BERITA INDEX BERITA
Wujudkan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Gubernur Sumsel Bersama Gema Persada LH Tanam 1.000 Bibit Mangrove

PALEMBANG – Mewujudkan FOLU Net Sink 2030, Gubernur
Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru bersama mahasiswa pencinta alam (Mapala)
di Palembang direncanakan menanam 1.000 bibit mangrove di pesisir Sumatera,
persisnya di desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin,
Provinsi Sumsel.
Selain menanam mangrove, kegiatan yang diinisiasi mahasiswa
yang tergabung di organisasi Gema Persada LH, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah
Palembang (FP-UMP), ini juga akan melakukan observasi keanekaragaman hayati
yang ada di lahan mangrove, kampanye penyelamatan lingkungan, hingga sosiologi
pedesaan (sosped).
“Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 22-26 Juli
2023. Selain mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan masyarakat sekitar. Kita
libatkan masyarakat agar terbangun kesadaran untuk bersama menjaga alam dan
lingkungan,” kata Ketua Panitia Muhammad Nasir, Sabtu (22/7/2023).
Diketahui, FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang
ingin dicapai melalui aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari
sektor kehutanan dan lahan dengan kondisi di mana tingkat serapan sudah lebih
tinggi dari tingkat emisi pada tahun 2030.
Kebijakan ini lahir sebagai bentuk keseriusan Indonesia
dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca serta mengendalikan perubahan
iklim yang terjadi beserta dampaknya.
Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 diamanatkan di dalam
Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi
Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan
Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional.
Pada Pasal 3 Ayat (4) disebutkan bahwa pengurangan
emisi GRK utamanya didukung oleh sektor kehutanan sebagai penyimpan karbon dengan
pendekatan carbon net sink (penyerapan karbon bersih yang merujuk pada jumlah
penyerapan emisi karbon yang jauh lebih banyak dari yang dilepaskannya).
Program ini menggunakan empat strategi utama, yaitu
menghindari deforestasi, konservasi dan pengelolaan hutan lestari, perlindungan
dan restorasi lahan gambut, serta peningkatan serapan karbon.
Komitmen Indonesia melalui Indonesia’s FOLU Net Sink
2030 mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar minus (-) 140 juta ton
CO2e pada tahun 2030 dan dilaksanakan melalui pendekatan yang terstruktur dan
sistematis.
Sektor FOLU juga memiliki peran besar dalam upaya
pencapaian target Net Zero Emission (NZE) nasional, dari net emitor menjadi
penyerap bersih GRK. Setidaknya ada 15 kegiatan aksi mitigasi Indonesia’s FOLU
Net Sink 2030, yaitu pengurangan laju deforestasi lahan mineral, pengurangan
laju deforestasi lahan gambut dan mangrove, dan pengurangan laju degradasi
hutan-hutan lahan mineral.
Lalu, pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut
dan mangrove, pembangunan hutan tanaman, pengelolaan hutan lestari,
rehabilitasi dengan rotasi, rehabilitasi non-rotasi, restorasi gambut dan
perbaikan tata air gambut, rehabilitasi mangrove dan aforestasi pada kawasan
bekas tambang.
Kemudian, konservasi keanekaragaman hayati, erhutanan
sosial; introduksi replikasi ekosistem, ruang terbuka hijau, dan ekoriparian,
pengembangan dan konsolidasi hutan adat; dan pengawasan dan law enforcement
dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan hutan.
Belum lama ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) Indonesia dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat
(USAID) meluncurkan kemitraan baru di bidang iklim dan konservasi yaitu
Perjanjian Bilateral Kerangka Kerja Bilateral FOLU Net Sink.
Perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Menteri
Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dan Administrator USAID Samantha
Power di Jakarta, Senin, 17 Juli 2023, akan mendukung upaya-upaya Indonesia
untuk mencapai tujuan Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030.
Agenda FOLU Net Sink 2030 secara resmi telah
diluncurkan oleh Presiden Jokowi saat Konferensi COP 26 di Glasgow bulan
November 2021, dan telah dituangkan ke dalam Rencana Operasional FOLU Net Sink
2030 yang diterbitkan dengan Surat Keputusan Menteri LHK di bulan Februari
2022.
Pada Mei 2022, KLHK menandatangani Memorandum of
Understanding (MoU) dengan USAID Indonesia sebagai wujud dukungan Amerika
Serikat terhadap implementasi Rencana Operasional tersebut, dan ini menjadi MoU
yang pertama dari sejumlah MoU bilateral lainnya yang mendukung FOLU Net Sink
2030.
“Perjanjian Bilateral yang baru ini merupakan tindak
lanjut dari Fact Sheet Gedung Putih yang dibahas oleh Presiden Jokowi dan
Presiden Biden saat pertemuan bilateral di KTT G20 di Bali tahun lalu,” kata
Menteri Siti Nurbaya.
Siti Nurbaya menekankan bahwa Perjanjian Bilateral
tersebut merepresentasikan peranan pendanaan iklim untuk mendukung upaya-upaya
Indonesia selama ini dalam mencapai agenda FOLU Net Sink 2030.
Agenda ini membutuhkan pengeluaran yang diproyeksikan
sebesar 14,57 miliar dolar AS, yang hingga saat ini terutama bergantung pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Administrator USAID Samantha Power menyatakan
Perjanjian Bilateral ini akan membantu upaya-upaya Indonesia yang telah
berjalan dalam pencegahan degradasi hutan; rehabilitasi mangrove dan restorasi
gambut; serta perlindungan satwa liar Indonesia.
“Dukungan ini akan melanjutkan upaya yang dilakukan
Indonesia selama tujuh tahun terakhir untuk mengurangi deforestasi hingga
hampir dua pertiga. Dan dukungan ini akan membantu melestarikan sumber daya
vital yang diberikan oleh hutan Indonesia yang indah dan menakjubkan: penyerap
karbon yang sangat penting untuk menstabilkan iklim,” katanya.
Selama Pemerintahan Presiden Jokowi, Indonesia telah
mencatat kemajuan yang mengesankan di bidang konservasi hutan, penurunan laju
deforestasi hingga 65 persen dalam tujuh tahun terakhir, menjadi yang terdepan
di dunia dalam meningkatkan perlindungan hutan.
Duta Besar AS untuk Indonesia, Sung Y Kim, menyatakan,
Perjanjian Bilateral ini memperkuat kemitraan AS untuk mendukung ketahanan
Indonesia terhadap perubahan iklim dan untuk meningkatkan konservasi dan
keanekaragaman hayati, termasuk melindungi spesies ikonik Indonesia seperti
orangutan.
Melalui Perjanjian Bilateral yang baru ini, USAID
bermaksud memberikan kontribusi hingga 50 juta dolar AS selama lima tahun guna
mendukung Tujuan iklim dan keanekaragaman hayati dalam agenda FOLU Net Sink
2030.
















