BERITA INDEX BERITA
Lewat Buku, Eks Menteri SBY Ini Bicara Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Pangan Lokal

PANGAN adalah segala sesuatu yang dikonsumsi oleh manusia yang diperlukan bagi tubuh untuk pertumbuhan, hidup yang sehat, aktivitas yang normal dan produktif, berasal dari sumber air dan hayati baik itu nabati maupun hewani.
Untuk keberlangsungan hidup manusia dengan aktivitas yang normal dan produktif maka manusia memerlukan pangan yang tersedia cukup, aman, bergizi, halal bagi umat Islam, dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Inilah sesungguhnya inti dari ketahanan pangan. Jika semua hal di atas dapat kita penuhi maka dapat dikatakan ketahanan pangan kita kuat,” ujar Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu, di pembuka tulisannya berjudul Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Pangan Lokal.
Tulisan bernas itu tertuang di buku Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi yang bakal diluncurkan pertengahan Agustus. Buku yang disunting Jaelani Ali Muhammad (Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO) ini, sebagai kado HUT ke-75 Kemerdekaan RI dan HUT ke-12 lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani).
Masih dalam tulisannya, Anton memaparkan bahwa ketahanan pangan berkelanjutan dapat direalisasikan dengan berbagai upaya terpadu dalam aspek produksi, konsumsi, distribusi, yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan peran masing-masing.
“Ketahanan pangan kita akan kuat apabila kita mengutamakan produksi dan konsumsi pangan lokal. Yang masih berpotensi untuk ditingkatkan produksinya adalah beras, jagung, gula, buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, ternak, ubi kayu, ubi jalar, sagu dan banyak lagi,” tutur Anton.
Sekadar diketahui, selain Anton, ada delapan tokoh lainnya yang menyumbang tulisan di buku bunga rampai berjudul Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi. Mereka adalah Prof Rokhmin Danuri (Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong), Prof Dr H Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid), dan tokoh milenial yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Lalu, doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Harry Santoso, Direktur Indofood Franciscus Welirang, Direktur Utama Perum Bulog 2009-2014 Sutarto Alimoeso, Guru Besar IPB yang juga Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar, serta Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) sekaligus Managing Director di East West Seed Glenn Pardede.
Sementara politisi dan artis senior Marissa Haque dalam testimoninya di buku ini mengungkapkan, krisis pangan kini mengancam dunia, dan kelaparan sudah tampak di mana-mana. Indonesia sebagai negeri yang dianugerahi tanah subur pun harus bekerja ekstrakeras mengantisipasi keadaan terburuk akibat merajalelanya Covid-19.
“Pemerintah harus menurunkan kebijakan-kebijakan luar biasa dan tindakan-tindakan luar biasa pula. Proyek lumbung pangan saja tidak cukup, jalan alternatif mesti segera ditemukan. Kita sebagai warga negara, saya setuju untuk mengingat slogan ini: sudah krisis, waktunya menanam,” ujar istri rocker Ikang Fauzi ini.
















