BERITA INDEX BERITA

Asa Sarjan Tahir Merajut Suara Masyarakat Perantauan Bugis di Pelosok Perairan Banyuasin, Sumatera Selatan

Nadi Negeri | DiLihat : 936 | Kamis, 08 Februari 2024 | 09:09
Asa Sarjan Tahir Merajut Suara Masyarakat Perantauan Bugis di Pelosok Perairan Banyuasin, Sumatera Selatan

Sarjan Tahir bercengrama dengan masyarakat dan pemuda desa Sungai Semut, Parit 7, Banyuasin. 


DUA speedboat perlahan bertolak dari dermaga Simpang PU, Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (5/2/2024) siang itu. Bagai permadani biru keabuan yang maha luas, sungai menjadi satu-satunya pilihan bagi speedboat dan sarana transportasi air lainnya untuk melintas.

Meski terasa mau terbalik saat bermanuver menghindari garis ombak yang menampar-nampar, speedboat tetap gagah membelah badan sungai yang bermuara ke ujung perairan Sungsang dan laut selat Bangka itu.

Speedboat yang membawa rombongan tim khusus (khusus) caleg DPR RI dari Partai Demokrat, Sarjan Tahir, itu melaju kencang menuju sejumlah pelosok perairan Banyuasin, mulai Kecamatan Mekarti Jaya, Air Salek, Muara Sugihan, Banyuasin III, hingga sebagian perairan Sungsang.

Rombongan tiba di titik pertama yang hendak dikunjungi, persisnya di sebuah desa bernama Sungai Semut, salah satu dari ratusan desa yang tersebar di wilayah perairan Banyuasin.

Di salah satu titik desa terpencil itu, persisnya di Parit 7, rombongan Sarjan Tahir disambut antusias ratusan warga yang sudah sejak pagi menunggu di rumah warga bernama Mustafa.

Suasana haru nampak mewarnai pertemuan Sarjan Tahir dengan ratusan warga yang ternyata diketahui berasal dari Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ini karena Sarjan sendiri berasal dari Bugis, persisnya Bone, dan merantau ke Palembang pada tahun 90’an.

“Saya serasa berada di tengah keluarga sendiri di kampung (Bugis, Makassar, Sulsel),” kata Sarjan saat berbicara di tengah masyarakat yang duduk bersila mengelilinginya.

Dengan penuh kesahajaan Sarjan memperkenalkan diri, mulai asal daerah kelahirannya di Bugis Bone, pengalaman hidupnya selama di perantauan, sampai maksud tujuannya datang ke kampung-kampung yang didiami masyarakat suku Bugis.

Sekadar diketahui, kedatangan Sarjan Tahir ke wilayah perairan Banyuasin sebenarnya bukan hal baru, apalagi hanya sekadar untuk berkampanye. Jauh sebelumnya, sekitar tahun 2000’an, Sarjan Tahir sudah berkiprah di basis-basis masyarakat tani dan nelayan di wilayah tersebut.

Selaku Ketua Harian Masyarakat Agribisnis Indonesia (MAI) dan Direktur Utama Pandutani Indonesia (Patani), Sarjan kerap berkunjung ke sejumlah wilayah bahkan pelosok pesisir yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani dan nelayan.

“Dulu juga saya sering berhubungan dan kenal dengan banyak tokoh juga masyarakat keturunan Bugis di wilayah Banyuasin. Dan hubungan baik itu masih terjaga sampai sekarang,” ujar Sarjan yang sempat menjadi penasehat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (DKSS) Provinsi Sumsel.

Sarjan Tahir mengaku sangat bahagia dan berterima kasih atas doa dan dukungan tulus dari warga perantauan Bugis di Banyuasin atas pencalonan dirinya menuju Gedung Bundar, Senayan.

“Ini bukan janji ya. Tapi jika nanti InsyaAllah terpilih (jadi anggota DPR RI) saya akan datang lagi ke daerah ini sebelum dilantik pada Oktober nanti. Dukungan bapak, ibu, dan para pemuda di daerah ini, itu bagi saya tak ubahnya seperti investasi atau memberi utangan kepada saya. Jadi harus saya bayar,” tegas Sarjan.

Andi Akka, 65, seorang warga Bugis perantauan yang tinggal di Desa Muara Baru, Mekarti Jaya, mengaku sangat senang dan bangga jika ada warga perantauan Bugis di Sumsel yang maju menjadi calon anggota DPR RI.

“Sama-sama orang Bugis pasti banggalah. Setidaknya nanti kalau jadi anggota DPR RI ada yang peduli dengan kami di perantauan. Bisa mengusahakan bantuan pupuk, pembangunan jalan, jembatan, dan lainnya di desa kami,” ujar Andi Akka yang berdomisili di Desa Muara Baru, Banyuasin.

Andi Akka mengenang, masa dahulu dirinya merantau ke Banyuasin pada tahun 1970. Waktu itu, dia berlayar selama 40 hari menggunakan kapal kayu dari kampungnya di Bone, Sulawesi Selatan, dan sampai perairan Banyuasin.

"Dulu daerah ini (Desa Muara Baru) masih hutan. Jadi kami yang pertama membuka lahan dan permukiman di daerah ini. Dan tidak berlebihan jika kami juga sangat menginginkan ada wakil kami di DPR, agar bisa memperjuangkan aspirasi kami," ujar petani kelapa dan pinang ini.

Setali tiga uang, H Adam, warga perantauan Bugis lainnya, juga membenarkan jika merekalah yang pertama membuka lahan dan permukiman di desa Muara Baru. Secara swadaya dan bertahap mereka membangun daerah ini hingga berkembang dan lepas dari keterisolasian.

Meski sudah lama menetap dan membangun kehidupan di Banyuasin, tapi kata H Adam, ia dan warga keturunan Bugis tidak pernah menyombongkan diri kalau merekalah yang pertama membuka daerah ini.

"Kami juga sadar kalau tempat tinggal kami berada di perantauan. Tapi bahwa kami ada di tempat ini dan membangun daerah ini sudah sejak lama, itu sudah sepatutnya diakui," kata Kades Muara Baru ini.

Ia melanjutkan, sama halnya seperti masyarakat lainnya di luar suku Bugis, terutama masyarakat transmigrasi yang setiap ada bantuan dari pemerintah selalu didahulukan, masyarakat perantauan Bugis tentu juga sangat menantikan bantuan-bantuan itu.

"Bantuan itu bukan tak ada sama sekali, tapi minim. Dan setiap ada bantuan, masyarakat Bugis seperti sengaja dinomor duakan. Ini bukan soal iri atau apa, tapi hanya soal keadilan saja. Malah daerah ini sempat tidak ada di peta. Jadi bagaimana mau diperhatikan kalau wilayahnya saja tidak masuk di peta," pungkas H Adam.

Sementara itu, Mustafa, 60, warga perantauan Bugis yang rumahnya dijadikan tempat pertemuan dengan Sarjan Tahir dengan masyarakat Sungai Semut, menyampaikan bahwa masyarakat Desa Sungai Semut sangat menantikan pembangunan insfrastruktur dan bantuan pupuk untuk petani hingga pengerukan parit.

Ia menjelaskan, pengerukan parit yang dimaksudnya adalah normalisasi galian yang dikenal masyarakat setempat dengan nama parit. Parit-parit ini berupa sungai-sungai kecil untuk akses keluar masuknya masyarakat perantauan Bugis di perairan Banyuasin, termasuk juga untuk membawa barang terutama hasil pertanian berupa kelapa, padi, pinang dan lainnya.

Parit-parit yang fungsinya layaknya jalan bagi masyarakat yang tinggal di daratan ini, sudah sejak lama dibuat secara swadaya oleh warga perantauan Bugis, jauh sebelum masyarakat transmigrasi dari Jawa di era pemerintahan Presiden Soeharto masuk ke daerah perairan Banyuasin.

“Awal dibuat parit ini dalam dan lebarnya 3 sampai 7 meter. Karena sudah lama, sebagian parit-parit ini tertimbun lumpur dan ditumbuhi tanaman. Kalau tanah dan lumpur dalam parit tidak dikeruk, lama-lama parit semakin dangkal dan menyempit. Tidak bisa lagi dilewati oleh perahu, tongkang, speedboat,” tutur Mustafa.

Sekadar diketahui, pada tahun 1963 suku Bugis bermigrasi ke Kabupaten Banyuasin, yakni Sungai Rengit, yang saat itu masih bagian wilayah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Yang pertama datang hanya sekitar 10 kepala keluarga (KK), dan sejak awal kedatangan mereka bermata pencarian nelayan.

Faktor yang mempengaruhi mereka berlayar dari Sulawesi Selatan ke perairan Sumsel ialah salah satunya faktor ekonomi. Penduduk Suku Bugis di Banyuasin ini awalnya ada yang langsung dari Sulawesi Selatan dan ada pula yang datang dari Riau dan Jambi. Pada tahun 1968, masyarakat suku Bugis menempati daerah Teluk Payo, Banyuasin II dan menyebar ke daerah lainnya dalam wilayah Kabupaten Banyuasin.

Lambat laun masyarakat Bugis mengetahui bahwa tanah di Teluk Payo cocok ditanami kelapa. Karena daerah yang ditinggali berupa hutan atau lahan kosong dan luas, kemudian mereka membuka lahan dan sungai-sungai kecil atau disebut oleh masyarakat Bugis dengan nama parit.

Mereka membuat parit secara berangsur-angsur, dimulai dari pinggiran lahan seluas 500 ha, selanjutnya ditambah lagi 500 ha dan demikian seterusnya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan yang ada. Mereka memanfaatkan lahan yang ada dengan menanam kelapa atau kopra.

“Saya ingat, bapak saya dulu menggali parit masih dengan alat seadanya. Pohon Nibung dibelah dua, terus dijadikan alat untuk menggali tanah dan dibuat parit. Saking dalamnya parit yang digali, sampai muka dan jidat bapak saya mencium permukaan air sungai,” kenang Nasir, salah satu warga perantauan Bugis yang sempat menjadi Kades Tanjung Lago, Banyuasin.

Makanya, kata Nasir, dirinya sangat surprise saat mengetahui Sarjan Tahir yang notabene warga perantauan Bugis di Sumsel, maju caleg DPR RI. Nasir sendiri juga diketahui maju caleg DPRD dari Partai Gerindra.

“Walaupun kami beda partai, tapi karena sama-sama keturunan Bugis yang merantau ke Sumsel, kami memiliki semangat yang sama. Yakni sama-sama ingin memajukan kehidupan masyarakat perantauan Bugis yang ada di Sumsel, khususnya yang tinggal di Banyuasin," kata Nasir.

Setali tiga uang, warga perantauan Bugis lainnya, Ambo Ako, 51, juga ikut bangga ada warga perantauan Bugis di Sumsel yang maju menjadi caleg DPR RI. “Malu kami kalau Pak Sarjan sampai tak menang (jadi anggota DPR RI),” kata Ambo Ako.

Ambo Ako mengaku dirinya sangat mengenal Sarjan Tahir, yang menurutnya seorang sosok rendah hati dan peduli dengan sesama. “Pak Sarjan sangat perhatian dengan petani dan nelayan di tempat kami. Beliau sering mengusahakan bantuan pupuk, benih padi, dan bantuan-bantuan lainnya,” tandasnya.

 


Scroll to top