BERITA INDEX BERITA
Bapanas-Bulog Siapkan Bantuan Pangan Beras hingga Maret 2024

JAKARTA –
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi siap menindaklanjuti
arahan Presiden Joko Widodo untuk memperpanjang bantuan pangan beras tahap
kedua yang awalnya tiga bulan dari September hingga November, diperpanjang
hingga Desember 2023.
Eskalasi
periode bantuan ini dilakukan pemerintah agar semakin dapat membantu masyarakat
yang membutuhkan untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap sektor pangan dan
mengendalikan inflasi.
“Sesuai arahan
Bapak Presiden Joko Widodo agar bantuan pangan beras tahap kedua terus
dilanjutkan sampai Desember, tentu kita secara sigap akan mempersiapkannya,” ujar
Arief dalam keterangan tertulisnya, Jumat (27/10/2023).
“Perpanjangan
waktu salur bantuan ini diperlukan untuk terus menjaga stabilitas harga beras.
Terlebih El Nino sejak September sampai sekarang impactnya bisa dua bulan
kemudian dan dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat berpendapatan
rendah.
“Kemudian
terhadap rencana melanjutkan bantuan pangan beras sampai Maret di tahun depan
(2024), kita juga akan persiapkan bersama kementerian dan lembaga terkait serta
Perum Bulog. Persiapan yang mendetail terutama dalam hal memastikan
ketersediaan pasokan, harus menjadi fokus,” tambahnya.
Secara garis
besar, jumlah stok yang dibutuhkan Bulog dalam melakukan stabilisasi dan
membantu masyarakat yang membutuhkan dalam perpanjangan bantuan pangan beras
pada Desember ini sekitar 200 ribu ton.
Lalu stok untuk
Januari sampai Maret 2024 berkisar lebih dari 600 ribu ton. Bantuan ini
diperuntukkan kepada 20,662 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) setiap
bulannya.
“Tentunya ini
memerlukan dukungan anggaran dari Kementerian Keuangan dan juga persetujuan
Presiden seperti yang sudah disampaikan dalam beberapa kesempatan saat
peninjauan penyaluran bantuan pangan di Padang, Palembang, dan Lampung dalam
beberapa hari terakhir," ujar Arief.
Adapun total
penerima bantuan pangan beras telah dilakukan pengakurasian data KPM oleh
Kementerian Sosial sehingga total jumlah penerima menjadi 20,662 juta.
“KPM saat ini
telah ada koreksi menjadi 20,662 juta. Ini terus kita pertajam keakuratan
datanya, sehingga bantuan pangan beras pangan semakin tepat sasaran. Apabila
ada KPM tidak sesuai dengan data, maka dapat dilakukan penggantian oleh
pemerintah desa/kelurahan,” sebut Arief.
“Jadi jika ada
keluhan masyarakat yang belum masuk ke dalam KPM, tentunya dapat segera
melaporkan ke RT/RW atau Kepala Desa/Lurah yang kemudian akan dilakukan
verifikasi oleh dinas sosial wilayah setempat. Ini karena kriteria KPM penerima
bantuan pangan beras adalah keluarga tidak mampu yang terdata dalam database
Kementerian Sosial,” ungkapnya.
Lebih lanjut,
realisasi bantuan pangan beras tahap kedua yang telah diluncurkan sejak 11
September, sampai 24 Oktober telah mencapai 65,82 persen atau 407.250.560 kg.
Adapun target penyalurannya sampai November adalah 618.687.480 kg.
Menilik
statistik perberasan yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 2 Oktober lalu,
tercatat pada September 2023 inflasi beras secara bulanan (month to month)
sebesar 5,61 persen dengan andil 0,18 persen.
Penyebab
membumbungnya inflasi beras tersebut dikarenakan adanya dinamika harga beras
disebabkan berkurangnya pasokan dan menurunnya produksi akibat kemarau
berkepanjangan dan El Nino.
Bantuan pangan
beras tahap pertama pada Maret sampai Mei, dapat dikatakan cukup efektif
sebagai pengendali inflasi dan jaring pengaman sosial. Efek positifnya juga
dirasakan terhadap kestabilan harga beras dan inflasi yang terjaga selama April
sampai Juli 2023.
“Kami yakin
bantuan pangan beras tahap kedua yang terus dilanjutkan ini dapat pula
memberikan andil positif seperti sebelumnya, terutama mengantisipasi lonjakan
harga pada momentum natal dan tahun baru serta mengatasi dampak El Nino,” kata
Arief.
Berdasarkan
pantauan di Panel Harga Pangan NFA, terlihat adanya tren penurunan harga beras
medium yang terjadi sejak awal Oktober. Pada 1 Oktober tercatat harga rata-rata
semua provinsi untuk beras medium berada di angka Rp13.220 per kg. Kemudian
mengalami penurunan 20 poin pada 26 Oktober yang tercatat di angka Rp13.200 per
kg.
















