BERITA INDEX BERITA
Lahan Bahan untuk Kesejahteraan Masyarakat Indonesia

Staf Kawasan Wisata Mangrovesari tengah menjelaskan kepada
pengunjung tentang manfaat kegiatan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat
di Desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes Jawa Tengah
JAKARTA —Mengangkat tema “Lahan Basah dan Kesejahteraan
Manusia” (Wetlands and Human Wellbeing), peringatan Hari Lahan Basah Sedunia
2024 mengingatkan kita betapa krusialnya lahan basah bagi kesejahteraan
manusia, baik ekonomi, kesehatan fisik, mental, maupun keamanan terhadap
bencana.
Dengan manfaat yang begitu besar dan luas lahan basah yang
diperkirakan 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8 persen dari luas daratan,
Indonesia berkepentingan besar untuk menjaga kelestarian lahan basah. Terutama,
seiring kondisi banyak lahan basah di negeri ini yang kondisinya
mengkhawatirkan oleh karena berbagai faktor, terutama alih fungsi lahan.
Direktur Program Yayasan KEHATI, Rony Megawanto mengungkapkan,
keberadaan lahan basah sangat penting secara ekologis, hidrologis, ekonomi,
maupun pengurangan dampak bencana hidrometeorologis di Indonesia yang dari
waktu ke waktu intensitasnya cenderung meningkat, terutama seiring meningkatnya
dampak perubahan iklim.
Oleh karena itu, melalui dalam peringatan Hari Lahan Basah
Sedunia 2024 ini, Yayasan KEHATI mendesak semua pihak terkait, terutama calon
pemimpin Indonesia ke depan untuk lebih mengarusutamakan konservasi lahan basah
di negeri ini.
“Sebagai pemegang tampuk kepemimpinan dan penentu kebijakan
Indonesia ke depan, para calon pemimpin negara, baik di tingkat eksekutif
maupun legislatif yang saat ini berkontestasi, perlu memasukkan konservasi
lahan basah sebagai bagian dari program mereka ke depan,” ujar Rony.
Kebijakan perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan lahan
basah yang lestari, lanjut ia, tidak hanya akan membantu pembangunan ekonomi
berkelanjutan, tetapi juga akan menjadi penopang kuat untuk mencapai tujuan
iklim Indonesia, yaitu berkontribusi megurangi emisi gas rumah kaca pada akhir
dekade ini.
Sebagai bagian dari upaya mendukung konservasi
keanekaragaman hayati di Indonesia, Yayasan KEHATI sejak tahun 1994 telah
terlibat dalam banyak program konservasi di beberapa kawasan lahan basah di
negeri ini.
Beberapa program yang telah dilakukan, yaitu restorasi
ekosistem mangrove, restorasi terumbu karang, dan konservasi lahan basah
sungai, danau, dan rawa di beberapa program khusus yang dilakukan di Sumatera
dan Kalimantan.
Salah satu yang paling menonjol adalah bagaimana Yayasan
KEHATI dengan dukungan banyak pihak membantu mengembalikan eksosistem mangrove
dengan luas 1.000 hektar yang telah rusak di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes,
Jawa Tengah, akibat alih fungsi lahan menjadi tambak udang. Sampai saat ini,
hampir setengah dari lahan yang rusak telah kembali tertanam mangrove.
Kini, Desa Kaliwlingi tidak hanya mendapatkan manfaat
ekologis dari sedikit demi sedikit kembalinya ekosistem mangrove. Masyarakat
sekitar juga mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan ekowisata.
Masyarakat bisa menghasilkan penghasilan lebih dari 1 miliar
dari penjualan tiket, kuliner, kerajinan membatik, dan budi daya kepiting
bakau, sebelum akhirnya tergerus pandemik covid-19 di tahun 2020, dan mulai
berangsur pulih di tahun 2023.
“Tema Hari Lahan Basah Sedunia 2024 sejalan dengan indikator
kesuksesan yang kami syaratkan, bahwa program konservasi tidak hanya memberikan
dampak ekologi, namun juga harus berdampak secara ekonomi,” kata Rony.
Yayasan KEHATI terus membangun kesadaran kepada masyarakat
bahwa hubungan harmonis antara manusia dan alam harus terus dijaga. Konservasi
lahan basah merupakan langkah penting dalam memitigasi dampak perubahan iklim
dan dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. “Tak kalah penting,
lestarinya alam basah dapat menjamin pemanfaatannya untuk kesejahteraan
masyarakat Indonesia, tandas Rony.
Berikut beberapa manfaat lahan basah:
Sebagai Mata Pencarian
Lahan basah merupakan penggerak ekonomi lokal. Pada umumnya
lahan basah dikelola menjadi areal pertanian ataupun perkebunan. Sebagian besar
lahan basah dimanfaatkan masyarakat untuk budi daya tanaman perkebunan seperti
kelapa sawit, karet, padi, jagung, dan tanaman hortikultura buah (Masganti et
al. 2014). Sekitar 9,53 juta lahan basah di Indonesia berpotensi untuk lahan
pertanian, dengan rincian 6 juta ha berpotensi untuk tanaman pangan.
Sebagai Sumber Air Bersih
Kebutuhan air di Indonesia adalah sebanyak 175 miliar kubik
per tahun. Jumlah yang dapat dipenuhi dari ketersediaan air yang mencapai 690
miliar kubik per tahun. Kalimantan dan Papua yang dihuni oleh 13% populasi di
Indonesia menyediakan sekitar 70% sumber daya air.
Papua merupakan provinsi dengan area gambut terluas di
Indonesia dengan besaran mencapai 6,3 juta hektar (ha), disusul oleh Kalimantan
Tengah dengan luasan mencapai 2,69 juta hektar. Di Pulau Jawa, Sungai Citarum
dan Sungai Ciliwung merupakan 2 sumber air minum terbesar. Sayangnya, 2 sungai
ini juga menyandang predikat sebagai 2 sungai paling tercemar di Indonesia.
Sebagai Sumber Makanan Yang Melimpah
Luasan lahan basah di Indonesia menawarkan potensi sumber
pangan yang besar. Lahan basah dapat dikelola menjadi areal perikanan,
pertanian ataupun perkebunan. Misal, ekosistem dataran banjir sangat penting
bagi kegiatan perikanan darat. Lahan rawa pasang surut juga sudah lama dikenal
sebagai lahan budi daya pertanian yang potensial untuk dikembangkan
sebagai penghasil pangan (tanaman padi, palawija,sayur
mayur, buah-buahan. Sejak lama juga masyarakat/petani rawa mengembangkan
berbagai tanaman budi daya, khususnya tanaman pangan seperti padi, palawija,
ubi, talas, sagu dan lainnya.
Mitigasi Bencana
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 90
persen bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi atau
bencana yang berhubungan dengan aktivitas cuaca dan air. Fakta-fakta di
lapangan membuktikan bahwa lahan basah dengan kondisi yang masih baik dapat
mencegah bencana seperti kekeringan, banjir, kebakaran hutan, dan tsunami.
Ekosistem mangrove dengan ketebalan 200 meter serta
kerapatan 60 batang dan diameter 15 cm dapat meredam energi gelombang tsunami
hingga 50%. Lahan basah daratan setiap hektarnya mampu menyerap 3,7 juta gallon
air banjir, dengan demikian lahan basah mengurangi banjir dan meredakan
kekeringan.
Sebagai Penyimpan Karbon
Lahan gambut menyimpan karbon dengan jumlah yang sangat
besar. Diperkirakan karbon yang tersimpan di dalam lahan gambut di Indonesia
sebesar 44,5 Gt, dengan luasan lahan gambut sebesar 20,74 juta ha (Rieley et al
.2008).
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2021
menyatakan bahwa total luas ekosistem mangrove Indonesia mencapai 3,36 juta
hektar atau setara dengan 20,37 persen dari total luas mangrove dunia. Pada
tahun 2015,
Penelitian Murdiyarso dan kawan-kawan menyebutkan bahwa
Mangrove Indonesia mampu menyimpan 3,14 miliar ton karbon atau sepertiga dari
stok karbon pesisir global. Jumlah itu belum termasuk ekosistem padang lamun,
makroalga, hingga mikroalga.
Sumber Keanekaragaman Hayati
Lahan basah merupakan wilayah dengan tingkat keanekaragaman
hayati yang tinggi dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Di atas lahan basah
tumbuh berbagai macam tipe vegetasi seperti hutan rawa, hutan rawa gambut,
hutan bakau, paya rumput, dan lain-lain.
Belum lagi ekosistem mangrove memiliki keanekaragaman hayatinya sendiri yang juga sangat tinggi, yaitu sebanyak 202 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit, dan 1 jenis sikas.
Sekitar 47 jenis di antaranya merupakan tumbuhan spesifik
hutan mangrove. Terkait satwa, Setidaknya terdapat 200 spesies burung yang
bergantung pada ekosistem mangrove, atau sekitar 13% dari seluruh burung yang
ada di Indonesia. (Fadlik Al Iman)
















