BERITA INDEX BERITA

Sarjan Tahir Konsisten Tanamkan Nilai-Nilai Spiritual ke Generasi Muda Sumsel (Bersambung-2)

Humaniora | DiLihat : 767 | Rabu, 07 Februari 2024 | 10:43
Sarjan Tahir Konsisten Tanamkan Nilai-Nilai Spiritual ke Generasi Muda Sumsel (Bersambung-2)

Sarjan Tahir dalam suatu kesempatan mengimani sholat berjamaah bersama Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, di lapangan Voli Lavani, Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

 

TANGAN dingin Sarjan Tahir sudah banyak melahirkan pemuda militan di Sumatera Selatan (Sumsel), terkhusus Kota Palembang. Tak hanya membentuk jiwa kepemimpinan dan memiliki mental baja, Sarjan Tahir juga piawai menanamkan nilai-nilai spiritual.

Nilai-nilai spiritual yang diajarkan Sarjan Tahir ini pula yang pada akhirnya melekat dan tumbuh, hingga menjadikan kaum muda Sumsel tak lupa akan Tuhan-nya dalam setiap menjalani nafas kehidupan. Seperti yang dirasakan salah satu pemuda Sumsel, Muhammad Nuzulai, yang kini sukses membangun kehidupan di Jepang.

Di Jepang, Muhammad Nuzulai bahkan menjadi salah satu motor pembangunan masjid As-Sholihin, Yokohama. Masjid ini dibangun secara swadaya oleh warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang, dan sumbangan langsung dari masyarakat di Indonesia.

“Ini masjid pertama yang dibangun warga negara Indonesia di Yokohama dan sudah diresmikan. Kegiatan peribadatannya juga sudah rutin, termasuk kegiatan keagamaan lainnya dan kegiatan sosial juga sering kita adakan,” kata Nuzulai yang kini kemana-mana kerap memakai kopiah hitam dan mengenakan kemeja batik khas Indonesia.

Karena keaktifan Muhammad Nuzulai dalam kegiatan-kegiatan keagamaan di Jepang, makanya tak heran jika kelahiran Palembang ini diundang saat peresmian masjid Istiqlal di Tokyo oleh Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin belum lama ini. Bahkan, Muhammad Nuzulai pula yang diminta panitia peresmian untuk menyopiri dan menemani Wapres Ma’ruf Amin selama berada di Jepang.

“Awalnya saya sempat tidak percaya diri waktu diminta untuk menyopiri Wapres, apalagi beliau kan ulama besar. Tapi akhirnya saya beranikan diri dan bisa,” ujar Nuzulai.

Memang, cara Sarjan Tahir menanamkan nilai-nilai spiritual terhadap generasi muda tak seperti yang dilakukan para ustad dan kiyai. Sarjan mengajarkan nilai-nilai spiritual dengan memberi contoh langsung dan dimulai dari hal-hal berupa kebaikan kecil dalam kehidupan.

Seperti tidak meninggalkan sholat, berpuasa Ramadan dan puasa sunah, menghormati orang tua, rajin bersedekah, tolong menolong, dan lain-lain termasuk kerap mengimani sholat berjamaah di kalangan pemuda.  

Bahkan dulu, dan sampai sekarang, Sarjan Tahir sering menggelar kegiatan keagamaan bersama organisasi kepemudaan (OKP) dan organisasi masyarakat (ormas) yang dipimpinnya. Diantaranya, Gebyar Ramadan yang diselenggarakan oleh organisasi IKA-LKS, dan Festival Panti Asuhan yang rutin digelar setiap tahun oleh organisasi Pandutani Indonesia (Patani).

Sekadar diketahui, di IKA-LKS, Sarjan menjadi pembina dan inisiator berdirinya organisasi tersebut. Sedangkan di Pandutani Indonesia (Patani), Sarjan Tahir menjadi Direktur Utama dan dia pula yang mendirikan organisasi nirlaba tersebut.

Konsistensi Sarjan dalam menanamkan nilai-nilai spiritual memang tak bisa dipungkiri. Bahkan, calon anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Dapil Sumsel 1, ini kerap diminta untuk menjadi penceramah di sejumlah masjid dan musola di sekitar tempat tinggalnya.

Tak hanya itu, di acara Partai Demokrat (partai tempat Sarjan bernaung), oleh rekan-rekan separtainya Sarjan Tahir juga sering didaulat menjadi imam sholat berjamaah. “Padahal saya ini bukan ustad apalagi kiyai. Cuma sering saja disapa Pak Haji,” kata Sarjan tertawa.

 

 

 


Scroll to top