BERITA INDEX BERITA
Greenpeace Sesalkan Absennya Indonesia di KTT Tiga Basin Kongo yang Membahas Penyelamatan Hutan Hujan Tropis

JAKARTA - Greenpeace Indonesia menyesalkan absennya
pemerintah Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Tiga Basin di
Brazzaville, Kongo pada 26-28 Oktober 2023, yang agendanya membahas upaya
penyelamatan hutan hujan tropis dari kerusakan dan kehancuran.
Forum itu mempertemukan para pemimpin dari tiga kawasan yang
memiliki hutan hujan terluas di dunia, yaitu Amazon, Kongo, dan
Borneo-Mekong-Asia Tenggara.
Negara-negara di tiga basin ini memiliki lebih dari 80
persen hutan hujan dunia dan dua pertiga keanekaragaman hayati global. Upaya
menyelamatkan hutan hujan di tiga kawasan ini sangat krusial di tengah krisis
iklim dan biodiversitas yang terjadi sekarang.
“Ini sangat mengecewakan. Forum KTT Tiga Basin penting untuk
merumuskan langkah konkret dan kerja sama global untuk melindungi hutan hujan
tropis,” kata Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.
Menurut Arie Rompas, seharusnya pemerintah Indonesia ikut
terlibat aktif untuk memperkuat kerja sama ini “Karena kita membutuhkan aliansi
global, dan negara-negara Selatan harus menjalin kerja sama yang lebih erat
untuk melawan krisis iklim,” tuksanya.
Pada November 2022, pemerintah Indonesia sebenarnya
menyepakati kerja sama penyelamatan hutan hujan tropis dengan Brasil dan
Republik Demokratik Kongo (DRC).
Aliansi itu terbentuk di sela Konferensi Tingkat Tinggi G20
yang berlangsung di Bali. Namun dibanding pemerintah Indonesia, Brasil dan DRC
tampaknya lebih berperan aktif dalam terbentuknya inisiatif tersebut.
Menurut informasi yang diperoleh Greenpeace, persiapan
Pemilu 2024 menjadi salah satu alasan absennya pemerintah Indonesia dalam KTT
Tiga Basin. Kebijakan menyangkut inisiatif global seperti yang dibahas dalam
KTT Tiga Basin itu disebut ‘menjadi kewenangan pemerintahan selanjutnya’.
Hutan hujan di Amazon, Kongo Basin, dan Indonesia perlu
dilindungi dari pelbagai ancaman deforestasi untuk keperluan perkebunan
monokultur, infrastruktur, penebangan kayu dan pertambangan.
Tahun lalu Indonesia kembali mengalami peningkatan laju
deforestasi, dengan deforestasi bruto seluas 208.000 hektare, meningkat 19
persen dibandingkan dengan tahun 2021 (Atlas Nusantara).
Dalam KTT Tiga Basin, perwakilan Greenpeace Indonesia,
Brazil, dan Afrika menyampaikan sejumlah usulan untuk penyelamatan hutan hujan
tropis. Upaya menyelamatkan hutan hujan tropis tak boleh terlepas dari
pengakuan atas peran penting Masyarakat Adat dan komunitas lokal.
Lebih dari 75 persen hutan dilindungi oleh Masyarakat Adat
dan komunitas lokal. Namun hingga saat ini, peran dan pengetahuan mereka
terhadap perlindungan alam dan keanekaragaman hayati masih belum cukup diakui.
Selain itu, dari seluruh dana proyek pengelolaan hutan
global dalam satu dekade terakhir, hanya 17 persen yang melibatkan partisipasi
Masyarakat Adat atau organisasi masyarakat lokal.
Greenpeace juga mengkritik solusi palsu penyelamatan hutan
lewat skema pasar, seperti perdagangan karbon atau tukar-guling karbon (carbon
trade/offset).
Pasar karbon memberikan karpet merah kepada para pencemar
lingkungan untuk lepas dari tanggung jawab. Skema ini hanya akan memungkinkan
mereka terus menghasilkan emisi gas rumah kaca, alih-alih serius berbenah dan
mengubah perilaku.
“Para pemimpin harus berhenti memakai pendekatan pasar
seperti perdagangan karbon. Sebaliknya, para pemimpin harus fokus dan serius
melibatkan Masyarakat Adat dan komunitas lokal, yang dari banyak data dan fakta
di lapangan telah terbukti menjadi garda paling depan penjaga alam dan
keanekaragaman hayati,” kata Arie Rompas.
















