BERITA INDEX BERITA
Sejarah Rempah dan Minyak Atsiri dalam Bidang Kesehatan

BERABAD-abad silam, Byzantium yang kemudian berganti nama
menjadi Konstantinopel merupakan kota yang menjadi pusat transit perdagangan
dunia. Konstantinopel merupakan sebuah kota yang sangat indah, tempatnya subur,
dan memiliki lokasi yang sangat strategis secara geografis, sehingga menjadi
kota terbesar dan termakmur di Eropa.
Kota Byzantium didirikan oleh Kekaisaran Romawi dan terletak
di perbatasan Eropa dan Asia, strategis baik dari segi laut yang berada di
antara Laut Tengah dan Laut Hitam maupun darat yang dilalui Jalur Sutra, di
mana merupakan pusat persimpangan jalur perdagangan dunia. Pedagang dari
berbagai negara berdatangan dan melakukan transaksi jual beli dari
bermacam-macam barang dagang.
Perdagangan rempah merupakan salah satu bisnis yang cukup
tua dan paling menguntungkan pada masanya. Rempah-rempah telah dikenal di Eropa
sekitar 70 SM dan digunakan sebagai obat serta penyedap makanan. Maluku–yang
saat itu tidak diketahui–menjadi sumber utama rempah-rempah dunia, dari Selat
Malaka rempah-rempah dibawa oleh pedagang Arab dan Gujarat ke India serta China
melalui Jalur Sutra.
Rempah kemudian diangkut dengan kapal ke pelabuhan di
Venesia, lalu dibawa melalui darat ke Mediterania, kemudian diekspor ke Timur
Tengah dan negara-negara di sekitar Laut Tengah hingga akhirnya menjadi rute
perniagaan rempah tersebar di Eropa. Saat itu, rempah seperti pala dan cengkeh
merupakan barang mewah yang sering ditukar dengan kain dari India, atau keramik
dari China.
Rempah sangat disukai oleh bangsa Eropa, karena iklim Eropa
yang dingin, rempah sering dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh dan biasa
digunakan untuk pengobatan, penyedap masakan, juga parfum. Bahkan saat itu
rempah-rempah dari Negeri Timur yaitu Nusantara dipercaya menjadi obat hirup
alami untuk mengobati wabah besar yang mengakibatkan kematian luar biasa di
Eropa.
Kehidupan manusia hingga saat ini tidak pernah lepas dari
seleksi alam oleh wabah-wabah yang pernah terjadi. Krisis Covid-19 bukanlah
wabah yang pertama terjadi. Sebelumnya, wabah-wabah lain pernah melanda bumi
kita beberapa kali, salah satunya adalah penyakit pes. Penyakit pes adalah
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh kutu
tikus dan pertama kali muncul pada tahun 542 di Konstantinopel–salah satu
tempat berbagai komoditas pangan diperjualbelikan secara Internasional.
Hal ini disinyalir menjadi alasan mengapa penyebaran wabah
pes terjadi, impor bahan pangan oleh Konstantinopel membawa tikus berkutu yang
menyelinap ke berbagai kapal dagang dan bersembunyi di antara berbagai muatan
kapal, tikus-tikus pembawa penyakit ikut naik kapal dagang, menyusup di antara
karung bahan pangan.
Manusia dapat terinfeksi penyakit pes melalui gigitan kutu
tikus atau gigitan tikus yang terinfeksi. Tikus yang terjangkit pes umumnya
bertahan 10-14 hari kemudian mati, namun kutu yang bersarang di tikus tetap
bertahan hidup. Kematian massal tikus membuat gerombolan kutu kehilangan inang
sehingga bersarang di tubuh manusia dan mendatangkan penyakit.
Di awal kemunculannya, wabah pes dikenal dengan nama Plague
of Justinian, sesuai dengan nama kaisar Romawi yang berkuasa saat pandemi
tersebut terjadi. Penyakit ini kemudian menyebar melintasi Afrika Utara, Asia,
Timur Tengah, hingga Eropa. Masyarakat saat itu tidak mengetahui bagaimana cara
melawan wabah kecuali dengan menghindari mereka yang sakit agar mampu bertahan
hidup atau memiliki kekebalan tubuh melalui adaptasi.
Wabah pes ini tidak berakhir begitu saja, 800 tahun kemudian
wabah ini kembali muncul di Eropa pada tahun 1347. Dalam waktu 4 tahun, wabah
ini telah menewaskan hampir dua pertiga populasi yang ada di Eropa dan
diperkirakan ada 200 juta nyawa manusia di seluruh dunia yang gugur. Saat itu,
wabah ini dikenal dengan nama Black Death (wabah Maut Hitam), disebut demikian
karena gejala awal yang ditunjukkan oleh penderita adalah menghitamnya bagian
kulit akibat jaringan yang mati.
Kala itu penanganan penyakit pes dilakukan dengan melakukan
isolasi paksa bagi para awak kapal yang baru datang di pelabuhan. Para awak
kapal ditahan di kapal selama 30 hari yang dikenal dengan istilah trentino,
hingga akhirnya dinyatakan tidak sakit. Seiring waktu, durasi isolasi para awak
ditambah menjadi 40 hari atau quarantino yang mana merupakan asal kata asli
dari “karantina” yang dunia kenal saat ini.
Selain itu masyarakat Eropa percaya, bahwa memakai pala atau
rempah yang dimasukkan ke dalam kantung kecil dan dikalungkan ke leher kemana
pun hendak pergi dapat mencegah pemakainya dari wabah pes. Meskipun awalnya
dianggap takhayul karena keterbatasan ilmu pengetahuan, aroma pala yang
terhirup diyakini masyarakat menjadi obat pes saat itu.
Hal ini tidak lain karena pala atau rempah kebanyakan
memiliki sifat antibakteri, fungisida, dan insektisida akibat kandungan kimia
di dalamnya, terutama komponen isoeugenol yang merupakan insektisida alami
banyak dibuktikan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Begitu banyak manfaat
rempah-rempah dari Nusantara membuatnya semakin disukai bangsa Eropa bahkan
komoditas pala dan cengkeh menjadi primadona.
Hingga pada tahun 1453, jatuhnya Konstantinopel membawa
perubahan besar terhadap dunia. Penaklukan Konstantinopel oleh kerajaan Islam
Turki Utsmani dibawah pimpinan Muhammad Al-Fatih membawa dampak terhadap jalur
perdagangan Asia dan Eropa.
Aktivitas perdagangan antara kawasan Asia dan Eropa terputus
akibat blokade dan monopoli perdagangan dari kesultanan Turki Utsmani saat itu,
sehingga rempah dari Asia tidak bisa masuk ke Eropa. Kecintaan Portugis,
Spanyol, Inggris, dan Belanda terhadap rempah dari Negeri Timur dan ditutupnya
jalur perdagangan dunia membuat bangsa Eropa terlibat persaingan untuk
menemukan produsen rempah yang dirahasiakan para pedagang Arab dan Gujarat.
Pala dan cengkeh saat itu hanya tumbuh pada iklim yang
spesifik yaitu di kepulauan Maluku, sebagai satu-satunya penghasil pala dan
cengkeh terbaik di dunia. Impor pala dari Nusantara membuat harga pala sangat
mahal karena diperlukan perjalanan jauh melewati Samudera selama berbulan-bulan
yang penuh risiko.
Jika dibandingkan dengan harga saat itu, harga rempah bisa
berkali kali lipat harga emas sehingga membuatnya begitu bernilai. Hal ini
memicu para pedagang Eropa untuk menguasai perdagangan rempah dan mengambil
keuntungan besar dengan melakukan eksplorasi samudera.
Penjelajahan samudera ini membuat bangsa Eropa menemukan
banyak hal baru, hingga akhirnya turut mempengaruhi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, termasuk perkembangan pesat navigasi laut untuk
pelayaran menjelajahi dunia. Bangsa Eropa dengan kekuatan armada laut dan
perkapalan yang maju seperti Portugis dan Spanyol menelusuri jalur Timur dan
Barat untuk sampai ke Asia yang kemudian diiringi bangsa Eropa lain seperti
Inggris, Belanda, dan Prancis.
Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kaki di kepulauan
rempah Maluku adalah Portugis. Pada tahun 1506, Seorang Portugis bernama
Lodewijk de Bartomo datang pertama kali di Nusantara dan melaporkan keadaan
Maluku ke tanah asalnya. Hingga beberapa tahun kemudian orang-orang Portugis
secara resmi tiba di Maluku melalui rute Utara Selat Malaka, yang mana
merupakan pelabuhan tempat transit keluar masuknya perdagangan di Asia Tenggara
dan kemudian sampai di pulau Banda.
Pada saat Portugis berada di kepulauan Maluku, kondisi saat
itu tidak begitu baik, Kesultanan Maluku yaitu Ternate dan Tidore sedang
berseteru dan bersaing ketat untuk menguasai pusat perdagangan rempah Maluku
dengan membentuk kongsi dagang Uli Lima (Ternate) dan Uli Siwa (Tidore). Dalam
waktu relatif singkat kedatangan Portugis kemudian disusul Spanyol yang
merupakan pesaing dalam upaya menemukan kepulauan rempah.
Sesampainya di Maluku, Spanyol dapat dengan mudah
mempengaruhi warga lokal, namun mengalami kesulitan menghadapi Portugis untuk
mendapat kewenangan dalam menangani kepulauan Maluku seutuhnya. Keduanya saling
bersaing dan berupaya memperoleh dukungan juga legitimasi dari
kerajaan-kerajaan lokal, hingga akhirnya Portugis bergabung dengan Ternate dan
Spanyol bergabung dengan Tidore yang menyebabkan Maluku terpecah belah.
Bangsa Eropa makin mudah menguasai Nusantara karena konflik
yang banyak terjadi di antara para penguasa Nusantara. Belanda merupakan negara
yang kemudian sampai di laut Banda pada tahun 1599. Ketika Belanda akhirnya
menemukan pulau Banda, mereka berupaya untuk melindungi rempah-rempah dengan
melakukan monopoli perdagangan dan membentuk VOC pada tahun 1602, hingga
akhirnya VOC berhasil menguasai perkebunan pala dan rempah-rempah mewah
Nusantara.
Terdapat tiga kekuasaan atas pulau Maluku saat itu, Ternate
Utara dikuasai kerajaan Ternate, Ternate Tengah dikuasai VOC, dan Ternate
Selatan juga Barat dikuasai Spanyol. Pada tahun 1663 Spanyol terpaksa
meninggalkan Maluku karena harus melindungi negara jajahannya, Manila, dari
serbuan bajak laut Tionghoa. Praktis menyebabkan wilayah Ternate Selatan dan
Barat menjadi tidak bertuan dan hal ini kemudian dimanfaatkan Belanda untuk
memperkuat keberadaannya di Maluku.
VOC semakin gencar melakukan kegiatan monopoli perdagangan,
apalagi dengan perginya Spanyol membuat seluruh tata niaga rempah-rempah di
daerah Maluku berada di bawah kendali penuh Kompeni. Hingga terbentuk suatu
perjanjian mengenai “hak monopoli Kompeni” atas tata niaga rempah-rempah di
seluruh wilayah Maluku.
Namun saat itu monopoli perdagangan rempah VOC terhalangi
oleh keberhasilan Inggris menguasai salah satu pulau di Banda bernama pulau
Run. Pada tahun 1797, Inggris tiba di pulau Banda dan mencanangkan kolonialisme
Inggris. Saat itu Inggris hanya mampu mempertahankan pulau Run selama 4 tahun,
hingga akhirnya bisa dikuasai Belanda.
Namun, tidak berhenti di situ. Inggris melakukan aksi balas
dendam dengan merebut pulau Manhattan di New York yang disebut Belanda sebagai
New Amsterdam sejak Prancis menduduki negeri Belanda. Hingga akhirnya kedua
negara melakukan kesepakatan melalui perjanjian Breda yang mana dalam
perjanjian tersebut diputuskan bahwa pulau Run yang sebelumnya dikuasai Inggris
tetapi sedang diduduki Belanda menjadi milik Belanda.
Sedangkan pulau Manhattan di New York yang merupakan tanah
jajahan Belanda tetapi sedang diduduki Inggris, resmi diberikan kepada Inggris.
Seiring berjalannya waktu, kedua pulau saat ini memiliki nasib berbeda. Pulau
Run di Banda yang diperebutkan dan dahulu sangat berjaya karena menyimpan pala
layaknya harta karun kini menjadi pulau terpencil dan terlupakan akibat
kemunduran perdagangan dan anjloknya harga pala.
Sedangkan di sisi lain, pulau Manhattan yang dahulu hanyalah
pos dagang bulu binatang, kini menjelma menjadi kota yang paling maju di dunia
bahkan menjadi salah satu pusat ekonomi global yang berada di kota New York.
Pulau Banda di Maluku hanyalah salah satu dari banyaknya
jalur rempah Nusantara. Jalur rempah merupakan bagian dari khazanah budaya dan
sejarah bangsa yang mana nilai-nilai istimewa di dalamnya perlu digali dan
dipertahankan. Nilai-nilai yang diwariskan melalui asimilasi budaya menjadi
kekayaan yang tidak tergantikan dan harus dilestarikan karena menjadi salah
satu identitas bangsa.
Melihat kemunduran rempah-rempah Indonesia dan jalur-jalur
rempah yang kini mulai dilupakan meski pada sejarahnya menjadi incaran berbagai
bangsa, dirasa sangat memprihatinkan. Terlebih lagi, saat ini kita dihadapkan
dengan tantangan dan kemajuan zaman yang mengikis eksistensi sejarah dan budaya
lokal, sehingga diperlukan upaya untuk menguatkan jati diri bangsa.
Lalu bagaimana caranya agar dunia kembali menilik warisan
budaya tersebut terutama jalur rempah di Maluku? Seiring perkembangan zaman,
pola hidup masyarakat juga mengalami perubahan. Tren gaya hidup holistik
semakin menjamur di dunia, masyarakat terdorong untuk menerapkan kebiasaan
hidup sehat karena maraknya gerakan wellness.
Selain mulai memelihara kesehatan fisik dan memilih
pengobatan herbal, menjaga pikiran tetap positif di era teknologi digital juga
tak kalah penting untuk kesehatan jiwa. Menerapkan latihan meditasi, self
healing, juga mindfulness dengan bantuan minyak atsiri mulai sering dilakukan
masyarakat milenial bahkan menjadi tren yang tumbuh paling cepat di Amerika.
Minyak atsiri (Essential Oil) adalah minyak mudah menguap
yang komponen utamanya adalah terpen, minyak ini dihasilkan dari cairan
terkonsentrat asli yang diekstrak dari tanaman sehingga baunya sangat
menyengat. Minyak atsiri juga dikenal sebagai minyak aromaterapi yang memiliki
berbagai manfaat untuk kesehatan tubuh.
Karakteristik dari minyak ini tidak larut dalam air, berbau
harum dengan tingkat keharuman yang bertahan dari sumber tanaman dan komposisi
yang terkandung di dalamnya (bervariasi mulai dari lembut/halus sampai segak
menyengat), dan dihasilkan dari ekstrak berbagai macam bagian tanaman.
Seperti minyak yang dihasilkan dari akar (akar wangi,
kemuning), daun (nilam, cengkeh, kayu putih, serai, kemangi), biji (pala, lada,
anis, kapulaga, kasturi), buah (adas, jinten, anis, ketumbar), bunga (cengkeh,
ylang-ylang, melati, mawar), kulit kayu (kayu manis, akasia, lawang), kayu
(cendana, gaharu), rimpang (jahe, kunyit, lengkuas, temulawak) dan tanaman
lainnya.
Kembali menilik masa ketika wabah pes di Eropa terjadi dan
dipercaya sembuh karena menghirup aroma pala, merupakan satu sejarah yang
membuktikan bahwa kandungan minyak atsiri sebagai aromaterapi tidak bisa
diragukan. Aromaterapi merupakan penggunaan minyak atsiri dengan jalur inhalasi
(dihirup), dipakai secara langsung, atau pemakaian internal dengan tujuan
memelihara dan meningkatkan kesehatan baik kondisi fisik, psikologis, bahkan
spiritual.
Jika dikaitkan dengan kondisi pandemi sekarang, sebagian
masyarakat Indonesia banyak memanfaatkan obat herbal seperti rempah yang
dipercaya dapat mencegah Covid-19. Contohnya di Maluku, sebagai emas hijau yang
memiliki sumber daya alam melimpah di bidang pertanian, terutama komoditas
rempah terkhusus pala dan cengkeh, masyarakat sekitar masih menjalani tradisi
baukup atau bertangas (tradisi mandi atau menghirup uap panas dari rebusan
ramuan rempah-rempah) yang dipercaya dapat menjadi obat berbagai penyakit
termasuk sebagai upaya pencegahan Covid-19.
Tradisi baukup menggunakan rempah-rempah yang berkhasiat
tinggi seperti pala, lengkuas, kayu putih, kayu manis, jahe, cengkeh, dan
rempah lainnya dipercaya masyarakat sejak dahulu untuk menyembuhkan penyakit,
memberikan relaksasi, mengurangi sakit kepala, mengeluarkan racun melalui
keringat, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kebiasaan masyarakat tersebut
merupakan tradisi peninggalan dari sejarah dan budaya nenek moyang yang terus
dijalani.
Masyarakat dahulu umumnya terbatas terhadap akses kesehatan
sehingga hanya mengandalkan pengetahuan berdasarkan kearifan lokal turun
temurun. Kepercayaan masyarakat bahwa tradisi baukup dapat mengobati berbagai
macam penyakit sepertinya bukan lagi suatu yang dipertentangkan, dengan
kemajuan ilmu pengetahuan hal ini tentunya dapat membantu membuktikan
manfaatnya secara ilmiah.
Jika dilihat dari rempah-rempah yang digunakan, erat
kaitannya dengan komponen minyak atsiri yang terkandung di dalamnya. Minyak
atsiri mengandung komponen penyusun yang mudah menguap seperti terpen, keton,
fenol, hidrokarbon, alkohol, ester, asam-asam organik, dan lainnya.
Komponen kimia yang terkandung dalam minyak atsiri tersebut
memiliki manfaat sebagai obat-obatan, banyak digunakan untuk efek terapeutik
yang tidak hanya memberikan efek fisiologis terhadap sistem pernapasan, otot,
sendi, hormon, dan imun, namun juga memberikan efek psikologis untuk
menenangkan dan mengurangi kecemasan.
Tradisi baukup dari Maluku dengan ramuan tradisional mungkin
tidak dikenal oleh masyarakat modern yang tinggal di kota-kota besar, namun
kearifan lokal tersebut menjadi inspirasi untuk membuat alternatif penggunaan
minyak atsiri menggunakan diffuser (alat pengubah cairan minyak menjadi uap)
sebagai “ramuan modern” yang mulai menjadi tren dunia saat ini untuk kesehatan
sekaligus digunakan sebagai pengharum ruangan.
Hal ini menjadi peluang bahwa komoditas rempah Nusantara
tetap dapat eksis dan mendorong perkembangan perdagangan internasional juga
dapat membuat jalur rempah Nusantara diakui dan dikenal kembali oleh dunia,
terutama Ternate di Maluku yang merupakan titik nol jalur rempah dunia.
Menurut Dewan Atsiri Indonesia, terdapat hampir 100 jenis
tanaman atsiri dan 400-500 spesies tanaman rempah di Indonesia, hal ini
menggambarkan betapa beruntungnya kita memiliki kekayaan alam luar biasa. Dari
150 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasar internasional 40
diantaranya diproduksi di Indonesia.
Tidak mengherankan jika sejak dahulu bangsa kita menjadi
salah satu pusat kebutuhan dunia apalagi rempah-rempah yang diminati bangsa
Eropa banyak yang hanya tumbuh di Indonesia. Keanekaragaman hayati yang
tersebar di Indonesia, mampu mengantarkan kita sebagai pemimpin pasar dunia
untuk komoditas minyak atsiri khususnya minyak pala, cengkeh, nilam, dan kayu
putih yang mana hanya Indonesia produsen utamanya.
Tomé Pires, seorang petualang dari Portugis, mengungkapkan
dalam catatan perjalanannya bahwa "Tuhan telah menciptakan Timor sebagai
surga cendana, Banda sebagai surga pala, serta Maluku sebagai surga cengkeh,
dan barang dagangan ini tidak dikenal di tempat lain di dunia ini kecuali di
tempat-tempat tadi, telah saya tanyakan dan selidiki dengan teliti apakah
barang ini terdapat di tempat lain, dan semua orang katakan tidak."
Hal ini pun menunjukkan bahwa tidak ada bangsa lain di dunia
ini yang memiliki megabiodiversitas seperti Indonesia. Oleh sebab itu,
keanekaragaman hayati Indonesia merupakan aset jangka panjang yang perlu
dikaji, diteliti, dan dimanfaatkan secara efektif sesuai perkembangan zaman
untuk kesejahteraan bangsa dan memperkuat karakter serta ketahanan budaya
nasional.
Baik di masa lalu maupun sekarang, rempah menjadi komoditas
utama yang sangat penting karena mampu mempengaruhi kondisi sosial, budaya,
politik, bahkan ekonomi secara global. Hingga saat ini, Indonesia masih menjadi
salah satu negara pemasok minyak atsiri terbesar di dunia. Indonesia menjadi
penyuplai minyak atsiri lebih dari 70% kebutuhan dunia, yang mana banyak
diekspor ke Amerika, Eropa, Afrika, hingga Oceania.
Nilai ekspor minyak atsiri merupakan salah satu sumber
devisa utama bagi Indonesia, di mana Compound Annual Growth Rate (CAGR) untuk
ekspor tahunan minyak atsiri Indonesia selama 5 tahun terakhir, menunjukkan
tren yang cenderung mengalami peningkatan akibat nilai jual minyak atsiri yang
tinggi. Hingga April 2021 nilainya mencapai 84 juta USD dengan pertumbuhan
tahunan sebesar 15,5%. Peningkatan ini terutama didorong oleh harga minyak
atsiri yang meroket di masa pandemi Covid-19.
Salah satu komoditas minyak atsiri yang paling banyak
diminati adalah minyak pala dan cengkeh yang sejak dahulu sudah diketahui
memiliki kualitas terbaik di dunia. Bahkan Indonesia menjadi pemasok lebih dari
90% kebutuhan minyak pala dunia. Di mana dari total minyak pala yang ada di
Indonesia, 50%-nya diproduksi dari Maluku.
Hal ini memberikan gambaran bahwa Indonesia dianugerahi
tanaman rempah yang bernilai tinggi di pasar dunia. Melimpahnya sumber rempah
Indonesia yang didorong nilai jual serta permintaan pasar luar negeri akan
minyak atsiri yang tinggi, merupakan peluang eksportir yang menjanjikan.
Potensi ekonomi minyak atsiri tidak main-main dan mampu membawa dampak positif
terhadap perekonomian.
Dengan persebaran sumber daya nabati Indonesia yang melimpah
maka produksi minyak atsiri kedepannya tidak hanya berfokus pada pala, cengkeh,
nilam, dan kayu putih saja. Keuntungan produksi dari komoditas rempah lain
seperti anis, kapulaga, lawang, serai wangi, dan tanaman lain menjadi minyak
atsiri pun terbuka sangat lebar dan perlu diperhatikan agar menjadi produk
unggulan.
Pada umumnya, pengrajin minyak atsiri atau UMKM masih
menggunakan cara tradisional dengan peralatan sederhana dalam proses
penyulingan minyak atsiri. Sehingga kualitas minyak atsiri cenderung kurang
memenuhi standar nasional/internasional, adanya ketimpangan dari kualitas
tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan kestabilan harga dan akan
berimbas pada kurang menguntungkannya usaha pengolahan minyak atsiri.
Permasalahan industri minyak atsiri masih berkutat pada
proses penanaman, teknik dan kelangsungan produksi, kualitas produk, serta
belum berkembangnya industri hilir atsiri yang bernilai tambah lebih. Selama
ini peningkatan mutu minyak atsiri Indonesia dilakukan di negara tujuan ekspor
yang umumnya akan diolah menjadi minyak turunan atau digunakan sebagai bahan
baku industri seperti industri perasa, wewangian, penguat aroma, parfum, produk
rumah tangga (bahan baku sabun, deterjen), farmasi, dan oleokimia.
Perlu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut seperti
adanya pendampingan petani binaan untuk teknik budidaya tanaman yang baik,
pasca panen, pendampingan penyulingan tradisional, proses produksi yang
didukung teknologi berstandar alih teknologi fraksinasi (pemisahan senyawa)
untuk meningkatkan kemurnian, hingga pengembangan produk turunan minyak atsiri
yang memiliki harga jual lebih tinggi.
Pengolahan yang sesuai dan mata rantai industri yang
terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir akan menghasilkan perolehan minyak
atsiri yang tinggi dan berkualitas. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan petani serta penyuling atsiri Indonesia. Pengembangan minyak
atsiri dari rempah-rempah Nusantara melalui peningkatan produktivitas dan
kualitas minyak rempah-rempah lain menjadi peluang besar yang tidak boleh
dilewatkan.
Revitalisasi potensi sumber daya rempah lain menjadi minyak
atsiri dapat membantu meningkatkan pemanfaatan rempah, memberdayakan para
petani, meningkatkan keterampilan sumber daya manusia di bidang rempah, dan
lebih jauh lagi menghidupkan eksistensi jalur-jalur rempah di Nusantara agar
kembali dikenal dunia.
















