BERITA INDEX BERITA
Mahasiswa dan Masyarakat Kegiatan Tanam 1.000 Mangrove Bersiap Menunggu Kedatangan Gubernur Sumsel

PALEMBANG – Mahasiswa dan masyarakat yang akan menanam 1.000 bibit mangrove
di desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Senin
(24/7/2023) pagi ini, bersiap menunggu kedatangan Gubernur Sumsel Herman Deru.
“Walau belum terkonfirmasi, kami tetap menunggu kedatangan gubernur
untuk bisa membuka acara ini dan bergabung bersama kami menanam mangrove,” kata
Ketua Panitia Muhammad Nasir, Senin (24/7/2023).
Nasir mengatakan, selain bisa memberi semangat kepada masyarakat, kedatangan
gubernur juga sebagai bukti nyata dukungan kepala daerah mewujudkan Indonesia’s
FOLU Net Sink 2030.
Selain menanam mangrove, kegiatan yang diinisiasi Mapala Gema Persada
LH, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang (FP-UMP), ini juga
akan melakukan observasi keanekaragaman hayati yang ada di lahan mangrove,
kampanye penyelamatan lingkungan, hingga sosiologi pedesaan (sosped).
“Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 22-26 Juli 2023. Selain
mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan masyarakat sekitar. Kita libatkan
masyarakat agar terbangun kesadaran untuk bersama menjaga alam dan lingkungan,”
kata Nasir.
Diketahui,
FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui aksi
mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan lahan
dengan kondisi di mana tingkat serapan sudah lebih tinggi dari tingkat emisi
pada tahun 2030.
Kebijakan
ini lahir sebagai bentuk keseriusan Indonesia dalam rangka mengurangi emisi gas
rumah kaca serta mengendalikan perubahan iklim yang terjadi beserta dampaknya.
Indonesia’s
FOLU Net Sink 2030 diamanatkan di dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021
tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi
yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam
Pembangunan Nasional.
Pada
Pasal 3 Ayat (4) disebutkan bahwa pengurangan emisi GRK utamanya didukung oleh
sektor kehutanan sebagai penyimpan karbon dengan pendekatan carbon net sink
(penyerapan karbon bersih yang merujuk pada jumlah penyerapan emisi karbon yang
jauh lebih banyak dari yang dilepaskannya).
Program
ini menggunakan empat strategi utama, yaitu menghindari deforestasi, konservasi
dan pengelolaan hutan lestari, perlindungan dan restorasi lahan gambut, serta
peningkatan serapan karbon.
Komitmen
Indonesia melalui Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 mendorong tercapainya tingkat
emisi GRK sebesar minus (-) 140 juta ton CO2e pada tahun 2030 dan dilaksanakan
melalui pendekatan yang terstruktur dan sistematis.
Sektor
FOLU juga memiliki peran besar dalam upaya pencapaian target Net Zero Emission
(NZE) nasional, dari net emitor menjadi penyerap bersih GRK. Setidaknya ada 15
kegiatan aksi mitigasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yaitu pengurangan laju
deforestasi lahan mineral, pengurangan laju deforestasi lahan gambut dan
mangrove, dan pengurangan laju degradasi hutan-hutan lahan mineral.
Lalu, pengurangan
laju degradasi hutan lahan gambut dan mangrove, pembangunan hutan tanaman, pengelolaan
hutan lestari, rehabilitasi dengan rotasi, rehabilitasi non-rotasi, restorasi
gambut dan perbaikan tata air gambut, rehabilitasi mangrove dan aforestasi pada
kawasan bekas tambang.
Kemudian,
konservasi keanekaragaman hayati, erhutanan sosial; introduksi replikasi
ekosistem, ruang terbuka hijau, dan ekoriparian, pengembangan dan konsolidasi
hutan adat; dan pengawasan dan law enforcement dalam mendukung perlindungan dan
pengamanan kawasan hutan.
ementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia dan Badan Pembangunan
Internasional Amerika Serikat (USAID) meluncurkan kemitraan baru di bidang
iklim dan konservasi yaitu Perjanjian Bilateral Kerangka Kerja Bilateral FOLU
Net Sink.
Perjanjian
bilateral yang ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti
Nurbaya, dan Administrator USAID Samantha Power di Jakarta, Senin, 17 Juli
2023, akan mendukung upaya-upaya Indonesia untuk mencapai tujuan Forestry and
Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Agenda FOLU
Net Sink 2030 secara resmi telah diluncurkan oleh Presiden Jokowi saat
Konferensi COP 26 di Glasgow bulan November 2021 dan telah dituangkan ke dalam
Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030 yang diterbitkan dengan Surat Keputusan
Menteri LHK di bulan Februari 2022.
Pada bulan
Mei 2022, KLHK menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan USAID
Indonesia sebagai wujud dukungan Amerika Serikat terhadap implementasi Rencana
Operasional tersebut, dan ini menjadi MoU yang pertama dari sejumlah MoU
bilateral lainnya yang mendukung FOLU Net Sink 2030.
“Perjanjian
Bilateral yang baru ini merupakan tindak lanjut dari Fact Sheet Gedung Putih
yang dibahas oleh Presiden Jokowi dan Presiden Biden saat pertemuan bilateral
di KTT G20 di Bali tahun lalu,” kata Menteri Siti Nurbaya.
Menteri
Siti Nurbaya menekankan bahwa Perjanjian Bilateral tersebut merepresentasikan
peranan pendanaan iklim untuk mendukung upaya-upaya Indonesia selama ini dalam
mencapai agenda FOLU Net Sink 2030.
Agenda ini
membutuhkan pengeluaran yang diproyeksikan sebesar 14,57 miliar dolar AS, yang
hingga saat ini terutama bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) Indonesia.
Administrator
USAID Samantha Power menyatakan Perjanjian Bilateral ini akan membantu
upaya-upaya Indonesia yang telah berjalan dalam pencegahan degradasi hutan;
rehabilitasi mangrove dan restorasi gambut; serta perlindungan satwa liar
Indonesia.
Halaman 1 / 2
“Dukungan
ini akan melanjutkan upaya yang dilakukan Indonesia selama tujuh tahun terakhir
untuk mengurangi deforestasi hingga hampir dua pertiga. Dan dukungan ini akan
membantu melestarikan sumber daya vital yang diberikan oleh hutan Indonesia
yang indah dan menakjubkan: penyerap karbon yang sangat penting untuk
menstabilkan iklim,” katanya.
Selama
Pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia telah mencatat kemajuan yang
mengesankan di bidang konservasi hutan, penurunan laju deforestasi hingga 65
persen dalam tujuh tahun terakhir, menjadi yang terdepan di dunia dalam
meningkatkan perlindungan hutan.
Duta Besar
AS untuk Indonesia, Sung Y Kim, menyatakan, Perjanjian Bilateral ini memperkuat
kemitraan AS untuk mendukung ketahanan Indonesia terhadap perubahan iklim dan
untuk meningkatkan konservasi dan keanekaragaman hayati, termasuk melindungi
spesies ikonik Indonesia seperti orangutan.
Melalui
Perjanjian Bilateral yang baru ini, USAID bermaksud memberikan kontribusi
hingga 50 juta dolar AS selama lima tahun guna mendukung Tujuan iklim dan
keanekaragaman hayati dalam agenda FOLU Net Sink 2030.
















