BERITA INDEX BERITA
Usung Program ‘Merajut Potensi Desa’, Dirut Pandutani Sarjan Tahir Uji Elektabilitas di Nomor Buntut Pencalegan Dapil 1 Sumsel

JAKARTA – Direktur Utama
(Dirut) Pandutani Indonesia (Patani) Sarjan Tahir menguji elektabilitasnya di
pemilihan calon legislatif (caleg) tahun 2024 mendatang.
Jika kebanyakan para caleg
berebut nomor urut atas, namun Sarjan yang maju lewat Partai Demokrat (PD) dan
berlaga di daerah pemilihan (Dapil) 1 Sumatera Selatan (Sumsel), dengan
pede-nya mengusung omor urut buntut, yakni No 8.
“Kalau nomor urut atas tidak
terpilih itu bisa stres. Dan jika nomor urut paling bawah alias buntut bisa
meraih suara terbanyak dan menang, itu baru luar biasa. Inilah yang mau saya
uji, karena pemilih sudah cerdas, paham dengan siapa yang sudah berbuat dan yang
baru mau berbuat,” kata Sarjan dalam bincang santai di kantornya di Jakarta,
belum lama ini.
Sarjan kini menjabat Ketua
Dewan Pertimbangan (Wantim) pusat Partai Demokrat, sebuah jabatan prestisius
yang tentu tak sembarang orang bisa mendudukinya. Dan tentu wajar jika muncul
pertanyaan, kenapa sekelas Ketua Wantim hanya dapat nomor urut buntut
pencalegan dari partainya?
Atas pertanyaan ini, dengan
santai Sarjan menjawab, bahwa jabatan bukanlah satu-satunya ukuran integritas
seseorang, dan menjadi caleg bukan satu-satunya jalan untuk mengabdi kepada
partai, lebih luas lagi negara Indonesia.
“Paling penting bagaimana
kita menerima kepercayaan dari partai dan menjalankan kepercayaan itu dengan
sebaik-baiknya, berjuang untuk partai, lebih luas lagi untuk memajukan
Indonesia,” kata pria yang pernah menjadi anggota DPRD Sumsel dan anggota DPR
RI ini.
Merajut Potensi Desa, Merebut Pasar Dunia
Diketahui, kiprah Sarjan
Tahir yang juga dikenal dengan inisial ST sudah tidak diragukan lagi. Ketokohan
ST, terutama di percaturan politik Tanah Air, tak lepas dari dukungan
masyarakat kecil terutama petani dan nelayan serta pelaku UMKM.
Kepedulian ST terjadap
petani dan nelayan bukan tanpa alasan. Terlebih sudah sejak dulu sampai
sekarang, mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel ini memang terlibat aktif di
lembaga atau organisasi yang memperjuangkan hak-hak petani dan nelayan,
termasuk pelaku UMKM.
Di antaranya, ST pernah
menjabat Ketua Harian di kepengurusan pusat Masyarakat Agribisnis dan
Agroindustri (MAI), dan sampai sekarang ST juga menjabat Direktur Utama Pandutani
Indonesia (Patani) Pusat.
ST pula yang menginisiasi
berdirinya Patani, sebuah organisasi nirlaba yang memperjuangkan nasib rakyat
kecil, terutama petani, nelayan, dan pelaku UMKM. Makanya tak heran, jika sosok
ST sudah begitu melekat di kehidupan rakyat kecil.
Pada akhirnya, para petani
dan nelayan ini pula yang turut memberikan dorongan, agar ST maju pencalegan
pada 2024. Ini supaya ST bisa mewujudkan mimpi besar masyarakat kecil yang
sejahtera dan berkeadilan, dengan menggulirkan program ‘Merajut Potensi Desa,
Merebut Pasar Dunia’.
“Desa harus diprioritaskan
sehingga pembangunan akan merata dan tidak hanya terpusat di kota saja. Jika
itu terwujud, maka desa akan maju dan ekonomi akan berjalan dengan baik,” tegas
ST.
Gagas Kampung Patani
Program stategis
lainnya yang dilakukan Sarjan bersama organisasi yang dipimpinnya (Pandutani
Indonesia) adalah membuat Kampung Patani di seluruh Indonesia. Adapun Pusat
Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani terletak di Desa Cimande, Jawa Barat, berfungsi
untuk menghimpun data dan informasi sebagai bahan evaluasi atas kinerja Kampung
Patani di seluruh Indonesia.
Kampung Patani ide
brilian untuk mengeksplorasi dan mengetahui langsung apa-apa yang dibutuhkan
oleh masyarakat paling bawah. Kelompok masyarakat ini, seperti petani, nelayan,
dan pelaku UMKM tentunya butuh perhatian. Makanya konsep Kampung Patani ini
akan menjadi luar biasa dan riil jika dilakukan bersama-sama. Membangun
semangat, berkolaborasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Secara spesifik, Kampung
Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas
(tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan)
secara terpadu, ramah lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai
tambah, yang mampu menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan
tersebut.
Adapun model atau
bentuk Kampung Patani disesuaikan dengan kondisi agroekosistem dan kearifan
lokal kawasan setempat serta memerhatikan karakteristik, kondisi sosial budaya,
dan ekonomi, antara lain: Kampung Patani berbasis Kehutanan Sosial, Kampung
Patani berbasis Perkebunan, Kampung Patani berbasis Tanaman Pangan, Kampung
Patani berbasis Tanaman Hortikultura, Kampung Patani berbasis Peternakan,
Kampung Patani berbasis Perikanan/Kelautan, dan Kampung Patani berbasis
Koperasi dan UMKM.
Banyak manfaat yang
diperoleh pelaku usaha dalam kawasan Kampung Patani, di antaranya bisa
meningkatkan produktivitas, dan tersedianya saprodi, pemasaran serta pembiayaan
usaha yang difasilitasi oleh Patani melalui Koperasi Indokopat. Petani,
nelayan, koperasi dan UMKM dalam kawasan Kampung Patani juga diberi pelatihan
sesuai kebutuhan serta terciptanya kawasan usaha agribisnis yang berkelanjutan
(ramah lingkungan).
Pada aspek ekonomi,
Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi
kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus sumber
pendapatan negara.
Adapun aspek
sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya
budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Sementara di aspek
politik, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau
oleh giat Kampung Patani.
“Suatu kawasan pedesaaan,
pesisir, bahkan perkotaan dapat diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya
ada sejumlah kriteria, salah satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok
petani/peternak/nelayan dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha
budidaya/usaha tani tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan,
perikanan dan kelautan, perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan
pemasarannya,” tandas Sarjan.
















