BERITA INDEX BERITA

Tragedi Gunung Semeru 1969, Yon Artiono dan Aristides Kattoppo Bawakan Helikopter untuk Evakuasi Jenazah Soe Hok Gie

sains | DiLihat : 1303 | Senin, 23 Oktober 2023 | 08:58
Tragedi Gunung Semeru 1969, Yon Artiono dan Aristides Kattoppo Bawakan Helikopter untuk Evakuasi Jenazah Soe Hok Gie

JAKARTA – Kisah tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa yang meninggal di bekapan Gunung Semeru, pada 16 Desember 1969, tak lekang dimakan waktu. Meski sudah 55 tahun berlalu, peristiwa memilukan yang juga merenggut nyawa Idhan Lubis (Mapala UI) tersebut, tetap menjadi pembicaraan terutama di kalangan para penggiat alam bebas.

Namun, yang publik tidak banyak tahu, ternyata di balik kisah memilukan itu ada satu sosok pemuda yang kala itu berperan penting dalam evakuasi jenazah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. Sosok itu adalah Yon Artiono Arba’i, personel tim resque TMS-7 Indonesia yang juga bertugas di Kejaksaan Agung (Kejagung) RI.

Diceritakan dalam buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, setelah mendapat kabar lewat telepon dari Dandim Malang Letkol inf Suwandi, tentang meninggalnya Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, Yon Artiono Arba’i bersama pentolan Mapala UI Aristides Kattoppo, langsung bergerak cepat.

Aristides Kattoppo sendiri, saat tragedi Semeru, menjadi anggota tim pendakian Mapala UI Gunung Semeru yang paling senior di antara Herman Lantang, Soe Hok-Gie, Anton Wijana (Wiwiek), Abdurachman (Maman), Rudy Badil, Freddy Lasut,dan Idhan Lubis.

Aristides Katoppo dan Wiwiek menjadi tim pendahulu yang melaporkan musibah Gunung Semeru. Bersama Aristides Katoppo, Yon Artiono yang saat itu tengah berada di Malang, menuju ke Landasan Udara Abdurrachman Saleh untuk membicarakan soal operasional helikopter TNI AL untuk misi SAR Tim Semeru UI.

Tides, panggilan akrab Aristides Katoppo, sempat meminta helikopter Mi-4 milik TNI AL tersebut mendarat dan parkir di Alun-Alun Besar Kota Malang. Lalu, Tides dan Yon pergi naik helikopter yang sama, dari Malang ke arah Tumpang dan Gubuk Klakah, kemudian menyusuri Kali Kamprong dan Gunung Ayek-Ayek.

Tides, Yon, pilot dan co-pilot helikopter terbang di area Gunung Semeru sebelum akhirnya kembali ke pangkalan udara lantaran gagal mendarat di titik rescue, lokasi jenazah Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis, yang meninggal di gunung Semeru. 

Di Malang, arek-arek dari Klab TMS-7, IPKAb Indrakilla, Young Pioneer juga terlibat sebagai tenaga volunteer untuk evakuasi jenazah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, hingga akhirnya berhasil diturunkan dari gunung berketinggian 3.676 Mdpl tersebut.

Usai operasi SAR tersebut, Yon yang kala itu bekerja di Kejaksaan Agung RI, meyakini meninggalnya Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis lebih disebabkan keduanya terserang acute mountain sickness (AMS).

AMS adalah kelainan neurologis yang biasanya menyerang pendaki gunung yang berada di ketinggian akibat hipoksia kronis pada tekanan parsial oksigen rendah. Walaupun seringkali bersifat self-limiting, AMS dapat menyebabkan edema pulmonal dan serebral yang dapat bersifat fatal. 

“Jadi bukan karena menghirup gas beracun gunung Semeru. Kalau gas beracun kan menyebar, bisa kena semua anggota tim Mapala UI yang mendaki,” kata Yon Artiono Arba’i, saat bincang santai dengan para sesepuh penggiat alam bebas, di Gedung Klub Eksekutif Persada Purnawira Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Minggu (22/10/2023).

Hari itu, Yon Artiono Arba’i bersama istri tercinta Nyi R Agustin Garnadi (juga senior pecinta alam) sengaja mengundang rekan-rekan pecinta alam dan penggiat alam bebas, sahabat dekat dan keluarga merayakan ulang tahunnya yang ke-78.

Sejumlah sesepuh penggiat alam bebas, pecinta alam, dan pendaki gunung hadir, di antaranya Abdurachman alias Kang Maman, Don Hasman, Syamsirwan Ichien (Mapala UI), Joni Wiro Sableng (TMS-7), Mbak Vita (APGI), Bang Leo (MPA Aranyacala Univ Trisakti), dan lain-lain.

Di hari yang sama, juga diluncurkan film dokumenter berjudul “Sosok DR Yon Artiono Arba’i”. Film yang disutradarai Resi Elang, ini bercerita tentang sepak terjang Yon Artiono Arba’i berikut aktivitasnya selama bergiat di alam bebas, termasuk cerita proses evakuasi jenazah Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis yang meninggal di gunung Semeru.

“Mas Yon sosok manusia tangguh yang tidak bisa disogok, sosok yang tidak bisa diubah pendiriannya. Yang benar adalah benar,” tegas fotografer senior Don Hasman.

Setali tiga uang, anggota kehormatan Mapala UI Syamsirwan Ichien juga mengaku sangat menaruh hormat kepada Yon Artiono Arba’i. “Sebagai senior pecinta alam, mas Yon ini paket lengkap. Beliau jagonya bergiat di alam bebas. Trimatra dia kuasai, naik gunung, terjun payung, menyelam, dan banyak lagi,” kata Ichien.

Sementara itu, senior pecinta alam yang juga Sekretaris Jenderal Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Noor Sidharta mengungkapkan, bahwa Yon Artiono Arba’i adalah sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan sangat peka terhadap persoalan masyarakat di sekitarnya, terutama keluarga.

“Saya ini keponakan Om Yon, dan sejak kecil ikut beliau, sehingga pastinya banyak sekali jasa beliau kepada saya. Tapi tiap kali saya ingin membalas jasa Om Yon, beliau selalu mengatakan tidak usah dibalas ke dia langsung, tapi berikan saja balasan itu ke orang-orang sekitar yang lebih membutuhkan bantuan,” ujar Noor Sidharta.

Tentang Yon Artiono

Yon Artiono Arba’i dikenal sebagai pemrakarsa sekaligus pendiri  Top Mountain Stranger (TMS-7) Indonesia, sebuah perhimpunan pendaki gunung, pecinta dan penjelajah alam bebas. Pada 1971, Yon yang membawa bendera TMS-7 berbarengan dengan anggota Wanadri, melakukan ekspedisi pertama ke luar negeri, yakni ke Gunung Kinabalu, di Sabah Malaysia.

Meski mendaki bareng dengan jalur berbeda, namun tidak ada rivalitas, rasa sombong dan ego sektoral. Tim TMS-7 mendaki dari jalur Selatan Tarakan, Tawao, Sandakan, KInabalu. Sementara tim Wanadri mendaki dari arah Barat, Serawak Kuching, Kinabalu.

Sebagai penggiat alam bebas dan senior pecinta alam, Yon Artiono Arba’i menguasai trimatra, naik gunung, terjun payung, menyelam, dan banyak lagi. Ia juga kerap terlibat di banyak giat pelestarian alam, giat sosial dan sejumlah operasi SAR.

Berkat seabrek aktivitasnya dan kepedulian sosialnya, tak heran jika Yon bersama 15 orang lainnya mendapat anugerah bintang kehormatan dari Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono, pada 15 Agustus 2007 di Istana Negara, Jakarta.

Tak hanya itu, Yon yang pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bengkulu dan Sulawesi Selatan, di akhir karirnya sempat menjadi Plt Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejaksaan Agung RI.

 

 

 

 

 



Scroll to top