BERITA INDEX BERITA
Riset Biologi Molekuler dan Bioteknologi Terkini untuk Virus Hepatitis

CIBINONG - Pemerintah
Indonesia telah membentuk Hepatitis Control Program pada 2012, untuk
menanggulangi penyakit hepatitis. Selain itu juga mengeluarkan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penanggulangan
Hepatitis Virus.
Pemerintah telah melakukan berbagai
upaya secara nasional untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit, di antaranya
program vaksinasi virus hepatitis B (VHB) pada bayi baru lahir sebagai upaya
pencegahan infeksi VHB yang sudah dilaksanakan sejak 1997, skrining donor
darah, dan upaya promosi kesehatan lainnya.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti
menyatakan, mengingat tingginya kasus penyakit hati di Indonesia, baik dalam
bentuk infeksi hepatitis kronis dan kanker hati, dibutuhkan suatu strategi
berkesinambungan secara nasional.
Indi juga mengingatkan, penanganan dan strategi pengendalian hepatitis di
Indonesia membutuhkan kerja sama banyak pihak dan stakeholder kesehatan
masyarakat.
Selain itu, diperlukan peran serta peneliti dan akademisi untuk melakukan
penelitian berkesinambungan dan strategi penanggulangan hepatitis, termasuk
pengembangan vaksin maupun antivirus terkini.
“Untuk it, diperlukan komunikasi ilmiah yang membahas informasi terbaru
mengenai penyebaran dan penanggulangan penyakit hati di Indonesia,"
katanya.
Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBME) BRIN Elisabeth
Farah Novita Coutrier menyebutkan, riset dan inovasi terkait penanganan dan strategi pengendalian
penyakit hepatitis terus dilakukan di PRBME.
Beberapa riset yang dilakukan di antaranya penelitian untuk mengungkap
mutasi penyebab kegagalan vaksinasi hepatitis B, dan mutasi penyebab kegagalan
deteksi dan pada progresivitas penyakit, misalnya sirosis dan kanker hati.
Selain itu juga penelitian mengenai penularan virus hepatitis secara
vertikal dari ibu dan anak, juga penelitian pada populasi khusus, misalnya
tenaga medis dan populasi orang yang tinggal serumah dengan penderita.
Selain itu, penelitian juga dilakukan pada pejamu dan organ hati, terutama
mengenai faktor onkogenik VHB dan virus hepatitis C (VHC) yang dapat
menyebabkan penyakit karsinoma hepatoseluler.
Elisabeth juga mengungkapkan upaya untuk mempelajari tingkat keanekaragaman
genetik VHB dan VHC, serta upaya memahami variasi karakteristik genetik dari
virus maupun pejamu perlu terus dilakukan.
"Variasi karakteristik genetik virus dapat
memengaruhi manifestasi penyakit akibat infeksi VHB dan VHC, terutama mekanisme
patogenesis karsinoma hepatoseluler terkait VHB dan VHC," jelasnya.
















