BERITA INDEX BERITA
Tak Lekang Dimakan Zaman, Surat Masih Menjadi Alat Diplomasi Presiden RI

Deputi DKK
Thanon Aria Dewangga didampingi Asdep Naster Yuyu Mulyani serta Penerjemah Ahli
Madya Rahmi Yuliastri berbincang dengan narasumber DKT “Peran Strategis Surat
Presiden dalam Penguatan Hubungan Diplomatik di Era Digital”, Jumat
(21/07/2023), di Bogor, Jawa Barat. (Foto: Humas Setkab/Oji)
JAKARTA - Sekretariat Kabinet (Setkab) melalui
Asisten Deputi Bidang Naskah dan Penerjemahan (Asdep Naster) menggelar Diskusi
Kelompok Terpumpun (DKT) dengan tema “Peran Strategis Surat Presiden dalam
Penguatan Hubungan Diplomatik di Era Digital”, Jumat (21/07/2023), di Bogor,
Jawa Barat.
Deputi Bidang Dukungan Kerja Kabinet (DKK), Setkab,
Thanon Aria Dewangga menyampaikan, di tengah era digital saat ini surat masih
menjadi alat diplomasi yang digunakan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Beberapa di antaranya adalah surat terkait pencalonan Indonesia sebagai tuan
rumah Piala Dunia U-23 dan Olimpiade.
“Presiden tidak hanya sering memberikan surat
kepada kepala negara, kepala pemerintahan, tetapi juga kepada kepala-kepala
organisasi internasional, contoh Presiden FIFA [Federasi Sepak Bola
Internasional], IOC [Komite Olimpiade Internasional], kemudian ada juga
beberapa organisasi-organisasi lain,” ujar Thanon.
Diplomasi melalui surat tersebut, kata Thanon,
saling melengkapi dengan upaya diplomasi lain yang dilakukan Presiden,
seperti megaphone diplomacy yang dilakukan melalui sedia digital.
“Misalnya pada saat beliau [Presiden Jokowi]
melaksanakan jamuan santap siang kenegaraan dengan Raja Arab Saudi. Sebelum
santap siang beliau nge-vlog bersama Raja Arab Saudi. Itu memang
mendapatkan apresiasi yang sangat baik yang sangat positif bagi
penggiat-penggiat media,” ujarnya.
Thanon pun berharap semua pihak yang terlibat dalam
penyiapan surat presiden mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dengan
tetap mempertahankan tradisi yang ada.
“Kita perkuat komitmen kita untuk tetap mengakar
pada masa lalu kita karena tradisi surat-menyurat itu sudah terjadi sejak
ratusan tahun yang lalu,” kata dia.
“Kemudian kita juga harus melihat masa kini,
kondisi dan juga situasi yang terjadi dengan adanya perkembangan teknologi
informasi dan kita juga harus bisa memprediksi ke depan kira-kira fenomena
apalagi yang harus kita hadapi sehingga kita nanti tidak tergagap gagap pada
saat menghadapinya,” sambungnya.
Sebelumnya, Asdep Naster Yuyu Mulyani dalam
laporannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan DKT ini bertujuan untuk
memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para penyiap naskah presiden
mengenai peran penting surat presiden dalam membangun dan memperkuat hubungan
diplomatik, kerja sama, dan persahabatan dengan negara sahabat dan organisasi
internasional.
“Para penyiap naskah presiden diharapkan dapat
memahami dengan baik dan mampu mengejawantahkan kebijakan politik luar negeri
Indonesia tanpa mengesampingkan point of intimacy dengan penerima
surat, ” ujar Yuyu.
Diskusi ini menghadirkan narasumber Didik Eko
Julianto dari Sekretariat Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler,
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta Abdul Malik Gismar, pengajar pada
Paramadina Graduate School of Communication, Jakarta.
Turut hadir dalam DKT, antara lain, perwakilan dari
Kementerian Koordinator Kemlu Luar Negeri, Kementerian Pemuda dan Olahraga
(Kemenpora), Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kementerian
Sekretariat Negara (Kemensetneg), Kementerian Pertahanan (Kemenhan),
Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, serta Setkab.
















