BERITA INDEX BERITA
Peringati HKAN 2023, BKSDA Sumsel – Pemkab OKU Selatan Menanam Pohon Jenis Asli dan Lepasliarkan 78 Ekor Burung Penyebar Biji

PALEMBANG - Balai Konservasi Sumber Daya Alam
(BKSDA) Sumatera Selatan berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan melakukan penanaman pohon jenis asli dan
pelepasliaran 78 ekor burung penyebar biji di kawasan Suaka Margasatwa (SM)
Gunung Raya Kabupaten OKU Selatan.
Pelaksanaan kegiatan ini bertepatan dengan
peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal
10 Agustus tahun 2023, serta dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun
Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78.
Kawasan SM Gunung Raya, yang secara administratif
terletak di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, merupakan kawasan
konservasi dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.
Kawasan ini dikelilingi sekitar 30 desa yang
berbatasan langsung dengan kawasan hutan, sehingga perlu peningkatan mutu
interaksi sinergis antara sistem sosial ekonomi masyarakat sekitar dengan
sistem ekologi kawasan SM Gunung Raya seluas 44.996,11 hektar ini.
Dalam upaya meningkatkan mutu tersebut, BKSDA
Sumatera Selatan bersama para pihak melakukan penanaman pohon jenis asli,
meliputi merawan (Hopea odorata), pulai (Alstonia scholaris), petai (Parkia
speciosa), dan durian (Durio zibethinus).
Penanaman jenis asli berpengaruh pada kemampuan
mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, serta pada jangka panjang dapat
memberikan keuntungan pada masyarakat sekitarnya.
Dalam kesempatan terpisah, Bupati OKU Selatan Popo
Ali Martopo menyampaikan bahwa penanaman pohon merupakan treatment yang tepat
untuk daerah OKU Selatan, mengingat daerahnya termasuk rawan terdampak bencana.
Lokasi penanaman tersebut sekaligus merupakan bagian
dari pelaksanaan target pemulihan ekosistem kawasan SM Gunung Raya seluas 1.800
ha yang merupakan kewajiban rehabilitasi DAS pemegang IPPKH, sebagaimana
tertuang dalam program kerja sama antara Balai KSDA Sumsel dengan PT Bukit
Asam.
Lokasi ini juga masuk dalam salah satu lokasi target
Indonesia’s Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 dengan luasan
6.988,89 ha yang dilaksanakan melalui kegiatan peningkatan cadangan karbon; dan
seluas 7.121,76 ha lainnya melalui pencegahan deforestasi mineral. Kegiatan ini
secara berkelanjutan akan dilaksanakan bersama dengan masyarakat setempat yang
merupakan mitra konservasi BKSDA Sumsel.
Selain penanaman, dalam kegiatan ini juga dilakukan
pelepasliaran 78 satwa burung yang merupakan salah satu upaya dalam
penyelamatan populasi satwa liar di habitatnya.
Terdapat 12 jenis satwa burung yang dilepasliarkan,
terdiri dari punai gading (Treron vernans), tekukur biasa (Streptopelia
chinensis), jalak kebo (Acridotheres javanicus), perkutut (Geopelia striata),
ciung air melayu (Mixomis gularis), cabai bunga api (Dicaeum trigonotigma),
burung madu pengantin (Nectarinia sperata), cucak kuning (Pycnonotus
melanicterus), cucak kuricang (Pycnotus atriceps), empuloh ragum (Alophoixus
ochraceous), burung madu belukar (Anthreptes singalensis), dan kacamata biasa
(Zosterops palpebrosus).
Kepala BKSDA Sumsel Ujang Wisnu Barata menyampaikan
bahwa sebanyak 78 individu satwa burung yang dilepasliarkan berasal dari
serahan masyarakat dan serahan hasil penyitaan Balai Pengamanan dan Penegakan
Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera dari penggagalan
pengiriman burung oleh warga Lahat.
“Sebelum dilepasliarkan, satwa-satwa tersebut telah
diperiksa kesehatannya, meliputi kondisi satwa, kesehatan fisik dan bebas dari
penyakit, pemeriksaan sifat atau karakter liar satwa, serta memastikan
satwa-satwa tersebut siap dan layak untuk dilepasliarkan ke habitat alaminya,”
terang Ujang.
Kegiatan pelepasliaran ini merupakan bentuk
konsistensi pelaksanaan program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) “Living in Harmony with Nature: Melestarikan Satwa Liar Milik Negara”,
sekaligus sebagai rangkaian agenda BKSDA Sumatera Selatan dalam rangka
Peringatan HKAN 2023 yang puncak acaranya akan dilaksanakan pada bulan Oktober
2023 di TWA Tangkiling, Kalimantan Tengah.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang
telah berpartisipasi aktif dalam konservasi hidupan liar. Mudah-mudahan
satwa-satwa yang dilepasliarkan ini dapat bertahan hidup dan berkembang biak di
habitat barunya,” pungkas Ujang.
Wakil Bupati OKU Selatan Sholehien Abuasir yang
turut hadir langsung, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan
ini, karena menurutnya bermanfaat dalam memberikan edukasi bagi masyarakat di
daerah yang berbatasan dengan kawasan hutan.
“Hutan sebagai penopang kehidupan di daerah OKU
Selatan mendapat prioritas untuk kita jaga bersama, bukan hanya BKSDA Sumatera
Selatan tetapi seluruh elemen masyarakat,” pesan Sholehien.
Dalam rangkaian penyelenggaraan ini, BKSDA Sumsel
juga melaksanakan edukasi konservasi alam melalui kunjungan ke SMPN 1 Buay
Pemaca dan SMAN 1 Buay Pemaca.
Materi yang disampaikan berkaitan dengan upaya
pelestarian satwa liar melalui pelepasliaran di habitat alaminya, serta berbagi
pengetahuan dan wawasan mengenai pemulihan ekosistem kawasan konservasi,
khususnya kawasan SM Gunung Raya.
Kegiatan edukasi ini menjadi pengantar sekaligus
overview bagi siswa/i mengenai agenda kolaborasi BKSDA Sumsel dengan Pemkab OKU
Selatan pada peringatan HKAN di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Buay Pemaca,
Kabupaten OKU Selatan, yang juga mengundang kedua sekolah tersebut untuk hadir
dan berpartisipasi.
Kegiatan dihadiri lebih dari 300 orang peserta, yang
berasal dari jajaran lingkup Pemkab OKU Selatan; serta para camat dan para
kepala desa; guru dan siswa/i lingkup Kecamatan Buay Pemaca, pada tingkat SD,
SMP, dan SMA; mitra swasta; serta organisasi/komunitas masyarakat.(*)
















