BERITA INDEX BERITA
Corak Ekonomi Ekstraktif Masih Jadi Pilihan, Kerusakan Lingkungan dan Krisis Iklim Semakin Mengkhawatirkan

JAKARTA - Debat putaran pertama calon Wakil Presiden pada
jumat, 22 Desember 2023 menunjukkan bahwa pilihan ekonomi Indonesia ke depan
tampaknya masih akan tetap berkutat pada model ekonomi ekstraktif yang akan
semakin menambah beban kerusakan lingkungan dan kerentanan menghadapi krisis
iklim.
Pada debat yang mengusung berbagai topik mulai dari ekonomi,
keuangan, pajak, infrastruktur hingga perkotaan tersebut, ketiga kandidat
memiliki kesamaan perspektif untuk mendorong penguatan infrastruktur melalui
Proyek Strategis Nasional (PSN), perluasan kawasan perkotaan, dan pelonggaran
regulasi demi kemudahan investasi sebagai jalan mencapai pertumbuhan ekonomi.
Ketiga cawapres gagal menunjukkan problem-problem nyata dari
ekonomi ekstraktif yang selama puluhan tahun dipraktekkan di Indonesia dan
alih-alih menghasilkan perbaikan ekonomi, namun justru semakin memperparah
ketimpangan ekonomi dan memperburuk kualitas lingkungan hidup.
Fakta menunjukkan bahwa model ekonomi ekstraktif telah
menyebabkan krisis iklim akibat tingginya lepasan emisi ke atmosfer, konflik
sosial, perampasan ruang hidup rakyat dan melipatgandakan bencana ekologis yang
mengancam ekonomi dan keselamatan rakyat, serta menyempitnya ruang demokrasi
dengan tingginya kriminalisasi terhadap rakyat yang berjuang mempertahankan
ruang hidupnya.
Selama dua puluh tahun terakhir, emisi sektor energi di
Indonesia telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan permintaan
energi. Dengan 600 juta ton CO2 dari sektor energi pada tahun 2021, Indonesia
adalah penghasil emisi terbesar kesembilan di dunia.
Hilirisasi pertambangan mineral kritis seperti nikel juga
menyebabkan deforestasi hingga 25.000 hektar dalam 20 tahun terakhir dan akan
terus meningkat mengingat pemberian luas konsesi pertambangan nikel di dalam
kawasan hutan mencapai 765.237 hektar yang diperkirakan akan menambah 83 juta
ton emisi CO2.
Ekonomi yang didukung paket kebijakan pro ekstraktivisme ini
juga menyebabkan menyempitnya ruang-ruang demokrasi, UU Minerba misalnya telah
digunakan untuk menyeret setidaknya 58 orang ke dalam proses hukum sepanjang
2019-2022 hanya karena penolakan mereka terhadap aktivitas pertambangan.
Dampak Buruk Proyek Strategis Nasional
Selama hampir satu dekade terakhir, perluasan PSN telah
terbukti dan melanggengkan krisis lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat.
Pengembangan PSN di Maluku Utara, khususnya hilirisasi nikel, telah terbukti
memporakporandakan pulau-pulau kecil. Masyarakat yang hidup di Pulau Obi,
Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya di Desa Kawasi, wilayah pesisir dan
lautnya telah mengalami pencemaran berat akibat aktivitas pertambangan sehingga
potensi perikanan tangkap menurun sangat drastis.
Saat ini mereka dipaksa pindah dari desanya karena berada dalam areal pertambangan nikel. Tiga desa lainnya di Kabupaten Halmahera Tengah, yaitu Desa Lelilef, Desa Gemaaf dan Desa Sagea, akan bernasib sama dengan desa Kawasi karena ketiga desa tersebut masuk dalam pengembangan infrastruktur industri pertambangan nikel PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP).
Pengembangan PSN Nusa Tenggara Barat, khususnya Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika juga terbukti melanggengkan kemiskinan
masyarakat dan perempuan pesisir. Tak sedikit masyarakat lokal yang dipaksa
pindah karena tanahnya ditetapkan sebagai wilayah ekonomi khusus, termasuk
untuk pembangunan sirkuit.
Lalu, Proyek Pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak di
Jawa Tengah terbukti menghancurkan kawasan mangrove dan mempercepat
tenggelamnya desa-desa pesisir di Pantai Utara Jawa Tengah. Padahal, mangrove
selalu dijadikan alat diplomasi iklim dalam setiap forum internasional oleh
Presiden Jokowi.
Di Sulawesi Selatan pembangunan Makassar New Port (MNP),
yang pasir lautnya diambil dari wilayah perairan Spermonde telah menyebabkan
kerusakan wilayah tangkapan nelayan tradisional. Sampai saat ini, lebih dari 70
persen masyarakat di Pulau Kodingareng harus keluar pulau mencari pekerjaan
karena lautnya sudah hancur.
Proyek MNP dan pertambangan pasir Laut yang merupakan PSN
telah melanggengkan kerusakan dan kemiskinan masyarakat dan perempuan pesisir.
Di Kepulauan Riau, ambisi pengembangan PSN di Pulau Rempang akan memaksa ribuan
masyarakat lokal tergusur dari ruang hidupnya yang selama ini telah diwariskan
oleh nenek moyang mereka selama ratusan tahun.
Berbagai dampak dari PSN tersebut menggambarkan betapa
pembangunan infrastruktur skala besar tidak menghasilkan pertumbuhan ekonomi,
kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan, namun hal tersebut justru
memicu kemiskinan, kerusakan lingkungan dan meningkatkan kerentanan masyarakat
pada dampak krisis iklim.
Ibu Kota Negara Baru atau 40 Kota Baru Setara Jakarta?
Pada pembahasan mengenai Ibu Kota Negara (IKN), dua kandidat Cawapres yaitu Gibran Rakabuming dan Mahfud MD menunjukkan dukungan pada proyek tersebut. Gibran menyebut IKN sebagai simbol pemerataan ekonomi nasional dan dibangun dengan hanya menggunakan 20 persen dari APBN.
Sementara Mahfud MD
menyatakan dukungan pada IKN sebagai warisan dari periode pemerintahan Jokowi.
Dia mengkritisi pada setidaknya dua hal, penggunaan APBN pada proyek IKN dan
penguasaan lahan skala besar oleh segelintir orang di wilayah IKN. Menurut
Walhi, proyek IKN adalah proyek yang bermasalah, baik secara sosial, ekologis
maupun secara yuridis.
Pemindahan ibu kota tidak menjawab masalah sosial dan
lingkungan hidup di Jakarta dan pun tidak menyelesaikan masalah ketimpangan
ekonomi. Proyek ini justru memberi karpet merah pada segelintir korporasi yang
menguasai tanah skala besar pada lahan IKN. Sementara penggunaan APBN dalam
pembangunan IKN yang dilegitimasi oleh UU IKN kontradiktif dengan janji Jokowi
yang tak akan membebani APBN pada proyek IKN.
Sementara salah satu Cawapres, Muhaimin Iskandar,
menyampaikan kritik terhadap pembangunan IKN yang akan menggunakan APBN hingga
sekitar 500 triliun rupiah. Menurut Muhaimin, besarnya anggaran tersebut dalam
dialihkan untuk pembangunan infrastruktur lain seperti jalan dan sekolah di
Kalimantan.
Dia menyebut akan membangun 40 kota baru setara Jakarta.
Pernyataan mengenai 40 kota baru tersebut menurut Walhi sangat problematis dan
menunjukkan kegagalan dalam memahami masalah-masalah perkotaan.
Ketimbang berambisi membangun kota-kota metropolitan baru,
seharusnya kandidat terpilih berusaha menciptakan perkotaan yang humanis dan
inklusif seperti melalui pembangunan sistem transportasi publik, hunian layak
dan terjangkau, penyediaan sanitasi, air, dan pengelolaan sampah yang baik, dan
perbaikan kualitas lingkungan hidup. Perkotaan juga tidak boleh dilihat hanya
sekedar gedung pencakar langit, namun juga menyoal hak atas kota bagi warganya.
Apa Lagi yang Masih Luput Dalam Debat Ini?
Sama seperti debat calon Presiden sebelumnya pada tema
hukum, ada beberapa hal penting yang luput dibahas pada debat tema ekonomi para
calon Wakil Presiden ini. Hal krusial terkait bagaimana APBN dan anggaran
negara lainnya (cth: BUMN) dipergunakan dan dari mana sumber pendanaannya.
Ugal-ugalan
penggunaan APBN dan sumber pendanaan dari utang yang cukup besar mengancam
kesehatan fiskal kita, dan dapat membuat indonesia masuk dalam jebakan utang
yang lebih dalam. Pembiayaan di luar APBN lainnya seperti pada BUMN yang
seringkali menjadi beban keuangan yang harus ditanggung oleh negara perlu jadi
perhatian publik.
Di luar kasus-kasus yang telah muncul ke permukaan seperti
kasus Garuda Indonesia (PT GIA) dan PT Waskita, masih banyak lagi masalah BUMN
yang kemudian membuat negara mengeluarkan uang besar untuk menanganinya. Para
kandidat Wakil Presiden juga tidak memberi kejelasan arah pembangunan ekonomi
rendah karbon sebagaimana sering dikutip dalam program-program negara.
Menariknya lagi penggunaan Carbon Capture Storage (CCS) yang
sempat diungkap dalam sesi tanya jawab menunjukkan bahwa para calon wapres ini
belum memahami bahwa teknologi ini hanya solusi palsu dalam mengatasi pemanasan
global dan krisis iklim.
Bahkan Badan Energi Internasional menyebut "Sejarah
CCUS sebagian besarnya adalah harapan yang tidak terpenuhi". Bergantung
pada teknologi gagal yang justru memperpanjang umur penggunaan energi fosil
adalah langkah mundur kita untuk mengatasi pemanasan global dan perubahan
iklim.
Walhi mendorong perubahan signifikan ekonomi Indonesia dari
corak ekstraktif menuju ekonomi regeneratif sebagaimana yang kami tuangkan pada
Ekonomi Nusantara. Praktik Ekonomi Nusantara memiliki empat nilai pengikat: (1)
hubungan sejarah; (2) hubungan dengan lanskap ekologis; (3) praktik ekonomi
yang tidak destruktif; dan (4) memiliki dimensi pemulihan kondisi
sosial-ekologis.
Semangat swakelola, berelasi baik dengan alam, komunalisme,
dan praktik skala kecil adalah kekuatan utama ekonomi di masyarakat. Praktik
ekonomi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat adat dan masyarakat lokal ini
sesungguhnya begitu berbeda dari praktik ekonomi ekstraktif yang selama ini
berjalan.
Pemilihan pada ekonomi ekstraktif di berbagai belahan dunia,
termasuk Indonesia, hanya akan berakhir pada perluasan krisis sosial-ekologis
dan peningkatan kerentanan menghadapi krisis iklim.
















