BERITA INDEX BERITA

Isabella Springmuhl Tejada, Desainer Penyandang Down Syndrome yang Masuk 100 Inspirational Woman

inspiring | DiLihat : 779 | Rabu, 10 Januari 2024 | 08:26
Isabella Springmuhl Tejada, Desainer Penyandang Down Syndrome yang Masuk 100 Inspirational Woman

DI usianya yang masih belia, nama Isabella telah masuk dalam daftar 100 100 Inspirational Woman 2016 versi BBC. Meski pernah ditolak oleh beberapa sekolah mode karena dianggap tak memiliki bekal intelegensi yang cukup, kini namanya malah mendunia. Isabella menjadi desainer penyandang down syndrome pertama yang tampil di karpet merah London Fashion Week 2016.

Isabella Springmuhl Tejada lahir pada 27 Februari 1997 di Guatemala. Dia merupakan bungsu dari empat bersaudara yang lahir dalam kondisi tidak normal. Isabella menjadi penyandang down syndrome. Meskipun begitu orang tuanya tak pernah membeda-bedakan kasih sayang. Isabella pun mendapat perlakuan yang sama seperti saudaranya yang lain. Demikian pula dalam hal pendidikan. Isabella pun dimasukkan ke sekolah regular sama seperti kakak-kakaknya.

Sejak kecil Isabella selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan keluarga. Kakak-kakaknya pun tak menganggap ia remeh. Keluarganya malah menjadikan dia sebagai sumber inspirasi. Kakaknya yang memiliki grup band Hot Sugar Mama misalnya, malah menjadikan coretan kata-kata iseng Isabella menjadi sebuah lagu. Tulisan itu dibuat Isabella ketika tengah menunggu jadwal terapi. Namun di tangan kakaknya, tulisan itu menjadi lagu indah berjudul Jerigonza (Jargon).

Perhatian dan kasih sayang keluarga membuat Isabella tumbuh menjadi gadis yang percaya diri. Ia tak pernah merasa minder dengan kondisi dirinya. Aktivitas kakak-kakaknya di dunia musik menumbuhkan hasrat Isabella terhadap dunia seni. Sebelumnya ia juga terinspirasi dunia memasak dari sang ibu.

Namun ia benar-benar terpikat oleh motif dan manik-manik warna-warni yang ada di meja kerja sang nenek. Kebetulan neneknya punya hobi mendesain dan menjahit baju sendiri. Sejak itu minat Isabella pada dunia fesyen tumbuh subur. Ia seperti menemukan panggilan hati sebagai desainer busana.

Rupanya minat dan bakat Isabella dalam hal rancang busana itu telah menjadi perhatian ibunya. Sejak kecil senang membolak-balik majalah fesyen. Isabella lalu mengambil kertas dan pensil. Ia betah berjam-jam berusaha meniru gambar baju di majalah. Ia tak puas hanya menggambar. Isabella tak jarang juga meminta kain pada ibunya. Berbekal gunting dan jarum pentuk ia membuat sendiri baju untuk koleksi bonekanya.

Kecintaan pada dunai fesyen membuat Isabella bertekad mengambil spesialisasi pendidikan fesyen. Apalagi sehari-hari Isabella terkenal aktif dan pandai bergaul. Ia bahkan terpilih diantara para sisiwa untuk menyampaikan pidato kelulusan di sekolahnya. Maka ia pun bersemangat mendaftar di dua universitas lokal. Dua-duanya ditolak.

Rupanya ia belum mendapat tempat di dunia pendidikan tinggi. Sebagai penyandang down syrndrome Isabella dianggap tak mampu mengikuti kegiatan perkuliahan. Anggapan itu seketika membuat mentalnya jatuh. Namun, Isabella tidak larut dalam kesedihan. Berbekal semangat dan dorongan diri yang kuat, ia mendaftarkan diri di kelas menjahit umum.

Di tempat kursus itu ia menggembleng diri, belajar dari dasar cara menjahit dan memotong pola. Tidak hanya itu, di rumah, ia mempertajam kemampuannya dengan menyaksikan video tutorial online menjahit. Kesungguhannya ini membuat sang nenek tergerak untuk menghadiahinya mesin jahit pertamanya. Mesin jahit itu membuatnya semakin bersemangat dan tak berhenti berkreasi.

Dalam perjalanannya menekuni dunia fesyen, cibiran dari orang-orang yang masih menyepelekan penyandang down syndrome masih sering dia terima. Banyak orang yang masih memandang impian dan kerja kerasnya sebelah mata. Hal itu malah menjadi energi yang membakar semangatnya untuk terus berkarya.

Isabella memberdayakan tenun khas tradisional Guatemala buatan wanita keturunan suku Indian Maya. Ia tampil dalam gebrakan desain dengan corak dan warna-warna ceria. Ada jaket, ponco, blus, rompi, serta tas tangan wanita yang ia hasilkan.

Sebagai desainer, Isabella sangat keras kepala. Bila ibunya atau orang lain memberikan saran untuk desainnya dan dia tak sepakat, ia akan menggelengkan kepala dan berkata tegas jika ia tak mau desain seperti itu. Prinsip Isabella dalam menghasilkan karya berbuah manis.

Ia mulai dikenal banyak orang ketika mendapat kesempatan tampil di Museo Ixchel (Museum Tekstil) Guate Extraordinaria. Di kesempatan itu, semua produk Down to Xjabelle laris manis diborong pengunjung. Namanya makin meroket ketika diundang oleh Cecilia Santamarina de Orive, kurator International Fashion Showcase London Fashion Week untuk berpartisipasi di ajang itu pada 19 - 23 Februari 2016.

Peristiwa ini juga penting bagi negaranya, karena inilah pertama kalinya Guatemala diundang untuk ikut serta dalam International Fashion Showcase London Fashion Week. Bersama 4 desainer Guatemala lain, Isabella memamerkan produknya dengan bangga. Uniknya, Isabella tak memakai maneken, tetapi boneka seukuran bocah berusia lima tahun.

Keikutsertaan Isabella dalam ajang tersebut tak hanya membuat Isabella terkenal tapi juga membuat nama labelnya Down to Xjabelle dikenal dunia internasional. Berbagai media dari Inggris, Prancis, Australia, Argentina, Venezuela, Guatemala, sampai Amerika memburunya sebagai sumber berita.

Media tak selalu mengeksposnya sebagai penyandang down syndrome, tapi justru lebih banyak mengulas karya-karyanya yang memikat. Terutama permainan bordir yang rumit sekaligus indah, serta warna-warna cerah yang memancarkan keberanian.

Semua ini membuat pintu kesempatannya makin terbuka. Ia sering diundang untuk menggelar karyanya di berbagai ajang fashion show. Oktober 2016, ia terbang ke Meksiko untuk menggelar koleksinya di pameran tekstil internasional Exintex. Tahun 2017 ini, jadwalnya sudah padat oleh undangan serupa, beberapa di antaranya tampil di ajang fashion show di Miami, Chicago dan Paris.

Meski sudah terkenal Isabela tak ingin berhenti. Ia ingin terus mendesain dan mengeksplor karyanya ke seluruh dunia. Ia ingin orang melihat kemampuan penyandang down syndrome. Isabella ingin menginspirasi semua orang yang sedang berjuang. Agar mereka tak menyerah dalam mewujudkan impian.

 

Dedikasikan Karya Bagi Penyandang Down Syndrome

Melihat kembali ke belakang, Isabella dan ibunya justru bersyukur pernah mengalami penolakan dari dua lembaga pendidikan fesyen di Gautemala. Sebab hal itu justru membuka pintu kesemaptan lain. Isabella bisa belajar tanpa tekanan dan sesuai iramanya sendiri.

Hobi membuat baju boneka saat kecil dikembangkan lebih serius di tempat kursus menjahit yang ia ikuti. Isabella mendesain mulai dari boneka mungil seukuran jari khas Guatemala dan Meksiko hingga mencoba membuat boneka seukuran anak manusia yang didandaninya dengan baju rancangannya sendiri. Rancangannya itu berupa jaket dengan hiasan border, gaun dengan sentuhan renda yang feminisme dan ponco warna-warni.

Dalam desainnya, Isabella dipengaruhi oleh cerita rakyat Guatemala. Dia telah bekerja sama dengan banyak seniman adat Guatemala. Isabella punya proses desain yang unik, Lewat uji cobanya, Isabella menyimpan mimpi untuk bisa jadi desainer yang menciptakan pakaian khusus bagi sesama penayndang down syndrome.

Isabella sendiri selama ini selalu kesulitan membeli baju yang pas di badan. Penyandang down syndrome memiliki bentuk tubuh yang berbeda. Badan lebih pendek, torso juga lebih pendek. Leher lebih lebar dan tungkai juga pendek. Tiap kali membeli baju baru di toko, ibunya harus merombak baju tersebut agar sesuai dengan potongan tubuhnya yang unik.

Isabella ingin melihat para penyandang down syndrome tampil keren dan trendi dalam baju rancangannya. Label fesyen yang dimilikinya Down to Xjabelle sendiri dulu dibangun oleh nenek Isabella. Sayang setelah bibinya meninggal karena kecelakaan mobil usaha itu tutup. Maka Isabella berniat meneruskan impian neneknya untuk membuat label tersebut menjadi besar.

Dulu nama label neneknya hanya Xjabelle, lalu Isabella menambahkan kata Down di depannya. Hal itu dijadikan ia sebagai penanda bahwa seluruh karyanya merupakan hasil kreasi penyandang down syndrome dan didedikasikan kepada para penyandang down syndrome.

 


Scroll to top