BERITA INDEX BERITA
Hari Ibu, Caleg Demokrat Sarjan Tahir Kunjungi Rutan Perempuan Klas 1 Palembang

Caleg Sarjan Tahir (kanan) saat menyambangi Rutan Perempuan Klas 1 Palembang.
PALEMBANG - Suasana Hari Ibu tahun ini, calon anggota DPR
RI, Dapil Sumatera Selatan (Sumsel) 1, Sarjan Tahir menyambangi Rutan Perempuan
Klas 1 Palembang.
Kedatangan caleg no urut 8 dari Partai Demokrat (PD) ini
untuk silaturrahim sekaligus menghadiri peresmian aula dan musalla yang layak
bagi warga binaan.
Dalam sambutannya, Sarjan mengajak warga binaan untuk selalu
bersabar dalam menjalani ujian selama menjalani hidup di rutan, sampai pada
saatnya kembali ke tengah masayarakat dan keluarga dengan selamat dan sehat
walafiat.
“Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Semuanya harus
dilalui dengan ikhlas dan akan tiba indah pada saatnya,” kata Sarjan yang
disambut antusiasme warga binaan.
Tak lupa Sarjan meminta doa agar perjalanan dirinya sebagai
caleg dapat berjalan dengan lancar dan bisa kembali memperjuangkan aspirasi
masyarakat ke Senayan.
Diketahui, kepedulian Sarjan terhadap permasalahan sosial yang
terjadi di masyarakat Tanah Air, sudah tak diragukan lagi. Jauh sebelum maju sebagai
caleg di Pemilu 2024 ini, Sarjan sudah banyak berkecimpung di kegiatan sosial dan
pemberdayaan masyarakat, terutama petani, nelayan dan pelaku UMKM.
Teranyar, caleg yang mengusung brand SIBUNTUT ini, Sarjan menggulirkan
penjualan sembako murah guna meringankan beban masyarakat akibat tingginya
harga sembako.
Program penjualan sembako murah yang diberi nama Warung
Sembako Barokah (WSB) ini khusus diperuntukkan bagi masyarakat di daerah
pemilihan (dapil)-nya, yakni dapil Sumsel 1, meliputi Kota Palembang, Kabupaten
Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Muratara,
dan Kota Lubuklinggau.
Yang menarik, penjualan sembako murah ini tidak hanya berupa
warung atau toko, melainkan juga dilakukan keliling dengan menggunakan mobil. “Ini
dilakukan supaya penjualan sembako murah ini bisa menjangkau masyarakat
langsung di rumah-rumah hingga pemukiman masyarakat di pelosok sekalipun,” ujar
Sarjan, yang juga Direktur Utama (Dirut) Pandutani Indonesia (Patani), belum
lama ini.
Sarjan menuturkan, SIBUNTUT lahir karena semangat ingin
melihat Sumsel lebih maju. Entah apa yang membuat Sarjan terpanggil untuk
kembali mengabdi bagi dapil yang pernah diperjuangkannya di Senayan para tahun
2004-2009? Ini tak lain karena hobi SIBUNTUT keliling dari desa ke desa menyapa
petani, nelayan, komunitas UMKM dan masyarakat di pelosok.
Karena kerap menyapa dan merasakan langsung kesusahan
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok dan semangat membangun ekonomi
kerakyatan, membuat Sarjan tergerak menjual sembako murah melalui program
Pandutani, yang diberi nama Warung Sembako Barokah (WSB).
Sarjan sendiri tersenyum lebar saat ditanya apa makna nomor
urut 8 bagi SIBUNTUT? Dia berujar, bahwa cerita motivasi SIBUNTUT ini akan
terus hadir sambil silaturrahim menyerap aspirasi masyarakat yang akan
diperjuangkannya.
“Dengan hadirnya sembako murah ini dan seringnya silaturahmi
dengan masyarakat, semua makna itu akan terjawab dengan sendirinya. Intinya,
SIBUNTUT hanya berusaha untuk meringankan beban masyarakat, terutama yang
terdampak akibat tingginya harga kebutuhan bahan pokok (sembako),” kata Sarjan.
Sementara itu, Ketua Forum Pondok Pesantren Sumatera Selatan
(Forpess) yang juga Ketua Tanfidziah PCNU Kota Palembang H Hendra Zainuddin
menyambut baik program penjualan sembako murah yang digulirkan Sarjan Tahir.
Menurutnya, Program Warung Sembako Barokah yang menjual
sembako murah ini sangat baik dan sangat membantu masyarakat, terutama kalangan
pesantren.
“Dan kalau mau tahu caranya (cara mendapat sembako murah)
silahkan bertemu langsung dengan beliau (Sarjan Tahir) sekaligus untuk mendapat
wasilah-wasilah dari beliau,” ujarnya saat menerima kedatangan Sarjan Tahir di
pondok pesantren (Ponpes) asuhannya, Ponpes Aulia Cendikia Palembang, November
lalu.
Merajut Potensi Desa, Merebut Pasar Dunia
Patut diakui kiprah Sarjan tidak hanya dirasakan warga
Palembang, Sumsel, tapi juga sudah di level nasional. Ketokohan Sarjan terutama
di percaturan politik Tanah Air, tak lepas dari dukungan masyarakat kecil
terutama petani dan nelayan serta pelaku UMKM.
Kepedulian Sarjan terhadap petani dan nelayan bukan tanpa
alasan. Terlebih sudah sejak dulu sampai sekarang, mantan Ketua DPD Partai
Demokrat Sumsel ini memang terlibat aktif di lembaga atau organisasi yang
memperjuangkan hak-hak petani dan nelayan, termasuk pelaku UMKM.
Di antaranya, Sarjan pernah menjabat Ketua Harian di
kepengurusan pusat Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri (MAI), dan sampai
sekarang Sarjan juga menjabat Direktur Utama Pandutani Indonesia (Patani)
Pusat. Sarjan pula yang menginisiasi berdirinya Patani, sebuah organisasi
nirlaba yang memperjuangkan nasib rakyat kecil, terutama petani, nelayan, dan
pelaku UMKM.
Makanya tak heran, jika sosok Sarjan sudah begitu melekat di
kehidupan rakyat kecil. Pada Sarjan maju pencalegan pada 2024. Ini supaya ST
bisa mewujudkan mimpi besar masyarakat kecil yang sejahtera dan berkeadilan,
dengan menggulirkan program ‘Merajut Potensi Desa, Merebut Pasar Dunia’.
“Desa harus diprioritaskan sehingga pembangunan akan merata dan tidak hanya terpusat di kota saja. Jika itu terwujud, maka desa akan maju dan ekonomi akan berjalan dengan baik,” tegas Sarjan, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Demokrat.
Gagas Kampung Patani
Program stategis lainnya yang dilakukan Sarjan bersama
organisasi yang dipimpinnya (Pandutani Indonesia) adalah membuat Kampung Patani
di seluruh Indonesia. Adapun Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani
terletak di Desa Cimande, Jawa Barat, berfungsi untuk menghimpun data dan
informasi sebagai bahan evaluasi atas kinerja Kampung Patani di seluruh
Indonesia.
Kampung Patani ide brilian untuk mengeksplorasi dan
mengetahui langsung apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat paling bawah.
Kelompok masyarakat ini, seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM tentunya
butuh perhatian. Makanya konsep Kampung Patani ini akan menjadi luar biasa dan
riil jika dilakukan bersama-sama. Membangun semangat, berkolaborasi, sesuai
dengan kemampuan masing-masing.
Secara spesifik, Kampung Patani adalah konsep membangun
suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah
lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu
menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut.
Adapun model atau bentuk Kampung Patani disesuaikan dengan
kondisi agroekosistem dan kearifan lokal kawasan setempat serta memerhatikan
karakteristik, kondisi sosial budaya, dan ekonomi, antara lain: Kampung Patani
berbasis Kehutanan Sosial, Kampung Patani berbasis Perkebunan, Kampung Patani
berbasis Tanaman Pangan, Kampung Patani berbasis Tanaman Hortikultura, Kampung
Patani berbasis Peternakan, Kampung Patani berbasis Perikanan/Kelautan, dan
Kampung Patani berbasis Koperasi dan UMKM.
Banyak manfaat yang diperoleh pelaku usaha dalam kawasan
Kampung Patani, di antaranya bisa meningkatkan produktivitas, dan tersedianya
saprodi, pemasaran serta pembiayaan usaha yang difasilitasi oleh Patani melalui
Koperasi Indokopat. Petani, nelayan, koperasi dan UMKM dalam kawasan Kampung
Patani juga diberi pelatihan sesuai kebutuhan serta terciptanya kawasan usaha
agribisnis yang berkelanjutan (ramah lingkungan).
Pada aspek ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi
sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai
sumber pangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan negara.
Adapun aspek sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri
dan berkarakter, berkembangnya budaya hidup yang peduli lingkungan (green
economy). Sementara di aspek politik, penggalangan komunitas petani, nelayan,
UMKM lebih mudah terjangkau oleh giat Kampung Patani.
“Suatu kawasan pedesaaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat
diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah
satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan
dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman
pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kelautan,
perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan pemasarannya,” tandas Sarjan.
















