BERITA INDEX BERITA
Saatnya Sistem Keuangan Berhenti Mendanai Perusakan Lingkungan yang Memperburuk Krisis Iklim

TAHUN berganti. Kita pun berpacu dengan waktu untuk
menghentikan dan memulihkan kerusakan Bumi. Cristiane Mazzetti (Brasil) dan
Syahrul Fitra (Indonesia) menulis tentang pentingnya sistem keuangan global
bertransformasi dengan berhenti membiayai proyek-proyek yang merusak
lingkungan.
Dunia sedang menghadapi berbagai krisis iklim dan lingkungan
hidup. Kami, sebagai warga Brasil dan Indonesia, adalah saksi langsung dari
kerusakan lingkungan hidup tersebut dan dampaknya di negara kami masing-masing,
dua negara yang menjadi rumah bagi ekosistem yang sangat penting bagi
keseimbangan ekologi planet kita.
Kita memerlukan upaya internasional untuk melindungi dan
memulihkan alam dengan penuh kepedulian, tekad, dan harapan. Itu sebabnya,
menjelang akhir 2023, Greenpeace International meluncurkan kampanye yang
mendesak perlunya reformasi sistem keuangan agar mereka berhenti ‘membiayai
pemunahan’ (bankrolling extinctions).
Ada apa dengan sistem keuangan kita?
Sebenarnya negara-negara sudah punya upaya untuk mengatasi
krisis keanekaragaman hayati. Pada Desember 2022, hampir 200 pemerintah
menandatangani Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (Global Biodiversity
Framework/GBF). Salah satu tujuan perjanjian ini adalah mempertahankan,
meningkatkan, dan memulihkan integritas dan ketahanan ekosistem.
Kesepakatan itu juga berarti kita harus menghentikan
perusakan alam sekarang juga dan memulihkan ekosistem-ekosistem yang rusak.
Bukan hanya ekosistem hutan seperti Amazon, Lembah Kongo, hutan Papua, atau
hutan Carpathian, tetapi juga untuk ekosistem penting lainnya seperti sabana
(seperti Cerrado) dan lahan basah (seperti Pantanal, lahan basah terbesar di
Amerika Selatan yang membentang di Bolivia, Brasil, dan Paraguay).
Sayangnya, sistem keuangan saat ini terus merusak komitmen
untuk mengatasi krisis iklim dan keanekaragaman hayati tersebut.
Mereka melayani para pencemar dengan cara memberikan
pendanaan industri dan proyek yang mempercepat degradasi lingkungan dan
kepunahan spesies. Triliunan dolar terus mengalir tanpa henti ke kegiatan yang
merusak lingkungan hidup dan ekosistem.
Rabobank, sebuah bank asal Belanda, adalah salah satu contoh
kasus. Bank ini telah menghasilkan miliaran dolar dengan membiayai
perusahaan-perusahaan yang merusak alam selama bertahun-tahun, baik di negara
asalnya, Belanda, maupun di tempat lain, misalnya di dua negara asal kami,
Brasil dan Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank dan lembaga
keuangan yang ‘membiayai pemunahan’ disebut dalam laporan investigasi dan
menjadi sasaran kritik di banyak negara di seluruh dunia, termasuk JP Morgan,
Barclays, Standard Chartered, dan Deutsche Bank.
Kita sedang mengalami krisis iklim dan keanekaragaman
hayati, tapi pemerintah dan sektor swasta menghabiskan sekitar US$3,1 triliun
per tahun untuk subsidi dan investasi yang merugikan di sektor-sektor
bermasalah seperti peternakan, kayu, dan produksi kelapa sawit, yang mengarah
pada perusakan alam dan pelanggaran hak asasi manusia.
Pengeluaran pemerintah global untuk kegiatan yang mengarah
pada konservasi keanekaragaman hayati diperkirakan mencapai US$154 miliar saja
saban tahunnya. Sedangkan, perkiraan jumlah total subsidi dan insentif yang tak
tepat lainnya jauh lebih tinggi–seperti disebutkan di atas.
Dana ini mestinya dialihkan untuk untuk kegiatan-kegiatan
konservasi keanekaragaman hayati yang sesungguhnya. Pengalihan ini juga bisa
memastikan transisi yang adil di sektor-sektor seperti pertanian industri dan
kehutanan yang terus membahayakan tidak hanya keanekaragaman hayati, tetapi
juga masyarakat yang bergantung pada sektor-sektor ini untuk mata pencaharian
mereka.
Pentingnya reformasi sistem keuangan
Ketika para pemerintah sedang menyiapkan rencana untuk
menerapkan komitmen yang telah mereka buat dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman
Hayati Global Kunming-Montreal, kami mendorong mereka mengadopsi peraturan
sektor keuangan, mengendalikan arus keuangan, dan menghentikan serta memulihkan
kerusakan ekosistem alami.
Reformasi drastis sistem keuangan adalah kunci untuk
mengatasi hilangnya spesies dan ekosistem alami, serta emisi karbon. Selama
uang terus mengalir untuk ekspansi kegiatan ekonomi yang mengarah pada
perusakan alam, tidak mungkin kita dapat memenuhi komitmen ini.
Dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global,
pemerintah berkomitmen memastikan bahwa semua aliran dana akan selaras dengan
tujuan dan target konservasi keanekaragaman hayati sebelum tahun 2030. Ini
berarti pemerintah perlu mengontrol aliran dana publik dan swasta dengan lebih
baik.
Pemerintah perlu memperbaiki peraturan yang ada dan
mengembangkan peraturan baru yang melarang bank-bank besar dan lembaga keuangan
lainnya untuk berinvestasi dalam kegiatan yang merusak keanekaragaman hayati
yang tersisa di dunia. Tentu itu semua perlu dibarengi penegakan hukum yang
ketat dan transparansi, demi menghentikan perusakan alam dan meminta
pertanggungjawaban pelaku kejahatan lingkungan.
Kita membutuhkan peraturan yang mengikat secara hukum yang melarang bank, manajer aset, dana pensiun, dan lembaga keuangan atau investor lainnya untuk mendanai perkebunan, proyek, dan perusahaan yang merusak ekosistem dan merugikan masyarakat lokal dan masyarakat adat.
Selama ini, masyarakat adat dan masyarakat lokal serta pejuang lingkungan hidup terus dirugikan meskipun mereka telah berperan penting melindungi lingkungan dan memerangi krisis iklim.
Menguatnya gerakan rakyat
Selama berabad-abad, masyarakat adat dan komunitas lokal
telah menentang ketidakadilan dan perusakan alam. Dalam beberapa dekade
terakhir, gerakan masyarakat internasional mempertahankan ekosistem alami telah
berkembang, menyatukan jutaan orang dan makin kuat setiap harinya.
Pada Oktober 2023, ratusan aktivis lingkungan memblokade
kantor Rabobank di Belanda dan menuntut agar bank tersebut berhenti mendanai
industri pertanian yang menghancurkan keanekaragaman hayati, serta membayar
kerusakan yang ditimbulkannya.
Para aktivis menggelar aksi damai memprotes
kebijakan-kebijakan pertanian Rabobank. Di Utrecht, ratusan aktivis memblokade
pintu masuk ke kantor pusat bank asal Belanda tersebut. Aktivis mendesak
Rabobank berhenti mendanai industri pertanian yang memicu penderitaan hewan dan
kehancuran keberagaman hayati, serta membayar kerusakan yang ditimbulkan.
Tidak mungkin untuk melindungi dan memulihkan ekosistem alami tanpa menangani keuangan internasional yang memungkinkan begitu banyak industri untuk mencemari dan merusak dengan impunitas. Pemerintah harus membuat rencana yang serius dan terikat waktu untuk mereformasi sistem keuangan. Hanya gerakan rakyat yang kuat, yang sepenuhnya melibatkan masyarakat adat dan komunitas lokal, yang dapat memaksa mereka untuk melakukannya.
Cristiane Mazzetti dan Syahrul Fitra adalah juru
kampanye di Greenpeace Brazil dan Greenpeace Indonesia.
















