BERITA INDEX BERITA
Indonesia Inisiasi 51 Negara Pulau dan Kepulauan di AIS Forum Kolaborasi Hadapi Tantangan Global

JAKARTA -
Sejak terbentuk empat tahun lalu, Archipelagic and Island States (AIS)
forum rutin menggelar pertemuan Senior
Official Meeting (SOM) dan pertemuan Ministerial Meeting (MM) tiap
tahun. Forum ini melibatkan partisipasi 51 negara pulau dan kepulauan, tanpa
memandang luas wilayah, ukuran, atau tingkat perkembangan.
Archipelagic
and Island States (AIS) Forum, adalah platform
kerja sama konkret yang dibentuk untuk mewadahi negara-negara pulau dan
kepulauan di seluruh dunia untuk bersama-sama mengatasi tantangan dan
permasalahan yang dihadapi, khususnya pada sektor pembangunan kelautan.
AIS
Forum merupakan wadah negara-negara pulau dan kepulauan yang terbentuk sejak
2018, melalui Manado Joint Declaration,
atas inisiatif Indonesia bekerja sama dengan United Nations
Development Programme (UNDP).
“Indonesia
telah menginisiasi pembentukan AIS Forum sejak 2017. AIS Forum ini dibentuk
untuk mendorong kolaborasi antar negara pulau dan kepulauan di seluruh dunia
untuk bersama-sama mengatasi tantangan dan permasalahan yang dihadapi,
khususnya pada sektor pembangunan kelautan dan mitigasi perubahan iklim serta
penanggulangan pencemaran di laut,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator
Ayodhia G. L. Kalake saat melakukan cek lokasi KTT AIS Forum di Bali.
Tujuan
utama AIS Forum adalah untuk memperkuat kolaborasi dalam mengatasi permasalahan
global dengan empat area utama yakni mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,
ekonomi biru, penanganan sampah plastik di laut, dan tata kelola maritim yang
baik. Hal ini mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan
ketahanan terhadap perubahan iklim.
"AIS
Forum menjadi platform unik yang menghimpun negara-negara pulau dan kepulauan
dari berbagai wilayah. Tujuan kami adalah mendorong aksi kolaboratif dan
mengatasi tantangan bersama yang dihadapi oleh negara-negara ini dalam
mengatasi permasalahan global dengan empat area utama,” ujar dr. Abdul Wahib Situmorang
(Ucok), Senior Advisor for Climate and
Environmental Governance, AIS Program Manager.
Kedua,
AIS Forum berusaha mempromosikan keberlanjutan ekonomi biru. Dalam kerangka
ini, forum ini mendorong pemanfaatan potensi ekonomi yang berkelanjutan yang
terkait dengan sumber daya kelautan. Beberapa sektor yang menjadi fokus adalah
pariwisata, energi terbarukan, akuakultur, dan industri kelautan.
Selanjutnya,
AIS Forum bertujuan untuk mengatasi masalah marine plastic
debris atau sampah plastik laut. Forum ini berupaya mengurangi
dan mencegah polusi plastik di laut dengan menggalang kesadaran, mengurangi
penggunaan plastik sekali pakai, serta mengelola limbah plastik dengan
bijaksana.
Terakhir,
melalui kerja sama antara negara-negara yang berpartisipasi, AIS Forum
bertujuan untuk memperkuat tata kelola laut yang baik, pengelolaan wilayah laut
yang berkelanjutan, dan pengelolaan sumber daya kelautan yang adil dan
berkelanjutan.
“Melalui
AIS Forum, kami bertujuan untuk mempromosikan tindakan konkret, keterlibatan
pemuda, dan solusi inovatif guna meningkatkan mata pencaharian komunitas
pesisir. Bersama-sama, kita dapat memberikan dampak yang signifikan dan
mencapai tujuan global, termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada tahun
2030," lanjut Abdul.
Selain
empat area kerja sama ini, AIS Forum juga membuka pintu untuk kerja sama dengan
platform dan organisasi lainnya guna memperkaya perspektif dan mencapai tujuan
global yang lebih luas. Forum ini juga memberikan perhatian khusus pada
pemberdayaan pemuda dan masyarakat pesisir melalui ide, kreativitas, dan solusi
inovatif.
“Apabila
kerja sama dengan negara AIS berjalan baik, AIS akan menjadi kekuatan tersendiri
di kancah dunia, menjadi organisasi multiregional di seluruh samudera. Negara
pulau dan kepulauan akan berperan lebih besar dalam arah kebijakan tata
kelautan dunia. Melalui AIS Forum Indonesia secara strategis dapat mewujudkan
diplomasi internasional yang bebas aktif,” jelas Sesmenko Ayodhia.
Di
samping itu, Plt. Asisten Deputi (Asdep) Zona Delimitasi Zona Maritim Dan
Kawasan Perbatasan, Sora Lokita (Oki) juga menyampaikan bahwa Indonesia
memiliki peran penting dan strategis di AIS Forum, kepemimpinan Indonesia
sangat dibutuhkan untuk menjembatani kolaborasi antara negara maju dan negara
berkembang di AIS.
Posisi
Indonesia memungkinkan mendorong kolaborasi yang konkret dan inklusif antar
negara tanpa melihat perbedaan status ekonomi maupun luasan wilayah.
Ia
juga menambahkan, apabila kerja sama dengan negara AIS berjalan baik, maka AIS
dapat berperan lebih besar dalam kerja sama kelautan global,
mengingat adanya keseragaman komitmen dan ciri khusus secara geografis di
kancah dunia.
Indonesia berencana menggelar Konferensi Tingkat Tinggi
(KTT) AIS Forum di Bali pada 11 Oktober 2023 yang akan dihadiri oleh kepala
negara/kepala pemerintahan dari negara partisipan AIS Forum.
















