BERITA INDEX BERITA
Asa Sarjan Tahir Merajut Suara Masyarakat Perantauan Bugis di Pelosok Perairan Banyuasin, Sumatera Selatan

Sarjan Tahir bercengrama dengan masyarakat dan pemuda desa Sungai Semut, Parit 7, Banyuasin.
DUA speedboat perlahan bertolak dari dermaga Simpang PU, Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Senin
(5/2/2024) siang itu. Bagai permadani biru keabuan yang maha luas, sungai
menjadi satu-satunya pilihan bagi speedboat dan sarana transportasi air lainnya
untuk melintas.
Meski terasa mau terbalik saat bermanuver menghindari garis
ombak yang menampar-nampar, speedboat tetap gagah membelah badan sungai yang
bermuara ke ujung perairan Sungsang dan laut selat Bangka itu.
Speedboat yang membawa rombongan tim khusus (khusus) caleg
DPR RI dari Partai Demokrat, Sarjan Tahir, itu melaju kencang menuju sejumlah
pelosok perairan Banyuasin, mulai Kecamatan Mekarti Jaya, Air Salek, Muara
Sugihan, Banyuasin III, hingga sebagian perairan Sungsang.
Rombongan tiba di titik pertama yang hendak dikunjungi,
persisnya di sebuah desa bernama Sungai Semut, salah satu dari ratusan desa
yang tersebar di wilayah perairan Banyuasin.
Di salah satu titik desa terpencil itu, persisnya di Parit
7, rombongan Sarjan Tahir disambut antusias ratusan warga yang sudah sejak pagi
menunggu di rumah warga bernama Mustafa.
Suasana haru nampak mewarnai pertemuan Sarjan Tahir dengan
ratusan warga yang ternyata diketahui berasal dari Bugis, Makassar, Sulawesi
Selatan (Sulsel). Ini karena Sarjan sendiri berasal dari Bugis, persisnya Bone,
dan merantau ke Palembang pada tahun 90’an.
“Saya serasa berada di tengah keluarga sendiri di kampung
(Bugis, Makassar, Sulsel),” kata Sarjan saat berbicara di tengah masyarakat
yang duduk bersila mengelilinginya.
Dengan penuh kesahajaan Sarjan memperkenalkan diri, mulai
asal daerah kelahirannya di Bugis Bone, pengalaman hidupnya selama di
perantauan, sampai maksud tujuannya datang ke kampung-kampung yang didiami
masyarakat suku Bugis.
Sekadar diketahui, kedatangan Sarjan Tahir ke wilayah
perairan Banyuasin sebenarnya bukan hal baru, apalagi hanya sekadar untuk
berkampanye. Jauh sebelumnya, sekitar tahun 2000’an, Sarjan Tahir sudah berkiprah
di basis-basis masyarakat tani dan nelayan di wilayah tersebut.
Selaku Ketua Harian Masyarakat Agribisnis Indonesia (MAI)
dan Direktur Utama Pandutani Indonesia (Patani), Sarjan kerap berkunjung ke
sejumlah wilayah bahkan pelosok pesisir yang mayoritas masyarakatnya bekerja
sebagai petani dan nelayan.
“Dulu juga saya sering berhubungan dan kenal dengan banyak
tokoh juga masyarakat keturunan Bugis di wilayah Banyuasin. Dan hubungan baik
itu masih terjaga sampai sekarang,” ujar Sarjan yang sempat menjadi penasehat
Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (DKSS) Provinsi Sumsel.
Sarjan Tahir mengaku sangat bahagia dan berterima kasih atas
doa dan dukungan tulus dari warga perantauan Bugis di Banyuasin atas pencalonan
dirinya menuju Gedung Bundar, Senayan.
“Ini bukan janji ya. Tapi jika nanti InsyaAllah terpilih
(jadi anggota DPR RI) saya akan datang lagi ke daerah ini sebelum dilantik pada
Oktober nanti. Dukungan bapak, ibu, dan para pemuda di daerah ini, itu bagi
saya tak ubahnya seperti investasi atau memberi utangan kepada saya. Jadi harus
saya bayar,” tegas Sarjan.
Andi Akka, 65, seorang warga Bugis perantauan yang tinggal
di Desa Muara Baru, Mekarti Jaya, mengaku sangat senang dan bangga jika ada
warga perantauan Bugis di Sumsel yang maju menjadi calon anggota DPR RI.
“Sama-sama orang Bugis pasti banggalah. Setidaknya nanti
kalau jadi anggota DPR RI ada yang peduli dengan kami di perantauan. Bisa
mengusahakan bantuan pupuk, pembangunan jalan, jembatan, dan lainnya di desa
kami,” ujar Andi Akka yang berdomisili di Desa Muara Baru, Banyuasin.
Andi Akka mengenang, masa dahulu dirinya merantau ke
Banyuasin pada tahun 1970. Waktu itu, dia berlayar selama 40 hari menggunakan
kapal kayu dari kampungnya di Bone, Sulawesi Selatan, dan sampai perairan
Banyuasin.
"Dulu daerah ini (Desa Muara Baru) masih hutan. Jadi
kami yang pertama membuka lahan dan permukiman di daerah ini. Dan tidak berlebihan
jika kami juga sangat menginginkan ada wakil kami di DPR, agar bisa memperjuangkan
aspirasi kami," ujar petani kelapa dan pinang ini.
Setali tiga uang, H Adam, warga perantauan Bugis lainnya, juga
membenarkan jika merekalah yang pertama membuka lahan dan permukiman di desa
Muara Baru. Secara swadaya dan bertahap mereka membangun daerah ini hingga
berkembang dan lepas dari keterisolasian.
Meski sudah lama menetap dan membangun kehidupan di
Banyuasin, tapi kata H Adam, ia dan warga keturunan Bugis tidak pernah
menyombongkan diri kalau merekalah yang pertama membuka daerah ini.
"Kami juga sadar kalau tempat tinggal kami berada di
perantauan. Tapi bahwa kami ada di tempat ini dan membangun daerah ini sudah
sejak lama, itu sudah sepatutnya diakui," kata Kades Muara Baru ini.
Ia melanjutkan, sama halnya seperti masyarakat lainnya di
luar suku Bugis, terutama masyarakat transmigrasi yang setiap ada bantuan dari
pemerintah selalu didahulukan, masyarakat perantauan Bugis tentu juga sangat
menantikan bantuan-bantuan itu.
"Bantuan itu bukan tak ada sama sekali, tapi minim. Dan setiap ada bantuan, masyarakat Bugis seperti sengaja dinomor duakan. Ini bukan soal iri atau apa, tapi hanya soal keadilan saja. Malah daerah ini sempat tidak ada di peta. Jadi bagaimana mau diperhatikan kalau wilayahnya saja tidak masuk di peta," pungkas H Adam.
Sementara itu, Mustafa, 60, warga perantauan Bugis yang
rumahnya dijadikan tempat pertemuan dengan Sarjan Tahir dengan masyarakat
Sungai Semut, menyampaikan bahwa masyarakat Desa Sungai Semut sangat menantikan
pembangunan insfrastruktur dan bantuan pupuk untuk petani hingga pengerukan
parit.
Ia menjelaskan, pengerukan parit yang dimaksudnya adalah
normalisasi galian yang dikenal masyarakat setempat dengan nama parit. Parit-parit
ini berupa sungai-sungai kecil untuk akses keluar masuknya masyarakat
perantauan Bugis di perairan Banyuasin, termasuk juga untuk membawa barang
terutama hasil pertanian berupa kelapa, padi, pinang dan lainnya.
Parit-parit yang fungsinya layaknya jalan bagi masyarakat
yang tinggal di daratan ini, sudah sejak lama dibuat secara swadaya oleh warga
perantauan Bugis, jauh sebelum masyarakat transmigrasi dari Jawa di era
pemerintahan Presiden Soeharto masuk ke daerah perairan Banyuasin.
“Awal dibuat parit ini dalam dan lebarnya 3 sampai 7 meter.
Karena sudah lama, sebagian parit-parit ini tertimbun lumpur dan ditumbuhi
tanaman. Kalau tanah dan lumpur dalam parit tidak dikeruk, lama-lama parit
semakin dangkal dan menyempit. Tidak bisa lagi dilewati oleh perahu, tongkang,
speedboat,” tutur Mustafa.
Sekadar diketahui, pada tahun 1963 suku Bugis bermigrasi ke
Kabupaten Banyuasin, yakni Sungai Rengit, yang saat itu masih bagian wilayah
Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Yang pertama datang hanya sekitar 10 kepala
keluarga (KK), dan sejak awal kedatangan mereka bermata pencarian nelayan.
Faktor yang mempengaruhi mereka berlayar dari Sulawesi
Selatan ke perairan Sumsel ialah salah satunya faktor ekonomi. Penduduk Suku
Bugis di Banyuasin ini awalnya ada yang langsung dari Sulawesi Selatan dan ada
pula yang datang dari Riau dan Jambi. Pada tahun 1968, masyarakat suku Bugis
menempati daerah Teluk Payo, Banyuasin II dan menyebar ke daerah lainnya dalam
wilayah Kabupaten Banyuasin.
Lambat laun masyarakat Bugis mengetahui bahwa tanah di Teluk
Payo cocok ditanami kelapa. Karena daerah yang ditinggali berupa hutan atau
lahan kosong dan luas, kemudian mereka membuka lahan dan sungai-sungai kecil
atau disebut oleh masyarakat Bugis dengan nama parit.
Mereka membuat parit secara berangsur-angsur, dimulai dari pinggiran
lahan seluas 500 ha, selanjutnya ditambah lagi 500 ha dan demikian seterusnya
sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan yang ada. Mereka memanfaatkan lahan
yang ada dengan menanam kelapa atau kopra.
“Saya ingat, bapak saya dulu menggali parit masih dengan
alat seadanya. Pohon Nibung dibelah dua, terus dijadikan alat untuk menggali
tanah dan dibuat parit. Saking dalamnya parit yang digali, sampai muka dan jidat
bapak saya mencium permukaan air sungai,” kenang Nasir, salah satu warga
perantauan Bugis yang sempat menjadi Kades Tanjung Lago, Banyuasin.
Makanya, kata Nasir, dirinya sangat surprise saat
mengetahui Sarjan Tahir yang notabene warga perantauan Bugis di Sumsel, maju
caleg DPR RI. Nasir sendiri juga diketahui maju caleg DPRD dari Partai
Gerindra.
“Walaupun kami beda partai, tapi karena sama-sama keturunan
Bugis yang merantau ke Sumsel, kami memiliki semangat yang sama. Yakni
sama-sama ingin memajukan kehidupan masyarakat perantauan Bugis yang ada di
Sumsel, khususnya yang tinggal di Banyuasin," kata Nasir.
Setali tiga uang, warga perantauan Bugis lainnya, Ambo Ako,
51, juga ikut bangga ada warga perantauan Bugis di Sumsel yang maju menjadi
caleg DPR RI. “Malu kami kalau Pak Sarjan sampai tak menang (jadi anggota DPR
RI),” kata Ambo Ako.
Ambo Ako mengaku dirinya sangat mengenal Sarjan Tahir, yang
menurutnya seorang sosok rendah hati dan peduli dengan sesama. “Pak Sarjan
sangat perhatian dengan petani dan nelayan di tempat kami. Beliau sering
mengusahakan bantuan pupuk, benih padi, dan bantuan-bantuan lainnya,” tandasnya.
















