08).
Presiden juga mengingatkan bahwa sektor energi punya peran
penting dalam aksi perubahan iklim. Sehingga, pemerintah akan memberi perhatian
penuh agar sektor ini punya skema pemulihan lingkungan. “Pemulihan lingkungan
harus menjadi concern dari kita semua dan pemerintah,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN
Evy Haryadi saat menghadiri festival LIKE menyampaikan bahwa PLN telah memiliki
skenario Accelerating Renewable Energy Development (ARED) guna mempercepat
transisi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Skenario juga
dimaksudkan untuk mereduksi emisi karbon secara signifikan dari sektor
ketenagalistrikan.
“Dengan skenario penambahan pembangkit akan berasal dari EBT
sebesar 75% dan gas 25% hingga tahun 2040. Skenario ini akan memastikan
pengurangan emisi sesuai target dengan tetap menjaga keandalan sistem,” kata
Evy.
PLN akan membangun green transmission line atau jaringan transmisi antarpulau yang bisa menyalurkan potensi EBT di lokasi terpencil ke pusat beban.
Selain itu, PLN juga akan menerapkan teknologi smart grid sebagai
solusi menangani intermitensi pada pembangkit EBT. Dengan upaya tersebut maka
penambahan pembangkit EBT sampai tahun 2040 meningkat menjadi sekitar 3 kali
lipat dari yang semula 22 gigawatt (GW) menjadi 61 GW.
Namun, Evy menegaskan bahwa upaya ini tidak akan bisa
dijalankan PLN sendirian. Untuk itu, pihaknya mengajak semua pihak untuk
berkolaborasi dengan PLN untuk melakukan transisi energi.
”Kami tidak bisa menjalankan ini sendirian. Satu-satunya
cara adalah dengan melakukan kolaborasi, Untuk itu, mari kita berjuang bersama
untuk memastikan transisi energi ini berhasil,” tutup Evy.
















