BERITA INDEX BERITA

Caleg Demokrat No Urut 8, Sarjan Tahir: Petani Harus Bahagia

Kabar Desa | DiLihat : 703 | Selasa, 26 Desember 2023 | 08:57
Caleg Demokrat No Urut 8, Sarjan Tahir: Petani Harus Bahagia

Caleg Demokrat, No urut 8, Sarjan Tahir (depan) menyapa petani di dapilnya, Sumsel 1.


JAKARTA - Sarjan Tahir, Calon Anggota DPR RI Dapil Sumatera Selatan 1, pada masa Kampanye caleg lebih mengutamakan turun ke desa-desa untuk meyakinkan perjuangannya agar gerakan *membangun dari Desa* bisa lebih gencar dilakukan.

Sebagai Direktur Pandutani Indonesia (Patani), Sarjan Tahir tentu sangat dekat dengan petani dan pelaku ekonomi kecil di desa, sehingga dirinya lebih mudah berbaur dan menjalankan program-program yg pro-rakyat, pro-lapangan kerja dan pro-kesejahtraan.

Berbagai kegiatan dilakukan mulai dari memfasilitasi gabungan kelompok tani dan UMKM agar memperoleh sumber pembiayaan usaha sampai pasar produk yang dihasilkan menjadi perhatian Sarjan Tahir, yang maju caleg dari Partai Demokrat, nomor urut 8 ini.

Pengalaman Sarjan yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Sumsel di era 90an dan sebagai anggota DPR-RI tahun 2004-2009, membuat Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Demokrat ini bisa lebih dekat dengan rakyat.

"Jika pembangunan difokuskan dari desa maka keadilan, keseimbangan dan kesejahteraan rakyat bisa lebih merata dan cipta lapangan kerja lebih masif. Jangan pernah berhenti berbuat baik untuk membangun desa karena kita semua berasal dari desa. Desa maju, petani bahagia," kata Sarjan.


Usung Tagline SIBUNTUT, Jual Sembako Murah

Diketahui, kepedulian Sarjan terhadap permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat Tanah Air, sudah tak diragukan lagi. Jauh sebelum maju sebagai caleg di Pemilu 2024 ini, Sarjan sudah banyak berkecimpung di kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat, terutama petani, nelayan dan pelaku UMKM.

Teranyar, caleg yang mengusung brand SIBUNTUT ini, Sarjan menggulirkan penjualan sembako murah guna meringankan beban masyarakat akibat tingginya harga sembako.

Program penjualan sembako murah yang diberi nama Warung Sembako Barokah (WSB) ini khusus diperuntukkan bagi masyarakat di daerah pemilihan (dapil)-nya, yakni dapil Sumsel 1, meliputi Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Muratara, dan Kota Lubuklinggau.

Yang menarik, penjualan sembako murah ini tidak hanya berupa warung atau toko, melainkan juga dilakukan keliling dengan menggunakan mobil. “Ini dilakukan supaya penjualan sembako murah ini bisa menjangkau masyarakat langsung di rumah-rumah hingga pemukiman masyarakat di pelosok sekalipun,” ujar Sarjan, yang juga Direktur Utama (Dirut) Pandutani Indonesia (Patani), belum lama ini.

Sarjan menuturkan, SIBUNTUT lahir karena semangat ingin melihat Sumsel lebih maju. Entah apa yang membuat Sarjan terpanggil untuk kembali mengabdi bagi dapil yang pernah diperjuangkannya di Senayan para tahun 2004-2009? Ini tak lain karena hobi SIBUNTUT keliling dari desa ke desa menyapa petani, nelayan, komunitas UMKM dan masyarakat di pelosok.

Karena kerap menyapa dan merasakan langsung kesusahan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok dan semangat membangun ekonomi kerakyatan, membuat Sarjan tergerak menjual sembako murah melalui program Pandutani, yang diberi nama Warung Sembako Barokah (WSB).

Sarjan sendiri tersenyum lebar saat ditanya apa makna nomor urut 8 bagi SIBUNTUT? Dia berujar, bahwa cerita motivasi SIBUNTUT ini akan terus hadir sambil silaturrahim menyerap aspirasi masyarakat yang akan diperjuangkannya.

“Dengan hadirnya sembako murah ini dan seringnya silaturahmi dengan masyarakat, semua makna itu akan terjawab dengan sendirinya. Intinya, SIBUNTUT hanya berusaha untuk meringankan beban masyarakat, terutama yang terdampak akibat tingginya harga kebutuhan bahan pokok (sembako),” kata Sarjan.

Sementara itu, Ketua Forum Pondok Pesantren Sumatera Selatan (Forpess) yang juga Ketua Tanfidziah PCNU Kota Palembang H Hendra Zainuddin menyambut baik program penjualan sembako murah yang digulirkan Sarjan Tahir.

Menurutnya, Program Warung Sembako Barokah yang menjual sembako murah ini sangat baik dan sangat membantu masyarakat, terutama kalangan pesantren.

“Dan kalau mau tahu caranya (cara mendapat sembako murah) silahkan bertemu langsung dengan beliau (Sarjan Tahir) sekaligus untuk mendapat wasilah-wasilah dari beliau,” ujarnya saat menerima kedatangan Sarjan Tahir di pondok pesantren (Ponpes) asuhannya, Ponpes Aulia Cendikia Palembang, November lalu.

Merajut Potensi Desa, Merebut Pasar Dunia

Patut diakui kiprah Sarjan tidak hanya dirasakan warga Palembang, Sumsel, tapi juga sudah di level nasional. Ketokohan Sarjan terutama di percaturan politik Tanah Air, tak lepas dari dukungan masyarakat kecil terutama petani dan nelayan serta pelaku UMKM.

Kepedulian Sarjan terhadap petani dan nelayan bukan tanpa alasan. Terlebih sudah sejak dulu sampai sekarang, mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel ini memang terlibat aktif di lembaga atau organisasi yang memperjuangkan hak-hak petani dan nelayan, termasuk pelaku UMKM.

Di antaranya, Sarjan pernah menjabat Ketua Harian di kepengurusan pusat Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri (MAI), dan sampai sekarang Sarjan juga menjabat Direktur Utama Pandutani Indonesia (Patani) Pusat. Sarjan pula yang menginisiasi berdirinya Patani, sebuah organisasi nirlaba yang memperjuangkan nasib rakyat kecil, terutama petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

Makanya tak heran, jika sosok Sarjan sudah begitu melekat di kehidupan rakyat kecil. Sarjan maju pencalegan pada 2024, tak lain ingin mewujudkan mimpi besar masyarakat kecil yang sejahtera dan berkeadilan, dengan menggulirkan program ‘Merajut Potensi Desa, Merebut Pasar Dunia’.

“Desa harus diprioritaskan sehingga pembangunan akan merata dan tidak hanya terpusat di kota saja. Jika itu terwujud, maka desa akan maju dan ekonomi akan berjalan dengan baik,” tegas Sarjan, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Demokrat.


Gagas Kampung Patani

Program stategis lainnya yang dilakukan Sarjan bersama organisasi yang dipimpinnya (Pandutani Indonesia) adalah membuat Kampung Patani di seluruh Indonesia. Adapun Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani terletak di Desa Cimande, Jawa Barat, berfungsi untuk menghimpun data dan informasi sebagai bahan evaluasi atas kinerja Kampung Patani di seluruh Indonesia.

Kampung Patani ide brilian untuk mengeksplorasi dan mengetahui langsung apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat paling bawah. Kelompok masyarakat ini, seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM tentunya butuh perhatian. Makanya konsep Kampung Patani ini akan menjadi luar biasa dan riil jika dilakukan bersama-sama. Membangun semangat, berkolaborasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Secara spesifik, Kampung Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut.

Adapun model atau bentuk Kampung Patani disesuaikan dengan kondisi agroekosistem dan kearifan lokal kawasan setempat serta memerhatikan karakteristik, kondisi sosial budaya, dan ekonomi, antara lain: Kampung Patani berbasis Kehutanan Sosial, Kampung Patani berbasis Perkebunan, Kampung Patani berbasis Tanaman Pangan, Kampung Patani berbasis Tanaman Hortikultura, Kampung Patani berbasis Peternakan, Kampung Patani berbasis Perikanan/Kelautan, dan Kampung Patani berbasis Koperasi dan UMKM.

Banyak manfaat yang diperoleh pelaku usaha dalam kawasan Kampung Patani, di antaranya bisa meningkatkan produktivitas, dan tersedianya saprodi, pemasaran serta pembiayaan usaha yang difasilitasi oleh Patani melalui Koperasi Indokopat. Petani, nelayan, koperasi dan UMKM dalam kawasan Kampung Patani juga diberi pelatihan sesuai kebutuhan serta terciptanya kawasan usaha agribisnis yang berkelanjutan (ramah lingkungan).

Pada aspek ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan negara.

Adapun aspek sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Sementara di aspek politik, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau oleh giat Kampung Patani.

“Suatu kawasan pedesaaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kelautan, perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan pemasarannya,” tandas Sarjan.


Scroll to top