BERITA INDEX BERITA
Demokrat: Perlu Ada Perbaikan Dalam kebijakan Pembangunan Infrastruktur

JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan,
pembangunan infrastruktur salah satu hal penting dan harus dilanjutkan termasuk
infrastruktur perdesaan seperti yang telah dilakukan oleh
pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Tetapi, perlu dilakukan perubahan dan
perbaikan atas kebijakan pembangunan infrastruktur ini.
"Mengapa perlu perubahan dan perbaikan? Pertama, pilih dan prioritaskan
infrastruktur apa yang diperlukan, dengan tahapan yang rasional. Kedua,
pastikan pembiayaan tersedia, baik dari APBN maupun non APBN. Kerangka
pembiayaan bersama atau pembiayaan penuh dari swasta, juga sebuah pilihan,” kata
AHY pada Pidato Politiknya, Jumat (14/7).
Jika pun harus berutang, lanjut AHY, utang itu bukanlah komponen paling
besar. “Ukur kemampuan keuangan kita. Jangan besar pasak daripada tiang. Saya
yakin, pemerintah manapun tak ingin mewariskan utang besar pada anak cucu kita,
dan membebani pemerintahan-pemerintahan berikutnya,” jelasnya.
“Ketiga, pastikan infrastruktur yang dibangun memiliki keseimbangan
antar sektor; antara nasional dan daerah; serta antara kota dan desa. Guna
mencegah ketimpangan infrastruktur kota dan desa, Demokrat berpendapat, PNPM
Mandiri perlu dihidupkan lagi. Pastikan, dana desa cukup, serta sesuai dengan
kebutuhan desa yang bersangkutan,” sambung AHY.
AHY juga menyinggung akibat
utang meroket, ruang fiskal sempit. “Per Maret 2023, utang kita mencapai lebih
dari 7.800-an triliun rupiah. Porsi APBN untuk membayar cicilan dan bunga
semakin besar. Jika rata-rata bunga utang mencapai 400-an triliun rupiah
per-tahunnya, maka itu setara dengan realisasi anggaran pendidikan pada APBN
2022. Itu baru bunga, belum cicilan pokoknya,” ujar AHY.
“Bayangkan, bisa jadi apa bunga
utang 400 triliun rupiah itu. Jika biaya kuliah mahasiswa hingga lulus tingkat
sarjana; baik pendidikan dan biaya hidup per orang mencapai 200 juta rupiah,
maka kita bisa menguliahkan dua juta orang pelajar, ke kampus-kampus terbaik di
Indonesia,” ujar AHY penuh semangat.
AHY merasa perlu meningkatkan
pembangunan SDM Indonesia melalui pendidikan berkualitas dan terjangkau, dari
sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi. “Sekolah-sekolah rusak, madrasah, dan
pesantren yang tidak layak, jangan dibiarkan. Harus kita bangun dan perbaiki.
Karena itu, kata dia, hidupkan
kembali dan tingkatkan program-program prorakyat di bidang pendidikan dan
kesehatan, selayaknya era pemerintahan Presiden SBY dulu. Seperti program BOS,
Beasiswa Bidikmisi, Beasiswa Santri, Beasiswa LPDP, BPJS Kesehatan, dan lainnya.
“Tingkatkan beasiswa prestasi
dan beasiswa untuk golongan kurang mampu. Kerja sama pemerintah, lembaga
pendidikan dan dunia usaha, perlu ditingkatkan, agar lulusan pendidikan, lebih
mudah dapat pekerjaan,” lanjutnya.
Akhir-akhir ini banyak
permintaan agar skema uang kuliah tunggal (UKT) di perguruan tinggi ditinjau
ulang karena sangat memberatkan banyak mahasiswa. Mahalnya biaya UKT disebut
merupakan dampak dari berlakunya perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN
BH), yang membuat terjadinya tren komersialisasi di perguruan tinggi.
















