BERITA INDEX BERITA
Penjaja Tekstil yang Menjelma Pendekar Pena Terkemuka

KWEE Tek Hoay, salah salah satu tokoh besar di antara
ratusan pengarang peranakan China. Ayahnya seorang pedagang obat dan tekstil.
Sejak kecil Kwee Tek Hay sudah dididik untuk membantu ibunya yang mempunyai
toko di sebuah pasar di Bogor atau mengikuti si Ibu membawa contoh-contoh
tekstil dari rumah ke rumah.
Kemudian ia juga yang harus mengantarkan bahannya ke rumah
pelanggan yang memesan. Bisnis keluarga mereka sukses hingga dapat membuka
sebuah toko yang cukup besar di kota Bogor.
Pendidikan Kwee Tek Hoay ditentukan oleh ayahnya. Ia dikirim
ke sekolah dengan bahasa pengantar Fujian (Hokkian). Hal ini tidak disenangi
oleh Kwee Tek Hoay. Ia mengalami kesulitan dengan bahasa pengantar yang
diajarkan.
Seperti lazimnya orang peranakan di zaman itu, Bahasa Melayu
merupakan Bahasa mereka sehari-hari. Di sekolah, Kwee Tek Hoay juga mendapatkan
pelajaran bahasa Inggris dari guru perempuan berkebangsaan India dan Bahasa
Belanda dari guru perempuan orang Belanda.
Berkat kedua gurunya, tumbuh minat membaca dan belajar dengan sungguh-sungguh berbagai pengetahuan
terutama teosofi. Kwee Tek Hoay harus sembunyi dalam peti-peti kosong untuk
dapat membaca. Ia harus mencuri waktu untuk membaca karena takut ayahnya marah.
Di tahun 1902, ketika berusia 16 tahun, hasil karyanya
terbit dalam surat kabar Li Po yang diterbitkan di Sukabumi. Juga di beberapa
surat kabar lainnya seperti Bintang Betawi, Ho Po, Sin Po. Tulisannya ini
sangat disenangi oleh pembacanya.
Alam pikirannya sangat luas, sehingga ia mendirikan majalah
sendiri yaitu majalah Panorama pada tahun 1926. Majalah Panorama ini dia isi
dengan berbagai tulisan mulai dari berita aktual sampai lelucon/humor.
Di Majalah Panorama ini menjadi tempat menyalurkan
ide-idenya mengenai politik, pendidikan dan sosial. Ia sering beda paham dengan
orang lain. Menurutnya, pendidikan tidak saja dari sekolah. Ia juga ingin
mencerdaskan pembacanya dengan kesusastraan dan berbagai pengetahuan
Ia juga sebagai pembela kaum wanita. Kala itu media lain
wanita lebih banyak dikritik. Dalam majalah Panorama ia menyediakan tempat
khusus untuk para wanita yang pandai penulis.
Dalam novel-novelnya ia selalu menyelingi cerita-ceritanya
dengan pengetahuan-pengetahuan yang diangkat dari buku-buku asing termasuk
Encyclopeadia Brittanica. Ia melakukan riset terlebih dahulu sebelum menulis
karya-karyanya.
Dan banyak lagi karya-karya dari Kwee Tek Hoay atau orang
lain yang menulis tentangnya yang dapat ditemukan di beberapa Perpustakaan
Besar, salah satunya Perpustakaan Nasional RI. Seperti Majalah Panorama,
Mustika Romans, Mustika Dharma, dan Sam Kau Gwat Po. Claudine Salmon pernah
menulis tentang Kwee Tek Hoay dalam bukunya “Literature in Malay by Chinese in
Indonesia", artikel John B. Kwee di majalah Archipel no 19.
Kwee The Hoay, warga keturunan Tionghoa yang lahir di Bogor
pada 31 Juli 1886 ini, meninggal pada 15 Juli 1986, atau 16 hari menjelang
ulang tahunya yang ke-65. Beberapa hari kemudian ia diperabukan sesuai dengan
keyakinannya.
Sayang sekali koleksi karya-karyanya termasuk buku-buku
catatannya musnah, karena terkena air hujan ketika barang-barangnya dipindahkan
dari Cicurug ke Jakarta. Demikian rangkuman ringkas tentang Kwee Tek Hoay yang
ditulis oleh Myra Sidharta seorang pakar sastra Tionghoa Melayu, psikolog,
dosen dan juga wartawan.
Sumber: Mutiara Edisi 379, 13-26 Agustus 1986.
Koleksi Surat Kabar Langka-Perpustakaan Nasional Salemba (SKALA-Team)
















