BERITA INDEX BERITA

Caleg Demokrat Sarjan Tahir: Banyak Cara Arif Berkampanye Tanpa Harus Memaku Pohon

Humaniora | DiLihat : 567 | Jumat, 19 Januari 2024 | 09:17
Caleg Demokrat Sarjan Tahir: Banyak Cara Arif Berkampanye Tanpa Harus Memaku Pohon

PALEMBANG - Calon anggota legislatif (caleg) dapil Sumsel 1 dari Partai Demokrat Sarjan Tahir mengaku prihatin dengan maraknya alat peraga kampanye (APK) dipaku di pohon sehingga merusak bahkan membuat pohon mati.

Sarjan mengatakan banyak cara arif yang bisa dilakukan para caleg dalam berkampanye, tanpa harus memaku APK terutama spanduk di pohon-pohon pinggir jalan atau taman kota.

"Spanduk kan bisa dipasang pakai bambu atau kayu. Bisa juga diikat di pohon atau tiang-tiang pinggir jalan. Tapi, ya masang spanduknya juga harus rapi," ujar Sarjan.

Caleg nomor urut 8 yang dikenal dengan tagline SIBUNTUT ini juga mengatakan, sebagai calon wakil rakyat, dirinya dan para caleg yang lain sudah seharusnya menjaga kelestarian lingkungan dalam berkampanye.

"Saya mengajak seluruh caleg yang berlaga di Pemilu 2024 ini, termasuk diri saya pribadi, mari kita beri contoh yang baik ke masyarakat. Sama2 kita jaga lingkungah, kita pelihara pohon, jangan dipaku dan dirusak," seru Sarjan.

Sementara itu, pemerhati lingkungan hidup yang juga mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia [Walhi] Aceh, TM Zulfikar mengatakan, masih banyaknya APK yang dipasang dengan memaku pohon menjadi bukti banyak caleg tidak paham etika lingkungan.

“Partai politik seharusnya mengajarkan para calegnya. Memaku poster atau baliho di pohon itu tidak boleh,” katanya pada acara yang digelar Forum Jurnalis Lingkungan [FJL] Aceh, Rabu [10/1/2024]

Pohon-pohon yang ditanam di kota, sama pentingnya dengan yang di hutan, sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen. Tentunya sangat penting untuk pengguna jalan.

“Memaku dapat menyebabkan pohon mati. Untuk menumbuhkannya butuh biaya dan harus menunggu bertahun hingga rindang. Hal ini terjadi setiap kali pemilu, karena tidak ada sanksi tegas maka kesalahan yang sama diulang."

Zulfikar mengajak masyarakat agar tidak memilih caleg-caleg dan pemimpin yang memasang APK di pohon, karena dipastikan mereka tidak paham pentingnya menjaga lingkungan.

“Pilih saja yang paham lingkungan. Kita tidak mau orang yang nantinya menjadi anggota dewan tetapi perilakunya tidak terhormat,” ungkapnya.

Ketua Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi [FST] UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Muslich Hidayat mengatakan, peserta pemilu yang memaku alat peraga di pohon memiliki etika dan estetika lingkungan sangat dangkal. “Paku yang ditancap akan mengganggu dan merusak batang," kata dia.

Jaringan batang secara umum terdiri epidermis, korteks, endodermis, perisikel, floem, kambium, xylem, dan empulur. Jika paku yang ditancapkan cukup panjang, akan merusak floem dan xylem.

“Floem dan xylem merupakan jaringan pengangkut air, unsur hara dan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan atau pohon. Jika terganggu, pertumbuhan tersendat, bahkan jika terputus menyebabkan kematian.”

"Pohon sangat penting menyerap karbon. Jika mati, dapat memicu pemanasan global. Jika pohon itu mati, maka para peserta pemilu ikut berkontribusi bertambah panasnya suhu di Bumi,” paparnya.
Scroll to top