BERITA INDEX BERITA
Program SFV di Gondol Sukses Tingkatkan Realisasi PNBP Layanan Perikanan

BALI – Program Smart Fisheris Village (SFV) Kementerian Kelautan dan Perikanan di Gondol, Bali berhasil meningkatkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) layanan perikanan. Realisasi PNBP tersebut hingga akhir tahun berpotensi naik sampai dua kali lipat.
"Kalau kita bandingkan, pada Semester I SFV di
Gondol sudah mampu mencapai target PNBP sebesar 82 persen sebesar Rp408 juta.
Artinya, potensi PNBP bisa mencapai dua kali lipat di akhir tahun. Saya sangat
mengapresiasi UPT-UPT BPPSDM yang mampu mengoptimalkan asetnya secara utuh dan
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” tegas Kepala Badan Penyuluhan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman
Radiarta dalam siaran resmi KKP, Selasa(18/7/2023).
Nyoman menjelaskan, program SFV di Gondol dijalankan
oleh Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), yang
merupakan unit pelaksana teknis BPPSDM KP yang fokus pada pengembangan budidaya
laut khususnya komoditas kakap putih, bandeng, kerapu, kepiting dan rajungan
serta udang vanamei.
Program SFV berbasis UPT ini bertujuan
mengoptimalkan aset-aset yang dimiliki balai seperti peralatan produksi ataupun
lahan untuk mendongkrak produktivitas sektor kelautan dan perikanan di wilayah
kerja. Di Gondol, aset balai yang dimanfaatkan mendukung program SFV tersebar
di tiga desa yakni Desa Penyabangan, Desa Sumberkima dan Desa Pejarakan.
Desa Penyabangan misalnya, saat ini menjadi
fasilitas utama perbenihan budidaya laut. Terdapat berbagai sarana dan
prasarana penunjang budidaya, di antaranya empat kolam 100 meter kubik dan
empat kolam berukuran lebih kurang 20 meter kubik, untuk penyediaan induk dan
pemeliharaan induk (broodstock center.
Lalu, hatchery perbenihan ikan laut (larval
rearing); fasilitas pendederan ikan laut (nursery) yang menghasilkan benih
berbagai ukuran; hingga laboratorium khusus pakan alami dari spesies laut untuk
kultur murni maupun kultur masa.
Kegiatan lainnya yakni pemeliharaan benih dan
pendederan kakap putih dan ikan kerapu. Benih kakap putih yang dihasilkan rata
– rata mencapai 87.000 ekor/siklus, sedangkan kerapu menghasilkan 39.500 ekor
per siklus.
SFV BBRBLPP di Desa Penyabangan juga menyediakan
induk kepiting atau rajungan untuk pembenihan dan penyediaan pakan alami untuk
mendukung usaha perbenihan baik skala murni maupun massal.
Di Desa Sumberkima, menjadi lokasi Instalasi
Karamba Jaring Apung (KJA), yang ditunjang dengan 16 KJA High Density
Polyethylene (HDPE). Kegiatan yang tengah berjalan saat ini adalah budidaya
pembesaran 7.700 ekor kakap putih, hasil pembenihan atau pendederan Hatchery
Desa Penyabangan.
Sedangkan di Desa Pejarakan berupa Instalasi Tambak
Pejarakan berisi 13 petak dengan luasan 65.500 m2 dan 39.500 m2, yang
dimanfaatkan untuk pembesaran 2.600 ekor ikan kerapu, pembesaran 6.500 ekor
ikan kakap putih dan pembesaran udang vaname yang telah menghasilkan hampir 1
ton pada satu siklus dan saat ini tengah dilakukan penebaran kembali sejumlah
350 ribu benur vanname.
"Seluruh aset dan produksinya kami manfaatkan
seoptimalkan mungkin sebagai layanan perikanan kepada masyarakat khususnya para
pembudidaya. Layanan inilah yang menjadi masukan bagi negara melalui skema
PNBP," terang Nyoman.
Selain optimalisas aset, lanjut Nyoman, program SFV
di Gondol juga mencakup pendidikan, pelatihan dan penyuluhan bagi para
pembudidaya, hingga kegiatan konservasi.
Dari sisi pelatihan, BBRBLPP telah melaksanakan
Pelatihan Manajemen Usaha Budidaya Bandeng di Desa Penyabangan bersama EXIM
Bank (LPEI), Kementerian Keuangan, serta pembentukan satu kelompok pembudidaya
ikan (pokdakan) baru, yakni Pokdakan Bintang Samudera yang fokus pada plasma
nutfah.
Sementara pada kegiatan konservasi, hasil program
SFV di Gondol di antaranya berupa ratusan ribu telur kakap putih dan telur
bandeng disalurkan sebagai bantuan untuk pokdakan di Desa Penyabangan serta
dilepasliarkan di perairan Jembrana.
Sebagai informasi, program SFV KKP sejauh ini telah
dilaksanakan di 22 lokasi berbasis UPT maupun desa. Berbeda dengan UPT, SFV
berbasis desa berupa penyiapan fasilitas teknologi hingga pendampingan kegiatan
produksi serta manajemen usaha yang dilaksanakan KKP untuk membantu masyarakat
perikanan dalam meningkatkan produksi komoditas unggulan di desa tujuan.
















