BERITA INDEX BERITA

Banyak Pelajar dan Pemuda Sumsel Gemblengan Sarjan Tahir Sukses di Luar Negeri (bersambung-1)

Nadi Negeri | DiLihat : 615 | Selasa, 06 Februari 2024 | 08:05
Banyak Pelajar dan Pemuda Sumsel Gemblengan Sarjan Tahir Sukses di Luar Negeri (bersambung-1)

Sarjan Tahir dalam suatu kesempatan kegiatan IKA-LKS tingkat Nasional, di Asrama Haji Palembang.


PALEMBANG - Tak banyak orang yang punya jiwa dan bakat kepemimpinan, apalagi mampu membentuk orang lain menjadi pemimpin dan sukses pula. Jiwa dan bakat itulah yang dimiliki Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Demokrat, Sarjan Tahir.

Tangan dingin Sarjan Tahir dalam membentuk dan melahirkan kepemimpinan seseorang memang bukan kaleng-kaleng. Bahkan, tak sedikit pelajar dan pemuda di Sumatera Selatan (Sumsel) yang sukses digembleng oleh caleg Dapil Sumsel 1 ini, bahkan hingga di luar negeri.

Sederet tokoh pemuda Sumsel yang kini kiprahnya cukup diakui, salah satunya Ardian Utama Iskandar. Pria yang dulunya pernah menjabat Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Provinsi Sumatera Selatan ini, kini terbilang sukses dalam karir dan menetap di Jepang.

"Cukup lama saya ikut kak Sarjan. Beliau salah satu tokoh pemuda Sumsel waktu itu, yang mendidik dan menempa diri saya hingga saya bisa seperti ini," kata Ardian.

Ardian mengenang masa-masa saat dirinya ditempa Sarjan. Waktu itu, era tahun 90’an, dia dan beberapa pelajar di Kota Palembang, membuat sebuah kegiatan pelatihan untuk para pengurus Organisasi Intra Sekolah (OSIS) dalam wilayah Sumsel termasuk Bangka Belitung (Bangka Belitung masih gabung Provinsi Sumsel).

“Kegiatan yang diberi nama Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS) ini, ya sepenuhnya di bawah arahan Kak Sarjan. Tapi panitianya dan pesertanya pejalar semua. Jadi kegiatan ini dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa,”tutur Ardian.

Seiring putaran waktu, lanjut Ardian, kegiatan LKS ini pula yang menjadi embrio berdirinya organisasi Ikatan Alumni Latihan Kepemimpinan Siswa (IKA-LKS).

“Jadi kami, para pelajar waktu itu benar-benar ditempa untuk menjadi seorang pemimpin, dikader. Bukan hanya ikut pelatihan, dan setelah pelatihan selesai. Jadi ada keberlanjutannya, yakni membentuk ikatan alumni (IKA LKS), wadah untuk berhimpun pelajar yang selesai ikut pelatihan LKS tadi,” kata Ardian.

Pendidikan LKS, lanjut Ardian, sampai sekarang terus berjalan mulai tingkat nasional, provinsi, kabupaten, kota, sampai tingkat unit atau sekolah-sekolah. “Kader LKS sudah puluhan ribu orang, menyebar kemana-mana. Ada yang berkiprah di lembaga pemerintahan, swasta, profesional, dan banyak lagi,” ujar pemegang sabuk hitam taekwondo (DAN V Kokiwon).

Terkait soal majunya kembali Sarjan Tahir di konstetasi pemilihan calon anggota DPR RI 2024 ini, Ardian mengaku sangat mengapresiasi. 

Sebagai orang yang pernah dididik Sarjan, saya tentu sangat men-support. Dan harapan saya semoga kak Sarjan Tahir bisa terpilih, mengemban dan menjalankan amanah masyarakat. Terutama dalam memajukan kehidupan di bidang sosial , infrastuktur dan agriculture baik kota dan pedesaan. Karena ini memang fokus beliau, dan itu sudah berjalan sejak lama,” kata Ardian.

Setali tiga uang, kader Sarjan lainnya, Muhammad Nuzulai - yang juga sukses berkiprah di Jepang, juga tak segan mengakui keandalan Sarjan dalam mencetak para pemimpin muda Indonesia, terkhusus Sumsel.

“Saya bisa ke Jepang juga karena Sarjan. Beliau waktu itu kan ketua Forum Komunikasi Karang Taruna (FKKT) Sumsel.  Kebetulan waktu ada program pemagangan ke Jepang. Jadilah saya berangkat ke Jepang dan bekerja di sana, sampai sekarang tinggal dan membangun kehidupan di Jepang,” kata pria yang akrab disapa Zulai ini.

Sekadar diketahui, Muhammad Nuzulai memulai proses pemagangan kerjanya di Jepang pada tahun 1997. Karena kiprah dan totalitasnya dalam bekerja dan membangun kehidupan di Jepang, tak heran jika ia kerap diundang di sejumlah acara seminar dan workshop terkait motivasi kehidupan.

Sempat Muhammad Nuzulai diundang salah satu stasiun televisi swasta di Jepang, untuk menceritakan pengalamannya sebagai perantauan yang sukses dalam membangun karir dan rumah tangga di negeri Sakura.

“Ya untuk memotivasi orang-orang muda di Jepang yang menurut data Pemerintah Jepang banyak yang khawatir bahkan takut untuk berumah tangga. Karena dalam pikiran orang-orang muda di Jepang, berumah tangga itu rumit. Harus ada penghasilan, bakal punya anak, harus mengurus anak, harus punya rumah, dan banyak lagi kekhawatiran lainnya. Walau sebenarnya hal-hal itu tidak mesti menjadi kekhawatiran apalagi sampai tak mau untuk berumah tangga,” tutur Nuzulai. (bersambung)

 

 


Scroll to top