BERITA INDEX BERITA
Ernest Hemingway, Penulis Terkemuka Peraih Nobel Sastra dan Penghargaan Pulitzer

ERNEST Hemingway adalah salah satu penulis terkemuka di abad
20. Selama hidupnya dia menjadi tokoh ikonik dalam sastra dan budaya populer
Amerika. Hemingway dikenal dengan novel-novel klasiknya, narasi jurnalistik
serta memoar.
Dia memenangkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1953 untuk
novelnya, The Old Man and the Sea. Hemingway juga memenangkan Nobel Sastra pada
tahun berikutnya. Gaya penulisan surat kabar mempengaruhi hampir seluruh
karyanya. Gaya penulisan Hemingway dikenal singkat, jelas, menggunakan kalimat
langsung serta mengandung sedikit kata sifat.
Banyak kritikus sastra dunia menilai bahwa karya-karya
Hemingway melahirkan pesimisme. Fiksi-fiksi karyanya sesuai dengan keadaan
zaman yang tanpa harapan. Ia adalah saksi dari rasa sakit, penderitaan,
kelaparan, putus asa, kematian dan kehancuran.
Hemingway lahir pada 21 Juli 1899 di Oak Park, Illinois. Ia
adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ayah Hemingway adalah seorang dokter.
Sang ibu berbakat menyanyi dan pernah bercita-cita untuk menjadi penyanyi opera
dan hidup dengan memberikan pelajaran menyanyi dan musik.
Sang ibu ingin melahirkan anak kembar, dan ketika ia hanya
melahirkan satu anak, ia mendandanj Hemingway yang kecil dengan saudara
perempuannya, Marcelline yang 18 bulan lebih tua dengan pakaian yang sama, gaya
rambut yang sama sambil berpura-pura bahwa kedua anak itu kembar. Sang ibu
memperlakukan anaknya secara feminin. Bahkan pada masa remajanya Ernest
Hemingway dipanggil dengan Ernestine.
Hemingway belajar di SMA Oak Park dan River Forest. Di sana
ia berhasil baik dalam bidang akademis maupun atletik. Hemingway bertinju dan
bermain rugby. Ia juga memperlihatkan bakat yang luar biasa dalam pelajaran
sastra Inggris. Pengalaman menulisnya yang pertama adalah menjadi penulis lepas
di surat kabar dan majalah sastra sekolah.
Setelah SMA Hemingway tidak melanjutkan ke sekolah tinggi.
Saat usianya 17 tahun ia memulai karier Kepenulisannya sebagai seorang reporter
muda untuk The Kansas City (1917). Meskipun ia bekerja di koran itu hanya
selama enam bulan, sepanjang hidupnya ia menggunakan pedoman dari gaya
penulisannya di media untuk tiap tulisan-tulisannya. Gunakan kalimat-kalimat
pendek, gunakan alinea pertama yang singkat, gunakan bahasa Inggris yang hidup,
bersikap positif jangan negatif.
Hemingway meninggalkan pekerjaannya sebagai reporter setelah
bekerja beberapa bulan. Ia lalu bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat
untuk menyaksikan aksi dalam Perang Dunia I. Ia gagal dalam kesehatan karena
penglihatannya buruk.
Ia lalu bergabung dengan Korps Ambulans Palang Merah dan
berangkat ke Italia. Dalam perjalanan ke Italia, ia berhenti ke Paris yang saat
itu terus menerus dibom oleh artileri Jerman. Bukannya tinggal di tempat yang
aman di Hotel Florida, Hemingway malah berusaha mencapai arena pertempuran
sedekat mungkin.
Di sana ia menyaksikan kebrutalan perang, pada hari pertama
tugasnya, sebuah pabrik amunisi dekat Milano mengalami ledakan. Hemingway harus
memunguti potongan-potongan tubuh manusia. Umumnya perempuan yang bekerja di
pabrik itu. Awalnya ia merasa gemetar.
Pada 8 Juli 1918 Hemingway terluka ketika sedang mengirim
pasokan kepada tentara, hingga kariernya sebagai pengemudi ambulans pun
berakhir. Ia terkena rentetan tembakan mesin. Namun disaat terluka ia masih
sempat menyeret serdadu yang terluka hingga ke tempat aman. Hemingway
dianugerahi Medali Perak dari pemerintah atas usahanya itu.
Setelah pengalaman itu, Hemingway dirawat di sebuah rumahn
sakit Milano yang dikelola Palang Merah Amerika. Di sana tak banyak yang bisa
dilakukan. Ia seringkali minum-minum dan membaca surat kabar untuk melewatkan
waktu. Saat itulah ia bertemu dengan suster Agnes von Kurowskydari Washington
DC. Agnes, salah seorang dari 18 perawat yang masing-masing merawat empat
pasien.
Hemingway jatuh cinta kepada suster Agnes yang usianya lebih
dari enam tahun lebih tua dari dia, tapi hubungan mereka tak berlanjut. Setelah
kembali ke Amerika, suster Agnes jatuh cinta dan menikah dengan lelaki lain.
Kejadian-kejadian itu memberikan ide dalam salah satu novel pertama Hemingway, A
Farewell to Arms.
Setelah Perang Dunia, Hemignway kembali ke Oak Park. Pada
1920 ia menerima peekrjaan di Toronto, Ontario pada surat kabar Toronto Star.
Ia bekerja di sana sebagai penulis lepas dan koresponden asing. Hemingway
tinggal di bagian utara Chicago. Ia menikah dengan isteri pertamanya, Hadley
Richardson. Pada Desember 1921 Hemingway meninggalkan Chicago dan menetap di
Paris. Di sana ia meliput Perang Yunani – Turki untuk Star.
Buku pertama Hemingway berjudul Three Stories and Ten
Poems pada 1923. Buku itu diterbitkan di Paris. Pada 1924 ia mengundurkan
diri dari Toronto Star. Debut sastra Hemingway di Amerika dimulai dengan
penerbitan kumpulan cerita pendek, In Our Time (1925). Pada April 1925, dua
minggu setelah diterbitkannya The Great Gatsby, Hemingway bertemu dengan F
Scott Fitzgerald. Mereka kemudian bersahabat karib dan saling bertukar naskah.
Tahun 1926 Hemingway menyelesaikan novelnya yang berjudul Thje
Sun Also Rises. Novel ini merupaan semi autobiografi karena beranjak dari
pengalamannya sebagai perantau di Paris dan Spanyol. Novel ini kemudian
mendunia terutama di Eropa dan Amerika.
Setiap menulis cerpen atau novel, Ernest Hemingway
menggunakan pendekatan dramatik dalam gaya penceritaanya. Sebagai salah seorang
anggota perhimpunan The Lost Generation (perkumpulan pengarang muda Amerika
yang melarikan diri ke Perancis) ia sangat akrab dengan suasana dan
konsep-konsep patriotisme dan romantisme yang banyak menginspirasi
pengarang-pengarang pada zaman itu.
Cerita pendek yang ditulisnya sangat mansiawi dan realistis,
begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hemingway piawai menghidupkan
karakter-karakter rekaan dalam cerpennya menjadi begitu nyata. Sehingga
kenaifan-kenaifan dan kekonyolan yang sering ditunduhkan kepada Hemingway dapat
ia putar balikkan menjadi suatu kekuatan manusiawi yang menguatkan dan memberi
penghiburan kepada pembaca-pembaca dengan caranya sendiri.
Pengalaman hidupnya yang luas dituangkan dalam
karya-karyanya. Selama karier kepenulisannya Hemingway mendapat banyak
penghargaan seperti Pulitzer, Medal of Merit for Novel dari American Academy of
Letter, Nobel Sastra. Novel-novelnya juga berulangkali dijadikan film. Seumur
hidupnya Hemingway telah menerbitkan tak kurang dari 10 novel, beberapa karya
non fiksi dan banyak kumpulan cerpen.
Merasa Diawasi FBI Sebelum Bunuh Diri
Hemingway banyak menulis tentang hal-hal yang berbau
kekerasan seperti perang, adu matador, perburuan di padang liar Afrika,
kehidupan nelayan di laut dan lain-lain. Ia juga dikenal sebagai pecinta yang
berkobar-kobar. Hemingway menikah empat kali dan menjalin sekian banyak affair
selama hidupnya. Tiga pernikahannya berakhir dengan perceraian.
Meskipun karya Hemingway banyak dipuji, kehidupan pribadinya
tak sesukses karya tulisnya. Setelah meraih Pulitzer, Nobel Sastra juga ia
rengkuh pada 1954. Penghargaan itu merupakan puncak kariernya. Setelah masa itu
Hemingway mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental.
Pengarang flamboyan yang kecanduan alkohol itu akhirnya mati
bunuh diri karena depresi. Ia merasa kehilangan kemampuan menulis di usia tua.
Hemingway menembak kepalanya sendiri dengan senapan berburu beberapa hari
sebelum ulang tahunnya yang ke-62, di Ketchum, Idaho.
Sejak kematian Ernest Hemingway, warisan karyanya semakin
banyak mendapat apresiasi. Beberapa karya dan surat yang belum sempat
dipublikasikan diterbitkan secara anumerta. Ratusan penulis, termasuk JD
Salinger, Hunter S. Thompson, dan Chuck Palahnuik, mengaku turut dipengaruhi
oleh Ernest Hemingway.
Menjelang akhir kehidupannya Hemingway sering merasa
paranoid. Ia merasa selalu diikuti, disadap dan dimata-matai oleh FBI. Ketika
sedang mengemudi, Hemingway yakin mobil-mobil di jalan sedang mengikutinya. Dia
juga buru-buru meninggalkan bar karena percaya ada beberapa orang sedang
mengawasinya.
Bahkan, pada suatu malam, ketika sedang mengemudi melewati
bank, dia menyatakan bahwa dua karyawan yang sedang bekerja lembur itu
sebenarnya agen pemerintah yang bertugas mengaudit rekening pribadinya. Semakin
lama Hemingway semakin ngotot dan yakin bahwa dirinya sedang
dimata-matai. Keluarga dan teman-temannya menjadi khawatir.
Selanjutnya Hemingway tinggal di rumah sakit jiwa dan diberi
terapi sengatan listrik, sebuah terapi yang umum dilakukan kepada penderita
penyakit mental pada tahun 60-an. Namun, hal itu hanya memperburuk
keadaannya. Dia masih merasa FBI ada di mana-mana, teleponnya masih
disadap dan lain-lain.
















