BERITA INDEX BERITA
Kepemimpinan Perempuan Dalam Praktik ESG

Dr. Emilia
Bassar
Founder CPROCOM (Center for Public Relations, Outreach and
Communication), Communications Director PT IMIP (Indonesia Morowali Industrial
Park), Dosen MKom Universitas Mercu Buana
SEBAGAI perempuan, momen Hari Kartini (21 April) dan Hari Bumi (22
April) pasca pandemi Covid-19 yang mematikan di tahun 2020-2022, selalu
membangkitkan refleksi mendalam. Bukan sekadar perayaan, momen ini mengingatkan
kita tentang keterkaitan erat antara kesetaraan gender, kelestarian lingkungan,
dan masa depan planet kita.
Seperti virus Covid yang dengan cepat melumpuhkan dunia dari satu titik
di China, perubahan iklim ekstrem di satu tempat pun dapat dengan mudah
menjangkau belahan dunia lain, mengancam keberlanjutan kehidupan di Bumi.
Kesadaran ini mendorong saya, untuk mengambil tindakan. Di tahun 2022,
saya menggagas Climate Communication Forum (CCF) bertemakan “Emphasizing the S
(Women) in The ESG Communication“. CCF teranyar telah sukses dilaksanakan pada
tanggal 23 Maret 2024 dengan mengangkat tema “The Role of Communication in
ESG”.
Kegiatan CCF sendiri pertama kali diselenggarakan tahun 2018 dengan
tema “Climate for Women in Climate Change Communication”. Inisiatif ini menjadi
awal mula berbagai kegiatan berbasis keberlanjutan yang dijalankan oleh lembaga
yang saya dirikan, CPROCOM (Center for Public Relations, Outreach and
Communication).
Isu keberlanjutan, khususnya ESG (Environmental, Social, and
Governance), telah sepenuhnya menarik perhatian saya. Berawal dari kekuatiran
terhadap lingkungan dan perubahan iklim, fokus saya kemudian berkembang hingga mencakup isu gender, DEI
(Diversity, Equity, and Inclusion), dan kepatuhan terhadap regulasi.
Saya merasa bahwa penting untuk terlibat dalam gerakan ESG ini
sekaligus mendorong perempuan lain untuk aktif berkontribusi sesuai dengan
kapasitasnya masing-masing.
Kekuatan Kepemimpinan Perempuan
ESG yang mulai diperkenalkan di tahun 2004, kini telah berkembang
menjadi arus utama praktik korporasi global terutama setelah pandemi
Covid-19. Strategi pengelolaan isu ESG
pun sudah menjadi suatu kebutuhan bagi korporasi, terintegrasi dengan kebijakan
dan budaya perusahaan.
Perkembangan pesat ESG tersebut tidak lepas dari peran penting
perempuan. Kepemimpinan perempuan dalam
isu ini menjadi bagian dari upaya global untuk mengkomunikasikan ESG secara
masif dan intensif melalui berbagai platform media. Pesan utamanya adalah ESG
penting dan membutuhkan peran laki-laki dan perempuan yang setara.
Salah satu kontribusi utama perempuan dalam ESG adalah komitmennya yang
begitu kuat terhadap inklusivitas. Perempuan secara aktif mempromosikan
keberagaman di berbagai ruang lingkup, dan ingin memastikan bahwa suara mereka
didengar dalam mencapai keberlanjutan yang menyeluruh.
Perempuan juga berada di garis depan dalam tata kelola keberlanjutan.
Keterlibatan perempuan secara konsisten melebihi rekan-rekan laki-laki mereka,
sehingga menekankan perlunya ruang rapat yang lebih inklusif.
Perempuan sering kali menghadirkan ide dan pengalaman baru, sebagaimana
terungkap dalam The 2023 Sustainability Board Annual ESG Preparedness Report
yang diterbitkan oleh The Sustainability Board (dilansir dari
sustainabilitymag.com).
Lebih jauh lagi, penelitian yang dilakukan oleh Al-Jaifi (2020) serta
Wasiuzzaman dan Wan Mohammad (2020) menunjukkan adanya dampak positif antara
keragaman gender dan kinerja lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan.
Ini menyiratkan bahwa perusahaan yang memiliki lebih banyak direktur
perempuan cenderung memiliki praktik ESG yang lebih baik daripada perusahaan
yang memiliki lebih sedikit perempuan pada dewan direksi.
Penelitian tersebut menunjukkan peran perempuan dapat meningkatkan
fungsi pengawasan, serta kehadiran direktur perempuan mendorong perilaku
pemantauan dan pengawasan yang lebih berkualitas (dilansir dari www.esgi.ai).
Di Indonesia, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan relevansi yang
tinggi. Perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional terkemuka di negeri
ini semakin banyak yang memiliki direktur perempuan yang berkomitmen pada ESG.
Contohnya adalah Ibu Nicke Widyawati, Presiden Direktur PT Pertamina (Persero)
dan Ibu Febriani Eddy, Presiden Direktur/CEO PT Vale Indonesia Tbk.
Di bawah kepemimpinan mereka, kedua perusahaan mampu mendorong
penerapan ESG yang kokoh. Bahkan di level menteri-pun ada Ibu Sri Mulyani
Indrawati, Menteri Keuangan RI yang giat mengembangkan instrumen investasi
hijau melalui green bond.
Peran Strategis dan Praktis dalam Komunikasi ESG
Selain berkontribusi melalui kepemimpinan ESG, perempuan bisa berperan
penting dalam ESG melalui bidang komunikasi atau public relations.
Di level strategis, para perempuan praktisi komunikasi dapat menyusun
strategi komunikasi ESG yang sistematis dan terukur untuk membantu manajemen
puncak perusahaan memahami mengapa perusahaan perlu berinvestasi dalam kinerja
lingkungan, sosial, dan tata kelola, dan bidang apa yang akan menjadi fokus
perusahaan untuk ditingkatkan.
Dengan bahasa yang lugas dan data yang meyakinkan, mereka dapat
menjelaskan bagaimana ESG dapat meningkatkan reputasi, daya tarik investor,
maupun loyalitas pelanggan.
Pada tataran praktis, gaya komunikasi perempuan juga sejalan dengan
prinsip penyusunan strategi ESG, karena cenderung partisipatif, demokratis dan
berorientasi proses. Perempuan terampil dalam memfasilitasi proses identifikasi
kebutuhan dan harapan pemangku kepentingan serta mematuhi regulasi yang berlaku
(Birindelli dkk, 2018:3).
Oleh karena itu, perempuan harus berani mengambil peran aktif dalam
mengkomunikasikan isu-isu ESG secara lebih efektif, baik ke pemangku
kepentingan internal maupun eksternal perusahaan. Inisiatif ini akan membantu
perusahaan untuk menunjukkan komitmen ESG beserta dampaknya bagi masyarakat.
Banyak kanal media yang bisa dimanfaatkan maupun kegiatan komunikasi
yang bisa dilakukan untuk mengampanyekan penerapan praktik ESG suatu
perusahaan.
Berdasarkan pengalaman, beberapa aktivitas berikut dapat diterapkan
sebagai bagian mengampanyekan ESG yakni berbagi pengetahuan dan pengalaman
melalui WhatsApp Group atau Telegram dengan anggota yang beraneka ragam latar
belakangnya.
Berinteraksi langsung dengan followers melalui Instagram Live; membuat
forum diskusi dengan para profesional, pegiat, akademisi, dan mahasiswa; siaran
dialog di stasiun radio seperti RRI, serta kegiatan kreatif tiap minggu pagi
bagi anak-anak usia sekolah.
Kegiatan sharing knowledge, berbagi praktik-praktik terbaik, dan
lainnya ini dilakukan untuk memotivasi dan menginspirasi publik, serta call to
action dengan kapasitas yang kita miliki.
Tentunya perlu makin banyak perempuan Indonesia yang bisa berkiprah
dalam isu ESG ini di berbagai level, serta mampu menjaga komitmen dalam
menjalankan kegiatan-kegiatan ESG yang melibatkan berbagai pihak.
Keterlibatan aktif perempuan di level strategis hingga praktis dalam
isu ESG tidak hanya memperkuat komitmen keberlanjutan, tetapi juga membuka
peluang pemberdayaan perempuan itu sendiri. Mari bersama-sama, perempuan dan
ESG saling menguatkan untuk masa depan yang lebih hijau, adil, dan sejahtera.
















