BERITA INDEX BERITA
Kawasan Karst Sebagai Tandon Air Utama Di Bumi Dan Ancaman Terhadap Kelestariannya

Tjahyo Nugroho Adji
Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi UGM
KAWASAN bentang alam karst (batu gamping) adalah
kawasan yang dicirikan dengan drainase permukaan yang langka, solum tanah yang
tipis, terdapatnya cekungan-cekungan tertutup (doline), serta keberadaan sungai
bawah tanah yang lebih dominan daripada aliran permukaannya.
Kawasan karst sudah lama dikenal sebagai salah satu
reservoir utama di dunia selain kawasan pesisir dan vulkanik. Kawasan ini
melingkupi sekitar 12% dari total daratan di bumi dan hampir seperempat dari
penduduk di bumi menggunakan sumber air dari kawasan karst untuk memenuhi
kebutuhan air minum mereka.
Di Indonesia, luas kawasan karst (batu gamping)
mencakup sekitar 15,4 juta hektar atau sekitar 8% dari total luas daratannya.
Karena tergolong sebagai karst di daerah tropis, maka topografi permukaan
(eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst) di Indonesia berkembang dengan
sangat baik karena faktor suhu yang hangat, intensitas curah hujan yang tinggi,
dan vegetasi yang lebat, sehingga air tanahnya memiliki kadar karbondioksida
(CO2) yang tinggi yang mendorong terjadinya proses pelarutan yang intensif.
Mengapa kawasan karst mampu menyimpan air dalam
jumlah yang banyak?
Dalam perspektif hidrologis, kawasan yang mampu
menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah yang banyak dikenal dengan sebutan
akuifer. Faktor utama pembentuk akuifer adalah jenis batuan yang mempunyai
ruang yang cukup dan mudah terisi air seperti material pasiran, kerikil, atau
batuan yang tidak kompak.
Di kawasan karst, karena dominasi proses pelarutan
(dissolution), maka batuan gamping yang awalnya keras dan padat secara lambat
laun akan terbentuk rongga-rongga hasil pelarutan yang kemudian akan terisi
oleh air. Di batuan karst, terdapat dua jenis aliran yaitu aliran bertipe cepat
dan aliran bertipe lambat.
Aliran cepat mengalir pada lorong-lorong yang
berukuran besar sehingga mampu menghasilkan air berjumlah yang banyak dalam
bentuk sungai bawah tanah. Sementara itu, aliran lambat akan perlahan-lahan
mengalir secara vertikal ke bawah dan mengisi lorong-lorong yang besar,
sehingga sepanjang tahun mata air dan sungai bawah tanah akan tetap memiliki
debit air yang cukup tersedia.
Besarnya aliran cepat dan aliran lambat ini
tergantung dari umur batuan karst itu sendiri. Karst yang masih berumur muda
cenderung didominasi oleh aliran yang bersifat lambat, sehingga mata air di
kawasan ini debit airnya tergolong kecil meskipun air akan tersedia sepanjang
tahun. Contoh karst yang berumur muda adalah karst yang berada di pulau-pulau
kecil di Indonesia.
Sementara itu, karst dewasa mempunyai tipe aliran
gabungan antara aliran cepat dan aliran lambat sehingga debit air di mata air
dan sungai bawah tanah tersedia dalam jumlah yang besar dan kontinyu sepanjang
tahun (tetap tersedia saat musim kemarau). Mayoritas kawasan karst di Indonesia
berumur dewasa sehingga memiliki cadangan air yang besar dan dilepaskan secara
perlahan-lahan dan menerus sepanjang tahun melalui mata air karst dan sungai
bawah tanah.
Contohnya adalah keberadaan sumber air di sungai
bawah tanah Bribin dan Seropan (kawasan karst Gunungsewu) yang mampu mencukupi
kebutuhan air minum dan domestik pada hampir 150.000 orang, meskipun baru
sebagian kecil dari total debit air yang tersedia yang telah termanfaatkan.
Bayangkan saja jika seluruh mata air dan sungai bawah tanah di kawasan tersebut
sudah termanfaatkan.
Sebagai contoh mata air Baron di pinggir Samudera
Hindia dengan debit air di musim kemarau sebesar sekitar 8.000 liter/detik yang
jika dapat dimanfaatkan seluruhnya akan mampu memenuhi kebutuhan jutaan orang.
Terakhir, karst yang berumur tua akan didominasi oleh aliran bersifat cepat
dengan lorong yang besar.
Karst berumur tua ini umumnya hanya menyediakan air
di musim penghujan dengan debit air yang turun secara drastis di musim kemarau.
Contoh kawasan karst yang berumur tua adalah karst di sekitar Pegunungan Bukit
Barisan, Sumatera.
Apa saja ancaman terhadap kelestarian sumber daya
air di kawasan karst?
Secara umum, ancaman-ancaman yang akan menurunkan
potensi sumber daya air di kawasan karst terbagi menjadi ancaman terhadap
keberlangsungan debit airnya (kuantitas) dan ancaman terhadap kualitas airnya.
Secara fisik, adanya perubahan iklim global (el nino, peningkatan suhu) akan
menambah tingkat penguapan dan menurunkan curah hujan yang jatuh di kawasan
karst.
Selama kurun waktu beberapa dekade ini, sudah
terbukti jika rata-rata debit mata air karst dan sungai bawah tanah secara umum
mengalami penurunan. Selain itu, faktor perubahan fungsi lahan karst dari hutan
menjadi non hutan (permukiman, industri, dan pertambangan) sangat berpotensi
mengurangi persentase aliran lambat sehingga menurunkan debit air karst di
musim kemarau.
Secara kualitas, sumber daya air karst bersifat
sangat rentan terhadap pencemaran. Potensi pencemaran di mata air dan sungai
bawah tanah sangat mungkin terjadi dengan mudah karena keberadaan lorong-lorong
hasil pelarutan di kawasan karst yang sudah berkembang secara dominan.
Lorong-lorong tersebut menghubungkan mata air dan sungai bawah tanah karst
dengan aliran di permukaan.
Secara keumuman, aliran di permukaan baik yang
berasal dari daerah non-karst (allogenik) atau yang berasal dari daerah karst
itu sendiri (autogenik) akan mudah berinteraksi dengan zat pencemar. Hal inilah
yang menyebabkan pencemar tersebut langsung masuk ke sungai bawah tanah dan
mata air karst tanpa adanya filter dari lapisan tanah di atasnya.
Hasil riset-riset terkini sudah membuktikan bahwa
sumber daya air karst sudah tercemar dengan parameter-parameter pencemar yang
berasal dari berbagai aktivitas antropogenik (aktivitas manusia) seperti
permukiman, pertanian, dan peternakan.
Sebagai contoh yang dapat disaksikan langsung,
bahwasanya lembah antar perbukitan karst yang dikenal sebagai lahan yang subur
untuk ditanami tanaman padi tadah hujan dan palawija (kacang tanah dan ketela).
Bahkan pada beberapa tempat, petani di lahan karst juga menanam jenis sayuran
lain semisal cabe, terong, dan tomat.
Jenis-jenis tanaman tersebut tentunya membutuhkan
pupuk dalam jumlah yang besar yang sulit jika terpenuhi hanya dari pupuk
kandang, sehingga membutuhkan pupuk kimia dengan kandungan utama berupa
nitrogen, fosfat, dan kalium.
Selain itu, untuk menanggulangi hama dan penyakit,
petani rutin melakukan penyemprotan pestisida selama masa tanam tersebut yang
berpotensi langsung terbawa dan mencemari mata air karst dan sungai bawah
tanah. Hal lain yang berpotensi mencemari sumber daya air karst adalah
aktivitas permukiman dan peternakan yang umumnya secara tradisional masih
membuang langsung limbahnya ke tanah yang saat musim hujan akan terbawa
langsung ke mata air dan sungai bawah tanah.
Beberapa ancaman itulah yang mengharuskan kita
untuk lebih giat dalam melakukan sosialisasi tentang bagaimana mengelola limbah
dari aktivitas-aktivitas tersebut agar tidak secara langsung mencemari sumber
daya air karst.
















