BERITA INDEX BERITA
Banyak Pelajar dan Pemuda Sumsel Gemblengan Sarjan Tahir Sukses di Luar Negeri (bersambung-1)

Sarjan Tahir dalam suatu kesempatan kegiatan IKA-LKS tingkat Nasional, di Asrama Haji Palembang.
PALEMBANG - Tak
banyak orang yang punya jiwa dan bakat kepemimpinan, apalagi mampu membentuk
orang lain menjadi pemimpin dan sukses pula. Jiwa dan bakat itulah yang
dimiliki Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Demokrat, Sarjan
Tahir.
Tangan dingin
Sarjan Tahir dalam membentuk dan melahirkan kepemimpinan seseorang memang bukan
kaleng-kaleng. Bahkan, tak sedikit pelajar dan pemuda di Sumatera Selatan
(Sumsel) yang sukses digembleng oleh caleg Dapil Sumsel 1 ini, bahkan hingga di
luar negeri.
Sederet tokoh
pemuda Sumsel yang kini kiprahnya cukup diakui, salah satunya Ardian Utama
Iskandar. Pria yang dulunya pernah menjabat Ketua Purna Paskibraka Indonesia
(PPI) Provinsi Sumatera Selatan ini, kini terbilang sukses dalam karir dan
menetap di Jepang.
"Cukup lama
saya ikut kak Sarjan. Beliau salah satu tokoh pemuda Sumsel waktu itu, yang
mendidik dan menempa diri saya hingga saya bisa seperti ini," kata Ardian.
Ardian mengenang
masa-masa saat dirinya ditempa Sarjan. Waktu itu, era tahun 90’an, dia dan
beberapa pelajar di Kota Palembang, membuat sebuah kegiatan pelatihan untuk
para pengurus Organisasi Intra Sekolah (OSIS) dalam wilayah Sumsel termasuk
Bangka Belitung (Bangka Belitung masih gabung Provinsi Sumsel).
“Kegiatan yang
diberi nama Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS) ini, ya sepenuhnya di bawah arahan
Kak Sarjan. Tapi panitianya dan pesertanya pejalar semua. Jadi kegiatan ini
dari siswa, oleh siswa dan untuk siswa,”tutur Ardian.
Seiring putaran
waktu, lanjut Ardian, kegiatan LKS ini pula yang menjadi embrio berdirinya
organisasi Ikatan Alumni Latihan Kepemimpinan Siswa (IKA-LKS).
“Jadi kami, para
pelajar waktu itu benar-benar ditempa untuk menjadi seorang pemimpin, dikader.
Bukan hanya ikut pelatihan, dan setelah pelatihan selesai. Jadi ada
keberlanjutannya, yakni membentuk ikatan alumni (IKA LKS), wadah untuk
berhimpun pelajar yang selesai ikut pelatihan LKS tadi,” kata Ardian.
Pendidikan LKS,
lanjut Ardian, sampai sekarang terus berjalan mulai tingkat nasional, provinsi,
kabupaten, kota, sampai tingkat unit atau sekolah-sekolah. “Kader LKS sudah
puluhan ribu orang, menyebar kemana-mana. Ada yang berkiprah di lembaga
pemerintahan, swasta, profesional, dan banyak lagi,” ujar pemegang sabuk hitam
taekwondo (DAN V Kokiwon).
Terkait soal
majunya kembali Sarjan Tahir di konstetasi pemilihan calon anggota DPR RI 2024
ini, Ardian mengaku sangat mengapresiasi.
Sebagai orang
yang pernah dididik Sarjan, saya tentu sangat men-support. Dan harapan saya
semoga kak Sarjan Tahir bisa terpilih, mengemban dan menjalankan amanah
masyarakat. Terutama dalam memajukan kehidupan di bidang sosial , infrastuktur
dan agriculture baik kota dan pedesaan. Karena ini memang fokus beliau, dan itu
sudah berjalan sejak lama,” kata Ardian.
Setali tiga
uang, kader Sarjan lainnya, Muhammad Nuzulai - yang juga sukses berkiprah di
Jepang, juga tak segan mengakui keandalan Sarjan dalam mencetak para pemimpin
muda Indonesia, terkhusus Sumsel.
“Saya bisa ke
Jepang juga karena Sarjan. Beliau waktu itu kan ketua Forum Komunikasi Karang
Taruna (FKKT) Sumsel. Kebetulan waktu
ada program pemagangan ke Jepang. Jadilah saya berangkat ke Jepang dan bekerja
di sana, sampai sekarang tinggal dan membangun kehidupan di Jepang,” kata pria
yang akrab disapa Zulai ini.
Sekadar
diketahui, Muhammad Nuzulai memulai proses pemagangan kerjanya di Jepang pada
tahun 1997. Karena kiprah dan totalitasnya dalam bekerja dan membangun
kehidupan di Jepang, tak heran jika ia kerap diundang di sejumlah acara seminar dan workshop
terkait motivasi kehidupan.
Sempat Muhammad
Nuzulai diundang salah satu stasiun televisi swasta di Jepang, untuk
menceritakan pengalamannya sebagai perantauan yang sukses dalam membangun karir
dan rumah tangga di negeri Sakura.
“Ya untuk
memotivasi orang-orang muda di Jepang yang menurut data Pemerintah Jepang banyak yang khawatir
bahkan takut untuk berumah tangga. Karena dalam pikiran orang-orang muda di
Jepang, berumah tangga itu rumit. Harus ada penghasilan, bakal punya anak,
harus mengurus anak, harus punya rumah, dan banyak lagi kekhawatiran lainnya.
Walau sebenarnya hal-hal itu tidak mesti menjadi kekhawatiran apalagi sampai
tak mau untuk berumah tangga,” tutur Nuzulai. (bersambung)
















