BERITA INDEX BERITA

Ernest Hemingway, Penulis Terkemuka Peraih Nobel Sastra dan Penghargaan Pulitzer

inspiring | DiLihat : 1000 | Rabu, 13 Desember 2023 | 07:20
Ernest Hemingway, Penulis Terkemuka Peraih Nobel Sastra dan Penghargaan Pulitzer

ERNEST Hemingway adalah salah satu penulis terkemuka di abad 20. Selama hidupnya dia menjadi tokoh ikonik dalam sastra dan budaya populer Amerika. Hemingway dikenal dengan novel-novel klasiknya, narasi jurnalistik serta memoar.

Dia memenangkan penghargaan Pulitzer pada tahun 1953 untuk novelnya, The Old Man and the Sea. Hemingway juga memenangkan Nobel Sastra pada tahun berikutnya. Gaya penulisan surat kabar mempengaruhi hampir seluruh karyanya. Gaya penulisan Hemingway dikenal singkat, jelas, menggunakan kalimat langsung serta mengandung sedikit kata sifat.

Banyak kritikus sastra dunia menilai bahwa karya-karya Hemingway melahirkan pesimisme. Fiksi-fiksi karyanya sesuai dengan keadaan zaman yang tanpa harapan. Ia adalah saksi dari rasa sakit, penderitaan, kelaparan, putus asa, kematian dan kehancuran.

Hemingway lahir pada 21 Juli 1899 di Oak Park, Illinois. Ia adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ayah Hemingway adalah seorang dokter. Sang ibu berbakat menyanyi dan pernah bercita-cita untuk menjadi penyanyi opera dan hidup dengan memberikan pelajaran menyanyi dan musik. 

Sang ibu ingin melahirkan anak kembar, dan ketika ia hanya melahirkan satu anak, ia mendandanj Hemingway yang kecil dengan saudara perempuannya, Marcelline yang 18 bulan lebih tua dengan pakaian yang sama, gaya rambut yang sama sambil berpura-pura bahwa kedua anak itu kembar. Sang ibu memperlakukan anaknya secara feminin. Bahkan pada masa remajanya Ernest Hemingway dipanggil dengan Ernestine.

Hemingway belajar di SMA Oak Park dan River Forest. Di sana ia berhasil baik dalam bidang akademis maupun atletik. Hemingway bertinju dan bermain rugby. Ia juga memperlihatkan bakat yang luar biasa dalam pelajaran sastra Inggris. Pengalaman menulisnya yang pertama adalah menjadi penulis lepas di surat kabar dan majalah sastra sekolah.

Setelah SMA Hemingway tidak melanjutkan ke sekolah tinggi. Saat usianya 17 tahun ia memulai karier Kepenulisannya sebagai seorang reporter muda untuk The Kansas City (1917). Meskipun ia bekerja di koran itu hanya selama enam bulan, sepanjang hidupnya ia menggunakan pedoman dari gaya penulisannya di media untuk tiap tulisan-tulisannya. Gunakan kalimat-kalimat pendek, gunakan alinea pertama yang singkat, gunakan bahasa Inggris yang hidup, bersikap positif jangan negatif.

Hemingway meninggalkan pekerjaannya sebagai reporter setelah bekerja beberapa bulan. Ia lalu bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat untuk menyaksikan aksi dalam Perang Dunia I. Ia gagal dalam kesehatan karena penglihatannya buruk.

Ia lalu bergabung dengan Korps Ambulans Palang Merah dan berangkat ke Italia. Dalam perjalanan ke Italia, ia berhenti ke Paris yang saat itu terus menerus dibom oleh artileri Jerman. Bukannya tinggal di tempat yang aman di Hotel Florida, Hemingway malah berusaha mencapai arena pertempuran sedekat mungkin.

Di sana ia menyaksikan kebrutalan perang, pada hari pertama tugasnya, sebuah pabrik amunisi dekat Milano mengalami ledakan. Hemingway harus memunguti potongan-potongan tubuh manusia. Umumnya perempuan yang bekerja di pabrik itu. Awalnya ia merasa gemetar.

Pada 8 Juli 1918 Hemingway terluka ketika sedang mengirim pasokan kepada tentara, hingga kariernya sebagai pengemudi ambulans pun berakhir. Ia terkena rentetan tembakan mesin. Namun disaat terluka ia masih sempat menyeret serdadu yang terluka hingga ke tempat aman. Hemingway dianugerahi Medali Perak dari pemerintah atas usahanya itu.

Setelah pengalaman itu, Hemingway dirawat di sebuah rumahn sakit Milano yang dikelola Palang Merah Amerika. Di sana tak banyak yang bisa dilakukan. Ia seringkali minum-minum dan membaca surat kabar untuk melewatkan waktu. Saat itulah ia bertemu dengan suster Agnes von Kurowskydari Washington DC. Agnes, salah seorang dari 18 perawat yang masing-masing merawat empat pasien.

Hemingway jatuh cinta kepada suster Agnes yang usianya lebih dari enam tahun lebih tua dari dia, tapi hubungan mereka tak berlanjut. Setelah kembali ke Amerika, suster Agnes jatuh cinta dan menikah dengan lelaki lain. Kejadian-kejadian itu memberikan ide dalam salah satu novel pertama Hemingway, A Farewell to Arms.

Setelah Perang Dunia, Hemignway kembali ke Oak Park. Pada 1920 ia menerima peekrjaan di Toronto, Ontario pada surat kabar Toronto Star. Ia bekerja di sana sebagai penulis lepas dan koresponden asing. Hemingway tinggal di bagian utara Chicago. Ia menikah dengan isteri pertamanya, Hadley Richardson. Pada Desember 1921 Hemingway meninggalkan Chicago dan menetap di Paris. Di sana ia meliput Perang Yunani – Turki untuk Star.

Buku pertama Hemingway berjudul Three Stories and Ten Poems pada 1923. Buku itu diterbitkan di Paris. Pada 1924 ia mengundurkan diri dari Toronto Star. Debut sastra Hemingway di Amerika dimulai dengan penerbitan kumpulan cerita pendek, In Our Time (1925). Pada April 1925, dua minggu setelah diterbitkannya The Great Gatsby, Hemingway bertemu dengan F Scott Fitzgerald. Mereka kemudian bersahabat karib dan saling bertukar naskah.

Tahun 1926 Hemingway menyelesaikan novelnya yang berjudul Thje Sun Also Rises. Novel ini merupaan semi autobiografi karena beranjak dari pengalamannya sebagai perantau di Paris dan Spanyol. Novel ini kemudian mendunia terutama di Eropa dan Amerika.

Setiap menulis cerpen atau novel, Ernest Hemingway menggunakan pendekatan dramatik dalam gaya penceritaanya. Sebagai salah seorang anggota perhimpunan The Lost Generation (perkumpulan pengarang muda Amerika yang melarikan diri ke Perancis) ia sangat akrab dengan suasana dan konsep-konsep patriotisme dan romantisme yang banyak menginspirasi pengarang-pengarang pada zaman itu.

Cerita pendek yang ditulisnya sangat mansiawi dan realistis, begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hemingway piawai menghidupkan karakter-karakter rekaan dalam cerpennya menjadi begitu nyata. Sehingga kenaifan-kenaifan dan kekonyolan yang sering ditunduhkan kepada Hemingway dapat ia putar balikkan menjadi suatu kekuatan manusiawi yang menguatkan dan memberi penghiburan kepada pembaca-pembaca dengan caranya sendiri.

Pengalaman hidupnya yang luas dituangkan dalam karya-karyanya. Selama karier kepenulisannya Hemingway mendapat banyak penghargaan seperti Pulitzer, Medal of Merit for Novel dari American Academy of Letter, Nobel Sastra. Novel-novelnya juga berulangkali dijadikan film. Seumur hidupnya Hemingway telah menerbitkan tak kurang dari 10 novel, beberapa karya non fiksi dan banyak kumpulan cerpen.

 

Merasa Diawasi FBI Sebelum Bunuh Diri

Hemingway banyak menulis tentang hal-hal yang berbau kekerasan seperti perang, adu matador, perburuan di padang liar Afrika, kehidupan nelayan di laut dan lain-lain. Ia juga dikenal sebagai pecinta yang berkobar-kobar. Hemingway menikah empat kali dan menjalin sekian banyak affair selama hidupnya. Tiga pernikahannya berakhir dengan perceraian.

Meskipun karya Hemingway banyak dipuji, kehidupan pribadinya tak sesukses karya tulisnya. Setelah meraih Pulitzer, Nobel Sastra juga ia rengkuh pada 1954. Penghargaan itu merupakan puncak kariernya. Setelah masa itu Hemingway mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental.

Pengarang flamboyan yang kecanduan alkohol itu akhirnya mati bunuh diri karena depresi. Ia merasa kehilangan kemampuan menulis di usia tua. Hemingway menembak kepalanya sendiri dengan senapan berburu beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-62, di Ketchum, Idaho.

Sejak kematian Ernest Hemingway, warisan karyanya semakin banyak mendapat apresiasi. Beberapa karya dan surat yang belum sempat dipublikasikan diterbitkan secara anumerta. Ratusan penulis, termasuk JD Salinger, Hunter S. Thompson, dan Chuck Palahnuik, mengaku turut dipengaruhi oleh Ernest Hemingway.

Menjelang akhir kehidupannya Hemingway sering merasa paranoid. Ia merasa selalu diikuti, disadap dan dimata-matai oleh FBI. Ketika sedang mengemudi, Hemingway yakin mobil-mobil di jalan sedang mengikutinya. Dia juga buru-buru meninggalkan bar karena percaya ada beberapa orang sedang mengawasinya. 

Bahkan, pada suatu malam, ketika sedang mengemudi melewati bank, dia menyatakan bahwa dua karyawan yang sedang bekerja lembur itu sebenarnya agen pemerintah yang bertugas mengaudit rekening pribadinya. Semakin lama Hemingway semakin ngotot dan yakin bahwa dirinya sedang dimata-matai. Keluarga dan teman-temannya menjadi khawatir. 

Selanjutnya Hemingway tinggal di rumah sakit jiwa dan diberi terapi sengatan listrik, sebuah terapi yang umum dilakukan kepada penderita penyakit mental pada tahun 60-an. Namun, hal itu hanya memperburuk keadaannya. Dia masih merasa FBI ada di mana-mana, teleponnya masih disadap dan lain-lain.

 


Scroll to top