BERITA INDEX BERITA
Isabella Springmuhl Tejada, Desainer Penyandang Down Syndrome yang Masuk 100 Inspirational Woman

DI usianya yang masih belia, nama Isabella telah masuk dalam
daftar 100 100 Inspirational Woman 2016 versi BBC. Meski pernah
ditolak oleh beberapa sekolah mode karena dianggap tak memiliki bekal
intelegensi yang cukup, kini namanya malah mendunia. Isabella menjadi desainer
penyandang down syndrome pertama yang tampil di karpet merah London
Fashion Week 2016.
Isabella Springmuhl Tejada lahir pada 27 Februari 1997 di
Guatemala. Dia merupakan bungsu dari empat bersaudara yang lahir dalam kondisi
tidak normal. Isabella menjadi penyandang down syndrome. Meskipun begitu orang
tuanya tak pernah membeda-bedakan kasih sayang. Isabella pun mendapat perlakuan
yang sama seperti saudaranya yang lain. Demikian pula dalam hal pendidikan.
Isabella pun dimasukkan ke sekolah regular sama seperti kakak-kakaknya.
Sejak kecil Isabella selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan
keluarga. Kakak-kakaknya pun tak menganggap ia remeh. Keluarganya malah
menjadikan dia sebagai sumber inspirasi. Kakaknya yang memiliki grup band Hot
Sugar Mama misalnya, malah menjadikan coretan kata-kata iseng Isabella menjadi
sebuah lagu. Tulisan itu dibuat Isabella ketika tengah menunggu jadwal terapi.
Namun di tangan kakaknya, tulisan itu menjadi lagu indah berjudul Jerigonza
(Jargon).
Perhatian dan kasih sayang keluarga membuat Isabella tumbuh
menjadi gadis yang percaya diri. Ia tak pernah merasa minder dengan kondisi
dirinya. Aktivitas kakak-kakaknya di dunia musik menumbuhkan hasrat Isabella
terhadap dunia seni. Sebelumnya ia juga terinspirasi dunia memasak dari sang
ibu.
Namun ia benar-benar terpikat oleh motif dan manik-manik
warna-warni yang ada di meja kerja sang nenek. Kebetulan neneknya punya hobi
mendesain dan menjahit baju sendiri. Sejak itu minat Isabella pada dunia fesyen
tumbuh subur. Ia seperti menemukan panggilan hati sebagai desainer busana.
Rupanya minat dan bakat Isabella dalam hal rancang busana
itu telah menjadi perhatian ibunya. Sejak kecil senang membolak-balik majalah
fesyen. Isabella lalu mengambil kertas dan pensil. Ia betah berjam-jam berusaha
meniru gambar baju di majalah. Ia tak puas hanya menggambar. Isabella tak
jarang juga meminta kain pada ibunya. Berbekal gunting dan jarum pentuk ia
membuat sendiri baju untuk koleksi bonekanya.
Kecintaan pada dunai fesyen membuat Isabella bertekad
mengambil spesialisasi pendidikan fesyen. Apalagi sehari-hari Isabella terkenal
aktif dan pandai bergaul. Ia bahkan terpilih diantara para sisiwa untuk
menyampaikan pidato kelulusan di sekolahnya. Maka ia pun bersemangat mendaftar
di dua universitas lokal. Dua-duanya ditolak.
Rupanya ia belum mendapat tempat di dunia pendidikan tinggi.
Sebagai penyandang down syrndrome Isabella dianggap tak mampu mengikuti
kegiatan perkuliahan. Anggapan itu seketika membuat mentalnya jatuh. Namun,
Isabella tidak larut dalam kesedihan. Berbekal semangat dan dorongan diri yang
kuat, ia mendaftarkan diri di kelas menjahit umum.
Di tempat kursus itu ia menggembleng diri, belajar dari
dasar cara menjahit dan memotong pola. Tidak hanya itu, di rumah, ia
mempertajam kemampuannya dengan menyaksikan video
tutorial online menjahit. Kesungguhannya ini membuat sang nenek tergerak
untuk menghadiahinya mesin jahit pertamanya. Mesin jahit itu membuatnya semakin
bersemangat dan tak berhenti berkreasi.
Dalam perjalanannya menekuni dunia fesyen, cibiran dari
orang-orang yang masih menyepelekan penyandang down syndrome masih sering dia
terima. Banyak orang yang masih memandang impian dan kerja kerasnya sebelah
mata. Hal itu malah menjadi energi yang membakar semangatnya untuk terus
berkarya.
Isabella memberdayakan tenun khas tradisional Guatemala
buatan wanita keturunan suku Indian Maya. Ia tampil dalam gebrakan desain
dengan corak dan warna-warna ceria. Ada jaket, ponco, blus, rompi, serta tas
tangan wanita yang ia hasilkan.
Sebagai desainer, Isabella sangat keras kepala. Bila ibunya
atau orang lain memberikan saran untuk desainnya dan dia tak sepakat, ia akan
menggelengkan kepala dan berkata tegas jika ia tak mau desain seperti itu. Prinsip
Isabella dalam menghasilkan karya berbuah manis.
Ia mulai dikenal banyak orang ketika mendapat kesempatan
tampil di Museo Ixchel (Museum Tekstil) Guate Extraordinaria. Di kesempatan
itu, semua produk Down to Xjabelle laris manis diborong pengunjung. Namanya makin
meroket ketika diundang oleh Cecilia Santamarina de Orive, kurator
International Fashion Showcase London Fashion Week untuk berpartisipasi di
ajang itu pada 19 - 23 Februari 2016.
Peristiwa ini juga penting bagi negaranya, karena inilah
pertama kalinya Guatemala diundang untuk ikut serta dalam International Fashion
Showcase London Fashion Week. Bersama 4 desainer Guatemala lain, Isabella
memamerkan produknya dengan bangga. Uniknya, Isabella tak memakai maneken,
tetapi boneka seukuran bocah berusia lima tahun.
Keikutsertaan Isabella dalam ajang tersebut tak hanya
membuat Isabella terkenal tapi juga membuat nama labelnya Down to Xjabelle
dikenal dunia internasional. Berbagai media dari Inggris, Prancis, Australia,
Argentina, Venezuela, Guatemala, sampai Amerika memburunya sebagai sumber
berita.
Media tak selalu mengeksposnya sebagai penyandang down
syndrome, tapi justru lebih banyak mengulas karya-karyanya yang memikat.
Terutama permainan bordir yang rumit sekaligus indah, serta warna-warna cerah
yang memancarkan keberanian.
Semua ini membuat pintu kesempatannya makin terbuka. Ia
sering diundang untuk menggelar karyanya di berbagai ajang fashion show.
Oktober 2016, ia terbang ke Meksiko untuk menggelar koleksinya di pameran
tekstil internasional Exintex. Tahun 2017 ini, jadwalnya sudah padat oleh
undangan serupa, beberapa di antaranya tampil di ajang fashion
show di Miami, Chicago dan Paris.
Meski sudah terkenal Isabela tak ingin berhenti. Ia ingin
terus mendesain dan mengeksplor karyanya ke seluruh dunia. Ia ingin orang
melihat kemampuan penyandang down syndrome. Isabella ingin menginspirasi semua
orang yang sedang berjuang. Agar mereka tak menyerah dalam mewujudkan impian.
Dedikasikan Karya Bagi Penyandang Down Syndrome
Melihat kembali ke belakang, Isabella dan ibunya justru
bersyukur pernah mengalami penolakan dari dua lembaga pendidikan fesyen di
Gautemala. Sebab hal itu justru membuka pintu kesemaptan lain. Isabella bisa
belajar tanpa tekanan dan sesuai iramanya sendiri.
Hobi membuat baju boneka saat kecil dikembangkan lebih
serius di tempat kursus menjahit yang ia ikuti. Isabella mendesain mulai dari
boneka mungil seukuran jari khas Guatemala dan Meksiko hingga mencoba membuat
boneka seukuran anak manusia yang didandaninya dengan baju rancangannya
sendiri. Rancangannya itu berupa jaket dengan hiasan border, gaun dengan sentuhan
renda yang feminisme dan ponco warna-warni.
Dalam desainnya, Isabella dipengaruhi oleh cerita rakyat
Guatemala. Dia telah bekerja sama dengan banyak seniman adat Guatemala.
Isabella punya proses desain yang unik, Lewat uji cobanya, Isabella menyimpan
mimpi untuk bisa jadi desainer yang menciptakan pakaian khusus bagi sesama
penayndang down syndrome.
Isabella sendiri selama ini selalu kesulitan membeli baju
yang pas di badan. Penyandang down syndrome memiliki bentuk tubuh yang berbeda.
Badan lebih pendek, torso juga lebih pendek. Leher lebih lebar dan tungkai juga
pendek. Tiap kali membeli baju baru di toko, ibunya harus merombak baju
tersebut agar sesuai dengan potongan tubuhnya yang unik.
Isabella ingin melihat para penyandang down syndrome tampil
keren dan trendi dalam baju rancangannya. Label fesyen yang dimilikinya Down to
Xjabelle sendiri dulu dibangun oleh nenek Isabella. Sayang setelah bibinya
meninggal karena kecelakaan mobil usaha itu tutup. Maka Isabella berniat
meneruskan impian neneknya untuk membuat label tersebut menjadi besar.
Dulu nama label neneknya hanya Xjabelle, lalu Isabella
menambahkan kata Down di depannya. Hal itu dijadikan ia sebagai penanda bahwa
seluruh karyanya merupakan hasil kreasi penyandang down syndrome dan
didedikasikan kepada para penyandang down syndrome.
















