BERITA INDEX BERITA
Rektor Perbanas: Pandemi Momentum Penguatan Sektor Pertanian

JAKARTA - Terkontraksinya ekonomi Indonesia di triwulan II/2020 bisa jadi lebih dalam apabila tidak ditopang oleh sektor pertanian. Pertanian sebagai sektor ekonomi terbesar kedua dengan pangsa 15,5% justru tumbuh 2,19%.
Sumbangan pertanian bukan cuma masalah angka sehingga kontraksi ekonomi Indonesia tidak terperosok lebih dalam. Lebih penting dari itu, bertumbuhnya pertanian berarti tersedianya pangan bagi rakyat Indonesia, bahan baku bagi industri berbasis pertanian, serta kesempatan kerja bagi sekitar 30% tenaga kerja Indonesia.
“Dengan peran strategis yang dimiliki (sektor pertanian), di era pandemi covid-19 ini perlu dilihat lagi bagaimana seharusnya sektor pertanian dikembangkan ke depannya,” ujar Rektor Perbanas Institute Prof Hermanto Siregar, dalam tulisannya berjudul Pandemi Covid-19, Strategi Afirmasi Usaha Tani dan Transformasi Struktural Pedesaan.
Selain covid-19 yang tengah mewabah secara global, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengungkapkan, ada empat major forces (kekuatan besar) yang memposisikan kita untuk melakukan penyesuaian atau penguatan pembangunan pertanian ke depan. Pertama, peningkatan populasi penduduk, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
Kedua, kenaikan jumlah kelas menengah Indonesia yang disebabkan oleh meningkatnya pendapatan perkapita secara kontinyu terutama sebelum pandemi covid-19. Ketiga, perubahan iklim atau semakin sering terjadinya cuaca ekstrem sedemikian rupa sehingga menjadi risiko cukup serius terhadap ketahanan pangan. Keempat, revolusi industri 4.0 yang mendisrupsi cara-cara berbisnis maupun perilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya.
“Pandemi covid-19 hendaklah dijadikan sebagai momentum perubahan. Terkait pertanian, perubahan ini seyogianya dilakukan dalam konteks transformasi struktural perdesaan sedemikian rupa, sehingga aktifitas-aktifitas on farm, off farm, dan non farm di perdesaan berkembang secara optimal, berimbang, dan berkelanjutan,” ujar Ketua Asosiasi Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) ini.
Selanjutnya, keseluruhan tulisan Prof Hermanto Siregar bisa dibaca tuntas di buku berjudul “Jebakan Krisis dan Ketahanan Pangan: Sehimpun Saran & Solusi”. Buku yang diinisasi Lembaga Pandu Tani Indonesia (Patani) ini akan diluncurkan akhir Agustus, sebagai kado Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Kemerdekaan RI dan HUT ke-12 Patani.
Selain Prof Hermanto, buku berupa bunga rampai yang disunting Jaelani Ali Muhammad (Kepala Editor Bahasa KORAN SINDO) ini juga memuat delapan tulisan tokoh lainnya. Mereka adalah Prof Rokhmin Danuri (Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong), Prof Dr H Bomer Pasaribu (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada paruh pertama era pemerintahan Abdurrahman Wahid), dan Dr Anton Apriyantono (Menteri Pertanian dalam Kabinet Indonesia Bersatu).
Lalu, tulisan dari seorang tokoh milenial yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tulisan doktor bidang keahlian ilmu perencanaan pembangunan wilayah dan perdesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Harry Santoso, dan tulisan Direktur Indofood Franciscus Welirang. Ada pula tulisan Direktur Utama Perum Bulog 2009-2014 Sutarto Alimoeso, serta tulisan Glenn Pardede yang kini menjabat Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) dan Managing Director di East West Seed.
















