BERITA INDEX BERITA
Pemerintah Harus Lebih Serius Tangani Polusi Udara Mulai Dari Sumbernya

JAKARTA - Polusi udara Jakarta tak kunjung membaik. Greenpeace Indonesia
melalui aksi kreatifnya berkeliling Ibu Kota sambil membawa tulisan “Clean Air
Now”. Sebuah pesan yang dikumpulkan dari debu polusi kemudian ditangkap dengan
menggunakan hepa filter.
Aksi ini bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat dan juga
pemerintah bahwa kualitas udara Jakarta masih tercemar. Sejak Juli 2023,
kualitas udara Jakarta memburuk. Beberapa kali bahkan Jakarta menduduki
peringkat lima teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Pemerintah kemudian mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi
polusi. Dari mulai penerapan WFH untuk ASN, penyemprotan air dari atas gedung
menggunakan water mist, hingga modifikasi cuaca. Namun, upaya-upaya tersebut
belum juga membuahkan hasil.
Riset terbaru dari AQLI (Air Quality Life Index) mengungkapkan di Daerah
Khusus Ibukota Jakarta—propinsi paling berpolusi di Indonesia—10,7 juta
penduduk diperkirakan akan kehilangan rata-rata harapan hidup selama 2,4 akibat
standar yang lemah untuk pencemaran udara. Pasalnya, standar angka pencemaran
udara yang dipakai di Indonesia yaitu ISPU, masih 3-5 kali lemah dari standar
WHO.
Menurut analisis data dari Center for Research on Energy and Clean Air
(CREA), polusi udara di Jakarta telah mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa
minggu terakhir. Tren PM2.5 selama lima tahun terakhir menunjukkan pola periode
angka polusi tinggi yang berulang, yaitu pada bulan Mei hingga September.
Tingkat polusi konsisten tinggi, di mana rata-rata tingkat PM2.5 berkisar 7
hingga 9 kali lebih tinggi dibandingkan standar WHO di tahun 2021.
Data KLHK menyasar sumber emisi yang hanya terbatas dalam kota. Tidak
mempertimbangkan sebaran emisi dan kontribusi dari luar Jakarta. Menganalisis
emisi dalam wilayah yang lebih luas, dengan menggunakan radius 200 km sebagai
ilustrasi, terungkap bahwa terdapat beberapa sumber utama polusi Jakarta antara
lain pembangkit listrik, transportasi, industri, dan pembakaran terbuka.
Faktanya, Jakarta dikelilingi oleh selusin pembangkit listrik tenaga
batubara besar dalam jarak 100 kilometer. “Pemerintah harus lebih serius
menangani polusi udara, atasi polusi dari sumbernya,” ujar Bondan Andriyanu,
Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.
“Inventarisasi emisi harus dilakukan secara berkala, agar jelas
diketahui dari mana polutan berasal, gunakan subsidi untuk transportasi umum
berbasis listrik bukan untuk kendaraan listrik pribadi, dan segera lakukan
transisi energi untuk mengurangi emisi pada tingkat kota secara signifikan,”
sambungnya.
Partikulat polusi menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Data dari
UNICEF menyebutkan bahwa 600 ribu anak di seluruh dunia terancam menghirup
kualitas udara yang buruk. Ratusan ribu orang sudah terkena ISPA sejak kualitas
udara Jakarta memburuk menurut data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Kini,
warga juga tengah menanti putusan kasasi yang dilayangkan oleh Presiden dan
KLHK, sejak gugatan dimenangkan oleh warga dua tahun lalu.
















