BERITA INDEX BERITA
Sarjan Tahir Konsisten Tanamkan Nilai-Nilai Spiritual ke Generasi Muda Sumsel (Bersambung-2)

Sarjan Tahir dalam suatu
kesempatan mengimani sholat berjamaah bersama Presiden RI ke-6, Susilo Bambang
Yudhoyono, di lapangan Voli Lavani, Cikeas, Bogor, Jawa Barat.
TANGAN dingin Sarjan
Tahir sudah banyak melahirkan pemuda militan di Sumatera Selatan (Sumsel),
terkhusus Kota Palembang. Tak hanya membentuk jiwa kepemimpinan dan memiliki mental
baja, Sarjan Tahir juga piawai menanamkan nilai-nilai spiritual.
Nilai-nilai spiritual yang
diajarkan Sarjan Tahir ini pula yang pada akhirnya melekat dan tumbuh, hingga menjadikan
kaum muda Sumsel tak lupa akan Tuhan-nya dalam setiap menjalani nafas kehidupan.
Seperti yang dirasakan salah satu pemuda Sumsel, Muhammad Nuzulai, yang kini sukses
membangun kehidupan di Jepang.
Di Jepang, Muhammad Nuzulai
bahkan menjadi salah satu motor pembangunan masjid As-Sholihin, Yokohama. Masjid
ini dibangun secara swadaya oleh warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di
Jepang, dan sumbangan langsung dari masyarakat di Indonesia.
“Ini masjid pertama yang
dibangun warga negara Indonesia di Yokohama dan sudah diresmikan. Kegiatan peribadatannya
juga sudah rutin, termasuk kegiatan keagamaan lainnya dan kegiatan sosial juga
sering kita adakan,” kata Nuzulai yang kini kemana-mana kerap memakai kopiah hitam
dan mengenakan kemeja batik khas Indonesia.
Karena keaktifan Muhammad
Nuzulai dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Jepang, makanya tak heran jika kelahiran Palembang ini diundang saat peresmian masjid Istiqlal di Tokyo oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin
belum lama ini. Bahkan, Muhammad Nuzulai pula yang diminta panitia peresmian untuk menyopiri dan menemani
Wapres Ma’ruf Amin selama berada di Jepang.
“Awalnya saya sempat tidak percaya diri waktu diminta untuk menyopiri Wapres, apalagi beliau kan ulama besar. Tapi akhirnya saya beranikan diri dan bisa,”
ujar Nuzulai.
Memang, cara Sarjan Tahir menanamkan nilai-nilai spiritual terhadap generasi muda tak seperti yang dilakukan para ustad dan kiyai. Sarjan mengajarkan nilai-nilai spiritual dengan memberi contoh langsung dan dimulai dari hal-hal berupa kebaikan kecil dalam kehidupan.
Seperti tidak meninggalkan sholat, berpuasa Ramadan dan puasa sunah, menghormati orang tua, rajin bersedekah,
tolong menolong, dan lain-lain termasuk kerap mengimani sholat berjamaah di kalangan
pemuda.
Bahkan dulu, dan sampai
sekarang, Sarjan Tahir sering menggelar kegiatan keagamaan bersama organisasi kepemudaan
(OKP) dan organisasi masyarakat (ormas) yang dipimpinnya. Diantaranya, Gebyar
Ramadan yang diselenggarakan oleh organisasi IKA-LKS, dan Festival Panti Asuhan
yang rutin digelar setiap tahun oleh organisasi Pandutani Indonesia (Patani).
Sekadar diketahui, di IKA-LKS,
Sarjan menjadi pembina dan inisiator berdirinya organisasi tersebut. Sedangkan di
Pandutani Indonesia (Patani), Sarjan Tahir menjadi Direktur Utama dan dia pula
yang mendirikan organisasi nirlaba tersebut.
Konsistensi Sarjan dalam
menanamkan nilai-nilai spiritual memang tak bisa dipungkiri. Bahkan, calon
anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Dapil Sumsel 1, ini kerap diminta untuk
menjadi penceramah di sejumlah masjid dan musola di sekitar tempat tinggalnya.
Tak hanya itu, di acara
Partai Demokrat (partai tempat Sarjan bernaung), oleh rekan-rekan separtainya Sarjan
Tahir juga sering didaulat menjadi imam sholat berjamaah. “Padahal saya ini
bukan ustad apalagi kiyai. Cuma sering saja disapa Pak Haji,” kata Sarjan
tertawa.
















