BERITA INDEX BERITA
Ladislao Jose Biro, Sang Penemu Pulpen Modern

PRIA ini berjasa dalam hal tulis menulis di dunia modern.
Berkat jasanya dunia tulis menulis yang sebelumnya menggunakan pensil dan
pulpen dari bulu ayam digantikan dengan pulpen modern.
Pertama kali Ladislao Jose Biro memperkenalkan pulpen modern
saat pameran internasional di Budapest, ibu kota Hungaria pada tahun 1931.
Kemudian pulpen modern karya Ladislao Jose Biro dipatenkan di Paris tahun 1938.
Pemilik nama lengkap Laszlo Jozsef Biro atau Ladislao Jose
Biro atau biasa disebut juga Laszlo Biro ini lahir pada 29 September di
Hungaria. Awal mula penemuan pulpen modern ini tak lepas dari profesi Ladislao
Jose Biro yang merupakan seorang wartawan. Saat itu, pulpen yang dipakai oleh
para wartawan tidak efektif dan kurang cepat untuk menulis.
Pertama kali, Biro menguji pulpen dengan tinta yang
sama dengan fontain pen (pulpen dengan tinta encer) namun gagal. Ternyata tinta
tersebut tidak mau mengalir ke ujung pena karena masih terlalu pekat untuk pipa
kapiler pena. Meski demikian, Biro tak putus asa.
Produksi pulpen pertamanya ditampilkan pada suatu pameran
internasional di Budapest, Hongaria pada tahun 1931.Ciptaan ini dipatenkan di
Paris pada tahun 1938. Biro memperhatikan bahwa tinta yang digunakan dalam
percetakan surat kabar mengering dengan cepat dan tidak meninggalkan noda pada
kertasnya.
Kesulitan-kesulitan lain saat menggunakan pena untuk
mengoreksi naskah-naskah yang ditulis pada kertas tipis seperti tinta yang
melebar, tumpah atau kertas yang sobek karena sabetan pena yang cukup tajam.
Bersama saudara lelakinya George, seorang kimiawan, dia
mengembangkan ujung pen yang baru yang tersiri dari sebuah bola yang dapat
berputar dengan bebas pada sebuah lubang. Saat berputar, bola tersebut akan
mengambil tinta dari sebuah cartridge, tinta membasahi bola kecil yang mengalir
secara kapiler dan dengan bantuan gravitasi. Kemudian menggelinding agar
melekatkannya pada kertas.
Karena bola kecil itulah maka pena baru itu dinamakan Ball
Point Pen atau yang lazim dikenal dengan nama bolpen atau pulpen. Rancangan ini
kemudian dipatenkan di Argentina pada 10 Juni 1943 dan dijual dengan merek
Birome, yang masih bertahan hingga saat ini. Awalnya, alat tulis yang
menggunakan tinta adalah pena dan tinta yang digunakan terpisah.
Pena yang digunakan pada awalnya dibuat dari bulu angsa
seperti yang lazim digunakan di Eropa pada abad pertengahan, batang alang-alang
air digunakan di Timur Tengah atau bahkan kuas yang digunakan di Tiongkok dan
Jepang. Kelemahannya adalah penggunaannya sering merepotkan para pemakainya
karena tintanya berceceran atau bahkan tumpah di atas kertas.
Pulpen mempunyai ruang internal yang diisikan tinta melekat.
Tinta tersebut disalurkan melalui ujungnya saat digunakan dengan
penggelindingan sebuah bola kecil (berdiameter sekitar 0,7 mm hingga 1 mm) dari
bahan logam. Tintanya segera kering setelah menyentuh kertas. Berbeda dengan
pulpen yang menggunakan tinta encer, bolpen menggunakan tinta kental dan
lengket.
Hal inilah yang menyebabkan tak mudah bocor ke ujung
sehingga bola menjadi belepotan. Tahun 1960-an mulai dikenal pena berujung
lembut yang kita sebut spidol. Ini terobosan baru, karena mata penanya terbuat
dari plastik berpori, kantung tintanya pun mengandung sintetis yang berserat.
Sedangkan cara kerjanya seperti spons menyimpan air.
Menilik kelebihan setiap jenis pena maka timbul gagasan
untuk memadukannya. Hasilnya pena rolling ball dengan bola di ujung mata pena
seperti bolpen, namun menggunakan tinta cair yang tersimpan aman di kantung
seperti pada pulpen atau spidol. Saat dipakai, ujung pena akan meluncur nyaman
pada permukaan kertas layaknya menggunakan pulpen atau spidol.
Penemuan pulpen tersebut merupakan penemuan yang sangat
penting untuk peradaban manusia di zaman modern, meski saat ini peran pulpen
sudah digantikan dengan sistem komputer. Namun jasa Ladislao Jose Biro sangat
besar dalam dunia tulis menulis.
Di Inggris, produksi massal pulpen seperti ini dipakai
untuk awak Angkatan Udara Britania Raya. Desain pulpen ini dianggap lebih
baik untuk dipakai selama terbang di udara dibandingkan pulpen encer
konvensional.
Pada tahun 1945, Marcel Bich membeli hak paten
pulpen dari Biro dan menjadikannya salah satu benda yang diproduksi
perusahaan Societte Bich miliknya. Laszlo Biro meninggal 24 November 1985
pada umur 86 tahun di Buenos Aires, Argentina. Negara itu lalu menjadikan hari
lahirnya sebagai Hari Penemu.
Pulpen dari Masa Ke Masa
Tak mudah untuk menentukan sejak kapan manusia mengenal
pulpen. Ada dugaan yang menyebut bahwa manusia pertama kali menggunakan tatah
(besi yang ditajamkan) yang sering dipakai untuk menulis dan menggambar di atas
batu atau lempengan logam dan merupakan generasi pertama dari pena.
Konon, baru pada tahun 1.000 SM terjadi revolusi alat tulis
saat Cina memakai kuas rambut sebagai alat tulis. Kuas itu menggunakan tinta
kering dari jelaga atau arang yang penggunaannya seperti cat air.
Sekitar 400 SM, lahir pena yang terbuat dari batang
alang-alang untuk menulis di atas kertas papirus. Pena jenis semacam ini dapat
ditemukan di Mesir dan Armenia, sedang Kairo dan Alexanderia terkenal sebagai
pasar utama barang-barang tersebut.
Sekarang pun masih banyak orang di sepanjang pantai Teluk
Persia yang mengumpulkan batang alang-alang untuk keperluan itu, sedangkan
pemasarannya menyebar ke sebagian negara Timur. Kabarnya, pena itu paling cocok
dengan tinta dan kertas yang digunakan di sana.
Alang-alang yang dipilih biasanya yang berbatang sangat
kecil namun kuat. Setelah dipotong, alang-alang tersebut disimpan secara
khusus, misalnya disimpan di bawah timbunan pupuk kandang selama beberapa
bulan.
Hasilnya, selain berubah warna hitam bercampur kuning,
batang akan semakin keras dengan permukaan yang lebih halus. Seiring dengan
berkembangnya mutu kertas, maka menuntut pena yang lebih halus. Bulu angsa pun
jadi pilihan. Jika merujuk kiasan yang ditulis St Isodore dari Sevile, pena
bulu baru muncul pada abad VII. Meski banyak yang menduga pena bulu telah ada
lebih awal.
Setelah disortir sesuai panjang dan tebalnya, bulu sayap
dipendam dalam pasir panas agar kulit luarnya kering. Proses ini membuat bulu
mudah dibersihkan serta bagian dalamnya mengerut dan terkelupas. Lalu bulu
lembutnya diperkeras dengan mencelupkannya ke dalam larutan mendidih yang
mengandung tawas atau asam nitrat. Di tahap akhir, ujung pena dibelah dan
dibentuk agar enak dipakai.
Pena bulu angsa mempunyai peran yang penting saat itu. Pena
Baja ditemukan pada 1820, dan berangsur-angsur mengambil alih tugas bulu angsa.
Bentuknya pun beragam dari yang bundar, runcing, dan pahat.
Pada tahun 1828, orang mulai mengenal pena baja yang
diperkenalkan John Mitchell dari Birmingham Inggris. Seharga kira-kira 7,5
liter beras sekarang ini. Sayang, saat itu orang merasa tidak nyaman memakainya
jika setiap kali pena baja itu harus dicelupkan ke dalam tinta.
Tahun 1884, muncullah pulpen berkantung tinta dengan prinsip
kerja pipa kapiler yang salah satunya dibuat oleh orang Amerika, Lewis Edson
Waterman. Pena ciptaan Waterman ini memang telah membuat revolusi tersendiri
dalam bidang penulisan.
Orang tak perlu lagi berulang kali mencelupkan pena ke dalam
tempat tinta setelah selesai menulis beberapa kata. Waterman telah menggunakan
plat berbalut iridium emas pada mata pen tersebut. Ia juga merupakan orang yang
pertama meletakkan klip pada penutup pen.
Model pena berikutnya adalah pulpen yang mengandalkan bola
logam di ujung pena yang akan terus terendam cairan tinta dari kantung tinta.
Maka pulpen dilengkapi tutup atau tombol mekanis yang mencegah tinta mengering
di ujung.
Berbagai model dan bentuk, banyak dibuat kala itu. Namun,
model yang paling memuaskan adalah karya Lazlo Biro. Pulpen pernah sangat
populer di Inggris terutama selama PD II (1939-1940) yang kala itu banyak
disukai para pilot tempur karena tidak bocor saat dibawa terbang
















