BERITA INDEX BERITA

Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (4)

Jejak | DiLihat : 1414 | Selasa, 28 Juli 2020 | 13:24
Lintas Waktu Dunia Pertanian dan Turunannya (4)

PERKEMBANGAN pertanian dari suatu negara berjalan sesuai dengan tahapan perkembangan masyarakat, mekanisme pasar yang berlaku, perkembangan teknologi dan perkembangan ekonomi serta perkembangan kelembagaan sosial.

Ada tiga tahapan perkembangan pertanian berdasarkan tingkat kemajuan dan tujuan pengelolaan sektor pertanian tersebut. Tahap pertama adalah pertanian tradisional yang dicirikan dengan tingkat produktivitas sektor pertanian yang rendah.

Tahap kedua adalah tahapan komersialisasi dari produk pertanian mulai dilakukan tetapi penggunaan teknologi dan modal relatif masih rendah. Tahap ketiga adalah tahap seluruh produk pertanian ditujukan untuk melayani keperluan pasar komersial dengan ciri penggunaan teknologi serta modal yang tinggi dan mempunyai produktivitas yang tinggi pula.

Pada tahapan pertama atau tahap pertanian tradisional, para petani biasanya menggarap tanah hanya sebatasyang dapat dikelola oleh tenaga kerja keluarga tanpa memerlukan tenaga kerja bayaran. Keadaan lingkungan statis, penggunaan teknologi sangat terbatas, sistem kelembagaan sosial kaku, pasar terpencar-pencar serta jaringan komunikasi antardaerah pedesaan dan perkotaan kurang memadai dan cenderung menghambat perkembangan produksi.

Proses perkembangan pertanian pada umumnya berkaitan dengan upaya transformasi dari sistem pertanian yang mempunyai produktivitas rendah kepada sistem lebih modern yang mempunyai produktivitasnya relatif tinggi dan yang mungkin menimbulkan dampak sampingan terhadap lingkungan akibat penggunaan teknologi dan asupan (input) pertanian modern. Dampak sampingan tersebut tidak hanya ditemui pada pertanian modern tetapi juga ditemui pada pertanian tradisional, sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang meningkat cepat.

 

Meskipun selama ini pertanian tradisional telah sukses mengelola sumberdaya pertanian tanpa melahirkan kerusakan sumberdaya yang tidak dapat diperbaiki, tetapi permasalahanlingkungan akan timbul akibat tekanan populasi penduduk terhadap lahan yang tersedia relatife sempit sehingga daya dukungnya rendah.

 

Pertanian tradisional di daerah tropik dicirikan khususnya oleh adanya tekanan untuk terus melakukan perluasan areal yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Pengaruh langsung dari perluasan areal tersebut termasuk terjadinya pencucian hara yang relatif cepat dan adanya degradasi dari kualitas lahan karena pembukaan hutan.

 

Kerusakan kualitas lahan karena pertanaman yang bersifat permanen pada lahan yang relatif miskin sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi tanpa adanya upaya peningkatan kesuburan tanah. Juga terjadi erosi tanah akibat hujan deras dan musim kering yang panjang atau banjir, dan hilangnya sumberdaya hutan akibat adanya ladang berpindah.

 

Meskipun kerusakan sumberdaya alam tersebut dapat dicegah dan diperbaiki jika dana tersedia, tetapi beberapa di antaranya relatif sangat mahal, sehingga lama kelamaan menjadi tidak dapat diperbaiki sama sekali. Kerentaan dari ekosistem tropis telah menyebabkan kerusakan sumberdaya alam berjalan dengan cepat, dan yang lebih memprihatinkan adalah perbaikannya berjalan dengan lambat.

 

Namun demikian masih ada celah untuk pencegahan kerusakan sumberdaya alam dengan menyusun perencanaan yang tepat dan tindakan antisipasi. Misalnya tenaga kerja di pedesaan yang bekerja tidak penuh atau setengah pengangguran dapat dimobilisasi untuk membuat terasering di daerah pegunungan atau dilibatkan dalam program reboisasi atau penghutanan kembali hutan-hutan yang telah rusak.

 

Pada banyak daerah di Afrika, lahan yang marginal dapat direklamasi dengan menggunakan teknik pengelolaan yang mutakhir. Kerusakan sumber daya alam pada pertanian modern timbul terutama akibat dari penggunaan pestisida untuk pengendalian hama dan penyakit serta rerumputan, dan dari kegiatan irigasi.

 

Pengaruh sampingan dari penggunaan pestisida perlu dilihat secara hati-hati. Daya racunnya terhadap ikan dan burung serta persistensi dan daya jelajahnya di alam membuatnya menjadi berbahaya jauh melampaui sasaran areal dari penggunaan pestisida tersebut. Sedangkan proyek konstruksi sistem irigasi, apabila tidak sesuai dengan fasilitas drainasenya kemungkinan besar dapat meningkatkan salinasi dari air irigasi tersebut.

 

Bahkan penggunaan varietas unggul baru baik pada komoditas padi, jagung, dan gandum kadangkala menimbulkan efek samping, baik karena penanaman varietas unggul tersebut membutuhkan pestisida dalam jumlah banyak maupun karena varietas unggul baru tersebut menggantikan spesies lokal yang telah mengalami seleksi alami yang lebih cocok dengan lingkungan setempat dan yang diperlukan untuk proses persilangan. Pengolahan tanah secara terus menerus yang dipermudah dengan adanya mekanisasi pertanian juga dapat merusak struktur tanah.

 

Pertanian modern tidak dapat melepaskan ketergantungannya pada produk kimia (pupuk dan pestisida), varietas unggul baru yang mempunyai produktivitas tinggi dan irigasi. Harus diupayakan agar efek sampingannya dapat dicegah atau diminimalkan dengan perencanaan pembangunan pertanian yang komprehensif.

 

Memperhatikan dampak ikutan dari proses transformasi pertanian tradisional menjadi pertanian modern yang berorientasi pasar atau komersial itu mungkin merupakan tindakan yang tidak realistis, jika kita mendesain suatu perubahan yang terlalu cepat.

 

Sebagai contoh dapat disimak upaya untuk mengintroduksikan tanaman perdagangan dalam pertanian tradisional yang seringkali gagal membantu petani untuk meningkatkan taraf hidupnya. Menggantungkan diri pada tanaman perdagangan bagi para petani kecil lebih mengandung risiko daripada pertanian subsisten karena fluktuasi harga membuat keadaan menjadi lebih tidak menentu.

 

Pengalaman menunjukkan bahwa diversifikasi usaha tani merupakan suatu langkah transisi yang efektif. Dengan langkah ini tanaman pokok tidak lagi mendominasi karena tanaman perdagangan yang baru diintroduksikan seperti buah-buahan, kopi dan tanaman lainnya sudah mulai dijalankan bersama dengan usaha peternakan atau perikanan secara sederhana.

 

Upaya diversifikasi tersebut relatif telah meningkatkan produktifitas usahatani yang sebelumnya sering menyebabkan terjadinya pengangguran tidak kentara. Usaha diversifikasi ini sangat diperlukan mengingat angkatan kerja di pedesaan sering berlimpah dan dengan diversifikasi angkatan kerja tersebut dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.

 

Pada tahapan ini, pemakaian alat dan mesin pertanian mulai diintroduksi, demikian pula penggunaan benih varietas unggul baru, serta pupuk, pestisida dan irigasi. Dengan demikian para petani mampu memperoleh surplus produksi yang dapat dijual serta mengurangi risiko kegagalan panen. (edi kusmiadi/bersambung)

 


Scroll to top