BERITA INDEX BERITA
Pesan Harmoni Dari 0 Kilometer Kota Sabang

DI Kota Sabang, Aceh, khususnya sepanjang kawasan pantai
Iboih, mulai dari anak muda hingga orang tua bisa dipastikan mengenal istilah
snorkling (menyelam di perairan dangkal). Perjalanan wisata di sana pun menjadi
tak berarti apa-apa jika tak ber-snorkling. Bahkan, hampir sepanjang bibir
pantai yang terletak di titik 0 kilometer itu, memiliki spot-spot indah untuk
diselami.
Tak hanya menyelam, pengunjung juga bisa diving, berkeliling
pulau menggunakan perahu boat, memancing, kemping, berenang, berjemur seharian
di pantai berpasir putih, atau sekadar duduk santai melihat aktivitas nelayan
sembari dibuai angin laut dan deburan ombak, sudah cukup menghapus penat
setelah seharian berkutat dengan aktivitas.
Sebentar saja berada Kota Sabang, seketika kita akan
merasakan ketenangan dan suasana damai, serta udara segar yang jauh dari polusi
– yang kerap ditemui di banyak kota- kota besar Indonesia yang sesak dengan
gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, pemerintahan, asap kendaraan dan
aktivitas industri.
Terasa betul, kota Sabang dibangun dengan konsep
berkelanjutan, sehingga terbentuk harmoni dan kemandirian pembangunan dari
aspek sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan.
Selain pantai Iboih yang menjadi andalan wisata, masih
banyak lagi kawasan wisata lainnya di Kota Sabang yang tak kalah indah. Di
antaranya yang sudah terkenal adalah pantai pasir putih Ie Meulee, pantai Goa
Sarang, air terjun Pria Laot, Danau Aneuk Laot, Pantai Sumur Tiga, Pantai Anoi
Itam, pemandian air panas Keuneukai, Benteng Jepang, kawah Gunung Jaboi, pesona
pulau Klah, Weh dan Rubiah, dan pastinya Tugu O Kilometer yang menjadi ikon
Kota Sabang.
Karena banyaknya pilihan tempat wisata itulah, tak heran
jika Kota Sabang menjadi salah satu dari sekian banyak destinasi wisata di
Indonesia yang wajib dikunjungi. Ramainya wisatawan baik lokal maupun
mancanegara yang melancong ke kota Sabang, terutama di akhir pekan, tentu
menggairahkan perekonomian dan aktivitas kehidupan masyarakat di kota paling
ujung pulau Sumatera itu.
Rata-rata mereka menjadi guide (pemandu) snorkling, diving,
driver boat, usaha dan jasa sewa perahu, hingga mendampingi wisatawan yang
hendak memancing atau sekadar berkeliling kota Sabang yang dilingkari laut.
Seiring waktu, pedagang suvenir dan oleh-oleh juga banyak
bermunculan, menjamurmya usaha penginapan, jasa sewa atau rental kendaraan,
pusat jajanan dan kuliner, termasuk tentunya gairah di bidang transportasi baik
berupa usaha penerbangan maupun penyeberangan laut dan antarpulau.
Situasi ini dirasakan mulai bernapas kembali, pasca-tsunami
yang melanda Aceh pada 2004 silam. Pemerintah Kota Sabang mendorong masyarakat
untuk bergerak di industri kreatif.
Masyarakat didorong untuk bergerak di kuliner, akomadasi
baik hotel maupun vila, jasa travel atau industri kerajinan. Juga memperkuat
industri petani nelayan, sehingga tangkapan ikan segar bisa menjadi daya tarik.
Semua upaya tersebut dilakukan untuk mewujudkan Kota Sabang sebagai destinasi
wisata nasional bahkan internasional.
Tak bisa dibantah, kota Sabang yang terpusat di Pulau Weh,
memang memiliki banyak potensi sumber daya alam (SDA) yang sangat mendukung
pengembangan pariwisata dan perekonomian daerah itu.
Selain potensi bahari, gugusan pulau, bukit, gunung, hutan
termasuk jejak sejarah kota Sabang dan kearifan lokal masyarakat setempat, juga
bisa mendatangkan manfaat sangat besar jika dikelola dengan baik dan
berkeadilan.
Selain itu, terdapat keunikan di dalam sistem perekonomian
Kota Sabang. Pemkot setempat sengaja menerapkan sistem ekonomi mikro untuk
menggerakkan perekonomian dengan menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama
perekonomian.
Bentuk dukungan ini antara lain penyediaan lokasi dan tenda
untuk pedagang kaki lima, terutama di pasar dan kawasan wisata. Termasuk
penyediaan sarana dan prasarana serta infrastruktur berupa jalan, air bersih
dan listrik, guna memudahkan masyarakat terutama pelaku usaha, melakukan
aktivitasnya.
Keunikan konsep ekonomi mikro atau ekonomi kerakyatan yang
diterapkan Pemko Sabang ini tidak semua kota di Indonesia dapat mencontoh,
terutama kota-kota besar yang identik dengan pusat perbelanjaan dan perdagangan
kelas menengah ke atas. Bahkan, di Kota Sabang ada batasan penetrasi investor.
Namun, Kota Sabang bukannya tidak memerlukan calon investor
sama sekali untuk menanamkan modalnya di kota ini, terutama dalam rangka meningkatkan
dan menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi. Karena, besarnya potensi pariwisata
dan perairan di kota itu tentu juga membutuhkan sentuhan investor.
Dengan adanya aktivitas dan geliat pariwisata, diharapkan
terbentuk lapangan usaha yang dapat menyejahterakan masyarakat. Apalagi, 70%
PAD kota Sabang ditopang dari sektor pariwisata. Hal ini jelas memberikan
dampak signifikan bagi keberlanjutan perekonomian dan sosial di Kota Sabang.
Karena pada akhirnya, keberlangsungan sebuah kota dilihat dari kesejahteraan
dan kualitas hidup masyarakat.
Di bidang pertanian dan perikanan, Sabang juga telah lama
dikenal sebagai salah satu daerah tangkapan ikan dan penghasil cengkih, kelapa,
pala dan sedikit kakao. Untuk akses ke dalam dan luar, kota ini telah memiliki
bandara Maimun Saleh dan pelabuhan dan perdagangan bebas Sabang.
Satu hal lainnya yang mungkin bisa dibanggakan di Kota
Sabang, meski banyak didatangi turis dari luar, namun masyarakat setempat tetap
mampu mempertahankan budaya dan kearifan lokalnya, yang dikenal kental dengan
nuansa islami.
Malah turis yang datang tak segan mengikuti tradisi
masyarakat setempat, terutama cara berpakaian (walau tak mesti mengenakan
kerudung). Jika biasanya di banyak kawasan wisata Pantai pendatang bebas
berpakaian terbuka. Kalau di Sabang tidak ada turis yang berani. Pakai celana
pendek saja mereka sungkan.
















