BERITA INDEX BERITA
Buku Susuk Kapal Borobudur Gelorakan Semangat Cinta Bahari

JAKARTA - Kerinduan akan gelora kebaharian
menyeruak di acara bedah buku “Susuk Kapal Borobudur”, yang berlangsung di
Tentang Kopi, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (30/7). Buku anyar ini berkisah tentang
Ekspedisi Kapal Borobudur yang berlayar dari Indonesia ke Afrika dalam
rangka membawa misi kebudayaan, pada 2003 silam.
Selain bercerita tentang petualangan, historis, dan
seabrek dinamika selama pelayaran, kisah dalam buku bergaya novel ini juga
membangkitkan memori tentang narasi besar bangsa Indonesia sebagai bangsa
bahari.
Anggota Kehormatan
Mapala Universitas Indonesia (UI) Syamsirwan Ichien, yang hadir dalam acara
bedah buku, berharap generasi muda Indonesia lebih mengenal identitas bangsanya
sebagai bangsa bahari.
Untuk itulah, Ichien
mendorong para generasi muda untuk memiliki semangat kebaharian, sebagaimana
yang diceritakan dalam buku Susuk Kapal Borobudur. Sebagai bangsa bahari
dan terkenal dengan slogannya “Nenek Moyangku Orang Pelaut”, sudah sepatutnya
generasi muda mencintai laut berikut segenap potensi yang ada di dalamnya.
“Generasi muda mesti tahu
dunia pelayaranan, minimal tahu apa itu kapal layar, bagaimana mengemudikannya.
Ini penting agar generasi muda Indonesia tidak kehilangan identitas
kebangsaannya,” tutur Ichien.
Ichien bercerita, pada
1988 silam, seorang jurnalis sekaligus petualang, Effendi Sulaiman pernah berlayar
dengan perahu kayu berukuran kecil. Ekspedisi yang diberi nama Cadik Nusantara ini, dilakukan Effendi Sulaiman seorang diri
dan sukses berlayar sampai ke Brunei Darussalam.
“Saya waktu itu
sempat mendokumentasikan ekspedisi tersebut, memotret kapalnya dan sempat juga
menjajal kapalnya. Tapi sayang, walau banyak catatan dan berita di media
tentang ekspedisi tersebut, tapi tidak sempat dibukukan. Jadi generasi muda
juga banyak yang tidak tahu ceritanya, terputus,” ujar Ichien.
Ia mengatakan, dengan
hadirnya buku ‘Susuk Kapal Borobudur’ bisa menambah bacaan dan sedikit memberi
pengetahuan tentang dunia pelayaran kepada generasi muda.
“Apalagi buku ini
ditulis langsung oleh empat kru dari tim Ekspedisi Kapal Borobudur dan bukunya bergaya
novel pula, sehingga enteng dibaca. Mudah-mudahan generasi muda khususnya
kalangan milenial menyenangi buku ini, dan tertarik untuk berlayar,” katanya.
Setali tiga uang,
salah satu penulis buku, Muhammad Habibie juga berharap, buku yang mereka tulis
bisa menularkan semangat cinta bahari kepada generasi muda.
“Orang Indonesia
memang banyak yang bisa buat kapal dari kayu. Tapi tak banyak lagi masyarakat kita
yang paham dua pengetahuan tentang kapal, yakni ilmu perbintangan atau navigasi
laut, dan teknik melayarkan kapal. Hanya segelintir orang yang tahu cara
menaikkan layar, mengendalikan kemudi kapal,” ujar Habibie.
Untuk itulah, kata
Habibie, dirinya bersama tiga penulis lainnya, yakni Abdul Aziz, Mujoko dan Irvan
Risnandar, berinisiatif menulis tentang pengalaman Ekspedisi Kapal Borobudur
yang mereka jalani, dalam sebuah buku.
“Kita ingin
memberikan manfaat lebih kepada generasi muda tentang ekspedisi yang pernah
kita jalani dulu, tahun 2003. Agar generasi muda tahu tentang kebaharian, tahu
tentang kapal berikut potensi lautnya yang luas, yang pada akhirnya generasi
muda punya ketertarikan untuk berlayar,” tukasnya.
Novelis Irene Dyah
Respati mengucapkan terima kasih atas hadirnya buku novel Susuk Kapal
Borobudur. Dia berharap, ke depan semakin banyak lagi buku khususnya novel
yang bercerita tentang kapal atau dunia pelayaran.
“Bangsa kita kan
bangsa bahari, yang tentunya tak lepas dari kapal. Tapi, sepengetahuan saya
hanya ada satu novel yang bercerita tentang kapal, judulnya Pada Sebuah
Kapal, yang ditulis Nh.Dini. Jadi sangat kurang sekali,” katanya.
Tentang Buku ‘Susuk Kapal Borobudur’
Buku Susuk Kapal Borobudur berkisah tentang anak-anak
muda Indonesia yang saat itu menjadi kru Ekspedisi Kapal Borobudur. Ekspedisi ini
sebagai wujud nyata untuk membangkitkan semangat bahari pemuda Nusantara.
Selama tujuh bulan, para kru yang saat itu masih
berstatus mahasiswa mengendarai kapal kayu berukuran 18,29 meter, menempuh
medan berat perairan Indonesia-Afrika yang berjarak 11.000 mil. Ketangguhan
mereka mengarungi lautan dan samudera selama perjalanan Ekspedisi Kapal
Borobudur, hal luar biasa yang patut diapresiasi.
Kapal layar tak bermesin yang hanya mengandalkan kekuatan
angin, lepas landas dari laut Pagerungan, Jawa Timur (tempat dibuatnya Kapal
Borobudur), tiba di perairan Ancol Jakarta (dilepas secara resmi oleh Presiden
RI kelima Megawati Soekarno Putri), menjelajah dua samudera Hindia dan
Atlantik, melintasi Madagaskar, hingga berakhir di Ghana, Afrika
Diceritakan pula dalam buku terbitan Kayasa ini, Ekspedisi
Kapal Borubudur digagas Philip Belae, saat berkunjung untuk kali pertama ke
Candi Borobudur, pada 8 November 1982.
Kala itu, turis asal Inggris yang masih berusia 20 tahun
ini, mengamati dengan seksama panel demi panel relief pada dinding Candi
Borobudur. Bak membaca lembaran buku, ia terpaku saat matanya menatap relief
Jataka-Avadana panel 86.
“Wow, menakjubkan! Kapal apa ini?” lama kakinya
terpaku di tempat itu. Ketika sudah beranjak lagi, dia kembali menemukan panel
yang menggambarkan kapal. “Paling tidak ada tiga jenis kapal,” ujar Philip
sebagaimana ditulis dalam buku ini.
Philip langsung membidikkan kamera yang dibawanya ke
relief-relief candi. Ia tak mau ada bagian relief yang terlewatkan. Setiap
detail relief direkam dengan penuh seksama. Tak terasa ia sudah menghabiskan 6
jam hanya untuk membaca 2.672 panel relief. Tentu, waktu paling lama dihabiskan
di panel-panel yang menggambarkan keberadaan kapal.
Kembali ke negaranya, Philip melanjutkan kuliah jurusan
politik di The University of Hull, di negerinya Ratu Elizabeth II. Memori
relief-relief di Candi Borobudur itu selalu menggoda hati. “Aku akan mewujudkan
kisah yang ada pada relief Borobudur,” gumam dia.
Kapal siapa itu, sampai di mana kapal itu berlayar, dan
untuk apa kapal itu berlayar? Rentetan pertanyaan itu selalu tergiang-ngiang di
kepala Philip. Waktu berlalu bak kitiran tanpa henti. Telah empat tahun
berlalu. Philip sudah berdinas di Angkatan Laut Inggris dengan pangkat letnan
dua.
Sebagai perwira muda, ia pernah keliling Eropa dengan
kapal perusak HMS Cardiff. Tapi pelet relief Candi Borobudur yang menggambarkan
belasan pelaut tengah berlayar dengan kapal bercadik dan tiga layar itu kian
melekat pekat di benaknya.
“Kalau dari slogan orang Indonesia yang sering mengaku
nenek moyang pelaut, sangat masuk akal karena wilayah mereka kepulauan. Tidak
ada cara lain selain berlayar untuk berhubungan antarpulau,” demikian Philip
merenung. Ia juga paham, banyak pelaut asal Indonesia saat ini yang menjadi
pelaut di kapal niaga di seantero dunia.
Benarkah dulu nenek moyang bangsa Indonesia pelaut, atau
kerjanya sekadar menarik jangkar, memutar kemudi, dan membalik layar, dengan
kata lain hanya pekerja?
Atau sebaliknya, suatu bangsa yang di samping pelaut
tangguh juga menguasai jalur perdagangan laut, memiliki angkatan perang laut
yang disegani, dan nelayannya hidup layak pada masanya?
Philip terus mencoba-coba menerka dan mencari jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan rumitnya itu. Hingga akhirnya, setelah 21 tahun
berselang, persisnya tahun 2003 atau saat Philip berusia 41 tahun, barulah ia
kembali lagi ke Indonesia.
Bersama para pemuda tangguh Indonesia dan dari sejumlah
negara lainnya, akhirnya Philip mewujudkan mimpi besarnya. Membuat Ekspedisi
Kapal Borobudur yang di-support penuh oleh Pemerintah Indonesia dan
pihak terkait lainnya.
















