BERITA INDEX BERITA

Warga Perantauan Bugis di Banyuasin: Malu Kami Kalau Pak Sarjan Sampai Tak Menang

Nadi Negeri | DiLihat : 715 | Senin, 05 Februari 2024 | 23:51
Warga Perantauan Bugis di Banyuasin: Malu Kami Kalau Pak Sarjan Sampai Tak Menang

Suasana silaturahmi Sarjan Tahir dengan warga perantauan Bugis di Banyuasin, bertempat di Desa Muara Baru.


MEKARTI JAYA – Dukungan atas pencalonan anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Sarjan Tahir terus mengalir deras. Kali ini datang dari warga perantauan Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan yang sudah lama tinggal di Banyuasin.

Dukungan ini cukup beralasan, karena memang Sarjan berasal dari Bugis. Sarjan sendiri merantau ke Palembang pada tahun 90’an, dan karir kepemudaannya bersinar di Kota Pempek.

“Malu kami kalau Pak Sarjan sampai tak menang (jadi anggota DPR RI,” kata Ambo Ako, 51, salah satu warga perantauan Bugis, saat menjemput Sarjan Tahir yang hendak mengunjungi desa-desa yang dihuni warga perantauan Bugis di Banyuasin, pada Senin (5/2/2024).

Ambo Ako mengaku dirinya sangat mengenal Sarjan Tahir, yang menurutnya seorang sosok rendah hati. “Pak Sarjan sangat perhatian dengan petani dan nelayan di tempat kami. Beliau sering mengusahakan bantuan pupuk, benih padi, dan bantuan-bantuan lainnya,” tukasnya.

Setali tiga uang, warga perantauan Bugis lainnya, Andi Akka, 65, juga sangat senang dan bangga jika nantinya ada warga Bugis di Sumatera Selatan (Sumsel) yang menjadi anggota DPR RI.

“Sama-sama orang Bugis pasti senanglah. Setidaknya nanti kalau jadi anggota DPR RI bisa mengusahakan bantuan pupuk, pembangunan jalan, jembatan, dan lainnya,” ujar Andi Akka yang kini berdomisili di Desa Muara Baru, Banyuasin.

Sementara itu, Mustafa, 60, juga warga perantauan Bugis mengatakan, di desanya yakni Desa Sungai Semut, Parit 7, Kecamatan Mekarti Jaya, Banyuasin, sangat menantikan pengerukan parit.

Ia menjelaskan, pengerukan parit yang dimaksudnya adalah galian berupa sungai-sungai kecil untuk akses keluar masuknya warga perantauan Bugis di perairan Banyuasin.

Parit-parit yang ada ini dibuat secara swadaya oleh warga perantauan Bugis. Pembuatan parit-parit ini sudah sangat lama, jauh sebelum warga transmigrasi dari Jawa masuk ke daerah perairan Banyuasin.

“Jadi kalau tanah dan lumpur dalam parit tidak dikeruk, lama-lama parit jadi dangkal dan menyempit. Tidak bisa lagi dilewati oleh perahu, tongkang, speedboat,” kata Andi.

Sementara Sarjan Tahir mengaku terharu dan bahagia atas dukungan tulus dari warga perantauan Bugis di Banyuasin. “Saya tidak mau berjanji ya. Tapi kalau nanti lolos (jadi anggota DPR RI), insyaAllah saya akan datang lagi ke daerah ini,” kata Sarjan.

“Dukungan bapak, ibu, adik-adik sekalian, itu bagi saya tak ubahnya seperti investasi atau memberi utangan kepada saya. Jadi harus saya bayar,” pungkas Sarjan.

  

 


Scroll to top