BERITA INDEX BERITA

Pandu Tani Masifkan Kampung Patani hingga Pelosok Negeri

Nadi Negeri | DiLihat : 1190 | Minggu, 02 Januari 2022 | 19:08
Pandu Tani Masifkan Kampung Patani hingga Pelosok Negeri

JAKARTA - Kampanye kepedulian terhadap dunia pertanian terus digelorakan Lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani). Mengawali 2022, organisasi yang konsen pada isu-isu pertanian dan sosial kemasyaratan ini, akan lebih memasifkan pendirian Kampung Patani di seluruh Indonesia.

    Sekadar diketahui, pada Juni 2021, telah diluncurkan Kampung Patani di Desa Cimande, Jawa Barat, oleh tokoh muda nasional, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang juga Ketua Umum Partai Demokrat. Kampung Patani di Cimande sebagai Pentagon atau Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani, berfungsi untuk menghimpun data dan informasi sebagai bahan evaluasi atas kinerja Kampung Patani di seluruh Indonesia.

    Sesuai rencana awal, ada empat Kampung Patani di daerah yang saat itu secara bersamaan ikut di-launching, yakni di Ogan Ilir, Sumatera Selatan; Maros, Sulawesi Selatan; Ternate, Maluku Utara; Malinau, Kalimantan Utara; dan di Bangka Belitung. Luar biasanya, hanya dalam waktu enam bulan, secara masif berdiri Kampung Patani lainnya di sejumlah kota/kabupaten, bahkan hingga di pelosok-pelosok desa. Sejumlah petani baik secara kelompok maupun perorangan, juga berebut untuk mendirikan Kampung Patani.

    Menurut Direktur Utama (Dirut) Patani, Sarjan Tahir, Kampung Patani ide brilian untuk mengeksplorasi dan mengetahui langsung apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat paling bawah. Apalagi, di masa pandemi sekarang ini mereka makin tertekan dan masuk jurang kemiskinan baru. Kelompok masyarakat ini, seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM tentunya butuh perhatian, dan ini menjadi tugas kita bersama untuk membantu mereka yang membutuhkan. 

    "Patani sangat apresiasi semangat orang-orang yang peduli dengan pertanian, perikanan, dan pelaku UMKM,” tutur Sarjan Tahir, dalam pidatonya di acara Penyampaian Laporan Giat Patani dan Rencana Kerja 2022, secara online, Minggu (2/1/2022).

    Konsep Kampung Patani ini, kata Sarjan, akan menjadi luar biasa dan riil jika dilakukan bersama-sama. Membangun semangat, berkolaborasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Secara lebih utuh, Kampung Patani adalah konsep membangun suatu kawasan berbasis pertanian dalam arti luas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan) secara terpadu, ramah lingkungan (berkelanjutan/sustainable) dan memberi nilai tambah, yang mampu menyejahterahkan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di kawasan tersebut. 

    Adapun model atau bentuk Kampung Patani, nantinya disesuaikan dengan kondisi agroekosistem dan kearifan lokal kawasan setempat serta memerhatikan karakteristik, kondisi sosial budaya, dan ekonomi, antara lain: Kampung Patani berbasis Kehutanan Sosial, Kampung Patani berbasis Perkebunan, Kampung Patani berbasis Tanaman Pangan, Kampung Patani berbasis Tanaman Hortikultura, Kampung Patani berbasis Peternakan, Kampung Patani berbasis Perikanan/Kelautan, dan Kampung Patani berbasis Koperasi dan UMKM.

    “Banyak manfaat yang diperoleh pelaku usaha dalam kawasan Kampung Patani, di antaranya bisa meningkatkan produktivitas, dan tersedianya saprodi, pemasaran serta pembiayaan usaha yang difasilitasi oleh Patani melalui Koperasi Indokopat,” kata Sarjan. 

    Petani, nelayan, koperasi dan UMKM dalam kawasan Kampung Patani juga diberi pelatihan sesuai kebutuhan serta terciptanya kawasan usaha agribisnis yang berkelanjutan (ramah lingkungan). Pada aspek ekonomi, Kampung Patani ini nantinya menjadi sumber kesejahteraan dan mampu mengatasi kesenjangan ekonomi. Juga sebagai sumber pangan masyarakat sekaligus sumber pendapatan negara.

    Adapun aspek sosialnya, tumbuhnya masyarakat yang mandiri dan berkarakter, berkembangnya budaya hidup yang peduli lingkungan (green economy). Sementara di aspek politik, penggalangan komunitas petani, nelayan, UMKM lebih mudah terjangkau oleh giat Kampung Patani. 

    “Suatu kawasan pedesaan, pesisir, bahkan perkotaan dapat diusulkan menjadi Kampung Patani, dan tentunya ada sejumlah kriteria, salah satunya jika suatu kawasan itu memiliki kelompok petani/peternak/nelayan dan/atau koperasi, dan UMKM yang melakukan usaha budidaya/usaha tani tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, perikanan dan kelautan, perhutanan sosial serta usaha pengolahan dan pemasarannya,” tukas Sarjan.

    Selain program Kampung Patani, sepanjang 2021, Pandu Tani juga banyak melakukan program pendampingan terhadap masyarakat, termasuk menghadirkan aplikasi belanja produk pertanian bernama sibejajo, pendirian food estate komoditas jagung di Sumatera Selatan dan Lampung, aplikasi donasi pohon, hingga pendirian kantor cabang Pandu Tani di luar negeri, salah satunya di Jepang. 

    Sementara itu, Dewan Pakar Patani, Djafar Hafsah sangat mengapresiasi terobosan-terobosan luar biasa yang dilakukan Patani. Dia pun berharap, pada 2022 Patani terus menggulirkan program-program populer lainnya, yang bertujuan untuk menyejahterakaan anggotanya dan masyarakat secara umum. “Bila perlu nanti Patani menjadi pelopor pendirian bank khusus untuk petani. Konsepnya bisa seperti BPR (Bank Perkreditan Rakyat), tapi ini khusus untuk petani. Termasuk pendirian koperasi-koperasi di daerah-daerah,” katanya.

    Dewan Pengarah Patani sekaligus Kepala Pusat Pengendali Nasional (PPN) Kampung Patani Cimande, Marsda TNI (Purn) Gutomo melaporkan, hadirnya Kampung Patani Cimande memicu masyarakat sekitar untuk ikut mendirikan Kampung Patani, baik secara kelompok maupun perorangan. “Kampung Patani juga ikut menggairahkan perekonomian masyarakat sekitar. Masyarakat terpacu untuk berusaha, mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya pertanian, tapi semuanya, termasuk produk-produk UMKM,” pungkasnya. (sindo)

 


Scroll to top